
Bertahun tahun waktu sudah Difan lalui dan menghabiskan waktunya di kota untuk menempuh pendididikan yang berkualitas. awalnya Difan tidak menyangka akan bisa melanjutkan pendidikan di kota. melihat keadaan ekonomi keluarga serasa Difan tidak mungkin sampai kekota, tapi takdir dan kehendak Tuhan semuanya akan tersampaikan. saat pertama kali diberi tahu akan pindah sekolah Difan merasa terbang, perasaannya waktu itu sepeeti orang yang terbang.
Sesuatu yang Difan tunggu tungu selama tiga tahun. tidak menyangka hal itu akan datang kepedanya. tapi karena ke inginan yang kuat itu mendorong dan membantu datangnya cita cita itu. Difan memang anaknya orang desa, tapi punyak mimpi untuk menghancurkan kota dengan ke cerdasannya.
Tiga hari ujian nasional berlangsung berjalan dengan lancar. dan tidak ada halangan apapun, setelah ujian selesai Difan bermaksud untuk menilvon orang tuanya, ingin memberi tahu bahwa ujiannya sudah selesai. dari itu Difan langsung pergi kewartel dengan maksud menilvon ibuknya. sesampainya ke wartel, Difan langsung mengambil tempat kosong yang ada di dekatnya kasir.
Tut...tut...tut....suara HP masuk, dering hp terus berlangsung sampai lima menit kemudian baru ada yang menerima. dan itu ternyata ibuknya Difan. halo.. halo...halo..iay buk ini Difan. eh...nak Difan, ada apa nak? tanya ibuknya", anu buk saya telvon ibuk hanya ingin ngasih tau ke ibuk bahwa Difan sudah selesai mengikuti ujian. ow...! syukur kalau bagitu nak"tuturnya. dan seminggu lagi pengumuman kelulusan buk, doakan ya buk semoga lulus dengan nilai yang bagus, iya...amin nak.
Iya udah buk itu saja keperluan Difan kali ini, sekali lagi jangan lupa ya buk doanya. selamat jumpa dilain waktu buk.....!
Seusai Difan telvon orang tuanya langsung bergeges menunu kasir pembayaran. mas..!, udah..mas berapa semua? tanya Difan. semuanya duapulu ribu rupiah. pas Difan mau bayar, tiba taba waktu itu datang pemilik wartel. Eh...Difan..! tutur pemilik wartel. ngapaun kamu disini, ?. tanya pemilik wartel. saya abis telvon ibuk pak, sahut Difan. abis berapa...? tanya pemilik wartel. abis duapulu ribu pak..!, jawab Difan. ow..! sudah bayar, ? belum pak ini baru nau bayar ", jawab Difan. udah tidak usa bayar, buat kamu geratis.
Ow...terimakasih pak. jawab Difan dengan perasaan senang dan sedikit kaku. pokoknya untuk anak ini * seraya menunjuk ke Difan*, jangan dipungut biaya. dan kalau nanti anak ini mau telvon, tapi semuanya di pakek suru dia pakek punyak saya." tutur pemilik wartel kepada petugas yang ada di wartel itu. iya pak, ! kami akan melaksanakan tugas atau perintah bapak,!" jawab petugas. mereka saling bertanya tanya, kenapa kok Difan diperlakukan sangat sepesial?. merekapun tida ada yang tahu.
__ADS_1
Iya sudah pak, saya pamit pulang ke asrama, terimakasih atas semua penganggapan bapak yang diberikan kapada saya *tuturnya dengan rasa tidak pantas, anak desa diperlakukan istimiwa, omongan Difan dalam hati. iya tidak apa apa...!, kata pemilik wartel, bahkan kamu mau telvon tiap hari jug tidak apa apa. iya pulang dulu pak..! sampai jumpa.
Ibuknya Difan merasa sangat tenang setelah di telvon anak kesayangannya. ibuk Difan terlihat sangat tenang karena sudah mengetahui keadaan anaknya baik baik saja. dan dia punyak rasa lebih semangat untuk mendoakan anaknya. ibuk Difan sebenarnya sangat merindukan wajah anak kesayangannya. tapi ibuknya tidak ngumong kepada siapapun bahwa dirinya sedang rindu Difan.
