Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Romantika


__ADS_3

Pasar itu memang ramai sekali, maklumlah hanya beberapa


minggu pasar itu bisa ditempati. Selebihnya Pasar itu hanya untuk


aktivitas anak muda bermain bola, semua pedagang kaki lima dapat


bernafas lega mampu mencari nafkah disitu, meski malam yang


melelahkan terus menerpa diri Mereka.


Aneka jajanan khas nusantara banyak bertebaran dimana-


mana, rasanya lidah Historia ingin mengiler aneka kuliner yang ada


disana.


“Kamu mau beli Apa?” tiba-tiba Jake bergumam.


Historia pun kaget, dan Historia bingung ingin menjawab apa.


Rasanya sama seperti ada yang mendapatkan kejutan yang tak


terduga. Sedang Jakee dengan senyuman manisnya menawarkan.


“ehhmm..Nasi goreng saja.” Ungkap Historia.


“Jangan nasi goreng, nanti mukamu hitam tergoreng!” canda


Jake.


“Tapi...” Historia mengeluh.


“Tapi apa? Saya belikan nasi goreng.” Jake langsung memesan


nasi itu ke sebuah gerobak merah depan Mereka.


Historia pun bingung sekali dengan sikap Jake yang begitu


perhatian. Historia terus menatap wajah Jake dengan tatapan


kosong.


“Kenapa Kamu terus memandang wajahku?” Jake merasa heran, sambil tersenyum-senyum malu.


“Ehh..tidak seharusnya, Kamu menraktirku terus-menerus


begini?” Historia kini tampak malu.


“Sudah enggak masalah..selama Aku masih mau baik, maka Aku


akan menraktirmu terus.” jawab Jake santai.


Historia kemudian menangis menundukkan wajah, tak kuat


menunjukkan wajahnya di depan Jake. Dan, Jake pun malu.


“hah?” Jake bingung, “Kenapa Kamu menangis?”


“Maafkan Aku...Maafkan Aku selama ini sudah


merepotkanmu.” Jawab Historia terisak-isak.


Jake menoleh kanan dan kiri, situasi memang ramai. Langsung


bergegas menarik seluruh tubuh Historia, dan membawanya ke


tempat yang sepi. Kebetulan Historia agak membungkuk, dan


mengharuskan Jake, menutup dengan pelukannya.


Siapapun yang berpapasan dengannya mungkin agak sedikit


malu, tapi Jake bersikap tebal muka. Tak peduli, orang akan


memerhatikannya, Historia dan Jake berjalan menuju ujung barat


lapangan, disana memang sepi, jarang sekali ada orang lewat. Jake


terpaksa harus meninggalkan pesannya hanya karena baperannya


Historia.


“Kamu, kenapa nangis?” Jake berdiri di depan Historia.


“Terus terang, Aku selama ini perasaan denganmu yang terlalu


perhatian denganku.” Jawab Historia sambil terisak-isak.


Jake mendengar itu langsung menghembuskan nafas dalam


sambil memejamkan mata.


“Oke.” Ucap Jake panjang.


“Sekarang, Aku minta Kamu lupakan saja itu. Ayo kita


melangkah menjadi lebih baik lagi ke depannya.” Jake mengusap


rambut Historia.


“Tapi, tolong antarkan Aku pulang saja kalau begini?”

__ADS_1


“Sudah, Aku lapar temani Aku menyantap nasi goreng mau?”


tawar Jake.


“Tapi, jangan belikan buatku ya!”


“Tidak bisa begitu, Jika Aku makan. Maka Kamu pun ikut


makan.”


“Jangan!” Historia berteriak.


“Baiklah, kalau begitu. Ikut Aku saja ambil nasi goreng disana,


sayang Aku sudah pesan tapi kalau tak diambil.”


Historia menyetujui keinginan Jake, Mereka kembali ke tempat


awal Mereka memesan nasi itu. Memang agak jauh juga dari pinggir


lapangan, situasi pasar semakin malam justru semakin ramai. Tapi,


Jake merasa suasana ini semakin romantis, apalagi dikala Historia


menggenggam tangan Jake. Terasa hangat dipegangan itu membuat


Historia dan Jake tak mampu bergumam.


“Pak, Nasi Goreng sudah?” Jake tiba di depan gerobak merah


itu


“Sudah, kak.” Tukang itu dengan kepala dingin langsung


menyerahkan sebungkus nasi goreng itu kepada tangan Kanan Jake,


dengan senyuman yang ramah parah sesekali bola matanya melirik


kearah Historia yang berkaca-kaca. Rasanya ingin bertanya sesuatu


tapi malu.


Jake sepertinya mulai resah, melihat tukang nasi goreng yang


terus menerus menatap wajah Historia. Jake langsung menggenggam


tangan Historia cepat menariknya menuju tempat makan yang sudah


disediakan pihak pasar malam.


