
Kinanti merasa jenuh, karena selama dirinya hamil, Gio begitu posesif kepadanya. Dia tak memperbolehkan Kinanti kemanapun. Kinanti hanya boleh pergi saat periksa kandungan. Padahal dia sudah ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya. Dia juga ingin melihat rumah peninggalan orang tuanya.
Gio sudah mempekerjakan dua orang pekerja. Pasangan suami istri, untuk mengurus rumah orang tua Kinanti. Karena Kinanti bersikeras untuk tidak menjual barang peninggalan orang tuanya.
"Apa hari ini aku boleh mengunjungi rumah peninggalan orang tua aku? Aku merasa jenuh berasa di rumah terus," rayu Kinanti.
"Ya sudah, tetapi besok ya! Aku akan nemani kamu. Hari ini aku harus ke kantor," sahut Gio dan Kinanti mengiyakan.
"Ayo kita makan dulu yuk! Temani aku!" ajak Gio.
Kehamilan yang sekarang, Kinanti terlihat lesu, dan benar-benar harus bedrest. Padahal Satria dan Bunga sudah ingin sekali mengikuti perlombaan, dan berkarier seperti dulu lagi. Tetapi Gio melarangnya. Gio terpaksa masih membatasi kedua anaknya.
__ADS_1
Gio justru mengarahkan sang anak dengan mengikuti kursus. Satria mengikuti lomba secara online dan kursus secara online. Bunga mengikuti kursus di sanggar melukis dan menari, tetapi dia hanya di dampingi sang baby sitter.
Sesuai janjinya, hari ini Gio tidak datang ke perusahaan. Dia ingin menemani sang istri mengunjungi rumah orang tua Kinanti. Mereka terlihat sudah bersiap-siap. Mereka akan pergi tanpa menggunakan supir. Kedua buah hatinya telah berangkat ke sekolah.
"Makasih ya sudah menyempatkan waktu untuk mengantarkan aku," ucap Kinanti.
"Tak perlu berterima kasih, ini semua sudah menjadi tugas aku sebagai seorang suami. Aku akan selalu ada untuk kamu. I Love You ...," ucap Gio sambil melirik ke arah istrinya. Netra mereka sempat bertemu.
Kinanti dan Gio baru saja sampai di rumah orang tua Kinanti.
"Makasih ya, karena kamu membuat rumah ini tetap terawat. Tetap terlihat hidup, meskipun tak berpenghuni," ucap Kinanti.
__ADS_1
"Berpenghuni dong. Ada Pak Saman sama Bu Khodijah yang menempati rumah ini, untuk mengurus rumah ini. Aku sudah melakukan renovasi rumah ini sedikit, agar terlihat terawat," sahut Gio dan Kinanti mengiyakan.
"Kamu memang paling the best, aku bersyukur karena memiliki kamu," puji Kinanti membuat Gio tersanjung cengengesan. Baru kali ini sang istri memuji dirinya. Meleleh hatinya.
Gio menemani sang istri masuk ke dalam rumahnya, rumah yang banyak memiliki kenangan yang indah, saat kedua orang tuanya masih bersamanya.
"Dulu, aku hidup sangat bahagia. Kedua orang tua aku saling mencintai. Namun, sejak hadirnya tante Cindy ibu tiri aku. Semuanya berubah seperti neraka. Ayah aku melupakan kami, hingga bunda menderita. Dia sangat kecewa, hingga akhirnya jatuh sakit. Makanya, aku paling benci sebuah pengkhianatan. Jika kamu seperti itu, aku tak akan segan-segan meninggalkan kamu. Lebih baik aku hidup sendiri, daripada menahan rasa sakit hati aku," ucap Kinanti tegas.
Gio langsung melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Tentu saja aku tak akan melakukan hal itu. Memangnya apalagi yang aku harus cari. Semuanya sudah aku miliki. Kamu begitu sempurna dan berarti di hidup aku. Terlebih sebentar lagi kita akan menambah anggota baru lagi. Kamu boleh bu*nuh aku, jika aku melakukan hal itu! Lebih baik aku mati, daripada menyakiti hati kamu. Karena aku sangat mencintai kamu. Aku hanya ingin kamu, sampai kapanpun," ucap Gio. Gio tulus mencintai Kinanti. Tak pernah terpikir olehnya untuk menyakiti hati istrinya.
__ADS_1