
Wajarlah bilamana Bu Evan merasa geram dengan putrinya.
Baru kali ini seumur hidup ada orang yang mau dekat dengan Historia. Sebelumnya mana ada yang mau menggauli Historia hanya karena latar belakang hidupnya.
“Ayo Kita jalan-jalan!” tawar Jake.
“Bukannya, hari ini jam pergi ke Kampus?” gumam Historia.
“Kalau jadwal Fakultasku siang baru masuk.”
“Tapi, kalau Aku pagi.” Bantah Historia.
“Ya sudah, maukah Aku antar?” tawar Jake lagi.
Historia merasa berat sambil melirik kearah Ibunya. Baru hari ini dia merasakan ada kejanggalan dalam hidupnya.
Seseorang lelaki yang mengerti keadaan Historia. Sambil menatap ke Bunda Evan,
entah mengepul rasa bahagia, dan apakah Bunda Evan mengizinkannya.
“Baiklah. Kalau begitu nanti dulu, ya. Aku masih makan dulu sebentar.” Tanggapan Historia.
“Oke siap. Aku tunggu!”
Historia kembali melahap nasi dengan cepat, Bunda Evan mula curiga dengan kedekatan Historia. Sepertinya ada seseorang lelaki baru-baru ini dalam hidup Historia.
“Siapa tadi yang menelponmu?” tanya Bunda dengan nada serius.
“Ohh..Dia.” sambil menoleh kanan kiri, berat hati ingin mengungkapkan.
“Dia teman Historia.”
“Laki apa perempuan?” tanya Bunda sambil mengunyah nasi.
Dengan nada berat, Historia menjawab “Laki-laki.” Sontak, mata Bunda Evan melotot bingung. “dari mana Kamu
bisa mengenal lelaki itu?”
“Apa Ibu tidak lihat, dengan laki-laki yang menolong ibu waktu...” tiba-tiba Historia menahan ucapannya.
“menolong apa?” Bu Evan mengerut dahi, tak sadar dengan sesuatu yang sudah terjadi beberapa waktu lalu.
Historia menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak jadi, Bu.”
Kembali mengunyah.
“Memang menolong apa sih?” Bunda Evan masih penasaran.
“Tidak jadi Bu.”
Mereka kembali sibuk makan. Selang sepuluh menit kemudian,
klakson dari keras tepat di depan Rumah Historia.
“Siapa itu?” sontak Bunda dengan Historia menoleh kearah
Jendela. Bergegas Historia, berlari keluar Rumah menuju Teras.
Siapakah dia? Ternyata Jake dengan jaket khas Kulit khas bersisik berwarna coklat, sepertinya terlihat mahal. Sepertinya Jake sudah banyak berbohong tentang dirinya, tapi Historia tak boleh bernegatif
thinking, mungkin saja jaket itu adalah pemberian.
__ADS_1
“Sudah siapkah?” tanya Jake sambil menahan tawa.
Historia mungkin sudah bersih kareena mandi, tapi belum berpakaian rapih.
“Oh ya ..Sebentar ya!” Historia kembali masuk ke dalam Ruangan, segera mengganti pakaiannya. Semua baju tentu sudah dia pakaian, mungkin untuk hari ini dia perlu menggunakan kemeja biasa,
dengan celana jeans yang sama warna dengan milik Jake.
Historia tak ingin menyiakan-nyiakan hati orang yang sudah mencintainya. Tak perlu berlama-lama, Historia segera mengganti
pakaian lalu berangkat menuju Kampusnya diantar Jake.
Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya, pergi diantarkan dengan seseorang lelaki yang baru seumur jagung ia kenal.
Di balik genggamannya Historia merasa nyaman diantarkan dengan lelaki yang notabenenya memang agak pendiam.
Jake memang tak banyak bicara, tapi jika sudah ada orang yang dia kenal, maka Jake akan terlihat ramah bahkan songat ramah dibanding yang lain.
“Kamu, jangan terlalu lama di kelas ya.” Saran Jake sambil menoleh sedikit ke belakang.
“Memang Kenapa?”
“Hahhahaha...hanya bercanda.” Jawabnya sambil tertawa.
“Ihh..enggak jelas sekali.”
Jake pun terdiam dengan perasaan biasa.
Historia merasa irit biaya, mudah mudahan Jake mau berbaik hati untuk mengantarkannya ke Kampus. Tapi, nanti Historia mau tak mau juga harus turut andil dalam membayar, satu sisi juga untuk mempermudah Jake dalam hal bensin.
Historia tak ingin selalu menjadi beban bagi Jake. Lalu, Dia membelokkan Jalan raya kebetulan memang agak sepi, maklumlah bukan hari padat aktivitas, hari kamis. Tak sepadat hari senin. Jake langsung menancap gas usai Historia memikirkan kenapa Jake membawa
“Jake, Kamu mengagetkanku saja?” Historia menepuk bahu Jake, sekalipun tak terlalu keras. Jake hanya meliriknya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kamu mau lambat?” tawar Jake melirik dari balik spion.
