
"Mama kenapa belum mandi? Ngga ke kantor?" tanya Amran yang terkejut melihat istrinya sudah sianv tetapi belum siap.
"Lagi ngga enak badan Pa jadinya izin dulu, nanti di urus sama sekretaris Mama," ucap Sinta sambil memijit-mijit pelipisnya dan berlalu meninggalkan Amran.
Maya melajukan mobilnya menuju sekolah, dia tidak bisa menaiki motornya karena harus masuk ke dalam bengkel. Maya memasuki gerbang sekolah dan segera memarkirkan mobilnya, saat keluar dari dalam mobilnya ia terkejut melihat banyak sekali siswa yang memandang terkejut ke arahnya termasuk Hendrik, sedangkan Fadel hanya tersenyum manis.
"Kenapa liatinnya gitu amat? Gue ngga salah seragam kan?" batin Maya sambil memeriksa bajunya. "Ngga kok," lanjut Maya seraya berlari kecil menuju kelas.
Sebelum Maya sampai di kelasnya, Maya bertemu dengan ketiga sahabatnya yang terlihat sangat ceria. Maya bingung ada apa dengan ekspresi mereka.
"Ada apa? Kok ceria banget kalian bertiga," tanya Maya penasaran.
"Wih May, akhirnya lo mau juga pakai mobil ke sekolah," ucap Ratih sambil merangkul bahu Maya.
"Ternyata ini yang membuat semua orang terkejut dan liatin gue segitunya" batin Maya, "iya soalnya motor lagi masuk bengkel, jadinya mau ngga mau harus pake mobil," ucap Maya enteng.
"Jangan pake motor lagi May, biar aja kayak gini terus keren kok," ucap Amel sambil menagajak Maya, Ratih dan Intan untuk sambil berjalan menuju kelas.
"Emang iya?" tanya Maya bingung, ketiga sahabatnya hanya mengangguk pertanda iya dan Maya hanya membalas dengan senyum manis.
----------------------------------------------------------
Maya bersama ketiga sahabatnya sedang berbincang di Kantin sambil menikmati makan siang yang sudah mereka nanti-nanti.
"Jadi lo sama Kak Nicko, maksud gue Fadel, kalian berdua udah baikan?" tanya Intan tanpa melihat ke arah Maya.
"Lo tanya sama siapa Tan?" tanya Maya menggoda.
Intan menengok ke arah Maya, "Elo beg*, siapa lagi?" geram Intan kepada Maya.
"Berjanda Tan, gitu aja marah," ucap Maya sambil tertawa kecil di ikuti oleh Ratih dan Amel.
"Lo ngga tau bahasa Indonesia yah, yang bener tuh 'bercanda' kalau 'berjanda' itu perempuan yang udah di tinggal sama lakinya," ucap Intan menerangkan.
"Iyah deh bu guru," ucap Maya yang masih tertawa.
"Jadi lo udah baikan May?" tanya Ratih penasaran.
"Iyah udah, tapi kok kalian tau gue bakalan baikan?" tanya Maya penasaran dengan otak sahabat-sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kita kenal lo dari kecil May, kita tau sifat lo, lo tuh orang yang gampang maafin orang lain, ngga dendam sama orang lain, apa lagi kalau menyangkut keluarga orang yang lo sayang, mana bisa lo benci, jadi kita udah tau kalau kalian pasti baikan, makanya kita tanya buat memastikan," jelas Amel panjang.
"Memastikan apa?" tanya Maya heran.
"Memastikan kalau lo beneran Maya yang kami kenal dulu, tidak berubah tetap menjadi Maya yang sederhana, sampai kapanpun jangan berubah yah May," lanjut Amel menjelaskan lagi yang membuat Maya, Ratih dan Intan terharu mendengarkan.
"Gue ngga bakalan berubah, dan ngga bakalan lupain kalian, selamanya kita akan jadi sahabat," ucap Maya sambil memeluk ketiga sahabatnya.
"Gue jadi sedih kalau mikirin saat kita lulus nanti, kita masing-masing bakalan sibuk buat ngejar impian masing-masing, dan yang pasti kita akan berkeluarga juga, kira-kira pada saat itu kita masih bisa kumpul kayak gini ngga yah?" ucap Ratih membayangkan.
"Semoga aja kita masih bisa kumpul kayak gini lagi nanti, asalkan kita bisa nyempatin waktu untuk kumpul bersama, gue jadi ngga mau cepat lulus," ucap Intan sambil menatap nanar kedua sahabatnya.
