Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Malam Yang Dingin


__ADS_3

Historia terus menatap wajah Jake yang lahap makan mie


goreng. Sepertinya, Jake sempat tak makan siang. Mulutnya


mengunyah tepat di atas piring. Jake adalah kucing kelaparan yang sudah berbulan-bulan tak makan.


“Kamu seperti kelaparan begitu?” komentar Historia.


“Iya, Aku dari pagi belum makan.”


‘Ohh begitu...”


“Iya.” Jake kembali melahap lagi.


“Memang di Rumahmu tak ada orang, jadi Kamu tak makan?”


tanya balik Historia.


“Ada. Nenekku kebetulan tidak di Rumah. Jadi, Aku belum


makan.” Pungkas Jake.


“Memang kemana Nenekmu?”


“Lagi di Rumah lama.”


“Memang, Ayah-Ibumu dimana?” Historia masih penasaran.


“Maaf...” Jake kembali mengeluarkan air mata, dan


mengusapnya dengan sikut tangan kiri.


Historia melongo.


“Aku tak ingin melihat masa laluku, karena itu semua tak


pantas Aku ingat.” Ucap Jake.


Hiistoria baru sadar, dia tak perlu lagi memperpanjang lagi


ucapannya itu. Mengingat dirinya punya nasib yang sama. Kepala


Historia menyusun strategi bicara baru, dia ingin berbicara apa Sebelumnya Historia menarik nafas dalam-dalam sebagai wujud pengalihan bicara, menebus kesalahan dalam ucapannya, kini


mulutnya kembali berbicara apa yang harus dibicarakannya.


“Oh ya..Kamu punya saudara?” tanya Historia.


“Tidak. Aku anak tunggal.”


“Oh begitu...” Historia sambil mengangguk kepala pelan-pelan.


“Aku sudah berulang kali pindah Rumah.” Sahut Jake.


“Kenapa? Sama dong seperti Aku.” Historia antusias.


“Nenekku tak bisa bayar kontrakan. Nenekku sengaja tak


membayar kontrakkan karena tak mampu, menanti siap didepak


sama pemilik Kontrakan.” Tambahan Jake.


“Terus? Nenekmu dan Kamu kerja apa?”


“Nenek biasanya kerja freelance, terkadang menjadi baby sister,


pencabut rumput, sampai pengasuh anjing. Tergantung orang yang


memanggilnya.” Jawab Jake.


Seketika Historia merasa tak enak ditraktir oleh Jake.


“Kamu gak usah khawatir, traktiran Aku itu traktiran bonus.”


Ucap Jake menenangkan pikiran Historia.


Tapi perasaan Historia masih didepak rasa malu juga.


“Maka dari itu, Aku kerja di Kampus sekaligus kerja di Counter


setiap malam.” Jawab Jake.


“Memang berapa gaji kerja di Perpustakaan Kampus?” Historia


penasaran.


“Gaji itu tergantung jumlah mahasiswa fakultas itu. Biasanya


kalau Fakultas Hukum itu jurusan paling laku, maka keuntungan Aku


beberapa persen dari pendapatan fakultas.” Jawab Jake.


“Ohhh begitu....Terus, by the way. Namamu kok keren sekali?”


tanya Historia sedikit tertawa.


“Ohh..Jake.” terdiam sejenak. “Hehehe...Jake, bukan


namaku.Jati Kenzara.” Ucap Jake dengan percaya diri.

__ADS_1


“Wooww...Nama itu keren sekali.” Pungkas Historia.


“Hahahahah...makannya Aku nyaman dipanggil Jake!” Jake


sambil mengaduk kopi hitamnya.


“Justru orang kira namamu, Cake (Kue)”


“Hahahah...Iya, Aku tak bisa merangkai nama soalnya.”


Historia tertawa. Mereka bercanda hingga larut malam kian


tiba. Angin semilir malam mulai berhembus mengeraskan melaju


hingga membuat malam semakin romantis. Tetapi Selasar Caffe


masih dalam keadaan sepi hanya ada Mereka berdua diiringi alunan


saxophone lagu blues yang tak paham iramanya. Seorang Kasir dan


seorang Barista terus tertawa di kala sepinya malam.


Historia sudah mengisipkan pesan tersirat lewat Whatspapp


kepada adik tercintanya Ruben, kalau dirinya masih bersama Jake


walau tidak jelas antara bulan madu atau bukan. Sesekali Ruben


membalas dengan emoji tertawa, sebagaimana dia curiga dengan


sikap kakaknya yang sudah mulai didekati cowok.


Jake akhirnya membayar sepiring Mie goreng itu segelas Kopi


hitam bersama Jus mangga sebagai pertanda siap pulang.


“Ayo jalan-jalan!” ucap Jake sambil memakai jaket


"Jalan-jalan? bukannya ini sudah malam.”


“Tenang, belum larut malam. Kok.” Ucap Jake.


“Kemana?”


“Ke Taman Pinggir sungai mau tidak?” tanya Jake.


