
Ting Ting Ting
Suara dentingan sendok yang berbenturan dengan piring piring yang berisi makanan yang berhasil mengisi kekosongan di ruangan itu, hingga sebuah suara yang berhasil menghentikan semua aktifitas yang sempat terjadi
"papa boleh gak kalo Minggu ini kita liburan ke Paris?"tanya seorang gadis cantik dengan wajah lemah lembut nya
"boleh kok sayang"jawab sang Ayah dengan senyum nya
"papa beliin mama perhiasan baru ya, soal nya mama akan ada arisan sosialita nantinya"ujar sang ibu yang juga ikut ikutan
"iya mah nanti papa Transfer"jawab nya dengan senyum yang masih belum memudar dari wajah nya
"papa, nanti juga tolong tanda tangani Raport Clarra ya"
"papa sebentar lagi mau ke kantor,Coba kamu Ambil dulu biar papa tanda tangan"jawab Dion- sang papa
"oke pa!"jawab nya dan langsung berlari pergi untuk mengambil nya
"bibi!bibi!"teriak gadis Cantik nan Anggun serta gaya Angkuh yang baru saja turun dari arah tangga
"ya Non,ada yang bisa saya bantu?"tanya sang bibi yang datang dengan terburu-buru
"tanda tangan"jawab nya dengan nada datar sembari menyerahkan Raport nya kepada sang pembantu
"tapi non-saya tidak bisa tanda tangan"ucap nya dengan gugup
"tinggal coret selesai!"ucap nya yang tak mau terbantahkan
"Sifana"panggil suara bariton dari arah meja makan yang berhasil mengalihkan antensi gadis cantik itu
"ya?"jawab nya sembari mengangkat sebelah alisnya bertanya
"di sini ada ayah, kenapa kamu tidak meminta tanda tangan ayah?'tanyanya dengan penasaran
ya Sifana Liora Gantari merupakan putri pertama Dari Dion
gadis berparas cantik dan hati yang dingin,sifat Angkuh yang melekat pada dirinya menambah kesan yang tak terbaca akan dirinya. sikap yang tak mau terbantahkan dan tak mau terkalahkan,murni sifat yang di turunkan oleh Dion
"karna saya tidak butuh tanda tangan anda"jawab nya dengan Angkuh
"kakak,seharusnya Kaka gak boleh begitu sama orang tua"ujar Clarra yang baru saja datang usai mengambil Raport nya dari dalam kamarnya
Clarra gadis cantik dengan wajah dan sikap yang lemah lembut
gadis yang Lumayan Pintar di sekolah nya, tapi Tak Ayal sering mendapat Bullyan dari teman teman nya, lebih tepat ke teman sekelasnya yang merasa Tersaingi
"gak usah ikut campur lo__ cuma Benalu di rumah ini"ketus nya lalu segera mengambil Raport yang belum sempat di tandatangani oleh BI Surti pembantu di rumah Sifana dan segera bergegas pergi keluar dari sana
__ADS_1
"Sifana!"peringatan tegas Milik Dion sang Ayah yang sama sekali tidak ia hiraukan
"sudah lah mas,biasa anak anak"ucap Winda sang Istri yang berusaha menenangkan suaminya
"Clarra sini!Papa mau lihat nilai Raport kamu!"tegas Dion yang segera di turuti oleh Clarra
"ini pah!"ujarnya sembari menyerahkan Raport nya dengan gugup
"kenapa nilai Bahasa indo kamu 95?lalu ini kenapa Nilai Matematik kamu cuma 98?lalu ini?___ apa apaan ini bisa bisanya Nilai IPS kamu dapet 80?!kenapa nilai kamu segini?kenapa banyak kurang nya?!gak belajar kamu?!"Murka Dion yang memang penggila Angka pada Nilai
"maaf pah"ucap nya seraya menundukkan kepalanya
"sudah lah mas dia kan juga masih belajar-"
"masuk kamar! belajar! Minggu depan tidak ada liburan ataupun beli perhiasan!"titah nya tak terbantahkan dan segera pergi dari sana setelah menandatangani Raport itu
"sudah tenang lah, mending sekarang kamu masuk kamar biar ga kena marah papa lagi"ujar Winda yang berusaha menenangkan Putri nya yang kini sedikit terisak
...****...
