
"Apa yang kamu lakukan, Son?" Tanya Gio.
"A-aku. Aku lagi main game saja Yah," sahut Satria. Dia takut kalau sang ayah akan melarangnya mengikuti kompetisi pembuatan aplikasi game online. Mendengar penuturan sang anak, Gio tersenyum. Sebegitu jahat 'kah dia, sampai-sampai sang anak begitu takut padanya. Satria sampai harus berbohong untuk menutupinya.
"Jangan berbohong! Ayah sudah tahu semuanya. Ayah bangga sama kamu," ucap Gio membuat Satria melongo tak percaya.
"Ayah serius? Ayah tak marah padaku?" Tanya Satria untuk memastikan.
"Tentu saja, Ayah justru bangga padamu! Maaf, jika kamu sempat merasa kecewa pada ayah. Ayah akan mendukung apapun itu, asalkan kamu tak melupakan tugasmu sebagai seorang pelajar! Karena tugasnya seorang pelajar itu belajar, bukan bekerja mencari uang. Mencari uang adalah tugas Ayah. Kau paham itu? Yang terpenting, saat bekerja, kau harus ingat waktu. Saatnya kau beristirahat, dan waktunya sekolah," jelas Gio.
"Terima kasih ayah, aku senang sekali mendengarnya," ucap Satria. Dia langsung memeluk sang ayah, dan Gio tampak mengusap punggung sang anak.
Gio tak akan melarang kedua buah hatinya untuk berkarya, yang terpenting mereka tak melupakan tugasnya sebagai seorang pelajar. Gio pun akan memperbolehkan Bunga, jika Bunga berniat mengikuti perlombaan melukis, menari, atau menyanyi. Hanya saja, ruang gerak Kinanti tak sebebas dulu. Terlebih sebentar lagi sang bunda akan melahirkan. Semakin sibuk saja pastinya mengurus kedua adiknya.
__ADS_1
Bukan itu saja, Ayah Gio pun begitu posesif. Tak pernah membiarkan bunda Kinanti pergi tanpa dirinya. Kecuali untuk urusan yang benar-benar urgent, sedangkan Ayah Gio sedang tak sempat mengantarkan.
Satria tentu saja merasa senang, karena sang ayah mendukungnya. Jadi, dia tak perlu lagi melakukan diam-diam. Gio sengaja bicara seperti itu, dia ingin melihat tanggung jawab sang anak. Setelah dia memberikan kesempatan kepada sang anak.
Hari ini adalah hari yang di nantikan. Hari ini Kinanti akan melakukan USG. Dia sudah tak sabar, ingin mengetahui jenis kelamin kedua bayi yang masih dalam kandungannya.
"Ayah, aku ikut ya ke rumah sakit. Aku ingin lihat kedua dede bayi yang masih di dalam perut bunda," ujar Bunga.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Setelah dari rumah sakit, Gio akan mengajak sang anak ke Mall. Sudah cukup lama, dia tak memiliki waktu untuk kedua buah hatinya.
Mereka sudah sampai di rumah sakit, sedang menunggu saatnya Kinanti di panggil untuk diperiksa.
"Pasien selanjutnya, Nyonya Kinanti," panggil sang perawat. Keempatnya pun akhirnya masuk ke dalam ruangan dokter.
__ADS_1
"Wah, kakak lagi pada ikut ini? Sudah enggak sabar ya ingin lihat kedua adiknya? Hayo, Kira-kira kedua adiknya, jenis kelaminnya apa?" Tanya sang dokter.
"Aku si inginnya cewek dan cowok dok, biar aku sama kakak punya teman bermain," sahut Bunga. Seperti biasa, Bunga lebih ceriwis.
"Baiklah. Semoga saja doa kakak terkabul ya! Ayo bundanya berbaring dulu, biar kita periksa dulu ya lewat USG. Kita lihat, adiknya ngumpet enggak," ujar sang dokter.
dokter mulai menempelkan transducer ke perut Kinanti, dan sang dokter mulai menggerakkannya. Mereka tampak serius memperhatikan layar monitor.
"Wah, selamat! Doa kakak akhirnya terkabul. Adiknya benar, yang satu cewek dan yang satunya cowok. Selamat ya, kakak punya teman bermain," ujar sang dokter. Membuat Bunga bersorak gembira. Gio dan Kinanti pun tampak bahagia mendengarnya. Berarti mereka memiliki dua pasang anak.
"Kondisinya gimana, dok? Apa baik-baik saja?" Tanya Gio. Karena ini adalah yang terpenting.
Kinanti dan Gio tampak tersenyum dan mengucap syukur, saat mendengar kalau kedua buah hatinya dalam keadaan sehat, semuanya dalam keadaan normal.
__ADS_1