“Taman mana?”


“Taman Kota Utara, Apa Kamu tidak tahu?”


“Tahulah.”


Historia segera berdiri membersihkan barang-barangnya. Jake


dan Historia mulai beranjak pergi meninggalkan Selasar Caffe. Jalan


mulai sepi, maklumlah bukan hari besar, kesibukkan akan dilanjut


besok hari. Jalan sangat sepi melompong belum masuk pukul 9


malam, Jake dapat melajukan motornya sangat kencang agar dapat


sampai ke tujuan sebelum waktunya.


Jake tak ingin berkumpul kebo, atau terjangkit razia hanya


karena bermalam. Jake masih terlalu alim untuk hal itu, Jake bukan


lelaki bajingan yang pantas kena deranya, dia sendiri sebagai kaum


pekerja dan bukan penikmat jerih payah orangtua, Jake lebih paham


maksud itu.


“Historia, kalau Kamu tak kuat pegang Aku saja!” teriak Jake.


Historia hanya menikmati indahnya alunan angin menembus


wajahnya hingga membuat perutnya mual-mual. Historia menahan


lapar, hanya karena di Caffe perasaan dengan Jake. Historia tak


bawakan uang sama sekali. Historia mual hingga suara terdengar di


telinga Jake. Meski suara mesin, angin malam, kendaraan nyalip, tapi Jake masih mampu mendengar suara mualan Historia, untung tak


mendengar suara perut Historia.


“Kamu mual ya?”


“Hah?” Historia berpikir. “Iya, dikit.”


“Masuk angin?”


“Enggak kok, lanjut saja.” Bantah Historia.


Motor mulai melaju kencang, Historia dipaksa Jake untuk


pegangan yang kuat, biar sampai tujuan sebelum waktunya.

__ADS_1


Mereka tiba di Pinggir sungai, melintasi Taman Utara yang sepi


dari pemukiman dan jalan raya, motor itu diparkir Jauh dari Tempat


Mereka duduk.


“Kamu tahu tidak? Air itu warnanya apa?” tanya Jake sambil


menunjuk.


“Ya beninglah, masa Kamu tidak lihat?” celoteh Historia.


“Salah.” Jake langsung menjawab.


“Hah?” Historia kaget.


“Air itu warnanya putih.”


“Hah? Bagaimana bisa?” bentak Historia.


“Ya jelaslah, kan dari warna kulitmu yang putih.” Sahut Jake.


Historia awalnya agak bingung dan tertawa tergeli malu.


Langsung menutup mulutnya.


“Kok bisa?” Historia basa-basi.


“Iya iyalah.” Tanggap Jake tanpa memberikan penjelasan.


Mereka berdua diam lagi, Historia meras sedikit nyaman untuk


kali ini bisa dekat dengan laki. Historia terus memandang wajah Jake,


dalam hatinya tergeliat, kalau Historia juga punya nasib yang sama


seperti Jake. Jake adalah anak yatim piatu yang entah tak ingin


menceritakan apa yang sudah terjadi.


“Jake?” ucap Historia sambil memandang penuh wajah Jake.


“Ada apa?” Jake tengah sibuk melempar batu ke air.


“Aku merasa nyaman ya dekat denganmu.” Ucap Historia.


“Ahh..biasa saja.” Tanggap Jake.


“Enggak, bagiku Kamu sudah segalanya.”


“Dan, bagiku juga Kamu perempuan aneh.” Balas Jake dengan


suara sedikit menyindir. Historia mencoba mengelus dada dengan


bersabar.


“Kenapa?” usai diam beberapa detik baru menyahutnya.


“Karena, Kamu wanita pertama yang mendekatiku.” Ucap Jake


sambil mencari batu.


Historia langsung kaget, “berarti Kita satu nasib dong.” Ucap


Historia.


“Hah? Mana mungkin? Bagaimana?”


Historia merengut, “jujur ya, dari dulu tak ada lelaki yang mau


denganku. Semua lelaki tak ingin dekat denganku, padahal Aku


wanita yang sadar diri, Aku tak pernah menuntut, tapi Aku tak punya


teman.” Keluh Historia sambil sedikit merengek.


“Bagaimana bisa? Padahal Kamu itu cantik lho!” Jake memuji


Historia yang bikin Historia sedikit klepek-klepek.


“Susahku jelaskan, mungkin di lain waktu Aku bisa


menjelaskannya.” Gumam Historia.


“Ada apa sesungguhnya dengan dirimu, berulangkali Kamu


seakan-akan menutup tentang dirimu. Aku penasaran lho dengan


silsilahmu.” Jake mulai geram.


“Nanti saja, Aku belum bisa cerritakan.” Historia sedikit geram.


“Okelah.”


Mulut Historia terpijat hingga mengeluarkan suara “uaakkk...”


seperti Kambing terjepit pintu, Historia mual-mual. Sesekali meraba


perutnya yang aus.

__ADS_1


__ADS_2