Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan

Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan
Baby Twins


__ADS_3

"Bagaimana sayang hasilnya?" Tanya Gio yang kini menatap wajah sang istri penuh harap.


Kinanti langsung menunjukkan alat testpack baru saja dia kenakan kepada sang suami. Gio langsung menggendong sang istri, meluapkan perasaan bahagianya. Tak peduli dengan orang di sekitarnya.


"Makasih Sayang, aku bahagia sekali," ucap Gio yang melabuhkan kecupan di kening istrinya.


"Yang, tolong turunkan aku! Malu, dilihatin orang," protes Kinanti.


"Aku tak peduli!" sahut Gio.


Bukannya menurunkan sang anak, Gio justru menggendong sang istri, dan membawanya ke brankar tempat sang istri. Wajah Kinanti terlihat memerah, menahan perasaan malu.


Gio meletakkan sang istri di brankar rumah sakit. Kinanti memilih duduk di tepi brankar rumah sakit.


"Bagaimana Ibu hasilnya?" tanya sang dokter.


Gio begitu bersemangat, dia langsung memberikan testpack itu ke sang dokter.


"Positif ya Ibu Kinanti saat ini sedang hamil, dan yang dialami Ibu Kinanti saat ini bukan karena Ibu Kinanti menderita penyakit, tetapi karena Ibu Kinanti saat ini sedang hamil. Di usia kehamilan trimester pertama, banyak wanita hamil yang mengalami hal seperti itu. Kadar zat asam dalam perut, lebih meningkat. Menyebabkan wanita hamil mengalami mual dan bahkan muntah. Reaksi yang terjadi pada perut, menekan ke kepala, membuat Ibu Kinanti merasakan sakit di kepalanya akibat rasa mual yang dirasa," jelas sang dokter.


Kejadian ini tentu saja bukan hal pertama kali bagi Kinanti, karena dia pernah merasakannya saat hamil Satria dan Bunga dulu. Namun, berbeda halnya dengan Gio yang baru mengalami hal ini. Wajar, jika Gio terlihat lebih penasaran dan panik.


"Untuk memastikan lebih jelas, mengenai usia kandungan, kondisi janin yang di kandung, atau apapun mengenai janin tersebut. Sebaiknya Ibu melakukan USG," ujar sang dokter dan Gio tampak menyimak. Gio akan berusaha menjadi suami yang siaga, dia akan mengganti kesalahannya dulu saat hamil Satria dan juga Bunga.


Pastinya Gio akan sangat perhatian kepada sang istri.


"Pasti akan tambah heboh, dan posesif saja dia sama aku," gerutu Kinanti dalam hati.

__ADS_1


Gio menyuruh sang istri menunggu dulu di IGD, sedangkan dia pergi mendaftarkan sang istri ke bagian administrasi. Kinanti sudah merasa segar, infus di tangannya pun sudah habis, dokter sudah memperbolehkan melepaskan infus di tangan Kinanti.


Gio sudah selesai mendaftarkan sang istri, dia kembali ke tempat sang istri berada. Demi sang istri, dia rela melakukannya sendiri. Padahal dia terbiasa menyuruh sang asisten. Gio belajar menghilangkan gengsinya. Mulai dari membeli testpack, membeli bubur ayam untuk makan sang istri, dan juga melakukan pendaftaran administrasi pemeriksaan ke poli di bagian administrasi.


"Sudah selesai, Dok? Kok sudah di lepas infusnya?" Tanya Gio, saat kembali ke ruangan tempat sang istri berada.


"Ibu Kinanti sudah terlihat segar, dan cairan infusnya juga sudah habis. Jadi sudah tak perlu tambah cairan infus lagi," jelas sang dokter.


"Alhamdulillah kalau kamu sudah merasa baik Yang. Ya sudah, ayo kita ke poli. Aku sudah selesai daftar, tinggal tunggu di panggil saja untuk di periksa. Kamu mau pakai kursi roda apa jalan biasa." Tanya Gio kepada sang istri.


"Jalan biasa saja, aku sudah merasa segar. Enggak lemas lagi," sahut Kinanti.


Gio begitu mesra menggandeng tangan sang istri keluar dari IGD menuju poli obgyn. Gio begitu sabar menemani sang istri, menunggu giliran sang istri di periksa.


