
Maya masuk ke dalam mobil Hendrik dan melaju menuju rumah Hendrik. Maya yang terlihat sedikit mengantuk lantas tertidur pulas di mobil. Hendrik yang melihat tingkah Maya hanya tersenyum dan menyapu rambut Maya ke telinganya. Sesampainya di rumah Hendrik Maya sudah terbangun dan turun sambil di bantu oleh Hendrik.
Maya dan Hendrik masuk dan duduk di meja makan yang sudah di isi oleh orang tua Hendrik dan Maya kecuali Fadel. Maya melihat sekeliling mencari keberadaan Fadel tetapi tidak melihatnya, Sinta yang menyadari itu pun langsung membuka suara.
"Fadel ngga di sini," ucap Sinta yang membuat Maya sedikit Malu.
"Memangnya Kak Fadel kemana Ma?" tanya Maya.
"Kak Fadel ada urusan di Jepang, jadinya harus berangkat keluar," ucap Astrid sambil memberikan lauk kepada Maya.
"Kapan berangkatnya Tan?" tanya Maya lagi.
"Baru tadi, tapi ngga lama cuma seminggu," ucap Sinta yang sudah menerka pertanyaan apa yang selanjutnya akan di lemparkan Maya. Maya hanya tersenyum lega mendengar jawaban Astrid.
Makan malam berjalan sangat lancar dan hangat, layaknya keluarga yang sedang menikmati kebersamaan mereka.
"Jadi hari ini, kita mau berencana mengatur tanggal pertunangan kalian," ucap Aryo yang membuat Maya teekejut sehingga terbatuk-batuk.
Melihat Maya terbatuk-batuk Hendrik langsung memberikan segelas air putih kepada Maya sambil mengelus pundak Maya. Maya menerima sikap baik Hendrik dan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum manis ke Hendrik.
Melihat Maya dan Hendrik membuat para orang tua mereka tersenyum bahagia dan yakin dengan keputusan mereka.
"Jadi kapan tanggal yang kalian mau?" tanya Sinta kepada Hendrik dan Maya.
"Kayak nanyain tanggal nikah aja Tan," ucap Hendrik tersenyum.
"Karena ini moment yang ngga bakalan kalian lupain seumur hidup kalian, jadi harus sempurna," ucap Astrid sambil menirukan kata "sempurna' seperti Demian.
"Hmm memangnya kita bakalan ngundang orang banyak?" tanya Maya.
"Itu sih terserah kalian, tapi kalau menurut Papa lebih baik undang aja biar orang-orang tau dan banyak yang mendoakan," ucap Amran memberi nasihat.
"Yaudah tanggal 3 aja Pa," ucap Hendrik
"Yaudah bulan depan tanggal 3 yah," ucap Aryo setuju.
"Gimana May?" tanya Hendrik.
"Setuju aja," ucap Maya tersenyum.
__ADS_1
Setelah pertemuan keluarga selesai Maya pulang di antar oleh Hendrik. Maya turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam rumah tetapi di cegat oleh Hendrik.
"Tunggu dulu," ucap Hendrik menghentikan Maya. Maya berbalik ke arah Hendrik yang belum sempat membuka pintu.
"Kenapa?" tanya Maya heran.
"Lo ngga keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Hendrik.
"Emangnya lo keberatan? Kalau lo keberatan yaudah..." ucap Maya terpotong oleh Hendrik.
"Ya ngga gitu maksudnya, maksud gue lo yakin sama perjodohan Ini?" potong Hendrik.
"Yakin ngga yakin sih," ucap Maya yang langsung berjalan menuju pintu rumah utama.
"Maksudnya....may...may," teriak Hendrik yang di tinggal oleh Maya.
"Udah malam, mau tidur, besok sekolah," teriak Maya dari dalam rumah.
Hendrik yang mendengar perjakataan Maya langsung masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobil menuju menuju rumahnya. Maya yang sudah bersiap untuk tidur tiba-tiba tersenyum mengingat kejadian tadi lalu langsung menutup wajahnya dengan selimut dan tertidur lelap.
