Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Kencan Pertama


__ADS_3

“Kringggg....” Suara ponsel itu berbunyi di atas meja kamar


Historia. Historia sambil mengusap rambutnya dengan handuk


bergegas menuju ponsel itu. Kebetulan Bu Evan, dan Ruben sedang ke Rumah Sakit, setelah beberapa waktu hampir bunuh diri, Bu Evan mengalami kondisi yang drop.


Untuk malam ini, Historia harus sendirian di Rumah tanpa


seorang teman ataupun keluarga. Tapi, Historia biasanya takut


sendirian namun mau bagaimana lagi, keadaan sudah seperti ini.


Oke, tanpa pikir panjang. Historia menatap layar ponsel itu, dan


ternyata panggilan dari Jake. Perasaan hatinya kian bahagia, melihat


Jake yang menelponnya.


“Hallo Jake.”


“Hallo, Historia.”


“Ada apa ya?”


“Kamu sibuk?”


“Tidak, memang ada apa?”


“Ayo ke Caffe!”


“Hmm...Dimana?”


“Selasar Caffe.”


“Hmm...okelah, Kamu yang jemput?” tanya Historia.


“Iya...” jawab Jake sambil tersenyum.


Oke, sudah hampir 5 tahun. Historia tak pernah pergi ke Caffe,


mengingat tak ada yang mau bermain dengannya, lantas saja Historia sangat kesepian, tak jarang juga Historia menggumpalkan emosinya


karena saking kesepiannya.


Baru kali ini, ada Historia merasa seperti


di kagetkan seperti dengan bongkahan harta belian ketika masuk


kamar.


Perasaan hati Historia pun amat sangat bahagia tak tertandingi.


Historia baru kali ini merasakan indahnya diajak pergi menikmati


dalam balik Caffe bersama seorang lelaki. Bergegas membuka lemari


mencari baju yang sangat fashionable untuk menikmati jamuan.


Biasanya, Historia sangat suka Kaos lengan panjang, dengan


bawahan celana jeans biru gelap, tak lupa semerbak aroma bau


kasturi dia semprotkan ke seluruh tubuh berjalar keras.


Historia sempatkan duduk sejenak di kursi Ruang tamu, tak


perlu menyeduh teh lagi, karena nantinya akan minum teh bersama


Jake. Kepala Historia mendesitkan pikiran tentang minuman Xiboba,


Historia sering melihat teman-temannya minum Xiboba terkesan


enak sekali, tapi jangan sampai harga itu merepotkan bagi Jake.


Suara motor tiba di depan Rumah Historia. Awalnya dia kira itu


motor Ruben, tapi itu motor Jake. Historia segera mengunci


Rumahnya, dan mengirim chat ke Ruben, kalau kunci dia bawa.


Untungnya Ruben bawa kunci duplikat. Historia tak perlu cemas lagi.


“Kemana helmmu?” tanya Jake.


“Kamu enggak bawa helm lagikah?” tanya Historia sambil


menunjuk ke motor Jake.


“Saya punya Helm di Rumah, tapi belum dicuci. Bau nantinya,


takut Kamu tak kuat mencium baunya.” Keluh Jake


“Oh ya sudah.” Dalam hati Historia, “sungguh bijak sekali lelaki

__ADS_1


ini.”


Historia bergegas mengambil Helm mbogo kesayangannya, dia


pakai biasanya, walaupun tak bisa menaiki motor tapi helm mbogo


itulah helm kesayangan Historia dengan stiker hello kitty sebagai


ikon kesayangannya dengan latar semua serba pink.


“Sudah, Ayo kita Jalan!” ucap Historia.


Wajah Jake terus memandang dengan tatapan polos kepada


Historia. Historia pun berubah tertekan.


“Kenapa Kamu melihat wajahku begitu?”


“Ohh...tidak!” Jake berpura-pura menyalakan motornya.


Historia merasa Jake ialah sosok lelaki yang tak kenal


perempuan sebelumnya, dari cara bicara tingkah laku, sampai


ekspresi wajah bisa dikatakan Jake bukan lelaki bandel seperti yang


dia kenal sebelumnya.


Tapi, Historia sendiri belum pernah


merasakan berpacaran kalipun cantik.


“Rumahmu kelihatan sepi, kemana yang lain?” tanya Jake


sambil sibuk mengendarai motor.


“Ohh...Ibuku lagi di Rumah Sakit bersama Adikku.”


“Apa? Rumah Sakit? Apa perlu kesana?” tanya Jake sambil


kaget.


“Ohhh tak usah, tak usah. Kita ke Caffe saja.” Historia tegang


sedikit.


