
Sebulan kini telah berlalu, Pasca kejadian itu Sifana benar benar menjaga Cakra tak membiarkan lelaki itu semenit pun kembali bertemu kembali dengan Ayah nya. seperti hari hari biasanya Seharusnya sekarang Cakra sudah ada di kamar nya untuk membangun kan nya dan pergi ke sekolah bersama. tapi ntah kenapa Pria itu tadi malah bilang ada urusan penting, dan sekarang ia harus berangkat sendiri. namun itu semua kembali pupus saat ia menuruni arah tangga dan malah mendapati keluarga baru dari masing masing orang tuanya malah berkumpul di rumah nya
"Sayang, Ayo duduk"ucap Laurent dengan senyum lembutnya
"Masih terlalu pagi, gak baik main ke rumah Mantan Suami"jawab Sifana dengan tatapan sinis nya. ah lihat lah dia sekarang sudah seperti ibu mertua yang sedang menjuliti menantunya
"Nak"panggil Dion
"Kenapa Anda membiarkan mereka masuk?"tanya Sifana sembari menatap bergantian ke arah Laurent beserta suami baru nya
"Sayang, Bunda ke sini karena mau ngambil Hak asuh kamu"ucap Laurent di iringi senyum nya yang masih berusaha mati matian ia pertahankan walaupun kini harinya sudah sangatlah sakit bagaimana di tusuk belati
"Tidak ada Hak Asuh apapun, Karena saya- Milik saya sendiri, tidak dengan Tuan Dion maupun Nyonya Laurent"tekan Sifana yang membuat senyum Laurent Luntur seketika
"Sudah cukup saya berbelas hati menunggu kesadaran anda beberapa tahun yang lalu. sekarang tidak ada lagi kata kasihan maupun kasih sayang apalagi Cinta karena kata itu semua hanyalah tipuan semata"jelas Sifana panjang lebar tanpa memperlihatkan ekspresi apapun
"Sifana!"panggil Dion dengan tegas karena ia tak mau jika Kebusukannya yang tanpa sengaja ia lakukan terbongkar di depan mantan istri nya itu
"Saya telat, Saya harus pergi"pamit Sifana dan langsung melangkahkan kakinya menuju keluar dari rumah
"Mas"panggil Laurent yang kini matanya menatap ke arah sang suami
"Dia anak yang keras kepala,Dia juga berusaha menutup hati nya pada siapapun, hatinya sudah beku. mas melihatnya dari cara tatapannya yang di tunjukkan pada mu maupun tuan Dion"jelas Narendra- Suami Laurent.
Jelas Narendra tau apa yang di rasakan Sifana walaupun dia bukan ahli Psikolog tapi dia pernah mengenyam pendidikan itu walaupun hanya beberapa tahun
"Ada banyak hal yang dia tutupi dan berusaha ia selesaikan sendiri. baik hal dari dalam dirinya, keluarga, teman, ataupun orang lain. dia gadis baik hati yang berusaha berubah untuk menjadi jahat, hanya takdir dan ke adaan yang bisa kembali mengambil sifat aslinya"lanjut dari penjelasan Narendra yang membuat Dion maupun Laurent terdiam di tempatnya
"Urusan kita sudah selesai sayang, ayo pulang"ujar Narendra yang menyadarkan sang istri dari lamunannya
sementara Dion yang melihat pemandangan itu entah kenapa hati nya malah menjadi panas, entah apa lagi sekarang, perasaan nya maupun pikiran nya sekarang benar benar kacau
tak jauh berbeda dengan Dion, Winda malah mengeram menahan kesal saat melihat tatapan sang suami yang di tujukan pada Laurent
__ADS_1
Berani Beraninya wanita mμrahan ini mengambil alis perhatian Mas Dion!"batin Winda karena sekarang dirinya juga merasa panas melihatnya
Narendra sudah mengetahui keadaan yang sepertinya jika dia tetap berlama-lama di sini akan semakin tidak kondusif, maka ia dengan segera berpamitan pada sang tuan rumah dan langsung menarik lengan istrinya agar segera mengikuti langkah kaki nya
...****...
