
Satria, Bunga, Ayah Gio, dan Bunda Kinanti terlihat sudah bersiap-siap untuk berangkat ke ITB.
"Rileks, Son! Ayah yakin semuanya akan lancar, kau adalah anak yang hebat. Kami sangat bangga padamu," ujar Gio yang mencoba menenangkan sang anak yang wajahnya terlihat tegang.
Sama halnya dengan Gio, Bunda Kinanti pun tampak memberikan support kepada anaknya. Kesuksesan sang anak adalah kebanggaan tersendiri sebagai orang tua.
Dengan mengucap bismillah Satria berangkat bersama kedua orang tuanya. Dia lebih memilih bekerja di belakang layar dari pada harus di wawancara dan di shoot dengan banyak kamera. Wawancara Satria akan di tayangkan di televisi swasta.
Mobil yang membawa mereka telah memasuki parkiran mobil kampus ITB. Wawancara akan di adakan di ruang auditorium kampus tersebut. Satria berjalan dengan di dampingi oleh sang ayah. Gio terlihat begitu bangga memiliki anak yang genius.
Terlebih saat mereka merasa terkejut, mereka tak menyangka kalau pemenang lomba itu adalah Satria. Sungguh luar biasa, anak seusia Satria mampu membuat aplikasi game online seperti itu. Bahkan sang ayah pun tak mampu melakukan hal itu.
__ADS_1
Banyak hal yang mereka tanyakan tentang kehidupan Satria. Sang pembawa acara bertanya kepada kedua orang tua Satria. Gio tampak memuji Kinanti sebagai seorang ibu dari Satria, dia mampu menjadikan Satria seperti itu. Tentu saja, bukan suatu hal yang mudah mendidik seorang anak yang dulu hidup dengan penuh keterbatasan waktu dan juga ekonomi.
Acara wawancara berlangsung satu jam, perlahan Satria bisa menguasai situasi. Dia terlihat begitu tegas seperti Ayah Gio, saat memimpin perusahaan. Kelak Satria akan mewarisi perusahaan sang ayah, sebagai penerus ayah Gio dalam memimpin perusahaan.
Saatnya perwakilan orang tua mengucapkan terima kasih kepada pihak penyelenggaraan event tersebut. Gio yang melakukan hal itu. Dia tampak naik ke podium untuk mengucapkan terima kasih.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kampus Institut Teknologi Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada anak saya yang bernama Satria Andreas untuk menjadi pemenang dalam event pembuatan aplikasi game online. Saya sebagai orang tua tentu saja merasa bangga, karena saya memiliki anak yang gigih untuk meraih kesuksesan. Jujur, saya sempat melarang anak saya. Karena saya khawatir, kalau anak saya sekolahnya menjadi terganggu. Tapi nyatanya, Satria membuktikan dia tetap menomorsatukan sekolahnya. Tentu saja membuat saya sebagai orang tua merasa bangga," ucap Gio.
Gio tampak merangkul tubuh mungil sang anak. Terlihat sekali keharmonisan orang tua dengan seorang anak. Berawal dari sebuah kesalahan, dan berakhir dengan kebahagian. Kinanti dan Gio pun saling mencintai. Meskipun awalnya tak ada cinta diantara mereka.
Acara telah selesai. Gio, Kinanti, Bunga, dan Satria kini menuju sebuah restoran sunda. Mereka menikmati duduk di sebuah saung yang terdapat kolam ikan. Suasana terasa damai dan tenang. Kinanti terlihat sudah mulai kesulitan untuk duduk di bawah. Gio terlihat begitu sabar membantu sang istri.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa?" Tanya Kinanti. Dia ingin mencatat makanan yang ingin dia pesan.
"Sudah pesan saja semuanya. Ikan bakar, ayam bakar, ayam goreng, cumi, udang, sayur asam, cah kangkung, sambel, sop iga," ujar Gio.
"Jengkol, Pete, ikan asin peda mau enggak?" Tanya Kinanti.
"Aku enggak doyan," sahut Gio sambil terkekeh. Sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal. Sama halnya dengan sang suami, Kinanti pun tak menyukainya.
Sambil menunggu makanan datang, mereka foto bersama. Senyum manis melengkung di sudut bibir mereka semua. Satria dan Bunga terlihat senang kakinya bermain air.
Sedangkan Gio tampak merangkul tubuh Kinanti, dan sesekali memberikan kecupan di pucuk kepala dan kening Kinanti. Mereka terlihat mesra.
__ADS_1
"I love you bunda. Cinta mati aku, pendamping hidup aku selamanya," ucap Gio membuat Kinanti tersenyum bahagia.