Alur Kehidupan

Alur Kehidupan
Siapa Dia?


__ADS_3

Hari sudah pagi dan mereka sudah berada di dalam mobil yang sama, "gue jadi penasaran sama orang yang lo temuin kemarin May" ucap Ratih sambil menyetir mobil.


"Gue juga, apa kita ke perpus aja nanti sepulang sekolah, mana tau itu orang ke situ lagi!" ucap Amel memberikan ide.


"Boleh juga tuh, ok fix kita kesana!" ucap Maya dengan semangat.


"Gue mah ikut aja deh selagi bukan di bawa ke warung padang aja", ucap Intan membuat semua orang tertawa.


Kring kring kring suara bel menandakan jam istirahat telah tiba. "Ehk kantin, yuk lapar banget nih, rasanya mo meninggal," ajak Ratih ke sahabat-sahabatnyanya.


"Yaelah lebay banget si Rat sampe mo meninggal aja loh," ucap Maya di ikuti suara ketawa. Mereka sedang berjalan menuju kantin dan terus terdengar gadis-gadis sekolah baik kakak kelas maupun siswa baru yang sedang berbincang serius tentang seseorang.


"Pada heboin apa sih ini?" tanya Intan ke sahabat-sahabatnya, "katanya ada siswa baru di kelas 11 IPA 1, itu sih yang gue dengar, tapi ngga tau juga deh," jawab Ratih sambil mendengarkan suara para gadis-gadis yang sedang berbincang.


"Udah ahk ngga usah di pikirin mending ke kantin cepetan yuk, ini gue udah lapar banget," rengek Amel sambil menarik tangan Maya.


"Iya-iya ngga sabaran banget sih," ucap Maya menenangkan Amel dan melanjutkan perjalanan mereka menuju kantin.


Sesampai di kantin mereka langsung memesan makanan dan duduk tepat di samping meja tempat Hendrik dan teman-temannya makan. "Duh, pemandangan kok jadi creepy gini sih lihat tuh orang" oceh Amel sambil memasukkan kuah bakso ke mulutnya. Saat Maya ingin memasukkan makanan ke dalam mulunya tiba-tiba dia melihat seseorang yang sangat mengejutkannya, "Astaga" ucap Maya yang sontak membuat sahabat-sahabatnya khawatir.


"Kenapa May?" tanya Ratih ke pada Maya dan memutar bola matanya menuju arah yang di lihat Maya.


"Astaga," ucap Ratih saat telah berhasil melihat apa yang dilihat Maya. Intan dan Amel karena merasa aneh dengan sahabatnya langsung melakukan apa yang di lakukan Ratih tadi, saking kagetnya Intan dan Amel tak bergumam saat melihat apa yang membuat Maya dan Ratih terkejut. Mereka kembali saling bertatapan satu sama lain kemudian melihat ke arah itu lagi.

__ADS_1


"Dia orang yang gue lihat kemarin di perpus," ucap Maya membuka suara.


"Itu bener-bener mirip banget sama Kak Nicko," ucap Intan tak percaya.


Hendrik yang dari tadi memperhatikan mereka langsung berteriak, "Woy kalian ngapain lihat ke arah murid pindahan itu terus? Naksir lo yah?, ternyata sama saja sama gadis-gadis yang lain.". Teriak Hendrik sontak membuat 4 sahabat itu kaget lalu menatap tajam ke arah Hendrik dan membuat orang-orang menatap ke arah Hendrik dan ke 4 sahabat itu secara bergantian.


"Lo yang kemarin di perpus itukan?" ucap seseorang yang tidak lain adalah orang yang membuat ke 4 sahabat itu terkejut, Maya terkejut melihat orang tersebut sudah berdiri di hadapannya sambil melemparkan senyum manisnya. Maya masih tidak percaya sehingga tidak menjawab apa yang baru saja orang tersebut katakan.


"Hello," ucap orang tersebut sambil melambaikan tangannya di depan wajah Maya.


"Ehk, hmm iya itu gue," jawab Maya yang baru tersadar dari diamnya.


"Kenalin nama Gue Fadel," ucap orang tersebut sambil mengulurkan tangannya kepada Maya.


"Gue Maya," jawab Maya sambil menerima uluran tangan dari Fadel.


"Hmm iyah, oh iya kenalin ini sahabat-sahabat gue," ucap Maya memperkenal sahabat-sahabatnya kepada Fadel.


