
Satria tak melewatkan sedikitpun waktunya untuk berjuang memenangkan kompetisi membuat aplikasi game online. Tangan mungilnya begitu lihai memainkan mouse, membuat icon-icon pembuatan aplikasi. Wajahnya terlihat serius menatap layar MacBook miliknya. Bahkan dia tak menyadari kalau sang bunda masuk ke dalam kamarnya.
"Mengapa kamu belum tidur? Bunda khawatir kalau nantinya kamu menjadi sakit, karena terlalu sering tidur terlalu malam. Bunda tak ingin kamu kecapean. Paginya kamu juga 'kan harus sekolah," ujar Bunda Kinan.
"Bunda tenang saja! Setelah ini, aku pasti tidur," sahut Satria, mencoba menenangkan sang bunda.
"Baiklah, jika kamu maunya begitu. Kalau bisa lanjutkan besok lagi, tenaga kamu jangan forsir. Bunda tidur ya," ujar Kinanti, dan Satria mengiyakan.
Akhirnya Kinanti kembali lagi ke kamarnya. Di dalam kamar sang suami sudah menunggunya.
__ADS_1
"Gimana anak-anak? Apa mereka sudah tidur?" Tanya Gio yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Kinanti akhirnya ikut naik ke ranjang, dan tidur di sebelah sang suami.
"Biasa, Satria jam segini masih mengotak-atik MacBook miliknya. Nanti, setelah itu baru tidur katanya," jelas Kinanti.
"Ya sudah, ayo kita tidur!" sahut Gio dan Kinanti menganggukkan kepalanya.
Tangan Gio langsung mengusap perut Kinanti sambil mengajak bicara kedua buah hatinya yang masih di dalam kandungan.
Kinanti sempat menertawakan Gio, saat mendengar Gio bercerita tentang kejadian itu. Semua itu karena Gio dulu tak bertanggung jawab kepada Kinanti. Hingga dia harus merasakan juga apa yang dia rasakan. Bukan itu saja, Gio juga harus merasakan mengidam.
__ADS_1
Hari ini adalah pengumuman pemenang kompetisi pembuatan game online. Satria berharap dirinya akan menang. Satria juga akan di ikutkan lomba robotik sebagai perwakilan dari pihak sekolahnya. Rencananya, acara itu akan di selenggarakan di Beijing, Cina. Perlombaan itu akan diadakan dua bulan lagi.
Awalnya Kinanti merasa bingung, karena perlombaan itu diadakan tak lama setelah dia melahirkan. Tak mungkin rasanya, dia bisa mendampingi Satria. Tanpa di duga, Gio yang menyanggupi akan mendampingi sang anak kesana. Sebagai orang tua, tentu saja dia merasa bangga memiliki anak yang genius. Kelak Satria akan menjadi peserta lomba yang paling termuda.
Saat yang dinanti telah tiba. Satria terlihat begitu bahagia, karena impiannya dapat terwujud. Dia berhasil menyabet juara. Dia mendapatkan piagam penghargaan, medali, dan juga uang sebesar 20 juta. Bagi Ayah Gio, tentu saja itu tak seberapa, tapi tidak untuk Satria. Yang dia banggakan bukan sebuah nominal yang dia dapatkan, tetapi kepuasan tersendiri, saat kerja kerasnya di terima.
Sabtu ini akan diadakan pertemuan di ITB Bandung. Mereka akan menyelenggarakan bincang-bincang dengan pemenang lomba. Tentu saja Gio akan mendampingi Satria. Rencananya, mereka akan berangkat hari Jumat. Gio akan memboyong Kinanti dan juga Bunga, mereka ingin sekalian berlibur sebelum Kinanti melahirkan. Lagi pula, hal ini belum pernah dilakukan. Gio ingin mengajak istri dan anaknya refreshing.
Hal ini membuat Bunga dan Satria merasa senang. Inilah saat-saat yang mereka nantikan. Gio juga memberikan uang senilai 10 juta kepada sang anak, sebagai hadiah karena sang anak memberikan sebuah kebanggaan untuknya.
__ADS_1
Bunga dan Satria tumbuh menjadi anak genius. Bukan hanya Satria saja yang memiliki prestasi. Bunga pun kerap mengikuti perlombaan melukis dan juga menyanyi. Bahkan, pihak sekolah juga mendukung Bunga untuk mengikuti ajang pencarian bakat di televisi. Tapi sayangnya, Gio tak mengizinkan. Dia hanya ingin Bunga mengikuti event, bukan sebagai seorang artis. Dia khawatir kalau nanti sekolahnya akan terganggu.