
Usai makan siang, Historia merasa sedikit kenyang dalam perutnya. Rasa kantuk pun juga tak kalah datang, rasanya ingin tidur
walau hari semakin sore. Historia pun tersandar di pundak kiri Jake.
“Jam Berapa ini?” tanya Jake menyindir Historia ingin tidur di
waktu sore.
“Bukankah ini sudah jam 3?” Gumam Historia.
“Kamu salah, sekarang sudah jam setengah lima.” Jawab Jake
tanpa ekspresi apapun.
“Hah? yang benar saja?” Historia pun kaget.
“Memang kenapa?” Jake berlagat dingin.
“Aku harus pulang kalau begini.” Historia sedikit gugup.
“Memang Kamu ada kerjaan, kelihatan panik begitu?” Jake
masih bertanya dengan nada santai.
“Bukan..Aku...Aku mau bobok.” Historia menoleh kanan kiri
seperti orang bingung.
“Hah” Jake sempat bingung, “Hahahha...” Jake tertawa keras
seperti tertawa Historia, dan tak menyadarinya.
“Kenapa tertawa?” Historia malah bingung.
“Memang ada orang jam 6 sore tidur?” gumam Jake.
“Ada.” Jawab Historia.
“Siapa?”
“Aku sendiri.” Kini Historia melontarkan kata candaannya.
Jake kembali tertawa, walau hanya sebentar. Akhirnya dia diam
lagi. Pandangannya lurus kearah Gedung fakultas Sosial Politik.
“Jalan-jalan kesana, yuk!” Jake menunjuk kearah Gedung Fisip
yang ada di depannya.
Historia kini menoleh kearah Gedung Fisip. Bagi warga kampus
mungkin, Gedung fisip terkesan cukup angker. Banyak rumor pernah
menceritakan kalau Gedung fisip banyak sosok mitos yang
mengerikan. Salah satunya terletak di lorong selatan Gedung Fisip,
yang dikenal sangat sepi. Banyak penampakan dimulai orang berjalan
sendiri dengan pakaian serba hitam, sosok wanita putih suka terbang
di sepanjang kamar mandi. Apalagi suasana Gedung saat itu memang
sangat sepi sekali.
“Jangan, Jake!” Historia menolaknya tanpa sebab.
“Kenapa?”
“Katanya Gedung fisip itu memang angker.” Sahut Historia.
“Kata siapa? Kata Kamu? Barusan?” Jake penasaran.
“Bukan kata Saya tapi, Kata Teman saya.” Jawab Historia
berusaha meyakinkan Jake.
“Iya, memang semua orang bisa dipercaya mentah-mentah.”
Jake akhirnya membantah ucapan Historia dan berdiri berjalan
menuju Gedung Fisip yang berada seratus meter depan dirinya.
“Jake, tunggu!” Historia pun ikut juga dari belakang.
Semua Gedung jurusan akan dikunci petugas keamanan, jam
tujuh malam. Kecuali kalau ada acara diklat, atau semacamnya. Tapi,
kalau mungkin tidak ada kegiatan apapun, Gedung itu sudah sepi sejak pukul 3 sore, hanya ada beberapa jurusan saja, yang masih aktif
__ADS_1
dan itu pun hanya diaktifkan beberapa mahasiswa saja.
Jake dan Historia menginjak dingin dan segarnya rerumputan
hijau lapangan, kaki pun terasa lembab walau tertutup oleh bantalan
sepatu, tetapi tetap saja sisa bekas embun itu mampu mengubah
suasana kaki Mereka semakin dingin. Tanpa disadari Mereka
akhirnya tiba di landai yang keras, ialah tanah paving. Jake dan
Historia tak merasakan lagi kelembutan hijau rerumputan.
Gedung Fisip yang berlantai 3 itu masih terbuka lebar, tak ada
satu pun manusia berada dalam Gedung itu sedang Gerbang masuk
masih terbuka. Mungkin pihak jurusan masih memberi kesempatan
bagi siapapun untuk masuk. Jake berjalan sendiri dan diikuti Historia
dari belakang menyusuri dalam gedung sosial politik itu dan
disambutt oleh lorong utara lantai satu.
“Jake, pulang saja!” titah Historia dari belakang Jake.
Jake pun membalikkan badannya, sedikit bingung dengan
ungkapan kekasih yang baru dia kenal beberapa waktu lalu itu.
“Maksud Kamu apa?” pungkas Jake.
“Ayo kita pulang!” sepertinya ajakan Historia begitu serius.
“Mengapa Kamu harus takut, sedang Aku disini menjagamu.”
“Terus, maumu Apa masuk ke dalam Gedung ini?” Historia
menggelat serius.
