
"Ya Allah terima kasih, karena engkau telah mengembalikannya kepadaku. Meskipun aku tak sempat bertemu Ayah untuk terakhir kalinya. Aku juga tak bisa menyelamatkan perusahaan Ayah. Paling tidak, aku bisa menyelamatkan rumah yang memiliki kenangan indah bersama kedua orang tua aku dulu," ucap Kinanti.
"Pasti, kamu lagi berpikir sesuatu. Sudah ya, jangan sedih lagi! Aku 'kan sudah berhasil mewujudkan keinginan kamu, untuk memiliki rumah orang tua kamu kembali," ucap Gio.
Saat ini mereka berdua berada di sebuah restoran padang. Gio menuruti permintaan sang istri, yang menginginkan makan nasi padang. Kinanti terlihat sempat melamun, membuat sang suami menyadarkan dia dari lamunannya.
"Makasih ya sudah menolong aku untuk memiliki rumah orang tua aku kembali. Aku bersyukur banget," ungkap Kinanti.
"Tak perlu berterima kasih, semua itu sudah menjadi tugas aku sebagai suami kamu. Membantu kamu untuk mewujudkannya. Makanya, mulai sekarang harus percaya sama suami. Kalau ada masalah apapun, bicarakan sama suami," sahut Gio dan Kinanti menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Kinanti merasa tak tega, karena harus meninggalkan kedua anaknya terlalu lama. Terlebih besok dia akan meninggalkan kedua anaknya kembali, karena besok dia ingin mendatangi rumah orang tuanya dan pergi berziarah ke makam kedua orang tuanya.
Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Kinanti terlihat sedang tertidur pulas. Gio rela menjadi sandaran sang istri, selama sang istri tidur. Tiba-tiba saja Kinanti merasa pusing kepalanya dan mual, hingga akhirnya sang suami menyuruh dirinya untuk tidur. Gio yakin kalau sang istri seperti itu karena stres.
"Yang, bangun yuk! Kita sudah sampai di rumah," Gio mencoba membangunkan sang istri dengan lembut. Kinanti perlahan membuka matanya.
"Maaf ya aku ketiduran," ucap Kinanti.
"Iya, enggak apa-apa. Nanti lanjut lagi saja tidurnya di rumah. Masih lemes ya?" tanya Gio saat mereka hendak turun. Kinanti menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Rasa mual menyerang dirinya kembali, hingga Kinanti langsung berlari masuk ke dalam kamar. Kinanti langsung memuntahkan isi perutnya. Membuat tubuhnya semakin lemas saja, wajahnya terlihat pucat.
Melihat sang istri seperti itu, tentu saja Gio terlihat panik. Gio langsung memapah sang istri ke sofa ruang keluarga, dia juga meminta sang ART untuk membuatkan teh manis hangat untuk istrinya.
"Apa aja yang kamu rasa? Kita ke dokter saja ya, berobat," ujar Gio sambil membalurkan minyak angin di leher dan juga perut istrinya.
"Besok saja, kalau masih merasa seperti ini, baru aku ke dokter. Mungkin pikiran aku tegang, sempat stres juga, jadinya lari ke kepala sama mual. Soalnya dari dulu, kalau aku lagi stres, pasti langsung deh begitu. Aku tuh merasa perut aku seperti di aduk-aduk, makanya buat aku menjadi mual. Kepala aku juga terasa sakit, kleyengan. Badan aku juga terasa lemas banget," ungkap Kinanti.
Kinanti sudah merasa enak. Dia pikir, dia hanya butuh waktu untuk beristirahat. Gio menyuruh sang istri mandi air hangat, dan tidur. Agar tubuhnya terasa enak besok paginya. Bunga tampak khawatir dengan sang Bunda, dia mengikuti sang Bunda ke kamarnya.
"Bunda kenapa? Pasti, karena Bunda kecapean. Makanya Bunda sakit. Soalnya, Bunda 'kan baru pulang dari Yogya. Mungkin Bunda masuk angin," ujar Bunga yang kini ikut naik ke ranjang. Duduk di dekat sang Bunda.
Gio mengajak Bunga keluar dari kamarnya, agar Kinanti bisa beristirahat. Kini Gio sedang bersama sang anak, sedang bersenda gurau di ruang TV. Sedangkan Kinanti terlihat sudah tertidur pulas.
Gio tampak mengantikan peranan sang istri untuk mengajarkan kedua buah hatinya, menemani kedua anaknya belajar.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00, Gio mengajak sang anak untuk tidur. Karena dia sudah merasa sangat lelah, dia juga ingin membiasakan sang anak hidup yang teratur. Karena besok mereka harus sekolah. Gio menemani Bunga tidur, dia terlihat sedang membacakan Bunga dongen sampai sang anak tertidur pulas.
Bunga terlihat sudah memejamkan matanya, hingga akhirnya Gio memutuskan untuk kembali ke kamar istrinya berada. Gio langsung naik ke ranjang, dan tidur di sebelah istrinya. Tak butuh waktu lama, Gio pun ikut tertidur pulas.
__ADS_1
Kinanti terbangun dari tidurnya, saat itu jam baru menunjukkan pukul 03.00 pagi. Kinanti mengeluarkan keringat dingin, dan merasa mual yang luar biasa. Seperti orang yang semaput.
"Mas, Mas!" Kinanti berusaha untuk membangunkan suaminya.
"Em, kenapa?" Tanya Gio. Namun, matanya masih terlihat terpejam.
"Perut aku mual banget, kepada aku jadi sakit banget. Rasanya aku ingin pingsan," sahut Kinanti.
Awalnya Gio masih belum sadar. Namun, tak lama kemudian dia tersadar. Gio langsung membuka matanya, dan tersentak kaget. Dia langsung duduk, kemudian menghampiri istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Kamu masuk angin akut itu, makanya anginnya berputar di perut. Membuat perut kamu merasa mual," ujar Gio.
Gio mengajak sang istri ke dokter. Namun, Kinanti menolaknya lagi. Dia masih merasa yakin, kalau dirinya saat ini hanya sekadar masuk angin saja. Kinanti langsung berlari ke kamar mandi lagi, untuk memuntahkan isi perutnya kembali. Gio tampak memijat-mijat tengkuk istrinya.
"Ke rumah sakit saja ya! Aku enggak tega kamu seperti ini," ujar Gio. Tapi Kinanti berpikir, kalau saat ini masih gelap. Dia tak tega dengan suaminya.
"Nanti saja berobatnya. Nunggu jam praktek poli saja. Aku mau coba tidur kembali. Mungkin dengan cara ini bisa menghilangkan rasa mual yanga aku rasakan saat ini," ucap Kinanti.
Gio merasa tak tega dengan kondisi istrinya yang terlihat begitu lemas. Berharap sang istri sehat kembali.
__ADS_1