“Jangan ngebut, dan jangan lambat juga. Kamu bisa tidak bawa dengan kecepatan stabil?” Historia tidak sadar, kalau tingkahnya sudah keterlaluan baginya yang sudah menumpang gratis.
“Okelah, kalau itu kemauanmu. Aku lebih baik perlahan saja.”
Jake meminggirkan motornya kearah dekat Trotoar. Dengan kecepatan semakin lambat, jarak satu pohon dengan pohon lainnya Mereka mampu lewati dalam waktu 2 menit. Sangat lambat sekali
motor itu melangkah.
“Jake, Kenapa Kamu lambat?” keluh Historia.
“Bukannya barusan Kamu minta lambat?” sindir Jake sambil sedikit tersenyum.
“Aku sudah bilang, bawa dengan kecepatan yang relatif saja.
Tidak cepat, tidak juga lambat. Tergantung kondisi jalan.” sahut
Historia untung jalan dalam keadaan sepi.
“Okelah, kalau itu maumu.”
Jake kembali menancapkan gas lagi, karena jalan itu kosong melompong, Jake jadi sengaja menancapkan gas. Historia
menggelengkan kepala, susah untuk bicara dengan Jake. Mendekati tikungan kearah Kampus, lalu secara tidak sadar Jake membelokkan arah motor itu berlawanan dari arah Kampus. Sontak Historia geram, ada apa dengan Jake?
“Jake, Kenapa Kamu memutar balikkan motor?”
__ADS_1
“Kita ke Caffe saja.” Tawar Jake.
“Hah?” Historia tampak geram.
“Kalau begitu, seharusnya Aku pergi saja!” bentak Historia.
Jake masih cuek.
“Jake....” emosi Historia kian memuncak.
“Hehehehe...”
Rasanya ingin sekali lompat dari motor, tapi berbahaya juga jika kepala sudah bertemu tanah atau aspal, hapus sudah harapan hidup Historia. Historia merasa berdosa bila hal itu terjadi.
Tiba-tiba motor Jake berhenti mendadak tepat di tengah jalan.
Ada dua pertanyaan muncul langsung di kepala Historia, pertama. Kenapa Jake memberhentikan motor itu tiba-tiba? Dan yang kedua kenapa dia berhenti tepat di tengah jalan yang notabene-nya adalah
jalan umum yang sedikit berbahaya?
“Jake, maksud Kamu apa ini?”
“Kamu tidak lihat.” Sindir Jake. “Bangunan itu?” sambung Jake sambil menunjuk kearah sebuah Gedung menjulang tinggi dari balik pagar tembok yang lumayan tinggi.
Ternyata, itu adalah Gedung Ekonomi dari belakang. “Oh begitu.” Ucap Historia.
“Kenapa Kamu bisa tahu itu?” tanya Historia.
“Tahu dong! Mahasiswa Aktif pasti tahu seluruh area Kampusnya.”
Historia dengan bahagia memukul helm Jake perlahan. Selama ini Historia tak tahu kalau jalan menuju Kampusnya bisa di lalui lewat jalan yang sepi. Historia tak menyangka, dari jalan yang berlawanan,
dia bisa bertemu dengan Kampusnya, betapa raksasanya lingkungan
Kampus itu.
“Lalu, kalau Kita masuk lewat mana?”
“Itu.” Jake menunjuk kearah Gerbang yang terbuka tepat seratus meter di hadapan Mereka.
“Baguslah kalau begitu. Tapi, jangan lama-lama di tengah jalan
begini!” keluh Historia sambil menunjuk kearah aspal.
“Ya pastilah.” Jake menyalakan motor menuju kearah Parkiran
“Maaf selama ini Aku lebih banyak menjadi kupu-kupu.” Curhat Historia.
“Mau kupu-kupu, mau belalang, atau mau lebah. Kamu tetap cantik, Historia.” Gombalan Jake.
Historia antara senang dan gemas dengan sikap Jake yang semakin hari semakin konyol, Historia bangga karena untuk pertama kali ini, Historia baru memiliki teman yang paham dalam keadaannya walaupun tak tahu siapa sebenarnya latar belakang keluarga Mereka.
Kemudian Historia turun, dan melepaskan helmnya. Tangan Jake segera meraihnya.
“Nanti siang Aku akan ceritakan banyak hal kepadamu.” Pesan Jake.
“Hal apa?” Historia antusias.
“Nanti saja, nanti Kamu tahu sendiri.”
Historia tersenyum-senyum sendiri sambil menepuk bahu Jake untuk ke beberapa kalinya.
__ADS_1