
...SELAMAT MEMBACA...
Historia menatap ke sebuah cermin kamar mandi tengah
malam. Tak peduli akan pikiran negatifnya yang terus menggebu di
kepalanya berkata, kamu akan diganggu hantu. Tapi, Historia
mengabaikan itu. Terus memandang kearah cermin itu sekalipun
bulu kuduk mulai membana.
“Aku sepertinya kelelahan.” Ucap Historia sambil menatap
cermin.
Hati Historia sengaja terus memberontak, seakan-akan jangan
terus memandang cermin itu. Tapi, Perasaan Historia terus
membantah apa kata hatinya.
Tanpa berseling lama, perasaan Historia mulai berubah
ketakutan. Perlahan tapi pasti wajahnya dari cermin berubah
menjadi lusuh, rusak, dan puncaknya ketika wajah Historia kian
gosong. Bola mata itu keluar dipenuhi darah mengalir dari mata kiri,
wajah itu bukan wajah sosok Historia.
Tubuh Historia mulai membeku ketika bayangan di cermin
berubah menjadi lelaki yang hancur mukanya. Gosong dipenuhi
dengan nanah. Mata dipenuhi darah, ekspresi menunjukkan ketidak
berdayaan, lelaki itu berusaha meminta tolong pada Historia. Tapi,
Historia membantahnya, Historia malah merengut dan berteriak Ibu
dengan nada yang sangat keras.
Historia keluar dari Kamar mandi berlari menuju kamar Ibunda
tercinta, naik tangga. Sambil berteriak menyebut Bunda Evan,
perasaan Historia diiringi rasa ketakutan luar biasa. Sebuah peristiwa
yang belum pernah dialami sebelumnya seumur hidup. Menuju
Kamar Ibu, untung Ibu dalam keadaan sadar langsung memarahi
Historia.
“Ada Apa sih?” geramnya.
“Ibu..Ibu, Aku lihat ada sosok hantu di balik kaca kamar mandi.”
“Sudah tahu ini jam dua belas, Kamu malah mengintip di
Jendela.” Bunda Evan sambil menatap jam dinding kamarnya.
“Ibu, Historia boleh apa tidak tidur semalam dengan Ibu satu
malam ini?” keluh Historia.
“Masa Kamu kalah dengan Adikmu yang masih kecil?” celoteh
Bunda Evan.
Historia malu seketika menyadari sikapnya seperti kekanak-kanakkan lagi. Telapak tangannya menutup mulutnya, wajahnya
seketilka memerah merona, Historia enggan melihat wajah Bunda
Evan.
“Maaf Bu, Kalau begitu Historia kembali ke Ruangan dulu saja.”
Historia kian melupakan sesuatu yang terjadi di kamar mandi
tadi, tapi seketika turun tangga dan melewati kamar mandi bulu
__ADS_1
kuduknya kian berdiri. Tubuh Historia menggigil dan cepat berlari
menuju kamar, Historia semakin yakin di malam ini dia tak mungkin bisa tidur nyenyak.
Historia masuk ke dalam kamar, Historia tidak sekamar dengan
Ruben Pantaslah tidak sekamar, Historia perempuan dan Ruben
lelaki. Akan terjadi hal mencurigakan apabila Historia sekamar
dengan adik sendiri.
Historia berbaring di atas kasur, dengan sprei dan selimut yang
berwarna sama, warna biru. Pikirannya terus terpanat memikirkan
tentang yang terjadi di kamar mandi.
Jangan sampai sosok itu masuk
ke dalam kamar Historia. Historia menyimpan rasa takutnya. Sengaja
ia tutupkan muka dengan bantal.
Historia merasa takut tiba-tiba tak bisa tidur
alias Insomnia. Muncul suara entah dari mana memanggil nama
Historia. Suara itu seperti menggema dalam Ruanagan, rasa takut
Historia semakin menggebu. Historia tak berani membuka bantal itu.
Suara itu terus memanggil nama Historia, hingga Historia kian mengigil dari balik selimut. Haduhh....tak tahan pipis. Historia
mendadak kebelet pipis, sebagian tubuhnya yang bawah mendadak
panas tak kuasa menahan pipis.
“Haduhh....kebelet pipis segala.” Historia baru teringat di kamar
mandi belum sempat buang air kecil. Suara itu akhirnya berhenti,
perlahan-lahan Historia mulai menampakkan mukanya dari balik
bantal. Langit-langit atap yang gelap, tanpa penerangan sedikitpun.
dia jauhkan dari wajahnya sekalipun masih ada rasa takut dalam hati
tapi Historia berusaha untuk terus kuat, walau bulu kuduk kian
berdiri. Historia terbangun perlahan bergerak menuju kamar mandi,
rasanya urine ingin segera turun, Historia mengabaikan rasa takutnya
berlari kencang menuju kamar mandi dengan hingga lantai berbunyi seperti langkah raksasa.
