
“Historia....” Jake berlari sambil mendekati Historia.
Historia dan Maya menatap Jake yang berlari di depannya.
“Jake?”
“Hahahhaa...” tiba-tiba Maya tertawa seperti orang gila keras
hingga pengunjung pun melirikkan bola matanya.
“Kenapa, May?” gumam Alda.
“Hahahaha....” Maya masih tertawa kuat hingga
membungkukkan badan.
“Kenapa, May?” sambung Rahma
“Aku kaget...Aku kaget, sumpah.” Maya tertawa tanpa
memedulikan lingkungan sekitar, yang tua, yang muda, menatap
kearah wajahnya dengan linglung.
“Dia...Dia...” Maya sambil menunjuk kearah Historia tepat di
depan Muka, Historia.
“Kenapa, sih?” Alda mulai resah.
“Dia yang anak penjahat begitu saja, bisa punya pacar.” Maya
mengucap blak-blakan.
Spontan Historia mendengar ucapan itu, Historia langsung
berusaha melarikan diri jangan sampai Jake mendengarnya. Historia
kini menarik tangan Jake. Jake sendiri merasa bingung, ada apa
dengan Historia yang tiba-tiba panik.
Historia dan Jake segera menjauh meninggalkan Maya, dan
kawan-kawan. Tangan kanan Historia menarik tangan kiri Jake yang
masih penuh tanda tanya, kenapa tiba-tiba Historia merasa cemas.
“Jake, tidak seharusnya Kita kesini!” ungkap Historia.
“Kenapa, His? Kenapa tiba-tiba dari mulut Maya bilang begitu,
Kamu seakan cemas?” pertanyaan Jake bersikap polos.
“Tidak..Dia salah bilang. Maksudku..”
“Kamu anak penjahat?” Jake mengerut dahi penasaran.
“Bukan..Bukan...” Historia kaku dalam ucapannya.
“Ehh...Aku, Aku...Aku anak serabutan.” Ucap Historia tanpa
menatap mata Jake.
Jake masih sedikit bingung, tapi Jake tak mau memperpanjang
masalah itu. Akhirnya kembali terdiam, Mereka berdua.
“Ayo naik komedi putar!” ajakan Jake.
“Lho, bukannya Kamu janji ingin lihat tong setan?” Historia
menyindir Jake.
Jake sebentar berpikir, “Oh ya...Aku lupa.”
“Sepertinya tong setan, ada disebelah sana.” Jake menunjuk
kearah barat.
Mereka berjalan berdua agak jauh menuju tempat tong setan.
“Pak, Tiket Tong setan masih ada?” tanya Jake sambil
mengintip kearah loket yang menunduk.
“Ohhh...maaf, Tiket tong setan sudah habis.” Gumam petugas
karcis.
Jake menoleh ke Historia di belakang dengan wajah polos,
“Tiketnya sudah habis.”
“Ya, bagaimana?” Historia galau.
__ADS_1
“Ya sudah, Kita naik komedi putar saja.” Jake dengan tenang,
meraba pundak Historia.
Historia menoleh kearah Komedi putar yang terus berputar,
walau hari semakin malam. Benak Historia hanya berpikir
seandainya, mesin itu mendadak mati di saat Mereka diatas, apakah
akan ada kisah romantika disini.
“Ayo kalau begitu!” cerna Historia dengan terpaksa.
Jake tersenyum.
Ya sudah, akhirnya Mereka berdua memesan tiket Komedi
putar hanya 25 ribu, empat kali putaran. Komedi putar itu dihiasi
seestetik mungkin untuk menambah kesan ceria dari pengunjung
tapi sayangnya tetap saja pengunjung sedikit. Mungkin karena sudah
malam. Komedi itu berputar lambat, Jake dan Historia menaiki
Komedi putar itu duduk saling berhadapan.
Walau hanya berada dalam sebuah kotak berukuran, 2x2 meter
saja Mereka bisa saling berhadapan.
