
Setelah ditinggal begitu saja oleh keluarga Dedy, semua orang yang masih diruang tamu itu, hanya menatap mereka dengan pandangan yang berbeda beda, begitu juga seorang wanita yang sejak tadi, memperhatikan dapot, entah apa, yang membuat wanita begitu cepat tertarik pada pria berdarah Batak itu, wanita itu menatap dapot dengan penuh minat, dan dalam hati, dia iri pada Kaka sepupunya itu, yang bisa mendapatkan pria sempurna seperti dapot.
Didalam hati karna rasa iri, wanita itu memikirkan cara apa yang bisa membuat dapot menatapnya, dan akhirnya menjadi miliknya, dia ingin memiliki pria tampan tersebut bagaimana pun caranya, dia harus bisa, itulah yang dipikirkan sekarang, Tampa tau dia bisa saja cepat mendaftar sebidang tanah, mungkin sekitar 3/1,5 meter.
Didalam kamar dapot dan Maria, dapot mulai protes tentang apa yang dia perhatikan tadi, ternyata dapot juga sudah menyadari sifat, dan cara pandang wanita itu padanya, sehingga dia pun mulai mengatakan ketidak sukaannya pada wanita itu.
"Sayang, aku ga suka dengan wanita yang pakaiannya belum selesai dijahit itu"
"ha, pakaian yang belum selesai dijahit? hahaha Abang tu kalau ngomong itu, yang benar dong, mana ada baju belum selesai dijahit dah dipakai sih?"
Maria tidak habis pikir dengan perkataan sang suaminya, menurutnya itu tidak masuk akal dan lucu.
"Ada sayang, itu tadi dibawah, ketiak bajunya cuma nempel sedikit dengan yang lain, tapi dah dipake, kan kita kan jadi sakit mata liatnya"
"Anda
Abang itu bukan belum selesai, tapi itu model terkini"
"Terkini, awas aja kamu pake baju ke gitu yang, aku jadikan lap mobil nanti, liat aja"
"Ia Abang Maria juga tau ko, Abang ga suka yang kegitu, jadi aku ga mungkin memakainya"
"Bagus, aku ga mau nanti saat kamu jalan, eh tiba-tiba sobek, kan malu bangat hum"
__ADS_1
Setelah mereka mengobrol seperti biasa, mereka pun tertidur, di pagi hari, rumah sudah begitu berisik, karna ulah para pembuat onar yang ada dirumah itu, dan mami yang sudah tidak tahan lagi, buru buru turun dan melihat wanita yang sama sedang memarahi beberapa pelayan, dan mami tidak terima semua pekerjanya di bentak bentak juga di tunjuk tunjuk seperti itu, membuat dia berteriak.
"Heiiiiii.........., apa kau pikir ini tempat penyiksaan hah?"
Semua orang berlari tunggang langgang karna teriakan menggema milik mami, karna mereka semua tidak pernah mendengar mami Semarah itu, dedy, dapot, maria, enjel, juga suaminya berlari kearah dimana sang mami marah, dan mereka melihat disana, ada tiga pelayan, dua yang terduduk dengan keadaan yang berantakan, dan satunya lagi berdiri dengan pakaian yang acak-acakan.
Semua orang saling menatap satu sama lain, tapi lima orang pembuat keonaran disana hanya duduk seperti bos besar saja, dan Dedy merasa marah sekarang melihat kelakuan mereka semua, Dedy pun angkat bicara karna merasa semua orang itu sudah tidak menghargai dirimya.
""Apa kalian semua datang kesini cuma mau buat masalah? jika kalian tidak juga mau merubah sikap kalian, lebih baik sekarang kalian angkat kaki dari rumahku"
"Kakak, kami ini keluargamu, tapi kenapa kakak bersikap seperti ini, pada kami?"
"'Heh, saudara? kalian, apa kalian bisa disebut saudara, sementara sejak dulu kalian hanya bisa memikirkan menguasai harta kekayaan ku, jadi saudara seperti apa yang ingin kalian tanyakan hum?"
