Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Aku Cinta Kamu


__ADS_3

“Historia....” Jake berlari sambil mendekati Historia.


Historia dan Maya menatap Jake yang berlari di depannya.


“Jake?”


“Hahahhaa...” tiba-tiba Maya tertawa seperti orang gila keras


hingga pengunjung pun melirikkan bola matanya.


“Kenapa, May?” gumam Alda.


“Hahahaha....” Maya masih tertawa kuat hingga


membungkukkan badan.


“Kenapa, May?” sambung Rahma


“Aku kaget...Aku kaget, sumpah.” Maya tertawa tanpa


memedulikan lingkungan sekitar, yang tua, yang muda, menatap


kearah wajahnya dengan linglung.


“Dia...Dia...” Maya sambil menunjuk kearah Historia tepat di


depan Muka, Historia.


“Kenapa, sih?” Alda mulai resah.


“Dia yang anak penjahat begitu saja, bisa punya pacar.” Maya


mengucap blak-blakan.


Spontan Historia mendengar ucapan itu, Historia langsung


berusaha melarikan diri jangan sampai Jake mendengarnya. Historia


kini menarik tangan Jake. Jake sendiri merasa bingung, ada apa


dengan Historia yang tiba-tiba panik.


Historia dan Jake segera menjauh meninggalkan Maya, dan


kawan-kawan. Tangan kanan Historia menarik tangan kiri Jake yang


masih penuh tanda tanya, kenapa tiba-tiba Historia merasa cemas.


“Jake, tidak seharusnya Kita kesini!” ungkap Historia.


“Kenapa, His? Kenapa tiba-tiba dari mulut Maya bilang begitu,


Kamu seakan cemas?” pertanyaan Jake bersikap polos.


“Tidak..Dia salah bilang. Maksudku..”


“Kamu anak penjahat?” Jake mengerut dahi penasaran.


“Bukan..Bukan...” Historia kaku dalam ucapannya.


“Ehh...Aku, Aku...Aku anak serabutan.” Ucap Historia tanpa


menatap mata Jake.


Jake masih sedikit bingung, tapi Jake tak mau memperpanjang


masalah itu. Akhirnya kembali terdiam, Mereka berdua.


“Ayo naik komedi putar!” ajakan Jake.


“Lho, bukannya Kamu janji ingin lihat tong setan?” Historia


menyindir Jake.


Jake sebentar berpikir, “Oh ya...Aku lupa.”


“Sepertinya tong setan, ada disebelah sana.” Jake menunjuk


kearah barat.


Mereka berjalan berdua agak jauh menuju tempat tong setan.


“Pak, Tiket Tong setan masih ada?” tanya Jake sambil


mengintip kearah loket yang menunduk.


“Ohhh...maaf, Tiket tong setan sudah habis.” Gumam petugas


karcis.


Jake menoleh ke Historia di belakang dengan wajah polos,


“Tiketnya sudah habis.”


“Ya, bagaimana?” Historia galau.

__ADS_1


“Ya sudah, Kita naik komedi putar saja.” Jake dengan tenang,


meraba pundak Historia.


Historia menoleh kearah Komedi putar yang terus berputar,


walau hari semakin malam. Benak Historia hanya berpikir


seandainya, mesin itu mendadak mati di saat Mereka diatas, apakah


akan ada kisah romantika disini.


“Ayo kalau begitu!” cerna Historia dengan terpaksa.


Jake tersenyum.


Ya sudah, akhirnya Mereka berdua memesan tiket Komedi


putar hanya 25 ribu, empat kali putaran. Komedi putar itu dihiasi


seestetik mungkin untuk menambah kesan ceria dari pengunjung


tapi sayangnya tetap saja pengunjung sedikit. Mungkin karena sudah


malam. Komedi itu berputar lambat, Jake dan Historia menaiki


Komedi putar itu duduk saling berhadapan.


Walau hanya berada dalam sebuah kotak berukuran, 2x2 meter


saja Mereka bisa saling berhadapan.


“Kamu sudah pernah naik ini?” tanya Jake dihadapan Historia.


“Belum, memang kenapa?” Historia menanyakan balik.


“Sama.”


“Aku dari dulu memang tak pernah diajak ke tempat semenarik


ini, walaupun memang di mata orang lain ini biasa saja, tapi bagiku


ini sudah sangat menarik.” Ucap Historia seketika kincir itu bergerak


keatas.


“Oh...begitu.” Jake menganggukan kepala perlahan.


“Tapi, barusan Aku dengar kalau kata temanmu, Kamu anak


kembali resah.


“Ah...bukan itu, biasa Mereka membenciku, jadi buat alasan


seakan-akan Aku jelek.” Historia berusaha tenang, walau tatapan


matanya kabur.