Kali ini Historia tak berani memandang kearah cermin kamar mandi yang tepat di depannya. Historia jongkok dan
mengeluarkan
cairan yang dia tahan tanpa memadang kearah cermin sedikitpun,
kepala ia tundukkan dengan tajam. Hingga berdiri, dengan
pandangan lurus ke bawah, tubuhnya kian menggigil jangan terbayangkan hal mengerikan itu terjadi.
Historia baru menyadari kamar mandi itu memang angker, tapi
semua kamar mandi memanglah angker mengingat kamar mandi
selalu diidentik dengan kotor. Historia segera bergegas meninggalkan kamar mandi, dengan pandangan lurus ke bawah tanpa menatap ke
langit kamar mandi.
Historia segera berlari kembali menuju kamar tidur, hari
semakin larut. Historia yang penderita maag tiba-tiba merasakan
nyeri pada perutnya. Padahal belum lama baru saja selesai makan, kenapa sudah lapar lagi, mungkin karena Historia terlalu banyak
memikirkan yang sudah terjadi, rasa kecemasan dan penasaran yang telah terjadi akibat makhluk misterius di kamar mandi itulah yang
membuat Historia terus memual.
__ADS_1
Historia masuk kembali ke dalam kamarnya tubuhnya kian
menggigil, melihat suasana kamar tidurnya yang gemerlap.
Historia
teringat kalau di Kamar itu memang banyak kenangan indah dengan sang Ayahnya. Historia meneteskan air mata ketika teringat itu
semua. Historia mentup wajahnya dengan kedua tangannya
menangisi dan melangkah ke atas ranjang menutupnya dengan
selimut, Historia tak ingin memikirkan lagi sesuatu yang terjadi di
kamarnya. Tanpa disadari pikirannya kian hampa dan Historia bisa
tertidur lelap hingga esok harinya.
“Historia...Historia....” suara perempuan khas tua memanggil
namanya. Historia kian bangkit dengan keadaan setengah mengantuk. Ternyata, Bunda Evan memanggilnya. Langit terlihat dari
balik jendela mulai mencerah, pertanda hari semakin siang.
“Gawat...Aku terlambat.” Historia kaget dengan segera
beranjak bangun dari kasur. Langkah cepatnya segera melepaskan
pakaian menuju kamar mandi, kini hari sudah pagi. Tak mungkin
akan adanya makhluk menyeramkan itu. Lagipula bilamana terjadi
Historia bisa meneriaki dari kamar mandi kepada Ruben.
Kebiasaan Historia memang lebih suka mandi dulu daripada
makan. Sekalipun perut kosong. Walau terkadang sering ada rasa
lapar dan pusing apalagi kalau musim hujan. Tapi bagi Historia hal ini
adalah biasa.
“Historia....Historia....” suara Ibu memanggil lagi ketika Historia
mengalunan gayung. Historia sudah tak berbusana. Tak ingin banyak
berteriak Historia segera mengebas air itu. Baru berlari segera menggenakan pakaian.
“Ada apa, Bu?” tanyanya.
“Ini makananmu.” Bunda Evan sibuk mengatur makanan.
Terdapat satu mangkok soto ayam. Bau yang khas dari soto itu
membuat Historia tergiur kecut dengan soto itu. Historia segera melahap bersama tanpa seorang Ruben yang tengah sibuk mengatur
dasi di kamarnya.
Suara ponsel pun kian berdering. Jake sudah menelponnya,
Historia merasakan nyaman dengan adanya, Jake disampingnya.
Historia merasakan lega dengan adanya seseorang yang
memercayainya.
Dengan cepat, Histori segera mengangkatnya.
“Hallo Sayang.” Ucap pertama Jake yang membuat Historia
mati kutu.
Historia tersenyum-senyum sendiri.
“Hallo juga.”
Bunda Evan hanya menatap perubahan karakter dari putrinya
sambil mengunyah soto hasil buatannya sendiri.
“Ada apa?” tanya Historia dengan menahan ucapan kata
Sayang.
__ADS_1
Bunda Evan terus melirik kearahnya dengan mulut merahnya menggoyang kesana kemari mengunyah nasi itu. Perasaannya pun
sedikit kecut.