
Pasar itu memang ramai sekali, maklumlah hanya beberapa
minggu pasar itu bisa ditempati. Selebihnya Pasar itu hanya untuk
aktivitas anak muda bermain bola, semua pedagang kaki lima dapat
bernafas lega mampu mencari nafkah disitu, meski malam yang
melelahkan terus menerpa diri Mereka.
Aneka jajanan khas nusantara banyak bertebaran dimana-
mana, rasanya lidah Historia ingin mengiler aneka kuliner yang ada
disana.
“Kamu mau beli Apa?” tiba-tiba Jake bergumam.
Historia pun kaget, dan Historia bingung ingin menjawab apa.
Rasanya sama seperti ada yang mendapatkan kejutan yang tak
terduga. Sedang Jakee dengan senyuman manisnya menawarkan.
“ehhmm..Nasi goreng saja.” Ungkap Historia.
“Jangan nasi goreng, nanti mukamu hitam tergoreng!” canda
Jake.
“Tapi...” Historia mengeluh.
“Tapi apa? Saya belikan nasi goreng.” Jake langsung memesan
nasi itu ke sebuah gerobak merah depan Mereka.
Historia pun bingung sekali dengan sikap Jake yang begitu
perhatian. Historia terus menatap wajah Jake dengan tatapan
kosong.
“Kenapa Kamu terus memandang wajahku?” Jake merasa heran, sambil tersenyum-senyum malu.
“Ehh..tidak seharusnya, Kamu menraktirku terus-menerus
begini?” Historia kini tampak malu.
“Sudah enggak masalah..selama Aku masih mau baik, maka Aku
akan menraktirmu terus.” jawab Jake santai.
Historia kemudian menangis menundukkan wajah, tak kuat
menunjukkan wajahnya di depan Jake. Dan, Jake pun malu.
“hah?” Jake bingung, “Kenapa Kamu menangis?”
“Maafkan Aku...Maafkan Aku selama ini sudah
merepotkanmu.” Jawab Historia terisak-isak.
Jake menoleh kanan dan kiri, situasi memang ramai. Langsung
bergegas menarik seluruh tubuh Historia, dan membawanya ke
tempat yang sepi. Kebetulan Historia agak membungkuk, dan
mengharuskan Jake, menutup dengan pelukannya.
Siapapun yang berpapasan dengannya mungkin agak sedikit
malu, tapi Jake bersikap tebal muka. Tak peduli, orang akan
memerhatikannya, Historia dan Jake berjalan menuju ujung barat
lapangan, disana memang sepi, jarang sekali ada orang lewat. Jake
terpaksa harus meninggalkan pesannya hanya karena baperannya
Historia.
“Kamu, kenapa nangis?” Jake berdiri di depan Historia.
“Terus terang, Aku selama ini perasaan denganmu yang terlalu
perhatian denganku.” Jawab Historia sambil terisak-isak.
Jake mendengar itu langsung menghembuskan nafas dalam
sambil memejamkan mata.
“Oke.” Ucap Jake panjang.
“Sekarang, Aku minta Kamu lupakan saja itu. Ayo kita
melangkah menjadi lebih baik lagi ke depannya.” Jake mengusap
rambut Historia.
“Tapi, tolong antarkan Aku pulang saja kalau begini?”
__ADS_1
“Sudah, Aku lapar temani Aku menyantap nasi goreng mau?”
tawar Jake.
“Tapi, jangan belikan buatku ya!”
“Tidak bisa begitu, Jika Aku makan. Maka Kamu pun ikut
makan.”
“Jangan!” Historia berteriak.
“Baiklah, kalau begitu. Ikut Aku saja ambil nasi goreng disana,
sayang Aku sudah pesan tapi kalau tak diambil.”
Historia menyetujui keinginan Jake, Mereka kembali ke tempat
awal Mereka memesan nasi itu. Memang agak jauh juga dari pinggir
lapangan, situasi pasar semakin malam justru semakin ramai. Tapi,
Jake merasa suasana ini semakin romantis, apalagi dikala Historia
menggenggam tangan Jake. Terasa hangat dipegangan itu membuat
Historia dan Jake tak mampu bergumam.
“Pak, Nasi Goreng sudah?” Jake tiba di depan gerobak merah
itu
“Sudah, kak.” Tukang itu dengan kepala dingin langsung
menyerahkan sebungkus nasi goreng itu kepada tangan Kanan Jake,
dengan senyuman yang ramah parah sesekali bola matanya melirik
kearah Historia yang berkaca-kaca. Rasanya ingin bertanya sesuatu
tapi malu.
Jake sepertinya mulai resah, melihat tukang nasi goreng yang
terus menerus menatap wajah Historia. Jake langsung menggenggam
tangan Historia cepat menariknya menuju tempat makan yang sudah
disediakan pihak pasar malam.