“Memang kenapa? Tidak boleh? Atau, Kamu takut?” Jake
bertanya ketus.
Historia akhirnya memilih terdiam, tak menjawab pertanyaan
dari mulut Jake. Berjalan ke samping Jake, Kita menikmati alunan
Rasanya begitu indah berjalan berdua melintasi alunan sepi,
dengan diawasi oleh puluhan Kamera CCTV yang mengintip Mereka
berdua dari segala penjuru. Walau hati Historia sedikit resah, karena
peka akan situasi yang tak mendukung.
Aura mistis pun mulai terasa, sekujur lengan Historia mulai
berdiri menggumpal penuh rasa takut.
“Jake, Aku takut!” Historia mulai cemas.
“Hah? Bukannya Aku sudah bilang, kalau ada sesuatu. Bilang
saja kepadaku, dan Aku akan menjagamu.” Tegas Jake.
“Pulang saja yuk!” Historia terus meminta pulang.
“Lagipula ini sudah sore, Aku takut kalau Kita kemalaman.”
Keluh Historia.
“Sebentar.” Jake menanangkan Historia.
Tiba-tiba Jake lari kencang meninggalkan Historia, Historia langsung menjerit ketakutan. Dan berteriak sekuat tenaga.
“Jake...Jake...Jake,”
Posisi Historia memang agak jauh dari pintu keluar, berlari
mungkin bisa saja, tapi mengingat Historia merupakan seorang
wanita yang lemah, dan tak berdaya untuk mengutarakan emosinya.
Historia pun terduduk sambil menjerit seperti anak kecil, dan Jake
malah mengajak bercanda.
Historia tak boleh begitu, Historia harus kuat, Historia tak boleh
__ADS_1
larut dalam kelemahannya. Historia harus berdiri, dan berdirilah Historia berlari menuju lorong selatan yang katanya angker. Historia
tak menyadari kalau bagian itu sangat angker, tapi jangan sekali-kali
menyerah keadaan, Historia harus berani, hilangkan pikiran negatif
di kepala Historia. Tak tahu dimana keberadaan Jake, Historia nekat
masuk ke dalam kamar mandi wanita sambil berteriak berulangkali
menyebut nama Jake...Jake.....
Ada satu lorong pintu kecil, yang berisi berbagai alat
kebersihan. Historia melihat sebuah kaki dengan celana jeans, dan
bersepatu bot. Siapalah Dia, tapi Historia mendengar sedikit tawaan
kecil dari balik kaki itu.
“Jake, Kamu disini?” teriak Historia.
Ternyata sosok itu adalah Jake. Dengan gelagat tawanya itulah,
Jake tertawa kuat.
“Ayo jalan-jalan!” tawar Jake lagi.
“Jalan-jalan terus, memang Kamu tak tahu ini kalauu sudah
sore, bagaimana?”
“Kita ke Pasar malam.” Sahut Jake.
Historia sepertinya mulai malas menanggapi ucapan Jake,
memalingkan kedua bola matanya, hingga akhirnya Jake tersenyum
lebar.
“Naik komedi putar?” tawar Jake.
“Enggak suka.”
“Naik odong-odong.” Tawar Jake lagi.
“Sama, enggak suka.”
“lihat tong setan?” tawar Jake lagi yang terakhir kalinya.
“Hah..boleh banget itu.” Historia pun senang, kesannya Historia
suka melihat motor walaupun dirinya tak bisa naik motor.
Akhirnya, Mereka berdua keluar dari kelas sosial politik,
menuju keluar Gedung. Kebetulan motor Jake terletak jauh dari
Gedung fisip, tapi apa salahnya Mereka berjalan bersama menikmati
keindahan berdua menatap ke matahari yang kian tenggelam
perlahan.
Sesampai di motor Jake, Jake langsung memberikan helm itu
pada kepala Historia.
“sudah siap?” tanya Jake.
“Sudahlah.”
Historia memeluk kuat pada perut Jake, walau bukan titah Jake.
Tapi Historia bersikeras memeluk Jake. Cengkraman kuat dari telapak
tangannya membuat Jake sedikit kesakitan.
“Kenapa Kamu cengkram saya kuat-kuat?” Jake menoleh ke
belakang sedikit.
“ohhh..maaf Aku lupa.”
Historia mulai mengurangi cengkramannya.
Jake malah mengencangkan motornya, melaju kencang.
Terpaksa Historia melepaskan tangannya dan memegang kearah besi
belakang. Agak sedikit grogi, tapi Historia tak boleh rewel. Historia
__ADS_1
tak ingin merepotkan lagi seorang laki yang mau menemaninya.
Hari pun kian menuju malam, pasar mulai ramai.