
Kinanti langsung bangkit dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Dia mengalami mual kembali. Mendengar sang istri muntah-muntah, Gio pun ikut terbangun dari tidurnya. Dia langsung menghampiri sang istri ke kamar mandi.
"Pokoknya aku enggak mau dengar penolakan kamu lagi! Aku enggak bisa sabar, melihat kamu seperti ini. Kita ke rumah sakit sekarang juga, enggak perlu tunggu poli buka. Kita langsung ke IGD saja. Ayo kita siap-siap," ujar Gio.
Dalam hal ini justru Gio yang terlihat panik. Dia khawatir dengan sang istri. Kalau sudah seperti ini, Kinanti tak bisa berkutik. Lebih baik dia langsung bersiap-siap mengganti pakaiannya. Sebelum berangkat, mereka menyempatkan waktunya untuk sholat subuh.
Bagaimana bisa Gio bersikap tenang, melihat wajah istrinya terlihat sangat pucat, karena mengalami muntah sejak semalam. Dia khawatir kalau sang istri keracunan makanan di restoran padang kemarin itu.
"Bi, tolong titip anak-anak ya! Ibu mau ke rumah sakit dulu, berobat," ucap Kinanti.
"Iya Bu, semoga ibu lekas sehat. Apa jangan-jangan saat ini ibu sedang hamil adiknya kembar. Biasanya orang hamil muda seperti itu. Tadi malam saya jadi kepikiran kalau ibu sebenarnya tidak sakit, tetapi ibu sedang hamil," ucap sang ART.
Kinanti jadi teringat kalau dirinya belum datang bulan sampai saat ini. Percakapan mereka harus terhenti, karena Gio memanggil Kinanti mengajak berangkat sekarang. Kinanti tampak diam, dia menjadi kepikiran ucapan ART-nya.
Dia jadi teringat saat hamil kembar dulu. Di trimester awal, dia pun mengalami demikian. Namun, semakin besar kandungannya justru Gio yang mengalami kehamilan simpatik. Dia yang seperti orang aneh, harus merasakan mual dan muntah. Dia juga mengidam makanan aneh, seperti wanita hamil. Bahkan saat melahirkan kembar, Gio pun merasakan mules seperti mau melahirkan.
"Sebaiknya aku tak bahas masalah ini. Karena belum pasti kebenarannya, aku takut kalau nantinya dia berharap banget. Nyatanya, aku tak hamil, dan hanya masuk angin biasa," gumam Kinanti dalam hati.
Mereka kini sudah sampai di rumah sakit yang letaknya berada di area perumahan tempatnya tinggal. Gio menggandeng sang istri memasuki IGD, dia meminta dokter jaga memeriksa kondisi istrinya. Gio mulai menceritakan apa yang dialami istrinya, kepada sang dokter. Dokter melakukan pemeriksaan.
"Saya takutnya dia keracunan makanan dok, soalnya yang dia alami sejak semalam seperti orang yang keracunan," ujar Gio.
"Apa Ibu, saat ini sedang hamil? Wanita hamil di trimester pertama, sering kali mengalami hal yang serupa seperti ini," jelas sang dokter.
"Apa benar yang dikatakan Dokter Yang? Kalau saat ini kamu sedang hamil?" Tanya Gio.
Kinanti belum bisa memastikan, karena dia memang belum melakukan pemeriksaan. Hingga akhirnya sang dokter menyarankan agar Kinanti melakukan tes kehamilan dengan menggunakan alat tes kehamilan, dan juga melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.
__ADS_1
"Dok, apa ada cara atau obat untuk meredakan rasa mual yang dirasakan istri saya? Saya tak tega melihatnya, paling tidak sampai menunggu dokter kandungan praktek," ujar Gio.
"Saya sarankan bapak membeli alat tes kehamilan dulu di apotek, agar ibunya bisa melakukan tes," saran sang dokter.
Sang dokter tak ingin melakukan kesalahan, memberikan obat sembarangan. Dia meminta Gio memastikannya dulu, kalau Kinanti hamil atau tidak. Pihak dokter hanya memasangkan infus, karena Kinanti mengalami dehidrasi, kekurangan cairan.
