Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Dimensi Jake


__ADS_3

“Ingat ya! Jangan sampai Kamu kasih tahu kalau informasi ini semua dari Aku!” gelagat Jumbo sudah mulai memarah.


“Baiklah-baiklah.” Historia bersikeras mengiyakan sebagai keyakinan


“Janji!” Jumbo menawarkan jari kelingkingnya ke Historia sebagai bentuk tanda sumpah. Historia pun langsung membalas


dengan jari yang sama.


Kedua jari kelingking akhirnya saling terikat.


“Awas, kalau sampai Kamu kasih tahu.. Maka, Kamu akan


terkena karmanya.” Ancam Jumbo.


Historia semakin gelisah, akhirnya geram juga mendengar ucapan Jumbo yang tak mengenakan di hatinya, yang tak ada tuduh point sedikitpun.


“Iyaa....” emosi Historia pecah juga.


“Jadi begini....” Jumbo memulai cerita yang padat. Semua aib Jake dia bongkar mentah-mentah di hadapan Historia.


Historia mulai masuk kedalam dimensi awal mula kehidupan Jake.


Inilah Kisah Jake.


Jake lahir pada tanggal 12 Mei 1992. Berasal dari keluarga sederhana yang baru saja membangun keluarga tuna wisma. Kehidupan yang dijalani sangat sederhana, Jake hanya memiliki 3 buah baju bayi saja saat lahir, karena saking keterbatasannya hidup


mereka. Kedua orangtua Jake merupakan seorang freelance, yang bekerja terkadang ikut orang atau kerja ikut perusahaan.


Penghasilan Ayah Jake tak terlalu banyak sehinggaa membuat Uang itu habis untuk biaya keperluan Rumah tangga Mereka berdua sekaligus membayar uang kontrak Rumah.


Terkadang kedua belah pihak sering tidak makan hanya memberi makan Jake saja, agar Jake tumbuh menjadi anak yang


sehat tanpa kekurangan gizi. Kedua orangtuanya bekerja dengan


saling mendukung satu sama lain hanya mengurus satu orang anak.


Jake sering sekali merengek kepada kedua orangtuanya, ketika


kedua orangtuanya yang baru saja pulang kerja, setelah bertengkar dengan kawan-kawannya. Semua kekesalan itu dia lampiaskan kekedua orangtuanya dimulai tidak mau makan sampai terus meminta Ayahnya untuk ditemani tidur.


Jake merasa nyaman apabila hidup di pangkuan Ayahnya.


Ayahnya terkadang menceritakan beberapa kisah mitos yang terkadang membuat Jake penasaran sekaligus menggigil ketakutan.


Tapi terkadang Jake juga sering menangis kepada Ayah tercintanya kalau ternyata cerita itu sangat berlebihan dan membuat Jake ketakutan.


Saat itu Jake berulang tahun yang ketiga, Ayahnya memberikan


sebuah mainan yang dia beli dengan cara susah payah. Mainan itu adalah mainan halma. Jake merasa bosan, sistem permainan Halma.


Padahal papan mainan itu adalah hadiah pertama dari sang Ayah yang sudah susah payah berjuang mengumpulkkan dana hanya untuk membelikkan mainan itu pada Jake.

__ADS_1


“Jake, tidak mau memainkan mainan itu?” bantah Jake Saat itu, Ayah sangat sedih. Sifat Jake yang menolak hadiah itu


membuat Ayah menangis dikala Jake kecil sudah tidur.


“Ayah, Kenapa menangis?” tanya Ibu datang menghampiri Ayah. Ayah tak menjawab sama sekali.


Di tangan kanan Ayah memegang sebuah bungkus halma yang barusan saja dia beli.


“Ayah, bukannya itu mainan yang baru Ayah beli?”


“Betul. Memang kenapa?”


“Kenapa enggak Ayah kasih mainan itu?” tanya Ibu.


“Jake tidak mau.” Ayah itu menjawab dengan ekspresi sambil


pasrah.


“Ayah...” dengan nada lembut Ibu mendekati Ayah dan duduk di samping.


“Mungkin mainan itu bukan kesayangan Jake..Ayah seharusnya menanyakan mainan yang disukai Jake dulu.” Ibu sambil mengusap punggung Ayah yang sedang bersedih.


“Coba kalau kemarin Ayah menanyakan, mungkin Jake tidak akan menangis karena kecewa mainan ini.”


“Apa perlu Kita belikan mainan lagi buat dia?” saran Ibu.


“Jangan beli mainan, beli kebutuhan sehari-hari saja sudah susah kok.” Keluh Ayah.


“Memang? Bisa?” Ayah sedikit ragu-ragu.