“Enggak kok, Kamu memang cantik.” Gumam Jake.


“Teri..terima kasih.” Nada Historia melambat malu-malu.


“Hhahahahha...” Jake tertawa.


Ketika kotak itu berhenti di atas, mendadak mati. Badan Jake


dan Historia terdorong seperti mobil yang menabrak tiang.


“Hah? Mati?” Historia mulai cemas.


“Sudah, ini Cuma prank dari ekskavatornya.” Jake bersikap


tenang, walau Historia merasa resah.


“Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya, Jadi Aku takut


kalau ini mendadak mati.” Historia masih panik.


Jake berusaha menenangkan Historia yang ketakutan, dia


mendekati Historia. Kepala dan badan Jake ia moncongkan


mendekati tubuh Historia.


“Kamu lihat Gedung-gedung itu?” tanya Jake sambil menunjuk


kearah pemukiman padat dari atas komedi putar. Rasa takut Historia


akhirnya padam karena melihat indahnya peemandangan Kota di


malam hari, aneka titik-titik putih terlihat dari depannya ialah lampu


malam gemerlap yang penuh keindahan, menambah kedamaian


dalam hati “Aku tak mau duduk sendiri.” Historia langsung pindah ke

__ADS_1


samping Jake.


“Lho duduk di situ saja, disini sempit!” Jake menunjuk kearah


kursi. Tempat Historia duduk.


“Tapi, Aku takut.” Historia menggelitik di samping Jake.


“Enggak apa-apa, semua akan baik-baik saja, kalau Kamu mau


tenang.” Jake berusaha menyabarkan Historia. Maklumlah Historia


selama ini selalu berada dalam zona nyamannya Rumah yang


membuat dirinya terus betah di dalam Rumah, dan merasa asing


dengan lingkungan luar.


“Tapi, Aku takut...” nada Historia melengking.


Jake menarik nafas dalam-dalam.


Komedi putar itu pun akhirnya turun lagi, perasaan Historia


kembali tenang, tapi dia juga beranti-anti, Komidi Putar itu akan


berputar lagi keatas untuk kedua kalinya.


Tak terasa hari semakin malam, tepat pukul 12 malam adalah


putaran terakhir komedi itu sebelum akhirnya berhenti. Situasi pasar


semakin sepi. Pasar malam itu memang ada saat malam, tapi tidak


dalam larut waktu. Pasar itu berhenti beroperasi mulai jam 1 malam.


Semua pedagang mulai beramai-ramai merapikan jualannya,


sebelum kembali pulang untuk istirahat.


Sebenarnya, dengan ada pasar malam ini menambah peluang


bagi para pedagang, di satu sisi Mereka bisa mempersiapkan di


waktu yang sedikit, dan dapat berjualan di tempat yang sudah pasti


ada dalam keramaian. Dan, tentu omset pun juga melejit.


Historia dan Jake akhirnya memutuskan untuk pulang,


mengingat hari semakin larut, walau Jake sendiri merasa takut seketika mengantarkan Historia, malah mendatangkan petaka dari


warga sekitar.


Ketika Mereka berjalan bersama, Jake membisikkan tepat di kuping Historia, “Aku antarkan Kamu sampai depan gang saja!” ucap Jake serius.


“Memang...” Historia membantah.


“Aku takut kalau ini menimbulkan fitnah.” Balas Jake.


“Kalau Kamu antarkan sampai ke Rumah, pasti tetangga lihat


dan nanti tak akan lepas dari fitnah, begitu pun juga seandainya


kamu menaruhku di depan Gang, dan Aku berjalan sendiri tetap Aku


pasti akan terkena fitnah.” Sahut Historia.


“Bagaimana ya?” Jake bingung.


Jake sendiri merasa menyesal telah mengajak Historia bermain


bersama hingga larut waktu malam. Ingin ditaruh dimanakah


Historia?


“Ohh..Aku ada ide.” Jake mendapatkan sebuah ide.


“Apa?”


“Aku taruh Kamu di temanmu saja, teman dekatmu. Silvia.”


Saran Jake.


Silvia sendiri adalah teman sekaligus tetangga Jake yang


memang baik hati, kedua orangtua Silvia jarang pulang karena kerja


di luar negeri, hanya ada Neneknya saja Rumah. Sikap Neneknya


yang penuh empati, membuat Silvia menjadi gadis yang baik.


Ditambah lagi Silvia begitu paham dengan karakter Historia. Tak


heran, kalau Silvia adalah satu-satunya gadis yang mengerti karakter Historia. Kebetulan, Historia juga satu fakultas dengan Historia, di

__ADS_1


ekonomi.


__ADS_2