"milik, sejak kapan kau memiliki hak atas hartaku ha? itu usahaku dari titik nol, kau bahkan tidak tau, dimana dan bagaimana aku, harus naik turun jatuh untuk mencapaiitu, dan kau bilang, hak milikmu, memang kau siapa?"
"Kakak, aku ini adekmu, kenapa kakak bilang aku siapa?"
"Kau hanya sepupu tiriku, dan tak memiliki ikatan darah, tapi kau juga menghabiskan seluruh harta kekayaan ayahku, dan sekarang kau bilang mau mengambil lagi hak milikmu? kau benar-benar tidak tau malu y, bahkan istrimu yang sombong itu, menghina dan berbicara juga berlaku seenaknya pada para pekerja dirumahnya? apa kalian tidak tau posisi kalian?"
Sepupu jauh Dedy itu pun diam, tapi dia menatap dapot dengan tatapan bengisnya, lalu kembali bicara pada Dedy.
"Lalu kenapa kakak, memberikan pria itu kuasa untuk menjalankan perusahaan, sementara dia hanya orang asing?"
__ADS_1
"Dia bukan orang asing, dia suamiku, ayah dari anakku, juga menantu rumah ini"
"Ia dan karna itu, dia mulai menguras harta kalian dan membangun perusahaannya"
"Hahaha......kau ini, dia menjadi menantuku setelah dia memiliki segalanya, dia sudah memiliki semua usahanya itu, bahkan sebelum dia menikah dengan putriku, apa kau ingin mempropokasiku?"
"Sayangnya usaha kalian itu, tidak akan berguna, karna aku dan suamiku, yang lebih tau, sispa dapot sebenarnya, jadi kalian tidak perlu bersusah payah untuk mengusik kebahagiaan kami"
Setelah mami mengatakan itu, semua tamu yang datang tanpa diundang itu, merasa usaha mereka sia sia, tapi ada satu wanita yang tidak bisa mengontrol kegilaannya, diapun maju dan mengatakan sesuatu yang membuat dapot naik pitan.
"Tampan, apa kau tidak bosan dengan istrimu yang kolot ini? dia berpendidikan juga memiliki butik, perusahaan juga seorang dokter, tapi liat, dia begitu jelek, dan tidak tau berdandan, apa kau tidak malu mengajaknya kepesta? bagaimana jika kau denganku saja, aku akan membuatmu dijungjung tinggi oleh semua orang"
Plak..........
Semua orang kaget, dan tak menyangka akan melihat sisi lain dari dapot hari ini, dia begitu marah, dan benci, karna istri kesayangannya, dihina didepannya sungguh dia tidak terima, sehingga dia pun melepaskan tamparannya pada wanita itu, bahkan wanita itu, sampai berputar dan terjatuh kelantai karna tamparan kuat dapot.
"Berani sekali mulut motormu itu, mengucapkan kata sialan itu, terhadap istriku, apa kau belum pernah melihat sesuatu yang bisa membuatmu menutup mulutmu itu?"
"Beraninya kau menampar putriku hah? selama ini, kami selalu memanjakannya, bahkan kami siap melakukan apapun yang dia minta, tapi kau Dengan berani menamparnya?"
"Heh, dengar nyonya, bisa memanjakan anak tapi untuk hal yang baik, bukan seperti anda memanjakan untuk hal kotor, mungkin seperti kata Dedy tadi, kalian memang tidak tau malu"
"Sudahlah daripada kalian semakin membuat keadaan semakin panas mending kalian pulang ke tempat tinggal kalian saja, karna aku ga mau melihat kalian semua memaki juga menghina pamerkan disini, apalagi kau, yang sudah berani mengangkat tanganmu pada pekerjanya, cepat pergi sebelum aku, habis kesabaran"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, mami berdiri dan membantu pelayan di dapur, karna jika dia disana terus bisa membuat kepalanya berasap.