
Hari ini bukan hari yang biasa, hari ini adalah hari istimewa.
Historia baru saja keluar dari kamar mandi usai mendengar tangisan
Ibu di depan meja dengan beberapa panci berisi sayur sop kesukaan Historia. Historia adalah anak pertama kesayangan Ibunda tercinta, walaupun pada hakikatnya, Historia punya satu orang adik lelaki yang bernama Ruben Masih dalam kelas tiga SMP. Mereka hanya hidup bertiga dengan penuh kasih sayang.
Saling mencintai usai kepergian Mbah Mai, Nenek tercinta mereka dua tahun lalu.
“Ibu, kenapa Ibu menangis seperti ini?” Historia menghampiri
Bundanya yang bernama Evan.
“Kamu, tidak boleh tahu.” Bantah Bunda Evan berucap.
Historia sebenarnya penasaran ada apa dengan Bunda Evan dalam waktu ini menangis cukup parah, tapi Historia tak mau memusingkan semua itu.
“Sudah, Kamu ambil piring saja!” ucap Bunda Evan.
“Baiklah!” Historia harus nurut sementara waktu.
Bunda Evan berpura-pura ke Kamar mandi, Historia malah mengerut dahi. Dan, tiba-tiba Ruben muncul dengan seragam rapih
lengkap dengan dasi biru di dada dan rambut basah di seluruh area.
Historia masih menyimpan rasa penasaran akhirnya mencoba untuk
menanyakan ke adik tercinta, ada apa yang sesungguhnya terjadi
pada Bunda mereka.
“Ruben.” Ucap Historia agak Historia “Iya Kak.” Ruben dengan santainya memainkan dasi tanpa
menatap wajah Historia sedikitpun.
“Ada apa dengan Ibu?”
“Ibu hanya butuh refreshing saja.”
“Kakak serius nanya, ada apa dengan Ibu?” Historia kini
menyulut emosi.
Karena itu akhirnya, Ruben langsung takut dan menatapkan wajah kearah Historia. Ruben memberikan keterangan resmi tentang
sesuatu yang terjadi pada Bunda Evan.
“Sebenarnya begini....” Ruben menarik nafas dulu.
“Ibu, sangat sedih. Jualannya tidak pernah berkembang. Satu sisi rawan fitnah. Ibu juga bingung harus berbuat apa untuk masalah
ini.” Ruben mengambil sepucuk roti tawar polos.
Historia sambil mengunyah soup. Akhirnya menyadari kalau
__ADS_1
hari ini adalah hari insiden besar dalam hidupnya. Tepat di hari ini pula, Ayah tercintanya meninggalkan Mereka sepuluh tahun lalu.
Historia langsung melototkan mata dan menangis, tapi tidak bagi Ruben karena Ruben masih terlalu polos untuk memahami masalah.
Historia langsung meninggalkan meja makan dan melangkah ke kamar mengambil sebuah jaket, dan pergi langsung menuju Kampus
dengan muka memerah layak kepiting rebus.
Semua make up dan bedak luntur akibat air yang mengalir dari matanya. Kecantikannya kian pudar.
Tapi, Historia tak ingin membiarkan bedak itu luntur merona.
Tak ingin pula semua mata tertuju kearahnya. Biasa, budaya orang
+62 kalau ada sesuatu yang aneh maka akan diperhatikan layaknya
pertunjukkan sirkus saja. Hal itu lah yang membuat Historia membalikkan tasnya dan mengambil selembar tisu bungkus yang sering dia bawa kemanapun dirinya pergi.
Usai mengeluskan semua wajahnya. Historia mengambil sebuah cermin.
Historia baru sadar kalau apa yang dia lakukan tepat
di tempat umum dimana kendaraan lewat. Sontak, Historia bergerak
menuju gang sempit untuk merapikan semua pakaiannya. Tak ada
sesuatu yang aneh.
“Sudah untuk hari ini, Aku tak perlu memakai make up. Biarkan
Ibu hari ini sudah membuatku bad mood juga.” Historia meninggalkan gang itu karena jalan sudah mulai ramai, bergerak
menuju Kampusnya.
Ketika keluar dari Gang sempit itu, Historia langsung menyalakan handphonenya segera memesan ojek online, mengingat jarak Kampus terbilang cukup jauh, maka sangat mustahil kalau
Historia harus jalan kaki.
