
“Itulah sedikit sejarah hidup Jake. Kenapa Jake bisa jadi seperti
ini.” Gumam Jumbo, usai menceritakan berjam-jam di depan
Historia. Kini Historia pun bisa bernafas lega menyadari dengan
kehidupan Jake, inilah alasan kenapa Jake menjadi sosok yang
pendendam seperti sekarang ini, hanya karena dia masih penasaran
dengan sosok yang membunuh orangtuanya.
Tanpa disadari akhirnya hari sudah semakin sore. Suasana kelas
psikologi semakin sepi. Historia dan Jumbo akhirnya keluar bersama.
Hanya sosok, Jumbo-lah yang mau berteman dengan Historia selama
ini di tengah kesepiannya hidup Historia.
Mereka berjalan bersama di lorong gedung yang sepi, hingga
akhirnya suara ponsel Historia berbunyi.
“Siapa itu?” Jumbo ikut penasaran menatap kantung celana
Historia.
“Sebentar.”
Ternyata Jake yang menelponnya, Historia pun kaget.
Bagaimana bisa Jake yang barusan habis marah dengan Historia, kini
menelpon balik Historia.
“Jake menelponku.” Historia kaget.
“Angkat saja!”
“Hallo Jake.” Historia mengangkat telepon itu.
“Sayang, Kamu dimana? Maaf, tadi Aku tidak sadar dengan
amaarahku. Mau Aku jemput?” Jake tak sadar dengan ucapannya,
menjawab dengan nada keras.
“Ehh...Aku masih di Ruang psikolog ini. Bersama Kak Jumbo.”
“Baiklah, kalau begitu tunggu disana Aku akan segera kesana.”
“Tak usah, Jak. Biar Jumbo yang mengantarkanku saja.”
“Sudah, Aku juga lagi di jalan habis beli makan siang.” Jake
terus bersikeras meminta Historia pulang barengnya.
Historia terdiam sejenak.
“Baiklah, Aku tunggu di depan Ruangan.” Ujar Historia.
“Oke.”
Jumbo terus menatap kearah Historia. Seakan-akan was-was
dengan perkataan Historia kepada Jake, kalau aibnya semua
terbongkar.
“Kamu ingat ya, pesanku!” Jumbo menggengam lengan
Historia.
“Baiklah, Aku berjanji tak akan menceritakan ini semua pada
Jake.”
“Baiklah, kalau begitu. Aku pulang dulu, Aku takut kalau rahasia
Jake Kamu bongkar.” Jumbo mulai cemas.
“Sudah, tenang. Aku tak akan kasih tahu. Lagipula jika ku kasih
tahu mungkin Aku mau bunuh diri.”
Jumbo akhirnya menganggukan kepala meninggalkan Historia
seorang diri berdiri di dalam lorong itu. Historia terdiam agak lama,
dan menyadari tentang Jake. Mengapa Jake begitu terlihat kesepian,
__ADS_1
Mengapa Jake begitu sensitif?
Tak kurang dari setengah jam, motor sekutik berwarna merah
itu datang dengan melaju kencang langsung berhenti di depan gerbang masuk fakultas psikologi, tepat di depan Historia. Jake
dengan tersenyum keluguan merasa bersalah atas perbuatannya tadi
siang.
“Mohon maaf tadi siang perbuatanku keterlaluan denganmu,
sumpah Aku tak menyadarinya.” Pungkas Jake.
Historia dengan gelagat bahagia, menjawab “Tak apa-apa.”
sambil tersenyum.
“Kamu, belum makan?” tanya Jake.
“ehh..belum, bisa antar enggak beli makan buat Aku?” tanya
Historia balik.
“Oh enggak usah, ini Aku bawakan Kamu nasi bungkus.
Barangkali Kamu mau!” Historia turun dari motornya, dan membuka
bagasi motor mengambil nasi yang baru saja dia beli.
“Ohh...enggak usah.” Kedua tangan Historia melambai, “kalau
itu makananmu, buat Kamu saja.” Tambah Historia.
“Sudah, ini Aku kasih buat Kamu.Aku barusan disana sudah
makan, kok.” Jake bersikeras memberikan kresek hitam berisi
bungkusan nasi itu.
Historia merasa berat hati, bagaimana ingin menolaknya.
Dengan senyum malu-malu, Akhirnya Historia menerimanya. Mulut
terbuka lebar, tersenyum malu-malu kepada Jake. Mengambil
sebungkus kresek hitam yang dipegang Jake itu.
“Di Taman sana saja, Aku mau ngobrol denganmu.” Jake menunjuk kearah Taman dekat Fakultas Psikolog.
