Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Panik


__ADS_3

“Namaku Jake.” Gumam lelaki itu.


“Namaku..Historia.” pungkas Historia.


Usai bersalaman perlahan Jake melepaskan genggamannya. Historia


sedikit deg-degan dengan Jake sepertinya ada perasaan, pura-pura


tersenyum kecut dan terkesan dingin.


“Ya sudah kalau begitu, Aku pulang dulu ya!” Jake tanpa basa-basi


segera hengkang dari kamar mandi.


Historia berlagak sedikit sinis, “tunggu!” ucapnya secara spontan.


Jake berhentikan langkah kakinya.


“Kenapa?”


“Jadi, kamu ke Toilet tadi Cuma mau menolongku saja ya?”


“Betul, kenapa memang?”


“Tidak apa-apa.” Historia sedikit menggelengkan kepala.


Jake langsung pergi meninggalkan Historia, dalam hati Historia


berpikir betapa dinginnya lelaki ini. Sungguh unik sekali dimata


Historia walaupun tidak unik di mata yang lain.


Perasaan Historia kian lega, dia pikir dirinya akan mati dalam


kamar mandi, ternyata tidak. Lelaki jelmaan malaikat itu pun datang


walaupun bersikap dingin, tapi rasa penasaran Historia terasa lega


usai diterpa musuhnya di organisasi, siapa lagi kalau bukan Maya


gembul itu.


Historia kembali melangkah sendiri ke luar Gedung fakultas


Hukum berjalan menuju Gedung Organisasi Jurnalis lagi, memang


Gedung Jurnalis tidak begitu jauh dari Gedung Hukum. Hanya butuh alan beberapa menit saja sudah sampai, suasana luar Gedung pun


sudah terlihat dari Lobbi utama Fakultas Hukum. Mata Historia pun


melebar lagi ketika sampai di depan Lobi Fakultas Hukum.


Rombongan temannya berjalan menuju motor Mereka pertanda


rapat sudah selesai. Historia merasa lega tidak harus berurusan lagi


dengan teman-teman yang notabenenya setengah manusia Gua.


Tapi, perasaan tak enak hatinya ketika tas Historia masih berada di


dalam Gedung Jurnalis.


Satu-satunya jalan itu hanyalah, Historia harus menunggu


sampai semua temannya sudah pulang. Historia masih bisa duduk-


duduk di kursi tunggu lorong fakultas Hukum. Duduk di kursi balok


besi perasaan agak tenang. Pandangan terus tertuju ke arah Gedung


Jurnalis yang berseberangan dengannya.


“Kok belum pulang?” suara dari belakang Historia


mengaggetkan suasana. Historia seketika langsung kaget dengan


spontan membalikkan badannya ke belakang.


“Obhh kamu...membuatku kaget saja.” Historia sedikit emosi,


tapi untungnya itu adalah Jake, andai Jake tak menolong Historia


mungkin emosi Historia sudah pecah disitu. Mendadak perasaan


Historia, malu terkecut akibat menatap wajah polos dari Jake.


“Untung Kamu, coba kalau orang lain. Mungkin sudah lain


ceritanya.” Pungkas Historia.


Jake hanya terdiam seperti orang tak bersalah.


“Kenapa belum pulang?” tanya Jake.

__ADS_1


“Ehhh..Aku masih disini.” Historia mendadak bingung.


“Iya, memang kenapa belum pulang?” Jake mulai membentak.


“Ehh...enggak, enggak. Aku masih nunggu teman-temanku


pulang dulu!” jawab Historia dengan suara panik tanpa memandang


wajah Jake.


Perasaan Historia menggebu-gebu di wajah, terasa seluruh


tubuh mulai memanas akibat gertakan dari Jake. Aliran darah terasa


mengalir cepat menjulur ke seluruh tubuh, Historia tak kuasa


melawan sikap aslinya di hadapan Jake.


“Kenapa sih?” Jake mulai risih dengan sikap Historia.


“Enggak kok, enggak apa-apa.” Historia langsung bangun


dengan paras malu kembali ke Gedung Jurnalis, rasanya sangat lupa


untuk pamit kepada Jake, walaupun sebenarnya Jake sendiri merasa


aneh dengan sikap Historia yang mendadak berubah, seakan-akan


Historia menunjukkan ekspresi kebodohan di depan Jake.


“Ada apa dengan gadis itu.” Ucap Jake perlahan sambil


menatap Historia dari kejauhan.


Historia masih malu-malu, rasanya enggan sekali untuk


membalikkan wajahnya ke belakang. Menatap wajah Jake, dalam


hatinya terdapat rasa gawat jangan sampai Jake tahu kalau Historia


sangat apatis dengan teman-teman satu organisasi.


