
...SELAMAT MEMBACA...
Jake terlihat sangat dingin. Ditambah dengan banyaknya angin berhembus ke atas tanah tinggi itu membuat suasana semakin dingin.
Jake tak memandang kearah wajah Historia sedikitpun. Gelagatnya
serius tapi cenderung kearah murka membuat Historia sedikit grogi
kepadanya walaupun ada sedikit rasa antusias dalam hatinya.
“Aku memang baik, tapi sifat burukku ialah pendendam.”
Gumam Jake.
“Dendam? Memang Kamu dendam dengan siapa?” tanya Historia.
“Sebenarnya, Aku bukan sosok yang pendendam. Nenekku sudah dari dulu mengajarkan untuk tidak dendam. Tapi Aku lebih
suka dendam.” Ucap Jake serius.
“Memang ada masalah apa?” tanya Historia lagi.
“Kamu ingat kejadian peristiwa teror Bom 10 tahun lalu?” ucap Jake.
Historia langsung melototkan mata, kaget dengan ucapan Jake.
Lalu, Historia terdiam.
“Kenapa Kamu diam? Apa orangtuamu tak pernah menceritakan sebelumnya?” Jake kini menatap wajah Historia
dengan ekspresi marah. Historia hanya berlagak bodoh saja di depan Jake.
“Ohm....memang Aku tahu, tapi....”ucapan Historia langsung disahut Jake.
“Sebenarnya, Kedua orangtua terlibat langsung disitu.” Kenang Jake kemudian meneteskan air mata.
Historia membalikkan badan. “Memang peristiwa itu peristiwa paling parah dikala itu.” Gumamnya.
“Kamu hanya tahu sepintas, tapi tidak bagiku. Aku tahu segalanya.” Balas Jake.
“Bagaimana latarnya?” Historia kian penasaran.
“Jadi begini....” Jake mulai bercerita.
“Ayah dan Ibuku bekerja di Kantor yang sama tapi dengan posisi yang
berbeda. Ayahku adalah seorang Cleaning Service Kantor, sedangkan
Ibuku di posisi Kantin sebagai juru masak Kantor. Kami berasal dari
sepasang keluarga yang sederhana. Tapi Kami semua saling
mencintai, satu sama lain. Aku adalah anak lelaki satu-satunya yang
dicintai keluarga.
Mereka bekerja untuk memenuhi kehidupan karena bukan orang
yang memiliki Rumah pribadi, hidup kami selalu berpindah kesana
kemari. Karena Kantor itu memang sangat besar, jadi sangat
menguntungkan bagi keluarga Kami untuk bekerja disana.
Tapi saat itu malam pada pertengahan bulan Agustus, Kantor
itu sangat ramai dipenuhi Karyawan, pejabat Kantor, dan juga
__ADS_1
beberapa Nasabah disana. Entah karena memang tempat itu sudah
menjadi target orang-orang gila, maka sekitar pukul 7 malam Kantor
itu dirampok. Aku tak tahu pasti bagaimana proses terjadinya
peristiwa itu, karena Aku saat itu masih terlalu kecil. Aku hanya
mendengar kabar kalau kedua orangtuaku terkena bom ledakkan
yang kuat hingga menewaskan 175 orang lebih.
Aku melihat wajah Ayah yang sudah tak ada rupa ketika dibawa
ke Rumah Sakit, hancur dan gosong. Tapi Aku sudah tak kuat melihat wajah Ibu yang belum kulihat untuk terakhir kalinya. Aku berlari
kearah Nenekku, dan Nenekku memintaku untuk tetap bertahan
dengan Nenek.
Dari situ Aku menyimpan dendam dengan pelaku yang
membuat Ayah dan Ibu seperti itu. Aku terus mencari keberadaan
Mereka sampai ketemu, tapi jika dia sudah mati. Maka Aku akan
mencari makamnya dan merusakkannya. Itulah prinsipku yang sesungguhnya.”
Cerita singkat Jake mengakhiri ucapannya.
Historia masih antusias dengan sesuatu yang diceritakan oleh Jake. Historia berusaha menenangkan Jake dengan meraba tangan Jake. Punggung tangan Jake terlihat keras pertanda Jake begitu
geram dengan nasib yang sudah menimpalnya.
Jake ingat petualangan masa sedih dari hidupnya, sehingga membuat Historia juga ikut berduka dalam hidup Jake. Jake
“B*ngs*t” dengan nada yang tinggi. Untungnya saja area situ memang sangat sepi, tak ada orang yang mendengarnya. Historia menyempatkan diri menoleh kiri kanan, dan menyuruh Jake menarik
nafas dalam-dalam.
