
Hari yang dinanti telah tiba. Hari ini Kinanti akan mulai masuk rumah sakit, untuk persiapan kelahiran buah hatinya dengan Gio. Bunga begitu berat untuk berpisah dengan sang bunda. Kedua orang tua Gio akan menginap menemani Bunga dan juga Satria.
"Jangan nangis lagi dong sayang! Besok pagi kakak Bunga datang ke rumah sakit sama Kak Satria, nenek, dan kakek ya! Bunda malam ini harus menginap di rumah sakit, karena besok pagi kedua adik bayi akan lahir," ucap Kinanti kepada sang anak. Dia mencoba memberi pengertian kepada Bunga.
"Iya, tapi Bunda jangan lama-lama ya pulang dari rumah sakitnya!" Ujar Bunga. Padahal, selama ini dia tak pernah seperti itu. Bahkan Bunga dan Satria suka menginap di rumah orang tua Gio. Satria dan Bunga pun sudah terbiasa tidur di kamar sendiri. Namun, hari ini dia menjadi melow. Begitu berat melepas kepergian sang bunda.
"Sayang, bunda itu pergi karena mau melahirkan adik bayi. Doakan Bunda, semoga operasinya berjalan lancar, dan diberikan keselamatan. Kedua adik bayi juga sehat. Jadi, mereka bisa cepat pulang ke rumah lagi. Besok 'kan Kakak Bunga datang sama Kak Satria, nenek, dan kakek ke rumah sakit." Gio pun ikut memberi pengertian kepada sang anak.
"Sudah sana kalian berangkat! Urusan Satria dan Bunga, percayakan sama mama dan papa! Tak perlu dipikirkan! Yang penting kamu fokus untuk melahirkan! Ingat, kamu harus tenang!" Ujar mamanya Gio.
Kinanti mencium tangan kedua orang tua Gio secara bergantian, dia juga meminta doanya. Kelahiran kedua ini, pastinya sangat berbeda saat dulu melahirkan Satria dan Bunga. Dimana Kinanti harus berjuang sendiri, tanpa di dampingi Gio ataupun kedua orang tua Gio. Kelahiran sekarang, Gio akan selalu mendampingi Kinanti, termasuk saat di kamar operasi.
"Ayo sayang, kita berangkat sekarang!" Ajak Gio.
Sang ART sudah memasukkan koper ke dalam mobil. Semua keperluan Kinanti melahirkan, dan juga keperluan kedua buah hatinya setelah lahir. Mereka pamit untuk berangkat. Kini keduanya sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah sakit. Gio tampak menggandeng tangan Kinanti mesra memasuki rumah sakit. Kinanti langsung mendapatkan tindakan, sebelum masuk ke ruang perawatan.
Kini Kinanti sudah berada di ruang perawatan. Tangannya sudah di infus, dan Kinanti diminta untuk puasa enam jam sebelum di operasi. Gio begitu setia mendampingi sang istri.
Kelahiran kedua Kinanti justru lebih merasa tegang. Karena saat melahirkan Satria dan Bunga, Kinanti melahirkan secara normal. Gio dapat merasakan, apa yang istrinya rasakan saat ini. Melihat keadaan sang istri, Gio sudah memutuskan untuk tidak menambah anak kembali. Mereka hanya akan membesarkan keempat anak mereka saja.
"Sayang, aku yakin pasti semuanya akan baik-baik saja! Jangan tegang ya! Aku akan selalu mendampingi kamu," ucap Gio.
Gio kini ikut naik ke ranjang rumah sakit, ikut tidur di sebelah sang istri. Dia tampak memeluk sang istri, dan memberikan kecupan di pucuk kepala, kening, kedua pipinya, dan juga bibir sang istri.
"I love you. Aku ingin menua bersamamu, membesarkan anak-anak kita bersama," ucap Gio dan Kinanti hanya menganggukkan kepalanya.
Kinanti sudah terlihat tenang. Ketulusan hati sang suami, membuat dia Kinanti merasa di cintai sang suami.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WiB Gio tampak mengusap kepala sang istri dengan lembut. Hingga akhirnya sang istri tertidur nyenyak.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, sampai kapanpun hanya kamu yang aku cintai," ucap Gio dalam hati sambil memandang wajah teduh sang istri.
Perlahan, Gio pun turun dari ranjang. Dia ingin tidur di sofa, agar sang istri tak merasa kesempitan. Gio pun akhirnya tertidur nyenyak, menanti saatnya hari berganti esok. Menyambut lahirnya sang buah hati.
Azan subuh telah berkumandang. Kinanti dan Gio sudah terbangun untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah, sebelum Kinanti akan melakukan operasi sesar.
Gio membantu sang istri memakaikan mukena. Kinanti melakukan tayamum. Gio memimpin sholat subuh berjamaah. Setelah itu, Gio menghampiri Kinanti, karena Kinanti ingin mencium tangan sang suami.
"Semoga persalinannya lancar ya sayang. Terima kasih mau berjuang untuk melahirkan anak-anakku. Semangat ya! Aku akan selalu ada untuk kamu," ucap Gio sambil memberikan kecupan di kening istrinya.
"Oh, iya. Kamu tenang saja, ini persalinan kamu terakhir. Karena aku tak akan membuat kamu hamil lagi setelah ini. Nanti, kalau kamu melahirkan terus, dan mengurus buah hati kita. Aku pasti jadi terlantar," ucap Gio sambil terkekeh.