“Bisalah. Ayo semangat.” Ibu dengan tersenyum menyemangati suaminya.


Mereka berdua akhirnya bangkit dari Teras Rumah, dan kembali masuk ke dalam Rumah kontrakan itu. Saatnya untuk tidur bersama.


Keesokan harinya, Ayah dan Ibu seperti biasa menyiapkan pakaian dinasnya sebelum pergi kerja, seperti biasa Ayah dan Ibu menitipkan Jake kepada Nenek dari Ayahnya untuk mengasuh sekaligus mengajak main Jake selama kedua Orangtua mereka bekerja. Tapi untuk hari itu, terjadi sedikit keanehan yang tak pernah dirasakan Ayah dan Ibu sebelumnya.


“Jake, nanti kalau Jake sudah besar. Jake mau jadi apa?” tanya Ibunya sambil menyuapkan makan ke mulut Jake kecil.


“Jake ingin jadi seperti Ayah dan Ibu saja, bisa kerja bersama-sama.” Ucap Jake.


“Oh tidak boleh, Jake harus punya pekerjaan yang bagus.”


“Contohnya apa, bu?” tanya Jake.


“Jake harus jadi dokter, polisi, tentara, atau pengacara. Jake boleh pilih salah satu.” Jawab Ibunya dengan nada yang sopan.


“ehhmmm...kalau Jake senang jadi Dokter saja deh, bisa mengobati orang sakit, bisa menolong orang yang kesusahan.” Sahut


Jake.


“Wahh..keren. Jake kalau mau jadi dokter, Jake harus banyak belajar, dan jangan suka menangis!” pesan Ibu sambil memainkan hidung Jake.

__ADS_1


“Enggak kok. Jake tidak pernah menangis.” Bantah Jake.


“Lalu, kemarin kenapa kata Ayah kalau Kamu menangis?”


“Iya, Jake hanya ingin Ayah belikan mainan domino buat Jake.”


Keluh Jake dengan suara mengecil.


“Oh pantas, kalau Jake mau main domino. Nanti Ayah sama Bunda belikan." Jake mendadak senang, “seriuskah, Ibu?”


“Iya, Jake.” Sambil senyum. “Tapi ingat pesan Ibu. Jake harus rajin belajar, jangan rewel, dan jangan jahat sama siapapun.” Jari telunjuk Bunda berdiri di depan Jake.


“Siap, Bu. Jake akan selalu mendengar ucapan Bunda.”


Tiba-tiba Bunda memeluk erat putranya itu, yang tak seperti biasa. Biasanya hanya sepintas mengecup kening di dahi Jake, kini beliau mengecup kening sekaligus memeluk hingga Jake tak kuat


bernafas.


“Bunda, Jake enggak bisa bernafas.”


“Oh..Maaf.”


Bunda lalu meneteskan air mata. “Bunda, kenapa menangis?” ucap Jake perlahan.


“Jake, Kamu harus jadi anak yang berbakti ya!” pesan Bunda sambil mengelus rambut Jake yang tebal itu.


“Memang Kenapa, Bu?”


“Ibu Cuma kasih tahu saja, Ibu semua anak harus jadi yang berbakti kepada siapapun.” Bunda mengelus pipi Jake yang lembut.


Jake kemudian terdiam.


Satu jam kemudian, baru Ayah dan Bunda pergi ke Kerja bersama-sama dengan membawa ontel rangkap dua yang mereka


beli saat masih pacaran. Dari balik pintu, Ayah dan Bunda melambaikan tangan kepada Jake yang tengah asyik duduk bersama Nenek tercintanya. Kebetulan usai memandikan Jake, menyuapkan nasi pada Jake, kini Ayah dan Bunda bisa bernafas dengan lega pergi meninggalkan Jake.


Ayah melambaikan tangan cukup lama dihadapan putra semata wayangnya itu, seakan-akan di hari itu tak rela meninggalkan putranya pergi sendirian.


Barulah Mereka berdua pergi.


Tanpa disadari, lambaian tangan itu. Lambaian tangan terakhir kedua orangtua Mereka sebelum memutuskan berpisah dengan putra kecilnya itu yang duduk manis dipangkuan Nenek walau saat


itu Jake tak merasakan sedikitpun keanehan dalam dirinya.


Maklumlah Jake masih sangat kecil.


Akhirnya, Jake mulai bermain bersama anak tetangga yang notabenenya mudah sekali Mereka bertengkar.


Tapi, Jake sendiri merasa bangga, usai mendengar Bunda tercintanya berjanji akan membelikan mainan domino kesukaan Jake yang selama ini dia nanti-nanti.


Jake terlihat amat sangqat bahagia menanti kedatangan hadiah itu.

__ADS_1


__ADS_2