
Satria tertarik saat membaca event kompetisi pembuatan game online. Bukan suatu hal yang sulit baginya, karena dia pernah mengikuti lomba seperti itu sebelumnya, dan dia berhasil memenangkan lomba.
"Aku coba ah, kali aja menang," ucap Satria dalam hati.
Sudah cukup lama dia tak menghasilkan sesuatu. Diam-diam Satria mencoba membuat aplikasi game online. Dia terlihat begitu serius mengutak-atik MacBook miliknya.
"Mengapa kamu belum tidur? Ini sudah larut malam, besok pagi kamu harus sekolah. Besok yang ada kamu bisa terlambat ke sekolah," ujar sang bunda. Sebelum tidur, Kinanti selalu menyempatkan waktu untuk mengontrol kedua buah hatinya di kamar masing-masing.
Saat ini usia kandungan Kinanti memasuki usia enam bulan. Perutnya sudah semakin besar, karena dia mengandung bayi kembar. Dia sudah semakin sulit bergerak. Gio pun semakin posesif, tak membiarkan istrinya pergi sendiri keluar rumah.
"Iya bun, sebentar lagi. Tadi aku lihat di iklan online, ada lomba pembuatan aplikasi game online, dan aku tertarik ingin mengikutinya," jelas Satria.
__ADS_1
"Ya sudah. Tapi ingat, sekolah tetap nomor satu! Ayah dan bunda enggak mau, kalau kamu sampai keganggu sekolahnya," Kinanti mengingatkan sang anak.
"Iya bun, aku janji. Aku tak akan malas sekolah, aku tetap akan memprioritaskan sekolah nomor satu," jelas Satria.
"Baiklah, bunda percaya. Ya sudah, setelah ini kamu tidur ya. Bunda tidur dulu ya sayang," ujar Kinanti dan Satria menganggukkan kepalanya.
Kinanti akhirnya keluar dari kamar anaknya, dan kembali lagi ke kamarnya. Satria melanjutkan kembali pekerjaannya. Dia mulai membuat icon-icon tokoh permainan, dan mengumpulkannya.
"Kok kamu lama? Memangnya siapa yang belum tidur?" Tanya Gio menyelidik.
"Ini yang aku takutkan. Aku takut, sekolahnya akan terganggu. Dia jadi malas bangun, karena begadang terus," protes Gio.
__ADS_1
"Tak usah khawatir, aku sangat kenal Satria. Dia anak yang bertanggung jawab. Dia pun tadi sudah berjanji, akan tetap memprioritaskan sekolah. Dia tak akan malas ke sekolah, meskipun tidur malam," jelas Kinanti yang berusaha memberikan penjelasan kepada sang suami. Akhirnya Gio mengerti.
Sebenarnya, dia tak pernah melarang kedua buah hatinya untuk melakukan hobinya. Hanya saja, dia tak ingin kalau sekolah mereka terganggu. Kembar jadi malas sekolah.
"Ya sudah, ayo kita tidur! Ini sudah larut malam, wanita hamil tak baik begadang," ujar Gio dan Kinanti menganggukkan kepalanya.
Kinanti sudah mulai merasa tak nyaman untuk tidur. Dia baru bisa tidur, di kala sang suami mengusap rambutnya sampai dia tertidur pulas.
"Tidur dulu deh, besok aku lanjut lagi," ujar Satria.
Satria langsung menutup MacBook miliknya dan naik ke ranjang untuk tidur. Perlahan mata dia meredup, hingga akhirnya tertidur nyenyak.
__ADS_1
Jam alarm di ponsel Kinanti sudah berbunyi, Kinanti langsung beranjak turun untuk sholat tahajud. Tak pernah menjadi alasan bagi Kinanti untuk bermalas-malasan. Dia langsung berwudhu, sholat tahajud. Sampai menunggu waktu subuh, Kinanti memutuskan untuk mengaji Al-quran. Dia berharap sang anak kelak akan menjadi anak yang sholeh atau sholeha.
Kinanti sudah tak sabar ingin tahu jenis kelamin anaknya itu. Rencananya, Sabtu ini dia akan periksa kandungan, melakukan USG untuk melihat jenis kelamin kedua buah hatinya.