Annoying Antagonis

Annoying Antagonis
Pulang


__ADS_3

Setelah usai acara balapan yang telah di menangkan oleh Sifana, kini gadis itu tengah berada di Markas yang memang tempat dimana ia akan Pulang


"Jadi Bokap Lo lagi gak di rumah? Makanya Lo bisa keluar seenaknya?"tanya Devan yang memang sedari tadi sudah berada di sana


"Ya"jawab Sifana yang memang sedari dulu jika sedang tidak mood maka jawabannya hanya


Ya dan tidak. Tidak lebih dan tidak kurang


"Pulang gih, udah kemaleman"ujar seseorang sembari melirik ke arah jam tangan nya tak kini sudah menunjukkan pukul 01:30 pada waktu setempat


"Males gue"dengus Sifana sembari melirik ke arah Rebecca yang kini sudah tertidur di sofa


"Dia udah tidur dari beberapa jam yang lalu, Lo bisa bangunin. kalo males nyetir ayok gue anter"lanjut orang itu yang tak lain adalah Barra


"Xa!bangun di panggil Dady lo"ujar Sifana saat ada di samping Rebecca


"Eumm yes Dad! I'm coming"ujar Rebecca sembari bangun dari tidur nya tapi masih tetap memejamkan mata membuat Sifana mendengus malas melihat nya


"Van bantuin gih"ujar Sifana yang mau tak mau Devan harus menuruti nya


"Nyusahin Lo!"dumel Devan tapi tak ayal ia membantu untuk menuntun Rebecca agar masuk ke dalam mobil milik Barra, karena Mobil Sifana akan di tinggalkan di sini


"Ayo"ajak Barra yang berjalan beriringan bersama Sifana


...****...


Sementara di mansion Sifana sendiri kini kembali di recokan akan kedatangannya penyusup


"Gila ya kamu!mau apa sih Dateng dini hari?!"teriak Winda yang merasa panik


"buat bunuh kalian lah"ujar orang itu dengan Smirk nya


"Apa apaan sih?!pergi kamu!"teriak Winda yang memang sudah kalang kabut


"lo udah nyuruh saya lakuin gak gila pada saat itu!terus kenapa bayaran nya gak seberapa?! kalo gak bayar yang seperantara gue bunuh lo!"ujar orang itu menggebu-gebu


"Emang apa yang udah Lo lakuin?"tanya seseorang dari arah belakang mereka


"S- Sifana" gugup Winda yang melihat kehadiran anak tirinya itu


"bukan urusan lo"teriak orang itu


"10juta kurang?"tanya Sifana sembari mengeluarkan segepok uang dari dalam sakunya


"Tambah deh 5 juta"ujar Sifana sembari menambahkan gepokan uang


"Nak udah gak usah-"


"yaudah 100 juta" potong Sifana yang tak mau Winda membuka mulutnya

__ADS_1


"Deal!"jawab orang itu dengan cepat yang membuat Winda kalang kabut


"ikut temen gue"ujar Sifana sembari menatap ke arah Barra yang kini tengah berdiri di belakangnya setelah meletakan Rebecca yang tertidur pulas


"Nak-"panggil Winda yang tak di hiraukan oleh Sifana


"kenapa saya harus ikut dia?"tanya orang itu sembari menunjuk ke arah Barra


"Anda akan menjadi tahanan saya untuk sementara"ungkap Sifana dengan terang terangan


"Saya tidak mau!"tolak orang itu


"Anda tetap bebas tapi dalam bawah pengawasan, dan saya pastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa nyentuh anda"ternag Sifana


"Tetap saja saya tidak mau!"tolak orang itu


"300 juta buat uang tambahan"tawar Barra dengan Smirk nya


"jika tetap tidak mau, ya sudah. tapi jangan harap keluarga anda aman aman saja"lanjut Devan sembari menunjukkan handphonenya yang memperlihatkan sebuah Vidio dimana rumah orang itu kini sudah di kepung oleh sekelompok orang berbaju hitam


"Apa apaan kalian ini?!"teriak orang itu murka


"Soo?"