Sementara Sifana sendiri bukannya pergi ke sekolah kini gadis itu malah pergi ketempat tongkrongan para teman lelakinya
"Na Na, lu tuh dah kelas 3 seharusnya lu tuh rajin masuk bukan bolos, gimana jadinya nanti pas ujian?awas gak lolos ya"omel Devan yang hanya di anggap angin lalu oleh Sifana
"gak usah ngurusin hidup gue, mending lu pikirin tuh gimana hidup lu. Mak lu aja maunya lu cepet nikah bukan cepet kuliah"jawab Sifana yang di iringi oleh kekehan khas nya
"alah lu ya, biarin lah orang gue masih mau kuliah juga"jawab Devan dengan wajah Santay nya
"kalo dia bilang nya mau Kuliah, tapi ngapa sekarang lu gak masuk? bukannya kemaren lu bilang ada kelas pagi?"tanya Rion yang juga menggabungkan diri pada mereka
ya Mereka, Sifana, Devan, dan juga Barra. sementara anggota LinkedIn yang lain entah pada kemana. masih tidur mungkin?
"yaah emang bener kan"kekeh Rion yang malah memancing keributan kecil di antara Devan beserta Rion
"Ada masalah?"tanya Barra yang akhirnya kini membuka suara
"Enggak"
"pas gue belum balik, Lo selalu duduk tepi Sungai nunggu gue balik, kenapa sekarang pas gue balik lu gak mau cerita?"tanya Barra yang menatap ke arah Sifana yang tengah menundukkan kepalanya bermain Ponsel
"Cuma Lo yang ngerti gue Bar, gue rasa tanpa gue jelasin pun Lo udah tau. Secara Mata Lo gak pernah jauh dari arah jarak dimana tempat gue menginjakan kaki"tukas Sifana yang membalas tatapan mata Barra
"Oke lo menang"jawab Barra yang menghembuskan nafas lelah
"kapan lo bakalan selesain semuanya Ra?"tanya Barra yang kini menatapnya dengan pandangan serius
"setelah masalah Cakra"jawab Sifana dengan tatapan Kosongnya?
__ADS_1
"Dari awal pas gue lihat dia di rumah sakit waktu itu, gue udah ada aneh sama dia. dan dugaan gue bener bukan? kekerasan yang selalu dia terima membuat ada sedikit masalah dalam cara pola berfikir nya, dan masih ada satu hal lagi yang masih harus di pastikan"jelas Barra yang hanya di angguki oleh Sifana
"Intinya jangan pernah sakiti dia"ujar Sifana yang mendapat anggukan mengerti dari Barra
"gue harus Cabut, See you"ucap Sifana dan bergegas pergi dari sana
"Ehh mau kemana Na?!"teriak Rion menggelegar yang malah membuat Devan refleks memukul kepala belakang nya
"Sakit S3tan!"maki Rion yang tak terima
"Suara lu melengking Anj¡nk!"jawab Devan yang tak mau kalah
"Kagak usah ngata ngatain gue juga G0blog!"jawab Rion yang sekarang merasa kesal
"Kan ku duluan yang ngata ngatain gue S¡alan!"ngegas Devan, dan berakhir mereka kembali adu Jambak jambakan. aish- sudah seperti wanita saja mereka berdua
Sementara Barra yang jengah melihat kelakuan keduanya malah memilih pergi dari sana
...****...
Sementara di tempat lain, di ruangan yang terkesan gelap dan misterius. ada seorang pria dewasa yang sedang kesal pada seseorang yang ada di seberang Telfon nya
"Saya tidak mau tahu!kamu harus cepat menangkap penyusup itu!" ucap nya dengan nada tegas
"Baik tuan saya usahakan secepatnya"Jawab orang yang ada di seberang Telfon itu
"Harus! apapun caranya kamu harus mendapatkan dalam keadaan hidup!saya tidak mau dia mati apalagi luka seinci pun!karena dialah kunci utama saya!"ujarnya lagi sebelum panggilan berkahir di putuskan
"Sial!siapa dalang di balik ini semua?saya yakin pasti ada sekelompok orang yang menjaga bya! apapun caranya dia harus ada di tangan saya!"ujar nya dengan rahang yang terlihat mengeras karena marah
**TBC
Don't Forget to Like Komen and Vote,. Byee**....
__ADS_1