Tangan kanan Jake memegang pergelangan tangan Historia,
tangan kiri Jake memegang sebuah kresek hitam berisi nasi goreng.
emosinya, karena emosi tak boleh meledak di depan umum. Apalagi
situasi sedang ramai parah.
Akhirnya tiba di tempat makan khusus yang sudah disediakan
oleh pihak Pasar malam. Jake dan Historia duduk bersebelahan, di
tengah keramaiannya tempat duduk itu. Historia selama ini memang
tak pernah merasakan suasana keramaian seperti ini, maka dari itu
Historia merasa gelap dengan suasana ini.
“Ini nasimu!” Jake memberikan sebungkus nasi pada Historia,
terkejut Historia yang barusan menolak, kaget melihat sebungkus
nasi itu dihadapannya. Karena tak enak hati, Historia akhirnya
menyantap nasi itu.
“Jake, Aku kan sudah bilang...” tiba-tiba Historia mengerem
ucapnnya.
“shuutt...diam.” Jake menunjukkan telunjuknya, dan
meniupnya menyuruh Historia untuk diam.
Historia pun terdiam.
Selesai menyantap nasi goreng, Historia merasa tenang. Semula
menolak tawaran Jake, kini nyatanya nasi itu juga habis sudah ditelan
perut Historia.
“Jake, Aku berterima kasih banget. Kamu begitu baik.” Ucap
Historia dalam hati.
Historia melihat sebuah penjual es teh, ingin sekali Historia
membeli, tapi sayangnya disiitu masih antri. Historia penasaranlah,
dan bergerak menuju sebuah penjual es teh. Meninggalkan Jake yang
__ADS_1
masih lahap memakan nasi itu. Jake juga belum selesai makan.
Namun tiba-tiba.
“Druukkk...” Historia menabrak seorang gadis bertubuh besar,
dengan kacamata bundar. Paras kecut menatap Historia. Tapi dalam
Hati Historia melihat sosok itu sepertinya tak begitu asing di mata
dia.
“Kamu?” ucap wanita itu.
“Maya?” Ucap Historia, ternyata gadis itu adalah Maya.
“Kamu sama siapa kemari?”
Historia tak mau bergumam, Historia selama ini sudah cukup
kesal dengan Maya, apalagi Maya selalu bersama pasukannya dalam
menghadapi Historia. Historia langsung melewati Maya dengna paras
tak bersahabat.
“Hey, Hey...mau kemana?” suara Maya mengeras, pengunjung
pun juga heran dengan suara itu.
“Cukup!” puncak emosi Historia menguat lagi.
Ketiga teman Maya, ada Jessica, Rahma, dan Alda bersiap-siap
mendukung Maya menghadapi Historia. Dalam hati, Historia
bergumam jangan sampai emosinya pecah di tengah keramaian ini.
Dan, jangan sampai pula Maya melontarkan aib Historia selama ini
yang membuat banyak orang tak suka.
“Kamu mau beli apa?” tanya Maya seakan-akan menyindir
Historia.
Historia masih tidak menjawab, cukup menjawab dalam hati
saja. “Aduh, semoga Jake melihatku sekarang.” Sedikit mencemas,
lirikan matanya tertuju kearah Jake yang masih mengunyah nasi
goreng itu sendirian.
“Hey, jawab dong!” Maya kini mendepak bahu Historia. Historia
langsung kaget.
“Sudah, jangan menghalangiku membeli minuman. Aku mau
beli minum.” Historia semakin berkukuh, Alda dan Rahma sudah
bersiap menyambar Historia.
Dalam hati Historia, “Cewek ini memang tak tahu diri ya, sudah
menghalangi orang kini, menghalangi lagi.”
Historia semakin resah.
“Hey, kenapa pura-pura bingung begitu? Kan, Aku Cuma tanya,
Kamu mau kemana? Begitu saja, susah menjawabnya.” Ucap Maya
masih dengan nada yang keras.
Pikiran Historia menggebu-gebu di kepala, apa perlu semua
wanita ini dia tonjok. Ucap hatinya, tapi sayang seribu sayang. Ini
tempat umum, jangan sampai Jake malu dengan Historia nanti akibat
ulahnya. Historia merasa mati kutu. Pusing ingin melakukan apa.
Historia melirik lagi kearah Jake, rqasa senang Historia kembali
mekar. Jake mencari keberadaan Historia di kanan dan kirinya. Jake
bingung, sepertinya Historia pergi tanpa pamit.
Lalu, Jake langsung menoleh ke belakang.
“Historia...” teriak Jake.
Historia tak menjawab tapi hatinya senang banget, kini dia
semakin yakin kalau Jake bersiap melindunginya.
“Historia....” Jake bangun dari kursi, dan berlari menuju
Historia.
__ADS_1
Maya, dan kawan-kawan tentu sudah kehilangan nyali lagi
ketika Jake datang. Tatapan matanya langsung kosong.