
"Allah memang baik padaku. Mempertemukan aku kembali dengannya. Mungkinkah takdir akan menyatukan kami?" Erland bermonolog.
Mulai hari ini Tia sudah mulai magang di perusahaan Gio. Tentu saja ini sebuah keberuntungan untuknya. Dia bisa mendekati Tia. Untungnya sang bos mendukungnya, Gio tak mempermasalahkan Erland mendekati Tia.
"Ti, kamu mau makan siang bareng aku enggak? Aku yang traktir deh," ucap Erland.
"Terima kasih, aku ingin makan sendiri saja," sahut Tia ketus yang langsung meninggalkan Erland begitu saja.
"Aku enggak akan putus semangat Ti. Aku akan berjuang menaklukkan hati kamu," ucap Erland dalam hati.
Erland mengikuti Tia ke kantin, dan duduk di hadapan Tia. Tentu saja hal itu membuat Tia merasa kesal dengan sikap Erland.
"Bisa enggak, kalau kamu enggak ganggu aku! Kenapa harus duduk di depan muka aku si? Buat aku tak nap*su makan saja," cerocos Tia.
"Loh, ini 'kan tempat umum. Aku bebas dong, mau duduk dimana pun," sahut Erland. Akhirnya, Tia memilih untuk tak melanjutkan pembicaraan.
__ADS_1
Tia merasa kesal, karena Erland terus memandang dirinya. Memperhatikan dirinya makan. Tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir Tia. Secepat mungkin Tia menghabiskan makanannya, agar dia bisa segera pergi dari tempat itu.
Erland baru merasakan jadi bosnya dulu, yang berjuang untuk mendapatkan istrinya. Baru kali ini Erland merasakan jatuh cinta, dan dia akan terus memperjuangkannya.
Tia berusaha untuk tidak peduli dengan sikap Erland kepadanya. Dia berusaha untuk tetap fokus belajar bekerja. Tujuannya hanya satu, agar dia bisa segera lulus kuliah.
"Tuan, apa saja bisa tak pulang bareng sama Tuan? Saya ingin mendekati Tia, mengajak dia pulang bareng," ujar Erland.
Erland terus memantau Tia, dia tahu kalau Tia sedang tak bawa kendaraan. Tia datang dengan menggunakan ojek online.
"Ya, tak apa. Semoga kau berhasil," sahut Gio.
Kini saatnya jam pulang. Tia terlihat sudah bersiap-siap untuk pulang. Diam-diam Erland mengikuti Tia dari belakang. Dia ingin mengajak Tia pulang bareng, mumpung Tia sedang tidak bawa kendaraan.
"Ti, kamu pulang sama aku saja ya," ucap Erland yang datang secara tiba-tiba, membuat Tia terperanjat kaget.
__ADS_1
"Terima kasih, aku pulang naik ojek online saja," sahut Tia.
"Sudahlah, jangan gengsi! Tak perlu takut, aku tak akan berbuat macam-macam kok. Aku akan mengantarkan kamu dengan selamat," ungkap Erland.
"Sekarang kamu tinggal pilih! Mau nurut sama aku, apa aku akan menyuruh pihak HRD untuk memberikan kamu nilai yang jelek," ancam Erland.
"Kok kamu mengancam aku si? Kalau aku enggak mau, jangan maksa dong! Bertindak sportif dong," gerutu Tia.
"Biarin! Habisnya kamu keras kepala. Jika dengan cara baik tak bisa meluluhkan hati kamu, aku akan mendekati kamu dengan tindakan pemaksaan," sahut Erland sambil memainkan alisnya.
"Dasar nyebelin! Rese banget si kamu. Bertindak seenaknya saja!" umpat Tia.
"Kalau tak seperti ini, aku yakin kamu pasti menolak aku terus. Lebih baik kamu turutin permintaan aku," ucap Erland.
Dengan perasaan kesal, akhirnya Tia menerima tawaran Erland untuk mengantarkan dia pulang. Selama perjalanan, Tia memilih untuk diam. Dia hanya menjawab pertanyaan dari Erland.
__ADS_1
"Ini laki-laki tak putus asa banget, meskipun aku jutekin. Apa dia memang benar-benar serius sama aku? Tetapi aku takut berhubungan sama laki-laki yang lebih dewasa, takut dia memanfaatkan aku," Tia bermonolog dalam hati.