“Jake, lupakan saja semua yang sudah terjadi Jake!” ucap Historia sambil mengusap punggung Jake. Tanpa disadari raut muka Jake menunjukkan amarah, dan mata Jake mulai mengeluarkan air
mata.
“Sudah, tenanglah Jake!” pinta Historia
“Bagaimana Aku bisa tenang kalau Aku belum membunuh pelaku dan keluarga Pelaku?” sahut Jake.
Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Historia diam membatu.
Historia kaget juga dengan ucapan Jake yang membuat dirinya menyadari betapa kejamnya Jake.
“Sudah Jake, Kamu memang ganteng! Aku berani bersumpah kalau Kamu ganteng. Tapi, bukan berarti Kamu merusaki dirimu sendiri.” Historia menyodorkan tangannya ke Jake membuat Jake sedikit tenang.
Jake tampak seperti kembali ke kanak-kanakan dan jauh dari kata dewasa, mungkin sebab Jake mengingat peristiwa yang diterima bukanlah peristiwa biasa.
“Memang Kamu tahu persis apa yang Aku rasakan, coba Kamu berada diposisiku. Apa Kamu tidak dendam?”
“Ya sudah, apapun itu terima saja. Setiap manusia pasti punya masa lalu yang baik atau buruk.” Keluh Historia.
“Tidak. Aku tidak bisa memaafkan Apapun itu kesalahnya.” Jake langsung cabut badan pergi meninggalkan Historia seorang diri.
Historia mau tak mau harus terima keadaan Jake yang seperti itu.
Historia merasa dirinya diasingkan oleh Jake.
Jake lalu meninggalkan Historia sendirian, membawa motornya kembali pulang.
__ADS_1
Historia berusaha tegar mendengar ucapan Jake, kebetulan tempat Mereka duduk bersama tak terlalu jauh dari lingkungan Kampus tepat dekat dengan air mancur Kampus menghadap ke
pemukiman warga, disana Historia bertemu dengan Jumbo.
Sosok Jumbo ialah sahabat dekat dibalik kesepiannya Jake.
Selama ini Jake dekat dengan dua orang saja, Jumbo dan Historia.
Walaupun Jumbo terkadang bersikap seenaknya dengan Jake, tapi bagi Jake, Jumbo ialah teman yang mudah dimengerti.
“Jumbo?” sapaan Historia.
“Historia?” panggil Jumbo.
“Kenapa Kamu bisa disini?” tanya Jumbo lagi.
“Ohh barusan Aku sama Jake.”
“Jake?” Jumbo sempat terdiam, “Ahh..Jangan-jangan Kamu ada
perasaan ya!” iseng Jumbo.
Historia abaikan ucapan Jumbo. Sebuah kesempatan emas, dimana ada Jumbo disitu Historia bisa meminta keterangan lebih
lanjut tentang Jake. Sebelumnya Jake menceritakan sedikit tentang
kejadian tadi.
“Jumbo, sebenarnya Aku baru tahu tentang hidup Jake yang
sesungguhnya tentang Jake? Apa Kamu tahu cerita hidupnya yang
lebih jelas?” Historia penasaran.
Jumbo si badan gempal langsung menoleh kanan kiri dan menarik tangan Historia, masuk ke dalam salah satu kelas di Fakultas Psikolog. Kebetulan fakultas psikolog merupakan jurusannya Jumbo. Kelas itu sepi, tanpa ada mahasiswa maupun dosen. Mereka
bisa bercerita satu sama lain. Hanya Jumbo yang paham nasib hidup
Jake bagaimana Jake bisa menjadi manusia yang dingin dan sulit
memaafkan. Kebetulan Jake bukan anak yang baik untuk membuka
aibnya.
Historia duduk tepat di depan Jumbo. Jumbo menarik nafas dalam-dalam. Historia makin antusias.
“Kamu harus meminta maaf dengannya?” pinta Jumbo.
“Bagaimana bisa?”
“Aku sudah memaafkanmu, tapi Kamu harus meminta maaf berulangkali dengannya.”
“Memang kenapa?” bantah Historia.
“Karena Jake bukan orang yang mudah untuk berlapang dada, Jake adalah orang yang sangat sensitif, dan sulit diajak kompromi.
Makanya, dia tak punya banyak teman kan.” ungkap Jumbo.
“Terus?” Historia masih bingung.
“Jadi begini....”
Jumbo mulai menceritakan secara detail kisah hidup Jake di mulai dari kecil hingga hidupnya. Jumbo sendiri menceritakan dengan perasaan was-was.
“Tapi, jangan kasih tahu semua cerita ini dari Aku ya!” pesan Jumbo.
Jumbo terlihat takut kalau Historia mendapatkan banyak informasi temtang Jake dari Jumbo.
__ADS_1
“Ingat ya!!!!” pesan Jumbo.