
“Namaku Jake.” Gumam lelaki itu.
“Namaku..Historia.” pungkas Historia.
Usai bersalaman perlahan Jake melepaskan genggamannya. Historia
sedikit deg-degan dengan Jake sepertinya ada perasaan, pura-pura
tersenyum kecut dan terkesan dingin.
“Ya sudah kalau begitu, Aku pulang dulu ya!” Jake tanpa basa-basi
segera hengkang dari kamar mandi.
Historia berlagak sedikit sinis, “tunggu!” ucapnya secara spontan.
Jake berhentikan langkah kakinya.
“Kenapa?”
“Jadi, kamu ke Toilet tadi Cuma mau menolongku saja ya?”
“Betul, kenapa memang?”
“Tidak apa-apa.” Historia sedikit menggelengkan kepala.
Jake langsung pergi meninggalkan Historia, dalam hati Historia
berpikir betapa dinginnya lelaki ini. Sungguh unik sekali dimata
Historia walaupun tidak unik di mata yang lain.
Perasaan Historia kian lega, dia pikir dirinya akan mati dalam
kamar mandi, ternyata tidak. Lelaki jelmaan malaikat itu pun datang
walaupun bersikap dingin, tapi rasa penasaran Historia terasa lega
usai diterpa musuhnya di organisasi, siapa lagi kalau bukan Maya
gembul itu.
Historia kembali melangkah sendiri ke luar Gedung fakultas
Hukum berjalan menuju Gedung Organisasi Jurnalis lagi, memang
Gedung Jurnalis tidak begitu jauh dari Gedung Hukum. Hanya butuh alan beberapa menit saja sudah sampai, suasana luar Gedung pun
sudah terlihat dari Lobbi utama Fakultas Hukum. Mata Historia pun
melebar lagi ketika sampai di depan Lobi Fakultas Hukum.
Rombongan temannya berjalan menuju motor Mereka pertanda
rapat sudah selesai. Historia merasa lega tidak harus berurusan lagi
dengan teman-teman yang notabenenya setengah manusia Gua.
Tapi, perasaan tak enak hatinya ketika tas Historia masih berada di
dalam Gedung Jurnalis.
Satu-satunya jalan itu hanyalah, Historia harus menunggu
sampai semua temannya sudah pulang. Historia masih bisa duduk-
duduk di kursi tunggu lorong fakultas Hukum. Duduk di kursi balok
besi perasaan agak tenang. Pandangan terus tertuju ke arah Gedung
Jurnalis yang berseberangan dengannya.
“Kok belum pulang?” suara dari belakang Historia
mengaggetkan suasana. Historia seketika langsung kaget dengan
spontan membalikkan badannya ke belakang.
“Obhh kamu...membuatku kaget saja.” Historia sedikit emosi,
tapi untungnya itu adalah Jake, andai Jake tak menolong Historia
mungkin emosi Historia sudah pecah disitu. Mendadak perasaan
Historia, malu terkecut akibat menatap wajah polos dari Jake.
“Untung Kamu, coba kalau orang lain. Mungkin sudah lain
ceritanya.” Pungkas Historia.
Jake hanya terdiam seperti orang tak bersalah.
“Kenapa belum pulang?” tanya Jake.
__ADS_1
“Ehhh..Aku masih disini.” Historia mendadak bingung.
“Iya, memang kenapa belum pulang?” Jake mulai membentak.
“Ehh...enggak, enggak. Aku masih nunggu teman-temanku
pulang dulu!” jawab Historia dengan suara panik tanpa memandang
wajah Jake.
Perasaan Historia menggebu-gebu di wajah, terasa seluruh
tubuh mulai memanas akibat gertakan dari Jake. Aliran darah terasa
mengalir cepat menjulur ke seluruh tubuh, Historia tak kuasa
melawan sikap aslinya di hadapan Jake.
“Kenapa sih?” Jake mulai risih dengan sikap Historia.
“Enggak kok, enggak apa-apa.” Historia langsung bangun
dengan paras malu kembali ke Gedung Jurnalis, rasanya sangat lupa
untuk pamit kepada Jake, walaupun sebenarnya Jake sendiri merasa
aneh dengan sikap Historia yang mendadak berubah, seakan-akan
Historia menunjukkan ekspresi kebodohan di depan Jake.
“Ada apa dengan gadis itu.” Ucap Jake perlahan sambil
menatap Historia dari kejauhan.
Historia masih malu-malu, rasanya enggan sekali untuk
membalikkan wajahnya ke belakang. Menatap wajah Jake, dalam
hatinya terdapat rasa gawat jangan sampai Jake tahu kalau Historia
sangat apatis dengan teman-teman satu organisasi.