sementara kini di tempat lain Ada seorang gadis yang duduk dengan santai nya sembari melipat tangan dengan angkuhnya
"mending Lo tanda tangan aja deh gak usah ribet ngomong Mulu"decih nya yang merasa jengah sama ocehan orang yang kini tengah berada di sampingnya itu
"ya gimana gue gak ngomel?Lo gila nyuruh gue tanda tangan kalo sampe ketauan yang tanda tangan bukan orang tua ataupun wali Lo, Lo bisa mampus!"kesal nya yang sedari tadi di paksa men tanda tangani Raport milik perempuan yang ada di depannya itu- Sifana
"oke oke!"Final nya dan segera mentanda tangani Raport itu
"gitu kek dari tadi"ujarnya dan segera mengambil Raport itu dan ingin segera berlalu pergi dari sana
"mau kemana Lo?"tahan orang tadi - Devan teman Tongkrongan Sifana
"pulang, ngapain juga gue lama lama di sini?ga guna kan?"ledek nya tetapi masih tetap mempertahankan ekspresi datar nya
"S¡alan Lo"desis Devan dengan wajah yang di tekuk
...****...
...sementara kini di waktu yang sama tapi di Negri yang berbeda,ada sepasang keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia...
"Mamá, oh vamos. Cuándo iremos a Indonesia?
(Mom, Ayolah kapan kita akan ke Indonesia?)" tanya seorang gadis dengan wajah cemberut nya
"Ten paciencia querida, tan pronto como sea posible iremos al país de mamá, a saber, Indonesia.
(sabar sayang, secepatnya kita akan ke negara Mama yaitu Indonesia)" ucap sang ibu yang berusaha menghibur kembali Puteri nya
__ADS_1
"¡Bueno! (oke)"Jawabnya dengan senang
...****...
Kembali ke tempat Sifana, kini gadis itu tengah terduduk diam sembari membaca segala buku yang ada di kamarnya
Tok Tok Tok
"Ya?"tanya Gadis itu tanpa mengalihkan antensi nya kemanapun
"Boleh Ayah masuk?"suara yang paling Sifana Hindari kini tengah berada di depan kamar nya.
mau lari sejauh apapun jika akhirnya akan kembali ke tempat semula maka itu semua hanyalah Sia Sia
"Ya!"jawab Sifana dengan Cepat
Cklek
"Oh- ternyata putri Ayah sedang membaca buku ya"ujar nya dengan senyum manis yang kian mengembang
"maafkan ayah karna tadi pagi sempat membentak mu"ucap Dion dengan wajah yang sedikit melunak
"ya"jawab acuh tak acuh dari Sifana tak memudarkan tekat Dion untuk terus berusaha mendekatkan diri dengan putri pertamanya itu
Semenjak kejadian itu, ya semenjak kejadian beberapa tahun Silam Sikap Sifana yang dulunya ceria kini kian menghilang di gantikan akan sikap datar tanpa perasaan
putri kecilnya yang selalu bermanja-manja kini menjauhi nya, putri kecilnya yang selalu di dekatnya kini pergi darinya
entah cara apalagi yang harus ia gunakan untuk melunakkan hati putri nya itu?apa ia harus bersujud?atau ia harus melakukan suatu hal yang lainnya?entah memikirkannya saja sudah membuat kepala terasa pusing
"tujuan?"tanya Singkat Sifana yang tetap tak menghiraukan akan ucapan dan keberadaan Dion
"Ayah hanya ingin menemui mu nak"Jawab nya dengan senyum miris
"ya"jawab nya yang tak di mengerti apa arti dari Ya yang di ucapkan oleh putrinya itu
"ini Raport mu?ayah lihat ya"ujarnya dan segera melihat lihat nilai Raport Putri nya itu
"kamu hebat sayang, nilai kamu sempurna. Ayah bangga padamu. kamu mau sesuatu?"tanya nya dengan antusias saat melihat nilai sempurna dengan angka 100 semuanya ingat bukan bahwa dia adalah Penggila Angka Nilai
"Saya menginginkan anda keluar dari kamar saya"ucap nya dengan datar yang berhasil mengubah raut wajah Dion yang awalnya berseri kembali menjadi suram
"kau benar menginginkan itu?"tanya nya yang berusaha memastikan dan di angguki mantap oleh sang anak
"baiklah kalau begitu ayah pamit, selamat malam Ratunya Ayah"ucap Dion dan segera berlalu pergi dari kamar sang putri
**TBC
__ADS_1
Don't Forget to Like Komen and Vote**