"Yang, aku beli testpack dulu ya ke apotek. Tunggu dulu ya! Kamu mau sarapan apa? Biar aku sekalian beli," ujar Gio. Gio terlihat begitu mencintai sang istri.
"Aku belum mau makan, nanti saja," sahut Kinanti.
"Tapi ..., kamu harus makan! Perutnya harus di isi, nanti yang ada kamu tambah mual. Aku belikan bubur ya sayang! Biarpun sedikit, kamu harus makan! Kasihan anak-anak kalau kamu sakit," rayu Gio dan akhirnya Kinanti menganggukkan kepalanya.
Gio langsung pergi meninggalkan sang istri untuk membeli testpack yang di apotek yang berada di lantai 2, setelah itu dia akan langsung membeli bubur untuk istrinya sarapan. Setelah membeli testpack, Gio langsung membeli satu porsi bubur ayam pinggir jalan. Karena terpaksa, dia menghilangkan perasaan gengsinya, karena jajan makanan pinggir jalan.
"Perut aku lapar juga. Higienis enggak ya?" Gio tampak dilema. Hingga akhirnya dia mencoba menghilangkan perasaan yang tidak-tidak tentang makanan pinggir jalan. Gio akhirnya memesan bubur ayam untuk di makan langsung di situ.
Setelah selesai makan, Gio kembali ke rumah sakit. Dia sudah tak sabar menunggu hasil pemeriksaan sang istri. Dia terlihat begitu bersemangat.
Gio baru saja sampai di IGD, dia langsung menghampiri sang istri yang sudah menunggu dirinya.
"Makan dulu yuk! Biar kamu ada tenaga, enggak lemas lagi," ujar Gio.
Gio langsung membantu sang istri duduk, dia langsung menyiapkan bubur ayamnya.
"Kamu enggak sekalian beli? Makanan pinggir jalan enak kok," ujar Kinanti.
"Em, sudah kok. Aku sudah makan di sana tadi," jelas Gio.
__ADS_1
Gio begitu telaten mengurus sang istri. Dia tampak menyuapi sang istri makan. Kinanti masih saja merasa mual, baru beberapa siap saja dia merasa ingin muntah kembali. Dia terlihat begitu lemah.
"Kenapa? Mual ya?" tanya Gio dan Kinanti menganggukkan kepalanya.
"Sudah makannya! Aku mual," ujar Kinanti.
Awalnya Gio tetap ngotot menginginkan sang istri makan. Namun, rasa mual yang Kinanti rasakan semakin menjadi. Hingga akhirnya, Gio berhenti memaksa sang istri untuk makan. Paling tidak sudah ada masukan yang sang istri makan.
"Coba kamu cek dulu pakai alat testpack ini! Setelah itu aku baru daftar ke poli," ujar Gio.
Gio membantu sang istri untuk turun dari ranjang, dia juga membantu sang istri ke kamar mandi, dan menyiapkan semuanya agar memudahkan sang istri untuk menggunakannya.
"Kamu coba tes dulu ya! Kalau sudah selesai panggil aku ya! Aku tunggu di luar," ucap Gio dan Kinanti menganggukkan kepalanya.
Jantung Kinanti berdegup kencang, dia merasa deg-degan. Sudah tak sabar untuk menunggu hasilnya, setelah Kinanti melakukan pengecekan.
Kinanti merasa begitu terharu, saat melihat testpack yang dia gunakan menunjukkan dua garis merah.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau memberikan aku kepercayaan kembali untuk mengandung dan melahirkan anak kembali," ucap Kinanti sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
Di luar, Gio tampak gelisah menunggu hasil dari pemeriksaan sang istri. Dia berharap kalau sang istri memang benar sedang hamil anaknya kembali.
"Sayang ..., apa kamu sudah selesai? Mengapa kamu lama sekali di dalam? Apa kamu baik-baik saja di dalam?" panggil Gio dengan lembut.
Kinanti pun akhirnya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1