Hendrik yang baru sampai di rumahnya langsung menuju kamarnya dan segera mandi untuk menyegarkan badannya. Setelah mandi dengan pakaian pajama miliknya Hendrik masih memikirkan perkataan Maya tadi, entah kenapa dia merasa Maya tidak menyukainya dan menerima perjodohan ini dengan terpaksa.
"Jadi lo setuju atau ngga?" tanya Hendrik ragu.
"Setuju apanya?" tanya Maya balik dengan santai.
"Soal perjodohan," ucap Maya.
"Iyya," jawab Hendrik dingin.
"Mau jawaban yang yang singkat atau panjang?" tanya Maya sedikit menahan tawa. Mendengar ucapan Maya Hendrik hanya menatap tajam kepada Maya, Maya tertawa melihat ekspresi dan tatapan tajam Hendrik yang mengisyaratkan untuk tidak bercanda.
"Oke, jawaban singkatnya tidak," lanjut Maya menahan tawa.
"Haaa," ucap Hendrik yang terkejut mendengar jawaban singkat Maya.
"Maksudnya tidak bisa menolak," ucap Maya memecahkan tawanya di depan Hendrik.
Hendrik tersenyum bahagia mendengar jawaban sekaligus tawa lepas Maya yang sungguh membuat hatinya bahagia. Mobil Hendrik akhirnya memasuki gerbang sekolah dan segera memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
"May gue mau ngomong sesuatu," ucap Hendrik menghentikan Maya yang sudah ingin bergegas keluar.
"Ngomong aja," ucap Maya menghentikan aktifitasnya dan menatap Hendrik.
"Gue suka sama lo," ucap Hendrik terbata-bata.
"Lo lagi ngga ngigo kan?" ucap Maya menepuk-nepuk pipi Hendrik.
Hendrik memegang tangan Maya tetapi masih stay di pipinya, "gue serius May," ucap Hendrik menatap Maya. Maya terdiam sekaligus kaget mendengar pengakuan Hendrik, tetapi dia juga bahagia mendengar Hendrik yang menyukai dirinya. Maya tersenyum dan mengangguk, "gue juga," ucap Maya mengelus pipi Hendrik. Hendrik tersenyum bahagia ternyata Maya membalas cintanya.
"Yaudah gue ke kelas dulu eh Aku ke kelas dulu," ucap Maya sambil cengengesan lalu bergegas keluar dari mobil. Hendrik hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat sikap Maya yang sangat mengemaskan baginya.
Maya memasuki kelasnya dan sudah mendapati sahabat-sahabatnya yang tengah asik mengobrol, Maya memasuki kelasnya dengan senyum-senyum sendiri yang tentu saja menaruh tanya di pikiran sahabat-sahabatnya.
"Hmm ada yang lagi bahagia nih," goda Ratih kepada Maya.
"Ada apa nih May?" tanya Amel penasaran.
"Ceritalah," bujuk Intan tak kalah penasarannya.
Maya akhirnya menceritakan semua peristiwa yang di alaminya bersama Hendrik hingga rencana pertunangannya. Mendengar itu tentu saja sahabat-sahabat Maya turut bahagia dengan pertunangan Maya yang akan di laksanakan dalam waktu dekat.
"Tuh kan, gue juga bilang apa, kalau lo lama-kelamaan bakalan ada rasa sama Hendrik," ucap Ratih.
"Iya iya, kalian datang yah," ucap Maya.
"Pasti," ucap Ratih, Intan, dan Amel bersamaan.
Maya hanya tertawa mendengar jawaban kompak sahabat-sahabatnya. Setelah jam pelajaran selesai dan memasuki jam pelajaran, Maya, Ratih, Intan dan Amel berada di kantin tengah mengobrol sambil mengisi perut lapar mereka.
"Kok gue ngga ngelihat kak Fadel yah," gumam Amel dengan suara kecil tetapi di dengar oleh sahabat-sahabatnya.
"Lo cari Kak Fadel Mel?" tanya Ratih kepada Amel.
"Ngga," jawab Amel gugup.
"Udah ngaku aja, jangan ada rahasia di antara kita," ucap Ratih.
"No secret," ucap Maya lalu tertawa dan di ikuti oleh Ratih dan Intan.
__ADS_1