
“Kringggg....” Suara ponsel itu berbunyi di atas meja kamar
Historia. Historia sambil mengusap rambutnya dengan handuk
bergegas menuju ponsel itu. Kebetulan Bu Evan, dan Ruben sedang ke Rumah Sakit, setelah beberapa waktu hampir bunuh diri, Bu Evan mengalami kondisi yang drop.
Untuk malam ini, Historia harus sendirian di Rumah tanpa
seorang teman ataupun keluarga. Tapi, Historia biasanya takut
sendirian namun mau bagaimana lagi, keadaan sudah seperti ini.
Oke, tanpa pikir panjang. Historia menatap layar ponsel itu, dan
ternyata panggilan dari Jake. Perasaan hatinya kian bahagia, melihat
Jake yang menelponnya.
“Hallo Jake.”
“Hallo, Historia.”
“Ada apa ya?”
“Kamu sibuk?”
“Tidak, memang ada apa?”
“Ayo ke Caffe!”
“Hmm...Dimana?”
“Selasar Caffe.”
“Hmm...okelah, Kamu yang jemput?” tanya Historia.
“Iya...” jawab Jake sambil tersenyum.
Oke, sudah hampir 5 tahun. Historia tak pernah pergi ke Caffe,
mengingat tak ada yang mau bermain dengannya, lantas saja Historia sangat kesepian, tak jarang juga Historia menggumpalkan emosinya
karena saking kesepiannya.
Baru kali ini, ada Historia merasa seperti
di kagetkan seperti dengan bongkahan harta belian ketika masuk
kamar.
Perasaan hati Historia pun amat sangat bahagia tak tertandingi.
Historia baru kali ini merasakan indahnya diajak pergi menikmati
dalam balik Caffe bersama seorang lelaki. Bergegas membuka lemari
mencari baju yang sangat fashionable untuk menikmati jamuan.
Biasanya, Historia sangat suka Kaos lengan panjang, dengan
bawahan celana jeans biru gelap, tak lupa semerbak aroma bau
kasturi dia semprotkan ke seluruh tubuh berjalar keras.
Historia sempatkan duduk sejenak di kursi Ruang tamu, tak
perlu menyeduh teh lagi, karena nantinya akan minum teh bersama
Jake. Kepala Historia mendesitkan pikiran tentang minuman Xiboba,
Historia sering melihat teman-temannya minum Xiboba terkesan
enak sekali, tapi jangan sampai harga itu merepotkan bagi Jake.
Suara motor tiba di depan Rumah Historia. Awalnya dia kira itu
motor Ruben, tapi itu motor Jake. Historia segera mengunci
Rumahnya, dan mengirim chat ke Ruben, kalau kunci dia bawa.
Untungnya Ruben bawa kunci duplikat. Historia tak perlu cemas lagi.
“Kemana helmmu?” tanya Jake.
“Kamu enggak bawa helm lagikah?” tanya Historia sambil
menunjuk ke motor Jake.
“Saya punya Helm di Rumah, tapi belum dicuci. Bau nantinya,
takut Kamu tak kuat mencium baunya.” Keluh Jake
“Oh ya sudah.” Dalam hati Historia, “sungguh bijak sekali lelaki
__ADS_1
ini.”
Historia bergegas mengambil Helm mbogo kesayangannya, dia
pakai biasanya, walaupun tak bisa menaiki motor tapi helm mbogo
itulah helm kesayangan Historia dengan stiker hello kitty sebagai
ikon kesayangannya dengan latar semua serba pink.
“Sudah, Ayo kita Jalan!” ucap Historia.
Wajah Jake terus memandang dengan tatapan polos kepada
Historia. Historia pun berubah tertekan.
“Kenapa Kamu melihat wajahku begitu?”
“Ohh...tidak!” Jake berpura-pura menyalakan motornya.
Historia merasa Jake ialah sosok lelaki yang tak kenal
perempuan sebelumnya, dari cara bicara tingkah laku, sampai
ekspresi wajah bisa dikatakan Jake bukan lelaki bandel seperti yang
dia kenal sebelumnya.
Tapi, Historia sendiri belum pernah
merasakan berpacaran kalipun cantik.
“Rumahmu kelihatan sepi, kemana yang lain?” tanya Jake
sambil sibuk mengendarai motor.
“Ohh...Ibuku lagi di Rumah Sakit bersama Adikku.”
“Apa? Rumah Sakit? Apa perlu kesana?” tanya Jake sambil
kaget.
“Ohhh tak usah, tak usah. Kita ke Caffe saja.” Historia tegang
sedikit.