"Halo gue Ratih, ini Intan dan ini Amel," ucap Ratih sambil menunjuk ke arah Intan dan Amel.


"Halo juga salam kenal yah, gue kelas 11 IPA 1, kalau kalian?" tanya Fadel ke pada ke 4 sahabat di depannya.


"Kita kelas 10 Ipa 4," jawab Maya sambil tersenyum ke pada Fadel.

__ADS_1


"Oh, senang bertemu kalian gue ke kelas deluan yah, selamat makan," pamit Fadel dan pergi meninggalkan kantin.


Hendrik yang sedari tadi mengamati ke 4 sahabat tersebut heran sama sikap kaku mereka, "mereka berempat kenapa yah? Kok kayak orang kaku gitu, wah pasti ada sesuatu nih," batin Hendrik penasaran. Saat di kelas Hendrik lngsung nenghampiri Fadel yang tidak lain adalah teman kelasnya sendiri dan mungkin lebih dari itu.


"Lo tadi ngomongin apa sama ke 4 cewek yang di kantin tadi?" tanya Hendrik sambil duduk di atas meja Fadel.


"Cuma kenalan doang," jawab Fadel singkat.


"Kenalan? Berarti mereka belum kenal sebelumnya, tapi kenapa pas belum kenalan mereka kayak lihat orang yang tidak asing bagi tuh macan betina?" batin Hendrik bertanya-tanya.


Kring kring kring bel pulang sudah berbunyi Maya dan sahabat-sahabatnya sudah berada di parkiran, saat mereka baru mau masuk ke dalam mobil mereka terhenti akibat melihat Fadel yang baru masuk ke dalam mobil sportnya.


"Lihat deh mobilnya, seleranya kak Nicko banget," ucap Intan.


"Cara jalannya aja yang beda, terus dia juga terkesan kayak Hendrik pamer harta, sedangkan kak Nicko orangnya sederhana banget kayak Maya," ucap Amel sambil masuk ke dalam mobil.


Mereka semua pulang ke rumah masing-masing, Maya masuk ke dalam kamarnya dan langsung membersihkan dirinya, setelah bersih-bersih Maya duduk di meja belajarnya sambil membuka buku pelajaran yang di pelajari tadi, saat di tengah-tengah belajar Maya kembali kepikiran dengan Fadel.


"Apa mungkin di dunia ini kita punya kembaran yang sangat mirip dengan kita walaupun kita ngga punya hubungan darah apapun?" gumam Maya bertanya pada dirinya sendiri.


Maya melihat jam sudah pukul 5 sore dia lalu turun berjalan menuju dapur, di dapur lagi-lagi hanya terlihat pembantu yang sedang memasak.


"Non apa sudah lapar? Mohon tunggu sebentar yah non makanannya sebentar lagi selesai," ucap Bi Irma setelah sadar ada Maya di meja makan.

__ADS_1


"Ngga kok bi cuma mau cek dapur aja, lanjutin aja bi aku naik ke kamar dulu," ucap Maya dan langsung beranjak dari dapur.


Maya kembali masuk ke dalam kamarnya lalu langsung teringat dengan kamar Nicko, dia langsung berlari ke luar kamar menuju kamar Nicko, setelah di kamar Nicko, Maya melihat sekitar dan menjumpai fotonya bersama Nicko terpajang di meja belejar milik Nicko. Tidak terasa pipi Maya basah mengingat semua kenangan manisnya bersama Nicko, orang yang selama ini mengisi hari-hari Maya, Maya memeluk fotonya bersama Nicko sambil menangis tersedu-sedu. Setelah beberapa menit Maya menangis Maya menghapus air matanya dengan kasar lalu meletakkan kembali foto Nicko je tempat semula. Maya lanjut berjalan ke arah lemari, dia membuka lemari tersebut dan menemukan baju-baju Nicko yang masih utuh tersusun rapi di dalam lemari, maya membuka laci lemari dan menemukan banyak sekali barang-barang milik Nicko yang didapatnya dari Maya. Setiap ulang tahun Nicko Maya selalu memberikan hadiah untuk Nicko, ataupun Nicko menang lomba atau hari spesial lainnya Maya tidak lupa memberikan hadiah, begitupun sebaliknya, mereka berdua saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain.


__ADS_2