Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan

Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan
Terpesona


__ADS_3

"Kamu?" Erland terkejut tak mampu berkata-kata lagi.


"Kamu kerja disini?" Tanya Tia, yang justru lebih terlihat cuek. Erland mengatakan kalau dia kerja di perusahaan itu.


Tia terlihat lebih santai, dia mengajak ngobrol Erland biasa saja. Padahal Erland pernah mengutarakan perasaannya saat pertama kali bertemu. Berbeda halnya dengan Erland yang justru jantungnya berdegup lebih kencang, dan terlihat gugup.


Percakapan mereka harus terhenti, karena sang resepsionis memanggil Tia untuk segera menemui Gio.


"Wah, kesempatan ini buat deketin dia. Aku yakin pasti bisa menaklukkannya. Jadi, mahasiswi yang dimaksud itu dia," ucap Erland dalam hati.


Kini Erland dan Tia berjalan bersama menuju ruangan Gio. Sesekali Erland melirik ke arah Tia yang saat ini berada di sebelahnya. Dia terpesona dengan kecantikan Tia yang alami.


Erland mengetuk pintu lebih dulu, sebelum Erland membuka pintu ruangan bosnya.

__ADS_1


"Permisi Tuan, ini mahasiswi yang akan magang di perusahaan ini," ucap Erland yang seolah-olah menjadi pahlawan kesiangan untuk Tia.


Gio terkejut saat melihat Tia.


"Sepertinya, sebelum ini kita sudah pernah bertemu? Saya merasa sudah pernah bertemu kamu sebelumnya," ucap Gio.


"Iya, Tuan. Di tempat makan. Saat asisten Anda mencoba berkenalan dengan saya," sahut Tia santai.


Gio sudah mengingat dan menjadi teringat, kalau asistennya dulu terpesona dengan Tia.


"Maaf Pak, kedatangan saya kesini bukan untuk membicarakan masalah jodoh. Kedatangan saya kesini untuk membahas masalah magang saya. Apa perusahaan ini menerima saya untuk magang?" Tanya Tia tegas. Membuat Erland menelan salivanya.


"Sepertinya, aku harus bekerja keras dalam hal ini," gumam Erland dalam hati.

__ADS_1


Hal ini tak membuang Erland patah semangat, dia justru semakin tertantang untuk mendapatkan Tia.


Gio mulai berbincang kepada Tia. Sedangkan Erland hanya memandang Tia yang sedang berbincang dengan Gio. Dia begitu kagum lihatnya. Ternyata, bukan hanya cantik saja. Tia juga wanita yang pintar, memiliki wawasan yang luas. Membuat Erland merasa kagum.


Setelah selesai berbincang, Tia pamit pulang. Mulai besok dia akan magang di perusahaan itu. Erland mengikuti Tia dari belakang, membuat Tia merasa kesal.


"Bisa enggak si enggak ganggu aku? Aku ingin fokus dengan tugas akhir aku, dan belum berniat berhubungan dengan laki-laki manapun," protes Tia.


"Iya, aku ngerti. Aku akan menunggu kamu. Tapi, aku mohon terima aku dulu," ucap Erland yang sedikit memaksa. Ternyata perasaan Erland kepada Tia tidak berubah. Erland sempat merasa putus asa karena dulu sempat terpisah, dan hari ini mereka di pertemukan kembali.


"Kita ini berjodoh. Sekian lama terpisah, tetapi takdir akhirnya menyatukan kita lagi. Hingga akhirnya, hari ini kita di pertemukan kembali," ucap Erland dengan bangganya.


"Kamu tahu apa tentang jodoh dan takdir? Jangan berharap lebih, jika kamu tak ingin merasa sakit. Lebih baik kamu lupakan saja aku! Karena kamu bukan kriteria aku," ucap Tia tegas.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu! Kamu belum mengenal aku. Aku yakin, kalau nantinya kamu akan jatuh cinta padaku, dan terpesona dengan ketampanan aku," ucap Erland sambil memainkan alisnya.


"Astaga. Percaya diri sekali kamu, dengan bangganya memuji diri sendiri," sindir Tia. Tia langsung pergi meninggalkan Erland begitu saja.


__ADS_2