Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan

Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan
Yogyakarta


__ADS_3

Pagi ini Kinanti dan Gio akan mendatangi sekolah kembar, untuk mengurus surat kepindahan sekolah kembar ke Jakarta. Mereka baru saja sampai di sekolah kembar.


Gio jadi tahu kehidupan kembar dan juga istrinya dulu. Begitu sulitnya kehidupan mereka dulu, membuat Gio semakin menyesali perbuatannya dulu.


"Maaf Bu, menggangu waktunya. Kedatangan Saya kesini, tujuannya ingin mengurus kepindahan kembar. Kami akan kembali ke Jakarta lagi. Terima kasih atas kesabaran ibu dalam mendidik kembar," ujar Kinanti.


"Kami pasti akan merasa kehilangan murid teladan di sekolah ini," ucap sang guru dan Kinanti mengucapkan terima kasih.


Anak yang dulu tak diharapkan Gio, kini tumbuh menjadi anak yang genius dan membanggakan semua orang. Alangkah menyesalnya dia, kalau sampai tak bertemu dengan kedua anaknya. Kini dirinya sangat bangga dengan kembar.


Urusan sekolah kembar sudah selesai, bertemu dengan Dimas pun sudah. Kinanti juga sudah membersihkan rumahnya, dan mengirimkan baju-bajunya lewat paket. Rencananya, Kinanti akan menjual atau mengontrakkan rumah itu beserta perabotannya. Kinanti akan menitipkan kunci rumahnya di Yogya kepada tetangga sebelah rumah.


"Sebenarnya, aku lebih betah tinggal di Yogya. Kehidupan disini lebih tenang, daripada di Jakarta. Tapi, mau tak mau aku harus mengikuti kamu tinggal di Jakarta," ujar Kinanti.

__ADS_1


Kini mereka berada di warung makan yang menjual aneka macam makanan khas Yogyakarta. Yang tak lain nasi krecek, gudeg. Kinanti sengaja memilih makanan ini, untuk mengobati rasa rindunya nanti pada kota Yogyakarta.


Gio dapat melihat raut kesedihan di wajah sang istri. Tapi, dia juga tak akan mengizinkan sang istri tinggal di Yogyakarta. Hidup terpisah dengannya.


"Nanti, kalau aku ada waktu luang lagi. Kita main lagi ya kesini sama anak-anak," rayu Gio. Agar sang istri tak sedih lagi.


"Yang, habis ini kita ke outlet batik ya! Aku mau belikan oleh-oleh untuk Mama, Erland. Kembar juga sekalian beli sama kamu. Si Susi juga beliin mumpung kita masih di Yogyakarta. Sekalian juga pilihkan untuk aku ya," ujar Gio sambil menikmati makanannya, dan Kinanti menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai makan, mereka langsung menuju outlet batik. Mereka memutuskan beli sekarang, lusa mereka akan kembali ke Jakarta.


"Sudah, tak usah di ingat lagi! Kenangan yang begitu menyakitkan bagi aku. Aku sudah melupakannya," sahut Kinanti, dan Gio menganggukkan kepalanya.


Kinanti tampak sibuk memilih oleh-oleh untuk ibu mertuanya. Dia juga membelikan batik untuk kedua buah hatinya, dan juga Susi pengasuh kembar.

__ADS_1


"Sekalian, kamu juga beli ya! Oh ya, jangan lupa sekalian beliin juga untuk si Erland," ujar Gio.


Sebenarnya Kinanti enggak mau beli apapun, karena dia merasa masih memiliki baju batik. Tetapi Gio tetap memaksa. Hingga akhirnya dia menuruti keinginan suaminya untuk berbelanja.


"Sekalian beli daster batik Yang, tapi ingat yang seksi," ujar Gio sambil cengengesan.


Setelah selesai berbelanja, Gio dan Kinanti memutuskan untuk pulang ke rumah Kinanti. Untuk mengambil barang-barang, sekaligus pamit dan menitipkan kunci ke tetangga. Kini mereka baru saja sampai di rumah Kinanti. Mereka memutuskan untuk langsung ke rumah tetangganya.


"Yach, jadi sepi deh enggak ada kembar. Jangan lupa mampir ya, kalau kalian ke Yogya! Salam juga untuk kembar," ujar sang tetangga. Kinanti dikenal baik, para tetangganya juga sangat menyukai kembar.


"Aku titip kunci ya. Takutnya ada yang mau lihat-lihat rumah untuk membeli atau mengontrak rumah," ujar Kinanti.


Setelah pamit, dan berbincang. Kinanti langsung mengambil kedua koper miliknya. Dia juga menitipkan kardus berisi pakaian ke tetangganya, untuk dikirim pake ekspedisi.

__ADS_1


Kinanti tampak menatap rumah secara keseluruhan. Rumah yang banyak memiliki kenangan dirinya bersama sang anak dulu.



__ADS_2