Sepuluh menit berdiri di Trotoar akhirnya, seorang pria dengan seragam ojek yang lengkap dengan senyum menghampiri Historia.
Awalnya Historia berpikir tukang ojek ini setengah gila, tapi ternyata setelah dia berhenti di depan Historia.
“Ayo, Kita berangkat.” Ucap tukang Ojek itu seraya memberikan helm kepada Historia.
Historia masih berlagak dingin, tapi dia akhirnya menerima helm itu dan segera menaiki tepat di belakang tukang ojek. Hidung Historia merasakan aroma rokok yang tajam, sepertinya supir ojek
baru saja selesai merokok.
Sifatnya ramah yang tak tertulungan perasaan Historia yang masih drop ingin berbuat apa, akhirnya mendengarkan gumam basa-basi dari tukang ojek itu dicampur dengan bau rokok yang khas dari mulutnya.
“Ini kira-kira mau lewat mana ya?” basa-basi tukang ojek.
Historia masih tampak bingung ingin berbincang apa, Historia seakan-akan memikirkan sesuatu yang membingungkan.
__ADS_1
“Mbak?”
Barulah Historia tersadarkan.
“Iya...”
“Ini mau lewat mana?” tanya tukang ojek.
Historai merasa kaget, tapi kebetulan mereka sedang melajur
dua jalur. Biasanya Historia memasukki jalur kanan tetapi berhubung jalur kanan lagi ramai, maka tanpa sadar Historia meminta belok kiri.
Sebenarnya jalur kiri itu arah Jalan besar Mawar, adalah jalur sakral
bagi Historia.
Historia memang lahir dan asli Kota itu, tapi Historia tak pernah sekalipun melewati jalur usai kepergian ayahnya 10 tahun yang lalu.
Tapi, baru kali inilah moment besar dimana dia melintasi sebuah
jalan yang ramai sebelah kanan. Ialah Jalan mawar besar.
Dugg...tiba-tiba degupan jantung kuat dari dalam dada Historia.
Ketika melintasi sebuah bangunan besar yang megah berdiri tegap.
Air matanya mengalir deras lagi keluar dari retina. Tapi, Historia langsung refleks untuk sadarkan diri, kalau tukang ojek itu terus memandangnya dari pantulan cermin. Historia pura-pura mengangkat tangan kanannya untuk mengusapkan.
“Kenapa menangis?” Tukang ojek itu tahu.
Historia kaget seketika, mnendengar gumam tukang ojek itu.
“Enggak pak, Saya baik-baik saja.” Historia dengan gencar mengusap kedua bola matanya yang sudah memerah. Historia akhirnya membungkam. Begitu juga dengan Tukang Ojek.
Akhirnya suasana kembali ramai tanpa irama bicara dari Historia dengan juga Tukang ojek itu.
Lima belas menit kemudian, akhirnya motor itu tiba di Kampus.
Banyaknya mahasiswa di area, tapi tidak membuatt Historia bahagia. Historia tidak dapat menikmati indahnya suasana kampus. Sebagai anak broken home, sangat susah bagi Historia untuk melepaskan jiwa pesimitif itu. Historia ingin menjadi sosok yang bahagia dengan
teman-teman.
Historia akhirnya melangkah ke sebuah pekarangan Taman Kampus. Historia membuka sebuah tas mengambil sebuah novel karya Tere Liye.
Sebuah novel yang kesukaannya dengan frasa yang meenarik.
Duduk di atas kursi kayu coklat dengan semerbak bau kayu yang baru matang. Historia tak punya teman, semua tahu sesungguh tentang dirinya. Apalagi wanita bernama Occa, sangat paling tidak
suka dengan Historia. Latar belakang hidup Historia sangat menyedihkan.
Historia duduk termenung menangis sambil membaca kisah haru buku itu, dan air mata mengalir deras.
Dalam hatinya terus bergumam, menyesali hidupnya yang penuh dengan kesia-siaan. Andaikan ada sebuah pisau, mungkin Historia akan mengangkat dan menancapkan ke Jantungnya.
__ADS_1
Hidupnya serasa penuh kesia-siaan, ingin berbuat apa tapi Historia ingat dosa. Jangan sampai Bunda Evan dan Ruben akan menangis melihat nasib Historia yang sama seperti ayahnya.
Historia adalah tulang punggung keluarga, Historia adalahkekuatan keluarga. Historia terus memejamkan matanya dengan air mata terus mengalir di pipinya.