"Fine!"teriak orang itu sembari menatap ke arah Sifana yang kini menampilkan Smirk nya


"Pergi"usir Sifana yang langsung di turuti oleh orang itu dan di ikuti oleh Barra di belakangnya


"Nak-"


"A-hah? I iya"jawab Rebecca setengah linglung


"Mati mati mati!bisa mati saya kalo dia bergerak cepat!"panik Winda saat melihat siluet Rebecca maupun Sifana yang sudah menghilang


"Aaa bagaimana ini?!"teriak nya yang merasa Frustasi


...****...


Ke esokan harinya, Sifana beserta Rebecca sudah menghilang dari rumah. entah pergi kemana kedua wanita itu di pagi buta seperti ini? apalagi ini hari libur bukan


"Mah kenapa mamah gelisah gitu?"tanya Clarra yang melihat gelagat aneh dari Winda


"hancur Clarra! Hancur! Sifana berhasil menangkap orang suruhan mama beberapa tahun yang lalu!"ujar Winda dengan paniknya


"Hah?terus gimana?"tanya Clarra yang ikut panik


"entah lah, apalagi sekarang dia dalam bawah pengawasan Sifana mau di bunuh pun susah!"geram Winda yang membuat ruangan itu kini kembali hening di buatnya


...****...

__ADS_1


Sementara Sifana dengan Rebecca sendiri sekarang kedua gadis itu tengah kembali pada Markas LinkedIn dengan para penghuni yang lainnya


"Apa rencana Lo selanjutnya?"tanya Devan yang merasa penasaran


"Tunggu aja permainan apalagi yang akan dia mulai"ujar Sifana yang kelewat santay


"bukannya ini kesempatan Lo buat Hancurin mereka?"tanya Rebecca


"gak minat gue kalo langsung ke intinya, bukan nya lebih asik jika kita ambil santay saja"ucap Sifana yang membuat orang yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala


Terlalu Ajaib batin mereka yang merasa gemas sendiri melihat nya


"Pasti wanita tua itu sedang merencanakan bagaimana caranya untuk melenyapkan dia"ujar Sifana d egan Smirk nya


"Aman, gue yang jaga"timpal Barra yang membuat Sifana mengangguk setuju


"Terlalu Bod⁰h"kekeh Sifana yang kini tengah memandang sebuah Foto keluarga baru Ayah nya yang tak lain berisi foto Winda dengan Clarra


"Kalian hancur saya puas"lanjut nya yang membuat mereka merinding di buatnya


......****......


Sementara di Rumah Cakra kini lelaki itu tengah terduduk meringkuk di pojok kamar nya


"Pergi"gumam nya sembari memeluk tubuh nya erat


"CAK LO GAK MAU BUKA IN PINTU BUAT GUE?!"teriak seseorang yang Cakra rasa dia mengenali suara siapa itu


"Anya"gumam nya dan segera membuka kan pintu untuk Gadis kesayangan nya


"Dia datang lagi?!"tanya Sifana dengan tatapan tajamnya


"Anya"ucap Cakra dan langsung saja memeluk erat tubuh gadis di depannya itu


"tenang"ucap Sifana sembari mengusap lembut punggung Cakra yang mulai bergetar


"Makanya Kunci pintu rumah maupun pintu pagar yang bener, gak usah di buka in kalo bukan gue yang dateng!"omel Sifana


"Dia bakalan nambahin hukuman buat gue kalo gitu nya"adu Cakra


"Telfon gue Cak! dia gak berani ke perempuan kan?apa susahnya Lo hubungi gue!"


"Maaf nya, gue takut Lo kenapa napa"ujar Cakra yang membuat Sifana menghela nafas kasar


"duduk biar gue obati"ucap Sifana sembari mendudukkan Cakra di samping kasurnya dan dia segera pergi untuk mengambil kotak P3K


"Lo terlalu baik nya, seharusnya Lo gak di Deket gue. Lo di Deket gue malah nambahin beban Lo, seharusnya gue yang jaga Lo nya bukan Lo yang jaga gue"sesal Cakra sembari menatap punggung Sifana yang menghilang dari balik pintu nya


**TBC

__ADS_1


Don't Forget to Like Komen and Vote**


__ADS_2