“Kenapa, padahal Ibumu lagi sakit lho?”


“Tak perlu, Ibuku baik-baik saja. Ibu aku hanya konsultasi kok.”


Jake sempat terdiam sebentar, “yakin?” tanyanya sambil


melirik dari arah spion kanan.


“Yakinlah.”


“Lalu, Kenapa Kamu tidak ikut?” tanya Jake lagi.


“Ehhmmm...Itu semua urusan Adikku, Ruben. Aku disuruh


istirahat saja.” Jawabnya.


“Memang Kemana Ayahmu?” tanya Jake.


Historia enggan menjawab.


“Nanti saja, Aku bisa jelaskan semua.”


Jake kembali sibuk mengendarakan motornya bergerak menuju


Selasar Caffe.


Sebagai Caffe baru berdiri, Selasar Caffe memang masih sepi


pengunjung, dengan warna tembok yang didominasi coklat


bercampur aneka relief bunga ditemani tulisan menarik kekinian


dengan gambar Caffe.


Beberapa ornament pun menghiasi dinding


Caffe sehingga menambah kesan estetik pada Caffe.


Caffe ini bukan hanya ditujukan pada lelaki saja, namun


perempuan bisa menikmati keindahan Caffe ini, maka bisa dikatakan


tempat ini adalah Caffe zona nyaman.


Jake dan Historia tiba pada pukul 5 senja, suasana alunan musik


saksophone berasal dari sound sistem ukuran besar yang terletak di

__ADS_1


samping Meja Caffe terus mengalunkan instrumenya. Seorang Kasir


dengan wajah senyum di bibir terus menerus ramah tamah


menyambut tamu.


“Kamu mau pesan Apa?” Jake menoleh kearah Historia.


“Ehhhmm..” Historia melihat daftar menu.


Historia melihat minuman xiboba yang selama ini dia cari, tapi


harganya pun juga cukup fantastis. Mau tak mau, Historia memesan


Jus mangga, yang harga cukup menengah. Historia tak ingin


merepotkan Jake dalam meminta.


“Satu saja.” Ucap Historia.


“Oke, Saya pesan mie goreng satu, kopi hitam satu.” Gumam


Jake.


Seorang Kasir terlihat ramah tersenyum pada Jake dan Historia.


Baru menulis dalam sebuah buku catatan kecil. Historia cabut dari


depan meja kasir, sedang Jake tengah sibuk melihat rokok vape yang


ada di bawah meja kasir. Jake memang perokok sekalipun bukan


perokok berat.


Rokok Vapor berasa blueberry kesukaannya dia hisap menuju


kursi duduk Historia. Historia selama ini sangat phobia dengan rokok,


alergi entah kenapa. Tapi Historia tak suka dengan bau rokok apalagi


rokok vapoor memiliki bau aroma yang khas dan asap yang


mengepul.


“Maaf bukannya bagaimana ya. Aku sendiri sebenarnya alergi


dengan aroma rokok.” Ucap Historia melihat dihadapannya Jake


meniupkan kepulan asap rokok.


Historia sedikit geram walaupun tak menunjukkan sikapnya,


tapi dia merasa alim dengan bau rokok.


“Kenapa, padahal rokok itu enak?” ujar Jake.


“Bukan masalah enaknya, Aku tak kuasa menghirup udara


rokok.” Tanggap Historia.


“Oh ya Aku lupa, seharusnya Kamu perlu bawa masker terlebih


dulu kemari.” gumam Jake.


Tanpa panjang lebar, dan mau mengalah. Jake langsung


menyimpan rokok elektrik itu kedalam tas. Baru dua kali dia


menghirup sudah harus disingkarkan hanya karena Historia lemah


akan bau rokok.


Historia tersenyum, walaupun Jake sendiri merasa berat.


“Ya sudah...Aku mengalah demi Kamu, tapi nanti temani Aku


makan mie disini ya!” pinta Jake sambil ragu-ragu.


“Baiklah.” Historia tersenyum ramah.


Mereka akhirnya saling berbincang hingga seorang Waitres


datang membawakan sebuah papan coklat menopang sepiring mie


goreng, jus mangga, dan kopi hitam. Dengan senyuman ramah


seorang Waitress, dibalas senyuman oleh Historia. Dia harap semoga


Caffe selalu laris manis.


Jake langsung men-log in game Mobile Legend, Historia semakin curiga.


Historia semakin curiga, kalau dirinya akan dicuekin oleh Jake.

__ADS_1


Jake pasti akan larut dengan makanannya dan gamenya. Sengaja,


Historia memainkan hp sambil melihat Instagram. Siap-siap dikacangin.


__ADS_2