
"Permisi Tuan, maaf saya mengganggu waktunya sebentar. Saya hanya ingin memberitahu, kalau ibu dan adik tiri Nyonya Kinanti kini sudah berada di Polsek dekat rumah orang tua Nyonya Kinanti. Orang suruhan kita sudah berhasil menjebloskan mereka. Apa Nyonya Kinanti mau menemui mereka di kantor polisi?" Erland menanyakan kepada bosnya.
"Benarkah? Pasti istri saya sangat bahagia mendengarnya. Kami akan datang menemui mereka. Saya ingin secepatnya memberitahukan hal ini kepada istri saya," ujar Gio.
Tanpa buang waktu lama, Gio langsung menghubungi istrinya melalui panggilan telepon. Saat itu Kinanti baru saja sampai di rumah, baru pulang berbelanja dari pasar. Meskipun dia memiliki dua orang ART yang membantu dirinya, Kinanti selalu menyempatkan waktunya untuk memasak makanan untuk kedua buah hatinya dan juga suami tercintanya.
"Waalaikumsalam. Iya, ada apa Yah?" sahut Kinanti saat menerima panggilan telepon dari suaminya.
"Yang, Ibu dan adik tiri kamu saat ini sudah diamankan di Polsek dekat rumah orang tua kamu. Kamu ke kantor aku ya sekarang, aku tunggu di kantor. Nanti kita berangkat kesana bersama," jelas Gio.
Kinanti terlihat sangat bahagia, setelah sekian lama dia menunggu. Pada hari ini dia mendapatkan kabar yang mengejutkan.
"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya mereka mendapatkan balasan dari perbuatannya dulu kepada aku dan juga kedua orang tuaku," ucap Kinanti dalam hati.
Tentu saja Kinanti tak akan melewatkan kesempatan ini untuk membalaskan dendamnya kepada mereka. Gara-gara ulah mereka, dia harus kehilangan kedua orang tuanya.
"Bi, saya titip Satria sama Bunga dulu ya. Bilang sama mereka kalau bundanya ada urusan dulu. Nanti tolong perhatikan makan mereka ya Bi," ujar Kinanti.
"Baik, Bu," sahut Susi.
Kinanti langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kantor suaminya. Dia mencoba merias sedikit wajahnya, dengan riasan natural. Wajahnya sudah terlihat lebih segar.
"Bi, saya berangkat dulu ya," pamit Kinanti. Kinanti diantar oleh supir pribadinya ke kantor suaminya. Gio pun sudah menunggu sang istri datang.
"Er, istri saya sedang dalam perjalanan ke kantor. Saya ingin makan bersamanya. Tolong kamu belikan Nasi goreng seafood 1 dan bakmi goreng seafood 1. Sekalian kamu beli juga untuk kamu ya," ujar Gio.
Erland langsung menjalankan perintah bosnya itu untuk membeli makanan. Saat itu memang masih menunjukkan pukul 10.00 pagi.
__ADS_1
Kinanti baru saja sampai di perusahaan suaminya. Sang supir menurunkan dirinya di lobby. Kinanti mengingatkan sang supir untuk menjemput anaknya di sekolah pukul 14.00 WIB. Kinanti berjalan memasuki perusahaan.
"Selamat pagi Bu, silahkan masuk! Pak Gio sudah menunggu ibu di ruangannya," ujar sang resepsionis.
Kinanti langsung menaiki lift menuju ruangan suaminya berada. Kinanti sempat mengetuk pintu ruangan suaminya, sebelum dia masuk ke dalam ruangan suaminya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, masuk Yang sini!
Gio langsung bangkit dari tempat duduknya menghampiri sang istri. Gio mengajak sang istri duduk di sofa.
"Tunggu dulu ya! Erland lagi beli makanan untuk kita makan. Sebelum berangkat, kita makan dulu," ujar Gio dan Kinanti menganggukkan kepalanya.