“Kenapa, padahal Ibumu lagi sakit lho?”
“Tak perlu, Ibuku baik-baik saja. Ibu aku hanya konsultasi kok.”
Jake sempat terdiam sebentar, “yakin?” tanyanya sambil
melirik dari arah spion kanan.
“Yakinlah.”
“Lalu, Kenapa Kamu tidak ikut?” tanya Jake lagi.
“Ehhmmm...Itu semua urusan Adikku, Ruben. Aku disuruh
istirahat saja.” Jawabnya.
“Memang Kemana Ayahmu?” tanya Jake.
Historia enggan menjawab.
“Nanti saja, Aku bisa jelaskan semua.”
Jake kembali sibuk mengendarakan motornya bergerak menuju
Selasar Caffe.
Sebagai Caffe baru berdiri, Selasar Caffe memang masih sepi
pengunjung, dengan warna tembok yang didominasi coklat
bercampur aneka relief bunga ditemani tulisan menarik kekinian
dengan gambar Caffe.
Beberapa ornament pun menghiasi dinding
Caffe sehingga menambah kesan estetik pada Caffe.
Caffe ini bukan hanya ditujukan pada lelaki saja, namun
perempuan bisa menikmati keindahan Caffe ini, maka bisa dikatakan
tempat ini adalah Caffe zona nyaman.
Jake dan Historia tiba pada pukul 5 senja, suasana alunan musik
saksophone berasal dari sound sistem ukuran besar yang terletak di
__ADS_1
samping Meja Caffe terus mengalunkan instrumenya. Seorang Kasir
dengan wajah senyum di bibir terus menerus ramah tamah
menyambut tamu.
“Kamu mau pesan Apa?” Jake menoleh kearah Historia.
“Ehhhmm..” Historia melihat daftar menu.
Historia melihat minuman xiboba yang selama ini dia cari, tapi
harganya pun juga cukup fantastis. Mau tak mau, Historia memesan
Jus mangga, yang harga cukup menengah. Historia tak ingin
merepotkan Jake dalam meminta.
“Satu saja.” Ucap Historia.
“Oke, Saya pesan mie goreng satu, kopi hitam satu.” Gumam
Jake.
Seorang Kasir terlihat ramah tersenyum pada Jake dan Historia.
Baru menulis dalam sebuah buku catatan kecil. Historia cabut dari
depan meja kasir, sedang Jake tengah sibuk melihat rokok vape yang
ada di bawah meja kasir. Jake memang perokok sekalipun bukan
perokok berat.
Rokok Vapor berasa blueberry kesukaannya dia hisap menuju
kursi duduk Historia. Historia selama ini sangat phobia dengan rokok,
alergi entah kenapa. Tapi Historia tak suka dengan bau rokok apalagi
rokok vapoor memiliki bau aroma yang khas dan asap yang
mengepul.
“Maaf bukannya bagaimana ya. Aku sendiri sebenarnya alergi
dengan aroma rokok.” Ucap Historia melihat dihadapannya Jake
meniupkan kepulan asap rokok.
Historia sedikit geram walaupun tak menunjukkan sikapnya,
tapi dia merasa alim dengan bau rokok.
“Kenapa, padahal rokok itu enak?” ujar Jake.
“Bukan masalah enaknya, Aku tak kuasa menghirup udara
rokok.” Tanggap Historia.
“Oh ya Aku lupa, seharusnya Kamu perlu bawa masker terlebih
dulu kemari.” gumam Jake.
Tanpa panjang lebar, dan mau mengalah. Jake langsung
menyimpan rokok elektrik itu kedalam tas. Baru dua kali dia
menghirup sudah harus disingkarkan hanya karena Historia lemah
akan bau rokok.
Historia tersenyum, walaupun Jake sendiri merasa berat.
“Ya sudah...Aku mengalah demi Kamu, tapi nanti temani Aku
makan mie disini ya!” pinta Jake sambil ragu-ragu.
“Baiklah.” Historia tersenyum ramah.
Mereka akhirnya saling berbincang hingga seorang Waitres
datang membawakan sebuah papan coklat menopang sepiring mie
goreng, jus mangga, dan kopi hitam. Dengan senyuman ramah
seorang Waitress, dibalas senyuman oleh Historia. Dia harap semoga
Caffe selalu laris manis.
Jake langsung men-log in game Mobile Legend, Historia semakin curiga.
Historia semakin curiga, kalau dirinya akan dicuekin oleh Jake.
__ADS_1
Jake pasti akan larut dengan makanannya dan gamenya. Sengaja,
Historia memainkan hp sambil melihat Instagram. Siap-siap dikacangin.