Tak lama ponsel dari Saku celana Historia berdering.


“Kriingg....” Rasa malu Historia kian surut, kembali ke sikap


yang biasa lagi.


“Siapa yang telepon.” Membuka Handphonenya, dan ternyata


“Ruben? Ada apa ya? Baru-baru ini menelepon.” Historia


langsung meengangkat teleponnya.


“Ada apa Ruben?” Historia antusias.


Tiba-tiba teriakan Ruben langsung mengaggetkan lagi, Historia.


“Kakak, Kakak. Bunda mau bunuh diri?” teriakkan Ruben penuh rasa


panik.


“Hah? Serius?” Historia merasa seperti sedang menghadang


dengan singa kelaparan.


“Iya, serius. Kakak cepat pulang!” pinta Ruben.


“Oh ya, ya. Kakak akan segera pulang.”


Historia kemudian menggeliat emosi, berlari menuju Gedung


Jurnalis mengambil tasnya. Hati dan perasaannya diliputi rasa gelisah,


emosi, dan kesal. Berlari menuju Gedung Jurnalis.


Usai mengambil tas dan kembali, ke luar Kampus. Historia


bingung butuh tumpangan, apa yang harus dia lakukan. Ingin


memesan Ojek baterai Hp sudah habis. Historia mendengkur.


Pikirannya diliputi rasa takut, beruntung Historia melihat sebuah


motor terparkir di depan Gedung fakultas Hukum. Tanpa pikir


panjang, coba minta pemilik motor itu untuk mengantarkannya


pulang.


Siapa sebenarnya pemilik motor itu? Ternyata Jake.


Jake kembali sibuk menata buku di Perpustakaan fakultas

__ADS_1


Hukum. Tepat berada di pojok lorong lantai satu. Historia dikagetkan


lagi dengan si pemilik adalah Jake. Historia sudah merasa terbebani


harian ini dengan Jake. Akan sangat bahaya, kalau sewaktu-waktu


Jake menyatakan cinta pada Historia, tapi Historia menolak.


“Jake, tolong!!!!!” dari balik pintu.


“Tolong apa lagi?”


“Antar Aku pulang!”


“Kenapa tidak memesan ojek saja?”


“Tolong ini urgent sekali!”


“Memang ada apa?”


“Ibuku mau bunuh diri.” Pungkas Historia


“Hah? Serius?”


“Iya, tolonglah Aku!”


“Baik kalau begitu.”


Jake segera merapikan tumpukkan buku itu, dan keluar


mengunci pintu Perpustakaan. Pihak dosen sudah percaya


kepadanya kalau kunci harus ditiitpkan padanya. Jake memang jujur


untuk dititipkan kunci.


Mereka segera bergegas menuju Motor dan berangkat menuju


Rumah Historia. Historia terus berdoa, semoga Bunda Evan tercinta


mengurungkan hatinya untuk bunuh diri.


Beruntungnya Jake tak banyak basa-basi dengan Historia.


Historia bisa terus berdoa sepanjang jalan, berharap Ibu Evan masih


terus ada hingga Historia tiba. Walau dalam hatinya ada perasaan


takut luar biasa.


“Lewat mana Rumahmu?” tanya Jake.


“Ke kiri saja Bang arah Perumahan.” Pinta Historia.


“Oke.”


“Tancap gas saja, Bang!” pinta Historia.


Jake langsung menancap gas hingga kecepatan nyaris 80


km/jam kebetulan motor miliknya adalah motor matik keluaran baru.


Angin terus mendengus menghantam wajah Historia, Historia sedikit


nyaman dengan dinginnya dorongan angin siang hari, yang mampu


mengurangi rasa takut sementara dari hati Historia.


Dan mulut pun terus berdoa agar Ibu Evan tak jadi menusukkan


benda tajam itu ke tubuhnya, walau detakkan jantung Historia terus


berdetak kencang. Tapi, Historia berusaha sekuat mungkin untuk


sabar. Pikirannya menggebu-gebu, ada apa dengan Ibu Evan yang


berusaha untuk bunuh diri, tidak ada angin, tidak ada hujan tapi Ibu


Evan ingin bunuh diri.


Rasa geram menepi di kepaala Historia.


“Sebelah mana lagi?” mereka mulai masuk jalan besar.


Histori tak pernah mengenali jalan itu sebelumnya.


Waduh...inilah Akibsat dari panik berlebihan, sampai pikiran pun


ikutan blank dan menghasilkan keburukan lagi.


“Waduhh...Aku tak tahu jalan ini ya?” keluh Historia.


“Kamu ini bagaimana sih?”

__ADS_1


“Aku bingung banget.” Keluh Historia semakin keras.


Mereka tersesat.


__ADS_2