"Yakin ini. Gimana caranya? Kau saja maunya nyeruduk aku terus. Awas saja kalau bohong!" Sahut Kinanti. Membuat Gio cengengesan.
Obrolan mereka terhenti, kini berubah menjadi tegang. Karena sebentar lagi, Kinanti akan segera masuk kamar operasi. Bunga, Satria, dan kedua orang tua Gio baru saja sampai.
"Ma, Pa, doakan Kinanti ya! Semoga operasi Kinanti berjalan lancar," ucap Kinanti.
"Sayang, doakan Bunda ya. Semoga operasi bunda berjalan lancar, dan dede bayi keduanya sehat. Satria dan Bunga doakan bunda ya," ucap Kinanti sambil memeluk Satria dan juga Bunga.
Saatnya Kinanti masuk kamar operasi. Gio tampak menggenggam tangan sang istri memberikan kekuatan. Kini mereka sudah berada di ruang operasi. Suasana tampak tegang.
"Rileks sayang! Aku yakin, semua akan baik-baik saja!" Ujar Gio kepada sang istri. Kinanti terus berdoa, untuk meminta kelancaran operasinya.
Gio tampak memperhatikan saat dokter mulai menyayat perut sang istri. Hingga akhirnya suara tangis bayi mulai terdengar di ruang operasi. Satu persatu anaknya lahir ke dunia dengan selamat. Anak pertama mereka berjenis kelamin perempuan, dan anak kedua mereka berjenis kelamin laki-laki.
Sampai-sampai Gio terharu meneteskan air matanya. Dia tak menyangka menjadi seorang ayah dari empat orang anak di usianya yang masih terbilang muda.
Setelah di bersihkan, Gio langsung melafazkan adzan dan iqomah di telinga kedua anaknya. Setelah itu dia keluar dari ruang operasi, menunggu sang istri siuman dari pengaruh biasanya.
"Gimana Kinanti? Apa dia baik-baik saja? Gimana kondisi kedua anak kamu?" Tanya Mamanya Gio saat sang anak keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Anak pertama lahir berjenis kelamin perempuan, dan anak kedua lahir berjenis kelamin laki-laki. Keduanya dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan apapun. Kinanti hanya menunggu siuman saja," jelas Gio membuat kedua orang tua Gio mengucap kata syukur dan bisa bernapas lega.
Tak lama kemudian kedua bayi Kinanti di bawa keluar oleh bidan yang ikut mendampingi dokter saat Kinanti melahirkan.
"Itu anaknya Nyonya Kinanti ya?" Tanya Mamanya Gio kepada bidan yang keluar. Sang perawat mengatakan iya. Bunga, Satria, dan kedua orang tua Gio langsung melihat kedua bayi itu. Bayi yang begitu menggemaskan. Sangat cantik dan tampan seperti kedua orang tuanya.
Anak perempuan mereka akan diberikan nama Adelia Faranisa Aznii yang berarti Perempuan yang selalu gembira, cantik dan mulia. Sama halnya sang kakak yang bernama Bunga. Sedangkan anak laki-laki mereka akan diberi nama
Adelio Orlando Arsenio yang berarti Laki-laki seperti pangeran mulia yang gagah berani, terkenal ke penjuru negeri, seperti nama sang kakak yang bernama Satria.
Kinanti sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dan hanya tinggal menunggu siuman saja. Adelia dan Adelio pun akan diberikan kepada mereka, agar Kinanti nantinya berlatih menyusui mereka.
Perlahan, Kinanti membuka matanya. Dia masih terlihat lemas. Gio merasa bahagia, melihat sang istri membuka matanya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Ujar Gio.
Gio langsung menghampiri sang istri, dan melabuhkan kecupan di kening istrinya.
"Terima kasih sudah berjuang melahirkan anak kita. I love you. Aku akan selalu mencintai kamu," ucap Gio.
Bukan hanya Gio saja yang mengucap terima kasih. Kedua orang tua Gio pun mengucap terima kasih, karena telah memberikan kebahagiaan untuk mereka. Mereka begitu bersyukur. Bunga dan Satria pun begitu bahagia. Karena sudah bisa melihat kedua adiknya lahir ke dunia.
"Terima kasih Bunda, aku bahagia banget," ucap Bunga. Bunga memberikan kecupan di pipi sang Bunda. Satria pun melakukan hal yang sama. dengan sang adik.
Kebahagiaan Gio dan Kinanti bertambah lengkap, dengan hadirnya Adelia dan Adelio di tengah-tengah mereka. Gio dan Kinanti berharap bisa menjadi orang tua yang baik untuk ke empat anak-anak mereka. Mereka juga mendoakan, agar anak-anak mereka kelak menjadi anak-anak yang sholeh dan sholeha.
Akhirnya, kita di ujung dari cerita Gio dan Kinanti. Mereka telah meraih kebahagiaan dengan hadirnya ke empat buah hati mereka. Semoga mereka bisa menjadi orang tua yang baik untuk kedua buah hati mereka.
__ADS_1
Author ucapkan mohon maaf, karena terhambatnya up untuk karya ini. Terima kasih atas dukungan kalian untuk karya ini.