
Acara tujuh bulanan berjalan lancar. Kini saatnya Kinanti dan Gio mempersiapkan segala keperluan kedua anaknya yang dua bulan lagi akan lahir ke dunia. Kamar tamu di lantai bawah, untuk sementara waktu akan di jadikan kamar Kinanti setelah melahirkan. Kamar itu nantinya akan di jadikan kamar bayi.
Usia kandungan Kinanti kini sudah memasuki delapan bulan. Sabtu ini Gio dan Kinanti sepakat untuk membeli semua keperluan bayi kembarnya lagi.
"Sayang, aku berangkat dulu ya!" Pamit Gio kepada sang istri. Perut Kinanti kini sudah semakin besar. Dia tak bisa lincah lagi bergerak. Gio semakin membatasi kegiatan Kinanti. Namun, hari ini Kinanti harus pergi mengambil rapot kedua anaknya. Selama dia bisa, dia akan berusaha untuk memperhatikan Satria dan juga Bunga.
Saat Satria besar, Gio akan mewariskan perusahaan orang tua yang dia pimpin selama ini kepada Satria. Gio memilih untuk menikmati hidupnya bersama sang istri. Untuk Bunga, Gio tak ingin membebani anak perempuannya. Sebagai orang tua, Kinanti dan Gio berharap anak-anak. mereka mendapatkan pasangan yang baik. Mereka ingin melihat anak-anak mereka hidup bahagia.
Kinanti tampak mencium tangan suaminya, dan Gio melabuhkan kecupan di kening wanita yang memberikan empat orang anak untuknya. Setelah ini, Gio tak ingin membuat sang istri hamil lagi. Dia tak ingin istrinya selalu sibuk mengurus buah hatinya, membuat waktu kebersamaan mereka menjadi berkurang.
__ADS_1
Rumah tangga Gio dan Kinanti tampak harmonis. Keduanya saling mencintai.
"Ayo kita bersiap-siap untuk mengambil rapot kalian!" Ujar Kinanti kepada kedua buah hatinya.
"Bunda juga siap-siap dulu ya," ujar Kinanti lagi, Satria dan Bunga mengiyakan. Mereka pun langsung ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap-siap. Mereka sudah terbiasa hidup mandiri, terlebih Satria. Dia memilih mandi dan berpakaian sendiri, dia merasa risih dengan seorang wanita. Meskipun wanita itu baby sisternya.
Mereka sudah siap, dan segera berangkat ke sekolah Satria dan juga Bunga. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di sekolah. Sekolah bertaraf Internasional.
Kinanti selalu merasa bangga kepada kedua anaknya yang mempunyai segudang prestasi, yang tumbuh menjadi sosok yang genius. Setelah selesai mengambil rapot, Kinanti beserta kedua anaknya memilih untuk langsung pulang.
__ADS_1
"Bunda sangat bangga pada kalian, kalian memang anak-anak yang cerdas. Ayah pasti sangat senang mendengar kamu mendapat juara kelas," puji Kinanti.
Bunga meraih peringkat pertama dan Satria peringkat kedua. Satria kurang menyukai mata pelajaran hapalan, sehingga dia harus mengaku kalah dari sang adik. Meskipun demikian, dia memiliki kemampuan lainnya yang tak dimiliki Bunga sang kembaran. Mereka bersaing di kelas, tetapi saling mendukung. Mereka selalu akur dan belajar bersama.
Ponsel Kinanti berdering, siapa lagi kalau bukan sang suami yang menghubungi dirinya. Menanyakan tentang kedua anaknya. Meskipun Gio sibuk, dia selalu memperhatikan kedua buah hatinya. Kinanti langsung menerima panggilan video dengan suaminya.
"Ayah, aku juara satu. Kakak juara kedua," ujar Bunga kepada sang ayah.
"Oh ya? Kalian memang anak-anak Ayah dan Bunda yang hebat. Ayah dan Bunda sangat bangga kepada kalian," ujar Gio.
__ADS_1
"Kalian ingin hadiah apa dari ayah? Kalian bebas memintanya," ucap Gio kepada kedua buah hatinya. Tentu saja hal itu membuat Bunga dan Satria merasa senang.