Tak lama ponsel dari Saku celana Historia berdering.
“Kriingg....” Rasa malu Historia kian surut, kembali ke sikap
yang biasa lagi.
“Siapa yang telepon.” Membuka Handphonenya, dan ternyata
“Ruben? Ada apa ya? Baru-baru ini menelepon.” Historia
langsung meengangkat teleponnya.
“Ada apa Ruben?” Historia antusias.
Tiba-tiba teriakan Ruben langsung mengaggetkan lagi, Historia.
“Kakak, Kakak. Bunda mau bunuh diri?” teriakkan Ruben penuh rasa
panik.
“Hah? Serius?” Historia merasa seperti sedang menghadang
dengan singa kelaparan.
“Iya, serius. Kakak cepat pulang!” pinta Ruben.
“Oh ya, ya. Kakak akan segera pulang.”
Historia kemudian menggeliat emosi, berlari menuju Gedung
Jurnalis mengambil tasnya. Hati dan perasaannya diliputi rasa gelisah,
emosi, dan kesal. Berlari menuju Gedung Jurnalis.
Usai mengambil tas dan kembali, ke luar Kampus. Historia
bingung butuh tumpangan, apa yang harus dia lakukan. Ingin
memesan Ojek baterai Hp sudah habis. Historia mendengkur.
Pikirannya diliputi rasa takut, beruntung Historia melihat sebuah
motor terparkir di depan Gedung fakultas Hukum. Tanpa pikir
panjang, coba minta pemilik motor itu untuk mengantarkannya
pulang.
Siapa sebenarnya pemilik motor itu? Ternyata Jake.
Jake kembali sibuk menata buku di Perpustakaan fakultas
__ADS_1
Hukum. Tepat berada di pojok lorong lantai satu. Historia dikagetkan
lagi dengan si pemilik adalah Jake. Historia sudah merasa terbebani
harian ini dengan Jake. Akan sangat bahaya, kalau sewaktu-waktu
Jake menyatakan cinta pada Historia, tapi Historia menolak.
“Jake, tolong!!!!!” dari balik pintu.
“Tolong apa lagi?”
“Antar Aku pulang!”
“Kenapa tidak memesan ojek saja?”
“Tolong ini urgent sekali!”
“Memang ada apa?”
“Ibuku mau bunuh diri.” Pungkas Historia
“Hah? Serius?”
“Iya, tolonglah Aku!”
“Baik kalau begitu.”
Jake segera merapikan tumpukkan buku itu, dan keluar
mengunci pintu Perpustakaan. Pihak dosen sudah percaya
kepadanya kalau kunci harus ditiitpkan padanya. Jake memang jujur
untuk dititipkan kunci.
Mereka segera bergegas menuju Motor dan berangkat menuju
Rumah Historia. Historia terus berdoa, semoga Bunda Evan tercinta
mengurungkan hatinya untuk bunuh diri.
Beruntungnya Jake tak banyak basa-basi dengan Historia.
Historia bisa terus berdoa sepanjang jalan, berharap Ibu Evan masih
terus ada hingga Historia tiba. Walau dalam hatinya ada perasaan
takut luar biasa.
“Lewat mana Rumahmu?” tanya Jake.
“Ke kiri saja Bang arah Perumahan.” Pinta Historia.
“Oke.”
“Tancap gas saja, Bang!” pinta Historia.
Jake langsung menancap gas hingga kecepatan nyaris 80
km/jam kebetulan motor miliknya adalah motor matik keluaran baru.
Angin terus mendengus menghantam wajah Historia, Historia sedikit
nyaman dengan dinginnya dorongan angin siang hari, yang mampu
mengurangi rasa takut sementara dari hati Historia.
Dan mulut pun terus berdoa agar Ibu Evan tak jadi menusukkan
benda tajam itu ke tubuhnya, walau detakkan jantung Historia terus
berdetak kencang. Tapi, Historia berusaha sekuat mungkin untuk
sabar. Pikirannya menggebu-gebu, ada apa dengan Ibu Evan yang
berusaha untuk bunuh diri, tidak ada angin, tidak ada hujan tapi Ibu
Evan ingin bunuh diri.
Rasa geram menepi di kepaala Historia.
“Sebelah mana lagi?” mereka mulai masuk jalan besar.
Histori tak pernah mengenali jalan itu sebelumnya.
Waduh...inilah Akibsat dari panik berlebihan, sampai pikiran pun
ikutan blank dan menghasilkan keburukan lagi.
“Waduhh...Aku tak tahu jalan ini ya?” keluh Historia.
“Kamu ini bagaimana sih?”
__ADS_1
“Aku bingung banget.” Keluh Historia semakin keras.
Mereka tersesat.