
Aku melewati hari hariku dengan penuh rasa risau tampa keluarga yang bisa buat aku setiap saat tersenyum, hari menunjukkan bilangan ke tujuh aku di asrama. itu artinya aku sudah tuju hari hidup di kota, kota dimana aku harus menempuh hidup baru selama aku sekolah.", tutur Difan ditengah kerisauannya
Hari sabtu sudah tiba, hari yang telah ditentukan pendaftaran penerimaan siswa baru sudah tiba, ini adalah hari yang aku tunggu", kata Difan ". tak..tik...tuk...suara sandal calon siswa baru menujuh tempat pendaftaran. Difan hanya diam tidak ikut gerak gerik calon siswa baru yang lain.
Difan", nampak kebingungan seorang diri berdiri tegak didepan asramanya, Difan pikir harus harus hari itu Difan pergi ketempat pendaftaran, mendaftarkan dirinya sebagai calon menjadi siswa baru di sekolahan ternqma itu. tapi Difan bingung tidak tau harus bagaimana, Difan orang baru, yang tidak tau arah dan cara kalau harus sendiri pergi ketempat pendaftaran itu, yang dia harapkan bantuannya hanyalah Dimas" teman asramanya Difan yang paling perhatian diantara yang lain". tapi waktu itu, waktu dimana Difan harus mendaftar, malah Dimas orang yang diharapkan bantuan tidak ada.
Dimas kamu kemana, ?aku butuh bantuan kamu saat ini, aku berani mintak bantuan kekamu dan hanya kamu yang aku harapkan"tutur Difan ngomong sendiri," dengan wajah nampak sangat hawatir terlambat daftar jadi calon siswa, Difan ingin cepat mendaftar jadi siswa baru di sekolahan ternama itu.
Tak...tak...tak...
Suara sandal Dimas dari arah barat, suara sandal itu terdengar sangat kencang. ternyata itu adalah Dimas adalah seseoarang yang ditunggu tunggu mulai pagi",waktu itu suasana ada dipagi hari dengan angin segarnya", Difan...Difan...Difan, " panggilnya ke Difan.
Kamu dari mana ya Dimas? tanya Difan. akutu mulai tadi kebingungan dan penuh rasa hawatir, orang orang mulai tadi sudah berangkat," tutur Difan, siapa yang dimaksud kamu, mereka itu siapa Difan? tanya Dimas, penuh ketidak fahaman maksudnya. mereka para calon calon siswa baru" jawab Difan.
__ADS_1
Eh...! Difan hari inikan hari pendaftaran kamu disekolah, kenapa kamu belum berangkat " ekspresi sangat seru dari Dimas...! aku itu bingung mulai tadi dan hawatir takut lambat mendaftarkan diri sebagai siswa baru, aku tidak tau cara caranya makanya aku tidak berangkat. nah yang aku harapkan hanya kamu saat ini untuk bisa membantu aku" tuturnya ke Dimas.
Ow..! jadi kamu nunggu aku dari tadi? tanya Dimas. " iya kawanku, siapa lagi yang bi saya mintain pertolongannya kalau bukan kamu, temanku yang paling baik dan tampan" jawab Difan, dengan bahasa sedikit ngerayu dan ngeles.
Mendengar jawaban Difan yang penuh rasa hawatir itu, Dimas langsung bling ke Difan. " siapkan semua persyaratan pendaftaran," tuturnya. persyaratannya apaan ya...,?saya lupa, tanya Difan dengan wajah manisnya dan senyum tipis berlangsung di bibirnya. itu yang kamu persiapkan itu lho...!kata Dimas, kalau cuman yang itu sudah siap kawan, " dengan bahasa layaknya seorang anggota Tentara kepada korlapnya.
Difan dan Dimas ahirnya berangkat menunu tempat pendaftaran. sesampainya disana ruang pendaftaran terlihat sangat rama sekali. mereka sibuk masing masing mengisi formulir yang mereka pegang. ada yang sedang melakukan pendaftaran, ada yang baru ambil nomor antrian dan ada yang baru datang, termasuk Difan dan Dimas pada waktu itu.
Difan adalah anak seorang petani yang datangnya dari desa untuk mengejar mimpi mimpinya jadi seorang dosen terkenal dan ternama dimasanya.