Tiga hari kemudian, Ibuk Difan ternyata benar benar merasakan kerinduan yang sangat luarbiasa dan dia sudah tidak kuat lagi kalau diam terus tampa ada yang tau. saat itu ibuk Difan tidak tidur satu malam penuh karena rindu. makanpun tidak enak, terbayang selalu wajah manis Difan disetiap nafasnya. kakak Difan melihat ibuknya seperti orang yang tidak punyak semangat untuk hidup lagi. kakak Difan langsung bertanya ke ibuknya, ibuk...! ibuk....ibuk kenapa kok kayak gitu". tanya anajnya. aku tida apa apa, aku hanta rindu adekmu nak." jawab ibuknya. tolong nantu kalau kamu sempat tolong telvon adekmu ya...!
Iya...Ibuk, kata anaknya.
Ke esokan harinya kakak Difan pergi ke wartel yang terdekat di desanya. " dengan maksud ingin menilvon Difa, adeknya sendiri. tut...tut...tut...panggilan masuk. halo, halo, halo..." ini siap...? tanya petugas.
Ow...! iya, bentar ya pak", jawab petugas wartel.
Diberitahukan kepada saudara Difan saat ini ini juga harus segera mendatangi wartel" pengumuman dari petugas wartel. saat itu Difan sedang duduk duduk di didepan kamarnya, mendengar panggilan itu Difan merasa sangat panik.* karena pikirnya baru tiga hari yang lalu dia telvon ibuknya. penasaran disertai dengan hawatir, seraya bergeges kewartel.
__ADS_1
Sesampainya di wartel kurang lebih lima menit, panggilan untuk Difanpun tiba. halo..halo...halo...!, ini siapa? tanya petugas. kakak Difan, orangnya sudah dtang ya...! tanya kakaknya.? ow ini sudah dari tadi.
Difan...Difan...!
Ini kakak kamu udah telvon." kata petugas. langsung telvonnya dikasih ke Difan. Assalamualaikum kak...ada apa ya kak? tanya Difan.
Eh...tidak ada apa apa dek, cuman ibuk nyuru aku untuk telvon adek, katanya ibuk kamu suru pulang ibuk sangat rindu", tutur kakak Difan. saya sebenarnya juga sangat merasakan kerinduan yang berat kak, tapikan saya sudah janji dan ibuk juga sudah setuju untuk tidak pulang selama tujuh tahun." jawab Difan. bagaimana dengan janji itu ya kak....? tanyak Difan..? udah jangan mikir itu...!, kalau sudah ibuk yang nyuru semua janji sudah tidak berlaku", tutur kakak Difan.
Saat saat indah mulai datang"bisikan hati Difan, senang tampa batas karena akan ketemu keluarga dikampung.
Iya saya tidak bisa pulang langsung hari besok kak, soalnya kelulusan tingga dua hari lagi", kata Difan. yang penting adek nyanggupin pulang maskipun waktu masih lama tidak apa apa.." kata kakaknya. iya saya akan pulang nanti setelah dapat ijasah kak. ow.. iya sudah nanti kalau positif pulang telvon kakak lagi ya...! pintanya. iya kak, sampai jumpa lagi.
Difan langsung menutup telvonnya dan bergeges menunu kasir dengan maksud bayar biaya telvon. sudah mas, "kata Difan. berapa ya Mas", tanyak Difan. ow..! kalau kamu kata boz tidak usa bayar jawabnya. "sebenarnya Difan sudah tau bahwa diri tidak dikenai biaya kalau menilvon dite wartel itu. cuman nampaknya Difan mau coba kejujuran dari petugasnya". ow iya sudah mas saya pulang dan nitip salam ke boz," terimakasih kebaikannya. iya nanti saya akan sampaikan. mari Mas, selamat jumpa kembali.
__ADS_1
Difan ahirnya memutuskan untuk pulang setelah kelulusan nanti untuk memenuhi panggilan orang tuanya. maskipun janji tidak sampai, demi rindunya orang tua Difanpun akan pulang menjumpai orang tuanya di kampung halaman.