"Itu gimana ceritanya si Yah? Kok bisa ketangkap gitu?" tanya Kinanti, dia terlihat begitu serius. Terlihat sekali rasa ingin tahunya sangat besar.
Tanpa basa basi Gio langsung menyerang sang istri, langsung menciumnya dengan penuh gairah. Kesempatan baginya sambil menunggu Erland datang. Gio telah mengunci pintu ruangannya, agar Erland tak masuk begitu saja saat datang.
Kinanti mendorong tubuh suaminya, agar sang suami menghentikannya.
"Kenapa si?" Tanya Gio. Dia tampak kecewa karena sang istri menolaknya.
"Maaf. Nanti saja Yah di rumah saja. Enggak enak. Nanti kalau Erland datang gimana?" jelas Kinanti.
"Benar ya nanti malam? Pas banget malam jumat, sekalian sunah Rosul. Padahal pintu sudah aku kunci, Erland tak akan bisa masuk," ujar Gio.
Namun, benar saja. Tak lama kemudian Erland datang. Dia berniat membuka pintu ruangan, tetapi pintu itu terkunci.
__ADS_1
"Em, pasti di dalam lagi ehem-ehem, makanya pintunya di kunci. Pintar banget menyuruh aku beli makanan, agar ada kesempatan bisa berdua," gerutu Erland.
Mendengar suara ketukan pintu ruangannya dan handle pintu hendak di buka, Gio langsung beranjak bangkit untuk membuka pintu ruangannya. Wajah Gio terlihat kusut tak bersemangat.
"Pasti gagal, makanya lesu banget," ucap Erland dalam hati.
Erland langsung meletakkan makanan yang tadi dia beli di meja. Kinanti langsung menyiapkannya untuk sang suami. Mereka makan bersama. Tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir Gio, membuat Kinanti merasa tak enak hati. Tetapi Kinanti merasa risih kalau harus melakukannya di kantor.
Setelah selsai makan, mereka langsung pergi menuju polsek tempat ibu dan adik tiri Kinanti di tahan. Mereka kini sudah dalam perjalanan, Gio masih saja mendiamkan Kinanti.
"Yah, maafin aku ya! Ayah jangan marah dong, jangan mendiamkan aku seperti ini," ucap Kinanti.
"Kata siapa aku marah? Aku enggak marah kok, aku hanya sedang malas saja," sahut Gio ketus.
Percakapan mereka harus terhenti, karena mereka sudah sampai di polsek. Kinanti berjalan memasuki kantor polisi, berdampingan dengan sang suami.
Mami Cindy dan Emeli tersentak kaget, saat melihat Kinanti di hadapannya. Mereka tak mengira, kalau Kinanti akan kembali ke Jakarta.
"Kenapa? Terkejut ya melihat aku datang kembali? Pasti, kalian kira aku tak akan pernah kembali lagi ke Jakarta. Agar kalian bebas menghabiskan harta kekayaan ayahku," sindir Kinanti.
"Kinanti, tolong bebaskan kami! Semua ini hanya sebuah salah paham. Kami tak pernah membunuh ayahmu, dan untuk urusan harta kekayaan. Dia memang telah memberikannya kepada kami," ucap Mami Cindy.
Kinanti tampak kesal, karena Ibu tirinya masih saja berbohong kepadanya.
"Kalian pikir, aku percaya dengan ucapan kalian? Aku sudah tahu, siapa kalian. Penjara adalah tempat yang tepat untuk kalian. Aku tak akan pernah membebaskan kamu, biar kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu. Gara-gara kalian, aku harus kehilangan kedua orang tua aku," ucap Kinanti tegas.
Mami Cindy dan Emeli tampak ketakutan, dia tak ingin di penjara. Tetapi sayangnya Kinanti yang sekarang, bukanlah Kinanti yang dulu bisa di bodohi dan menuruti keinginannya seperti dulu. Kinanti yang sekarang adalah wanita yang kuat, dan memiliki segalanya.
__ADS_1