Tangan kanan Jake memegang pergelangan tangan Historia,


tangan kiri Jake memegang sebuah kresek hitam berisi nasi goreng.


emosinya, karena emosi tak boleh meledak di depan umum. Apalagi


situasi sedang ramai parah.


Akhirnya tiba di tempat makan khusus yang sudah disediakan


oleh pihak Pasar malam. Jake dan Historia duduk bersebelahan, di


tengah keramaiannya tempat duduk itu. Historia selama ini memang


tak pernah merasakan suasana keramaian seperti ini, maka dari itu


Historia merasa gelap dengan suasana ini.


“Ini nasimu!” Jake memberikan sebungkus nasi pada Historia,


terkejut Historia yang barusan menolak, kaget melihat sebungkus


nasi itu dihadapannya. Karena tak enak hati, Historia akhirnya


menyantap nasi itu.


“Jake, Aku kan sudah bilang...” tiba-tiba Historia mengerem


ucapnnya.


“shuutt...diam.” Jake menunjukkan telunjuknya, dan


meniupnya menyuruh Historia untuk diam.


Historia pun terdiam.


Selesai menyantap nasi goreng, Historia merasa tenang. Semula


menolak tawaran Jake, kini nyatanya nasi itu juga habis sudah ditelan


perut Historia.


“Jake, Aku berterima kasih banget. Kamu begitu baik.” Ucap


Historia dalam hati.


Historia melihat sebuah penjual es teh, ingin sekali Historia


membeli, tapi sayangnya disiitu masih antri. Historia penasaranlah,


dan bergerak menuju sebuah penjual es teh. Meninggalkan Jake yang

__ADS_1


masih lahap memakan nasi itu. Jake juga belum selesai makan.


Namun tiba-tiba.


“Druukkk...” Historia menabrak seorang gadis bertubuh besar,


dengan kacamata bundar. Paras kecut menatap Historia. Tapi dalam


Hati Historia melihat sosok itu sepertinya tak begitu asing di mata


dia.


“Kamu?” ucap wanita itu.


“Maya?” Ucap Historia, ternyata gadis itu adalah Maya.


“Kamu sama siapa kemari?”


Historia tak mau bergumam, Historia selama ini sudah cukup


kesal dengan Maya, apalagi Maya selalu bersama pasukannya dalam


menghadapi Historia. Historia langsung melewati Maya dengna paras


tak bersahabat.


“Hey, Hey...mau kemana?” suara Maya mengeras, pengunjung


pun juga heran dengan suara itu.


“Cukup!” puncak emosi Historia menguat lagi.


Ketiga teman Maya, ada Jessica, Rahma, dan Alda bersiap-siap


mendukung Maya menghadapi Historia. Dalam hati, Historia


bergumam jangan sampai emosinya pecah di tengah keramaian ini.


Dan, jangan sampai pula Maya melontarkan aib Historia selama ini


yang membuat banyak orang tak suka.


“Kamu mau beli apa?” tanya Maya seakan-akan menyindir


Historia.


Historia masih tidak menjawab, cukup menjawab dalam hati


saja. “Aduh, semoga Jake melihatku sekarang.” Sedikit mencemas,


lirikan matanya tertuju kearah Jake yang masih mengunyah nasi


goreng itu sendirian.


“Hey, jawab dong!” Maya kini mendepak bahu Historia. Historia


langsung kaget.


“Sudah, jangan menghalangiku membeli minuman. Aku mau


beli minum.” Historia semakin berkukuh, Alda dan Rahma sudah


bersiap menyambar Historia.


Dalam hati Historia, “Cewek ini memang tak tahu diri ya, sudah


menghalangi orang kini, menghalangi lagi.”


Historia semakin resah.


“Hey, kenapa pura-pura bingung begitu? Kan, Aku Cuma tanya,


Kamu mau kemana? Begitu saja, susah menjawabnya.” Ucap Maya


masih dengan nada yang keras.


Pikiran Historia menggebu-gebu di kepala, apa perlu semua


wanita ini dia tonjok. Ucap hatinya, tapi sayang seribu sayang. Ini


tempat umum, jangan sampai Jake malu dengan Historia nanti akibat


ulahnya. Historia merasa mati kutu. Pusing ingin melakukan apa.


Historia melirik lagi kearah Jake, rqasa senang Historia kembali


mekar. Jake mencari keberadaan Historia di kanan dan kirinya. Jake


bingung, sepertinya Historia pergi tanpa pamit.


Lalu, Jake langsung menoleh ke belakang.


“Historia...” teriak Jake.


Historia tak menjawab tapi hatinya senang banget, kini dia


semakin yakin kalau Jake bersiap melindunginya.


“Historia....” Jake bangun dari kursi, dan berlari menuju


Historia.

__ADS_1


Maya, dan kawan-kawan tentu sudah kehilangan nyali lagi


ketika Jake datang. Tatapan matanya langsung kosong.


__ADS_2