"Pasien selanjutnya, Ibu Kinanti Aurora," panggil sang perawat.


"Silahkan duduk! Ibu ada keluhan yang di rasa enggak?" tanya sang dokter.


Bukannya Kinanti yang menjawab, justru Gio yang begitu antusias menceritakan apa yang di rasa istrinya. Dia juga mengatakan kalau sang istri tadi sempat masuk IGD, karena dia ataupun sang istri tak tahu kalau saat ini sang istri sedang hamil.


Sang dokter tampak tersenyum, mendengar ucapan Gio.


"Ini anak ke berapa ya bu kalau saya boleh tahu?" tanya sang dokter.


"Hamil yang pertama, saya melahirkan anak kembar dok melalui persalinan normal," jawab Kinanti.


"Wah hebat sekali, bisa melahirkan anak kembar secara normal," puji sang dokter. Gio terlihat diam hanya menyimak percakapan sang dokter dengan Kinanti, untuk data pasien tentang kehamilan sebelumnya.

__ADS_1


Pendataan selesai, sang dokter menyuruh Kinanti berbaring di brankar. Untungnya dokter yang praktek saat ini, adalah dokter perempuan. Jika tidak, pasti Gio akan menunjukkan posesifnya, saat sang dokter mengangkat baju yang Kinanti gunakan. Dokter mulai mengarahkan transducer yang di letakkan di perut Kinanti.


Gio dan Kinanti tampak serius memperhatikan layar monitor. Begitu juga sang dokter.


"Wah, selamat Ibu dan Bapak. Janinnya kembar lagi. Ada dua kantung janin di rahim Ibu Kinanti. Usia kandungan Ibu Kinanti sekarang 6 minggu. Semuanya normal dan sehat," jelas sang dokter.


"Enam minggu?" Tanya Kinanti dan Gio bersamaan. Sang dokter mengiyakan.


"Berarti, waktu kita ke Yogya, kamu itu sedang hamil," ujar Gio dan Kinanti menganggukkan kepalanya.


Mereka bersyukur, alhamdulillah tak terjadi sesuatu dengan kedua bayi mereka.


"Alhamdulillah, baik-baik saja. Padahal kami dulu sering melakukan hubungan intim dan berjalan-jalan," jelas Gio dengan santai. Dia tak melihat wajah istrinya yang sudah memerah menahan rasa malu, karena sang istri menceritakan adegan ranjang mereka.


"Sekarang bapak 'kan sudah tahu, berarti sekarang bapak harus puasa. Berhubungan suami istri saat trimester pertama, dapat menyebabkan resiko keguguran. Kalau bisa tolong di hindarkan dulu! Masih boleh melakukannya, asalkan jangan di buang di dalam ya! Usahakan memakai pengaman dulu, karena cairan sper*ma dapat menyebabkan keguguran," jelas sang dokter.


"Itu dengar! Kamu harus puasa 3 tahun dulu. Sampai usia kembar 2 tahun, dan selama hamil sembilan bulan," goda Kinanti.


"Parah, mana bisa aku suruh menahannya sampai lama seperti itu. Baru sehari saja, rasanya seperti bertahun-tahun," sahut Gio membuat sang dokter terkekeh mendengar percakapan mereka.


Tentu saja Gio merasa senang, karena mendapatkan Baby Twins lagi. Berbeda halnya dengan Kinanti yang justru merasa lesu. Mengurus dua orang anak saja, dia sudah pusing. Bagaimana nanti kalau 4 orang anak. Gio merasakan ke khawatiran sang istri.


"Tak perlu khawatir, kamu tak sendiri kok mengurus keempat buah hati kita nanti. Aku akan siap sedia membantu kamu menjadi suami dan ayah siaga. Aku juga akan menyiapkan baby sister untuk masing-masing anak-anak, agar kamu tak kerepotan mengurusnya sendiri," ucap Gio sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut, mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


Mereka kini sedang menunggu obat di apotek. Menunggu obat yang sudah di resepkan oleh sang dokter. Sang dokter memberikan obat untuk pereda mual, vitamin, penguat kandungan, dan juga untuk vitamin kecerdasan otak bayi


__ADS_1


__ADS_2