“Baiklah.” Akhirnya, Historia dan Jake berjalan bersama menuju
Taman dikala kosongnya lingkungan Kampus.
Terus terang, Historia malu makan di tempat terbuka, berulang
kali kepala terus menoleh kanan dan kiri, apakah ada yang mengintip
Mereka berdua yang sedang berkencan bersama, duduk di bawah
Pohon Palem, sambil menikmati derasnya dorongan angin di tempat
yang terbuka, mengingat saat ini adalah musim kemarau yang deru.
Historia membuka nasi itu, dan wah....sebuah nasi komplit
dengan daging rendang, sayur lodeh, dan telor dadar. Aroma baunya
pun semerbak langsung menyumbur ke hidung Historia yang tengah
siap menghindang masakan itu.
“Nasi itu enakkan?” Jake dengan senyum menoleh kearah
Historia.
“Enak sih enak, tapi yang enggak enak itu. Kamu sendiri sudah
makan apa belum?” tanya Historia.
“Tak perlu dipikir, Aku sudah makan disana.” Jake bersikeras
meyakinkan diri kalau dirinya sudah makan.
“by the way..Aku makan pakai tangankah ini?” ucap Historia.
Menyadari hal itu, Jake langsung menuju bagasi motor
mengambilkan sebuah sendok plastik bening, yang barusan dia minta
kepada penjual nasi itu. Tercium bau bensin pada sendok itu, karena
__ADS_1
tak ingin melukai pikiran Historia, Jake belok kearah washtaffel
mencuci sendok itu. Historia bingung sendiri.
“Kenapa Kamu kesitu, itu bukannya bekas Kamu?” ketika Jake
datang, Historia tanya begitu.
“ohh bukan.. ini barusan taruh di dalam bagasi, dan bau bensin.” Ungkap jujur Jake.
Historia sempat mencium bau sendok itu,sangat takut
terkontaminasi racun. Dalam pikiran Historia.
Akhirnya, Jake kembali duduk di samping Historia yang tengah
asyik makan nasi di tengah sepinya lapangan itu. Angin terus
mengendus ke tubuh Mereka. Beberapa kali, barang bawaan milik
Historia sempat bergeser kesana kemari yang membuat Jake harus
lelah mengambilnya akibat hembusan angin yang kuat.
“Sebelumnya, Aku mohon maaf. Kalau tadi ucapanku begitu
kotor didepanmu.” Ungkap Jake, dengan kedua bola mata Historia
sambil menoleh kanan kiri.
Historia tak menjawab, walau melahap nasi sambil menoleh
keaarah Jake dengan pandangan gemuruh.
“Maka dari itu, Aku belikan nasi ini biar Kamu tak jadi marah
denganku. Aku ingin menebus dosaku padamu.” Keluh Jake dengan
ekspresi dingin.
Historia dengan lahap terus mengunyah nasi, abaikan ucapan
Jake. Jangan sampai semua cerita dari Jumbo terlampiaskan
kearahnya.
“Nanti malam Rumahku sepi, mau enggak Kita jalan-jalan ke
Expo lokal yang baru dibuka.” Tawar Jake kini menatap Historia di
sampingnya.
“Kalau memang gratis Aku ikut.” Historia kini menjawabnya.
Jake hanya tersenyum dengan wajah memandang ke Historia, Dia merasa senang kali ini ada wanita yang mau menerima dirinya apa adanya. Pokoknya, Historia tak ingin membongkar aib Jake, dan Jake pun tak ingin membongkar aib dirinya. Keduanya saling merahasiakan.
“Kamu cantik!” ungkap Jake dihadapan wajah Historia
perlahan-lahan.
Historia berhenti memainkan sendoknya, berhenti mengunyah,
dan tertawa lebar sekuat tenaga. Jake dengan tenangnya masih
tersenyum depan Historia. Selama ini tak ada siapapun yang
mengucapkan dirinya cantik selain Ibunya.
“Jake, Kamulah orang pertama selain ibuku yang bilang kalau
diriku cantik.” Ucap Historia dalam hati.
“Kalau ketawa jangan keras seperti knalpot racing!” nasihat
Jake lagi.
Historia kembali tertawa, kini malah semakin kuat.
“Tertawamu seperti gadis yang kesepian.” Gumam Jake.
“Hah? Bagaimana bisa?”
“Iyalah. Semakin keras tertawa, semakin kesepian orangnya.”
Jawab Jake sambil memainkan tangan.
Historia pun diam, dia menyadari kalau selama ini memang
dirinya kesepian. Dan, hadirnya seorang Jake membuat dirinya
menjadi lebih baik lagi. Harapannya.
__ADS_1