Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Mengerikan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Historia menatap ke sebuah cermin kamar mandi tengah


malam. Tak peduli akan pikiran negatifnya yang terus menggebu di


kepalanya berkata, kamu akan diganggu hantu. Tapi, Historia


mengabaikan itu. Terus memandang kearah cermin itu sekalipun


bulu kuduk mulai membana.


“Aku sepertinya kelelahan.” Ucap Historia sambil menatap


cermin.


Hati Historia sengaja terus memberontak, seakan-akan jangan


terus memandang cermin itu. Tapi, Perasaan Historia terus


membantah apa kata hatinya.


Tanpa berseling lama, perasaan Historia mulai berubah


ketakutan. Perlahan tapi pasti wajahnya dari cermin berubah


menjadi lusuh, rusak, dan puncaknya ketika wajah Historia kian


gosong. Bola mata itu keluar dipenuhi darah mengalir dari mata kiri,


wajah itu bukan wajah sosok Historia.


Tubuh Historia mulai membeku ketika bayangan di cermin


berubah menjadi lelaki yang hancur mukanya. Gosong dipenuhi


dengan nanah. Mata dipenuhi darah, ekspresi menunjukkan ketidak


berdayaan, lelaki itu berusaha meminta tolong pada Historia. Tapi,


Historia membantahnya, Historia malah merengut dan berteriak Ibu


dengan nada yang sangat keras.


Historia keluar dari Kamar mandi berlari menuju kamar Ibunda


tercinta, naik tangga. Sambil berteriak menyebut Bunda Evan,


perasaan Historia diiringi rasa ketakutan luar biasa. Sebuah peristiwa


yang belum pernah dialami sebelumnya seumur hidup. Menuju


Kamar Ibu, untung Ibu dalam keadaan sadar langsung memarahi


Historia.


“Ada Apa sih?” geramnya.


“Ibu..Ibu, Aku lihat ada sosok hantu di balik kaca kamar mandi.”


“Sudah tahu ini jam dua belas, Kamu malah mengintip di


Jendela.” Bunda Evan sambil menatap jam dinding kamarnya.


“Ibu, Historia boleh apa tidak tidur semalam dengan Ibu satu


malam ini?” keluh Historia.


“Masa Kamu kalah dengan Adikmu yang masih kecil?” celoteh


Bunda Evan.


Historia malu seketika menyadari sikapnya seperti kekanak-kanakkan lagi. Telapak tangannya menutup mulutnya, wajahnya


seketilka memerah merona, Historia enggan melihat wajah Bunda


Evan.


“Maaf Bu, Kalau begitu Historia kembali ke Ruangan dulu saja.”


Historia kian melupakan sesuatu yang terjadi di kamar mandi


tadi, tapi seketika turun tangga dan melewati kamar mandi bulu

__ADS_1


kuduknya kian berdiri. Tubuh Historia menggigil dan cepat berlari


menuju kamar, Historia semakin yakin di malam ini dia tak mungkin bisa tidur nyenyak.


Historia masuk ke dalam kamar, Historia tidak sekamar dengan


Ruben Pantaslah tidak sekamar, Historia perempuan dan Ruben


lelaki. Akan terjadi hal mencurigakan apabila Historia sekamar


dengan adik sendiri.


Historia berbaring di atas kasur, dengan sprei dan selimut yang


berwarna sama, warna biru. Pikirannya terus terpanat memikirkan


tentang yang terjadi di kamar mandi.


Jangan sampai sosok itu masuk


ke dalam kamar Historia. Historia menyimpan rasa takutnya. Sengaja


ia tutupkan muka dengan bantal.


Historia merasa takut tiba-tiba tak bisa tidur


alias Insomnia. Muncul suara entah dari mana memanggil nama


Historia. Suara itu seperti menggema dalam Ruanagan, rasa takut


Historia semakin menggebu. Historia tak berani membuka bantal itu.


Suara itu terus memanggil nama Historia, hingga Historia kian mengigil dari balik selimut. Haduhh....tak tahan pipis. Historia


mendadak kebelet pipis, sebagian tubuhnya yang bawah mendadak


panas tak kuasa menahan pipis.


“Haduhh....kebelet pipis segala.” Historia baru teringat di kamar


mandi belum sempat buang air kecil. Suara itu akhirnya berhenti,


perlahan-lahan Historia mulai menampakkan mukanya dari balik


bantal. Langit-langit atap yang gelap, tanpa penerangan sedikitpun.


dia jauhkan dari wajahnya sekalipun masih ada rasa takut dalam hati


tapi Historia berusaha untuk terus kuat, walau bulu kuduk kian


berdiri. Historia terbangun perlahan bergerak menuju kamar mandi,


rasanya urine ingin segera turun, Historia mengabaikan rasa takutnya


berlari kencang menuju kamar mandi dengan hingga lantai berbunyi seperti langkah raksasa.