Fadel dan Hendrik melihat keseruan Maya dan ketiga sahabat-sahabatnya berbincang dengan seru. Hendrik terus menerus menatap Maya entah kenapa seperti ada sesuatu yang muncul di dadanya saat ini. "Tidak Tidak Tidak, Tidak boleh," batin Hendrik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Fadel yang kebingungaan melihat sikap Hendrik pun bertanya, "lo kenapa? Kok bilang tidak?" tanya Fadel mengejutkan Hendrik.
"Gapapa," ucap singkat Hendrik dengan wajah sedikit menegang.
"Lo liatin Maya yah?" ucap Fadel menggoda.
"Apa sih Fad, jangan ngawur deh," kesal Hendrik walaupun wajahnya sudah memerah.
Saat pulang sekolah Hendrik menunggu Maya di depan kelas Maya, saat Maya keluar Hendrik langsung menarik tangan Maya menuju lapangan basket yang tak ada seorang pun siswa di sana. Maya menerima tarikan Hendrik dengan sedikit memberontak. Hendrik melepaskan genggamannya dari tangan Maya.
"Gue mau ngomong serius ama lo," ucap Hendrik serius.
"Ya udah ngomong, punya mulut juga kok, susah amat harus tarik-tarik," kesal Maya dengan nada kecil.
"Lo masih akrab sama Fadel?" tanya Hendrik dingin.
"Urusan lo apa?" tanya Maya kembali tanpa menjawab pertanyaan Hendrik. Setelah mengatkan itu Maya mengingat dengan apa yang disampai oleh Bu Astrid, "benar, dia saudaranya Kak Fadel jadi pasti bakalan khawatir sama saudara sendiri," batin Maya.
"Ehhem, masih lah, kan dia saudara gue," ucap Maya sedikit gugup.
"Beneran lo anggap saudara kan?" tanya Hendrik dengan mata menyelidik.
"Iyya lah," ucap Maya semakin gugup. Sebenarnya Maya memiliki sedikit perasaan kepada Fadel, mungkin perasaan itu muncul saat Maya tahu bahwa Fadel bukanlah saudara kandungnya, melainkan anak dari sahabat Mamanya.
"Ok deh, gue cabut deluan," ucap Hendrik seraya meninggalkan Maya yang masih berdiri di tengah lapangan.
Maya mengamati Hendrik yang semakin menjauh lalu saat Hendrik menghilang dari pandangannya Maya langsung menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Wah, gue kayaknya gila nih," gerutu Maya pada dirinya sendiri.
Fadel melihat Maya dari kejauhan, dan tanpa berfikir panjang menghampiri Maya.
"Lo ngapain di sini sendiri May?" tanya Fadel membuat Maya terkejut.
"Ah..kaget," teriak Maya, "astaga Kak Fadel, untung jantungku masih stay di tempatnya kak," lanjut Maya sambil mengelus dadanya.
"Hehhe Maaf May," ucap Fadel sambil cengengesan
"Belum pulang kak? Tapi tadi aku liat Hendrik udah ke parkiran," ucap Maya yang bingung melihat Fadel masih berada di sekolah.
"Baru mau May, yaudah bareng aja ke parkirannya," ajak Fadel sambil menggandeng tangan Maya.
Jantung Maya berdegup kencang, tetapi di terus menahannya, "duh jantung, jangan bikin masalah dong," batin Maya sambil memegangi dadanya dengan tangan sebelahnya.
Hendrik yang menunggu Fadel di parkiran melihat Fadel dan Maya datang dengan bergandengan, entah kenapa itu membuat Hendrik sesak. Tiba tepat di depan sahabat-sahabat Maya mereka melepas tangan mereka.
"Dari mana sih May?" tanya Amel setelah melihat orang yang di tunggu telah tiba.
"Maaf yah tadi ada urusan," ucap Maya merasa bersalah.
"Yaudah, yuk pulang," ajak Ratih.
"Kak, aku pulang deluan yah," ucap Maya pamit dan melambaikan tangan sambil tersenyum manis kepada Fadel.
"Iyah hati-hati," ucap Fadel membalas senyum lalu pergi menuju Hendrik saat Maya sudah meninggalkan parkiran.
"Sayang banget loh sama Maya," ucap Hendrik sambil tersenyum masam.
"Namanya juga saudara," ucap Fadel sambil membuka pintu mobil.
"Sebagai saudara atau wanita?" ucap Hendrik dingin.
Fadel menghentikan aktifitasnya dan menatap Hendrik sejenak, lalu tertawa.
"Lo kenapa sih Drik, udah ayok pulang," ucap Fadel sambil menepuk bahu Hendrik.
Sejujurnya Fadel juga punya sedikit rasa kepada Maya, tetapi saat menyadari Hendrik menyukai Maya, dia berusaha untuk menghilangkannya dan menyayangi Maya sebagai Saudara bukan Wanita.
__ADS_1