Dimas hanya diam, sambil menunggu panggilan dari petugas yang mengatur nomor antrian. dan Dimas pun memperhatika Difan, yang memndang atau melihat lihat ruang pendaftaran tersebut, dengan pandangan yang sangat fokus" buat Dimas bertanya tanya. " hem...kasian anak desa baru melihat bangunan bagus" muncul bahasa bahasa ngeremihin dari Dimas, maskipun Dimas tidak ada niatan untuk ngeremihin.
Persiapan persiapan kepada nomor antria dua pulu dua, terdengar suara microphone dari arah petugas yang mengatur nomor antrian pendaftaran diruang itu. saat itu Dimas megang nomor antrian dua pulu empat, tinggal dua antrian lagi pada waktu itu, untuk bisa maju ke meja pendaftaran itu.
__ADS_1
Beberapa times kemudian, suara pengumuman seperti pengumoman yang pertama. Ehhh...kita setelah ini maju kedepan", iya jawab Difan, dengan perasaan dag...dig..dug. sepuluh menit setelah itu tibalah giliran Difan. petugas mensodorkan formulir untuk diisi dengan lengkap. formulir itu diterima oleh Dimas lalu dikasih ke Difan untuk di isi yang peelu di isi. lima menet setelah itu, formulirpun dikembalikan kepetugas yang bersangkutan oleh mereka. " ini pak formulirnya sudah saya isi semua. taruh disitu" kata petugas tampa melihat mereka berdua. berapa biayanya bapa dan kapan saya bisa masuk sekolah? tanya mereka kepetugas itu. Biaya, tuju ratus ribu rupiah. ini pak uang, lengkap dibayar tunai", hehe...bahasanya Difan seperti orang ijab Qobul, buat semua petugas tertawa terbahak bahak. makasih ya pak dan ditunggu infonya kapan saya bisa masuk sambil melangkahkan kakinya menuju pulang.
Kelar sudah urusan kita hari ini ya Dimas, terima kasih ya bantuannya" tutur Difan ke Dimas. iya Difan, kita hari ini sudah melakukan kegiatan yang menyangkut kamu, ini adalah langkah pertana bagi kamu dan masih banyak langkah yang perlu kamu lakukan nanti pada waktunya. kamu harus menjaga kesehatan dan atur pola makannya." tutur Difan.
Uhhh...!Dimas adalah teman aku yang paling sangat membantu saat aku butuh, terima kasih ya temannku" tuturnya ke Dimas. iya, kita disini satu saudara dan satu keluarga dan aku harap kamu jangan sedih lagi, ada saya yang siap membantu kapan saja. Difan mendengar penjelasan Dimas yang tulus itu, buatnya semakin tenang, karena ada teman yang sangat baik dan tulus.
Sepulang dari tempat pendaftaran itu, mereka tidak langsung pulang. mereka mampir kewarung nasih terdekat ke asrama dan yang paling enak. Warung itu anak anak manggilnya warung Madurasa, Warung itu trkenal sangat enak masakannya. dan selalu antri untuk membelinya.
Langkah kaki merekapun menuju warung yang jadu tujuannya. Difan hanya diam, sesampainya di warung itu, Dimas tanya" kamu pakek lauk atau ikan apa Difan? tanya Dimas. aku terserah kamu, samai saja dengan punyak kamu pintanya Difan. Oke...! kawanku " sekali kali mereka memanggil dengan panggilan kawan, tapi lebih sering memanggil dengan panggilan Nama mereka masing masing".
Selesai beli nasih mereka langsung pulang, dipertengahan jalan menuju pulang itu. kegiatan yang sama dilakukan oleh Difan yang dilakukan saat pendaftaran. Difan memandang lukisan lukisan halaman yang indah membuat Difan menggunakan pandangan fokusnya. sampai saat itu gara gara terlalu fokus memandang lukisan halaman itu, Difan menabrak tiang listrik membuat orang orang yang sedang berjalan ketawa semua. saat itu Dimas sebagai temannya merasa sedikit malu dengan apa yang terjadi pada Difan.
HEHE kasian anak desa banya lucunya. Difan sadar saat dikwtawain orang orang, bahwa dirinya sudah melakukan hal yang sedikit memalukan. aku anak desa yang pantas ditertawakan karna kenoraanku, tapi aku anak desa yang ingin mengejar mimpi dan akan membuat mereka kagum karna kecerdasanku. tuturnya dalam hati.
__ADS_1
Pembaca yang baik hati ikutilah terus my novel yang berjudul"ANAK DESA MENGEJAR MIMPI." pasti seru dan lucu donk....!