Kali ini Historia tak berani memandang kearah cermin kamar mandi yang tepat di depannya. Historia jongkok dan


mengeluarkan


cairan yang dia tahan tanpa memadang kearah cermin sedikitpun,


kepala ia tundukkan dengan tajam. Hingga berdiri, dengan


pandangan lurus ke bawah, tubuhnya kian menggigil jangan terbayangkan hal mengerikan itu terjadi.


Historia baru menyadari kamar mandi itu memang angker, tapi


semua kamar mandi memanglah angker mengingat kamar mandi


selalu diidentik dengan kotor. Historia segera bergegas meninggalkan kamar mandi, dengan pandangan lurus ke bawah tanpa menatap ke


langit kamar mandi.


Historia segera berlari kembali menuju kamar tidur, hari


semakin larut. Historia yang penderita maag tiba-tiba merasakan


nyeri pada perutnya. Padahal belum lama baru saja selesai makan, kenapa sudah lapar lagi, mungkin karena Historia terlalu banyak


memikirkan yang sudah terjadi, rasa kecemasan dan penasaran yang telah terjadi akibat makhluk misterius di kamar mandi itulah yang


membuat Historia terus memual.

__ADS_1


Historia masuk kembali ke dalam kamarnya tubuhnya kian


menggigil, melihat suasana kamar tidurnya yang gemerlap.


Historia


teringat kalau di Kamar itu memang banyak kenangan indah dengan sang Ayahnya. Historia meneteskan air mata ketika teringat itu


semua. Historia mentup wajahnya dengan kedua tangannya


menangisi dan melangkah ke atas ranjang menutupnya dengan


selimut, Historia tak ingin memikirkan lagi sesuatu yang terjadi di


kamarnya. Tanpa disadari pikirannya kian hampa dan Historia bisa


tertidur lelap hingga esok harinya.


“Historia...Historia....” suara perempuan khas tua memanggil


namanya. Historia kian bangkit dengan keadaan setengah mengantuk. Ternyata, Bunda Evan memanggilnya. Langit terlihat dari


balik jendela mulai mencerah, pertanda hari semakin siang.


“Gawat...Aku terlambat.” Historia kaget dengan segera


beranjak bangun dari kasur. Langkah cepatnya segera melepaskan


pakaian menuju kamar mandi, kini hari sudah pagi. Tak mungkin


akan adanya makhluk menyeramkan itu. Lagipula bilamana terjadi


Historia bisa meneriaki dari kamar mandi kepada Ruben.


Kebiasaan Historia memang lebih suka mandi dulu daripada


makan. Sekalipun perut kosong. Walau terkadang sering ada rasa


lapar dan pusing apalagi kalau musim hujan. Tapi bagi Historia hal ini


adalah biasa.


“Historia....Historia....” suara Ibu memanggil lagi ketika Historia


mengalunan gayung. Historia sudah tak berbusana. Tak ingin banyak


berteriak Historia segera mengebas air itu. Baru berlari segera menggenakan pakaian.


“Ada apa, Bu?” tanyanya.


“Ini makananmu.” Bunda Evan sibuk mengatur makanan.


Terdapat satu mangkok soto ayam. Bau yang khas dari soto itu


membuat Historia tergiur kecut dengan soto itu. Historia segera melahap bersama tanpa seorang Ruben yang tengah sibuk mengatur


dasi di kamarnya.


Suara ponsel pun kian berdering. Jake sudah menelponnya,


Historia merasakan nyaman dengan adanya, Jake disampingnya.


Historia merasakan lega dengan adanya seseorang yang


memercayainya.


Dengan cepat, Histori segera mengangkatnya.


“Hallo Sayang.” Ucap pertama Jake yang membuat Historia


mati kutu.


Historia tersenyum-senyum sendiri.


“Hallo juga.”


Bunda Evan hanya menatap perubahan karakter dari putrinya


sambil mengunyah soto hasil buatannya sendiri.


“Ada apa?” tanya Historia dengan menahan ucapan kata


Sayang.

__ADS_1


Bunda Evan terus melirik kearahnya dengan mulut merahnya menggoyang kesana kemari mengunyah nasi itu. Perasaannya pun


sedikit kecut.


__ADS_2