“Kamu sudah pernah naik ini?” tanya Jake dihadapan Historia.
“Belum, memang kenapa?” Historia menanyakan balik.
“Sama.”
“Aku dari dulu memang tak pernah diajak ke tempat semenarik
ini, walaupun memang di mata orang lain ini biasa saja, tapi bagiku
ini sudah sangat menarik.” Ucap Historia seketika kincir itu bergerak
keatas.
“Oh...begitu.” Jake menganggukan kepala perlahan.
“Tapi, barusan Aku dengar kalau kata temanmu, Kamu anak
kembali resah.
“Ah...bukan itu, biasa Mereka membenciku, jadi buat alasan
seakan-akan Aku jelek.” Historia berusaha tenang, walau tatapan
matanya kabur.
“Enggak kok, Kamu memang cantik.” Gumam Jake.
“Teri..terima kasih.” Nada Historia melambat malu-malu.
“Hhahahahha...” Jake tertawa.
Ketika kotak itu berhenti di atas, mendadak mati. Badan Jake
dan Historia terdorong seperti mobil yang menabrak tiang.
“Hah? Mati?” Historia mulai cemas.
“Sudah, ini Cuma prank dari ekskavatornya.” Jake bersikap
tenang, walau Historia merasa resah.
“Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya, Jadi Aku takut
kalau ini mendadak mati.” Historia masih panik.
Jake berusaha menenangkan Historia yang ketakutan, dia
mendekati Historia. Kepala dan badan Jake ia moncongkan
mendekati tubuh Historia.
“Kamu lihat Gedung-gedung itu?” tanya Jake sambil menunjuk
kearah pemukiman padat dari atas komedi putar. Rasa takut Historia
akhirnya padam karena melihat indahnya peemandangan Kota di
malam hari, aneka titik-titik putih terlihat dari depannya ialah lampu
malam gemerlap yang penuh keindahan, menambah kedamaian
dalam hati “Aku tak mau duduk sendiri.” Historia langsung pindah ke
__ADS_1
samping Jake.
“Lho duduk di situ saja, disini sempit!” Jake menunjuk kearah
kursi. Tempat Historia duduk.
“Tapi, Aku takut.” Historia menggelitik di samping Jake.
“Enggak apa-apa, semua akan baik-baik saja, kalau Kamu mau
tenang.” Jake berusaha menyabarkan Historia. Maklumlah Historia
selama ini selalu berada dalam zona nyamannya Rumah yang
membuat dirinya terus betah di dalam Rumah, dan merasa asing
dengan lingkungan luar.
“Tapi, Aku takut...” nada Historia melengking.
Jake menarik nafas dalam-dalam.
Komedi putar itu pun akhirnya turun lagi, perasaan Historia
kembali tenang, tapi dia juga beranti-anti, Komidi Putar itu akan
berputar lagi keatas untuk kedua kalinya.
Tak terasa hari semakin malam, tepat pukul 12 malam adalah
putaran terakhir komedi itu sebelum akhirnya berhenti. Situasi pasar
semakin sepi. Pasar malam itu memang ada saat malam, tapi tidak
dalam larut waktu. Pasar itu berhenti beroperasi mulai jam 1 malam.
Semua pedagang mulai beramai-ramai merapikan jualannya,
sebelum kembali pulang untuk istirahat.
Sebenarnya, dengan ada pasar malam ini menambah peluang
bagi para pedagang, di satu sisi Mereka bisa mempersiapkan di
waktu yang sedikit, dan dapat berjualan di tempat yang sudah pasti
ada dalam keramaian. Dan, tentu omset pun juga melejit.
Historia dan Jake akhirnya memutuskan untuk pulang,
mengingat hari semakin larut, walau Jake sendiri merasa takut seketika mengantarkan Historia, malah mendatangkan petaka dari
warga sekitar.
Ketika Mereka berjalan bersama, Jake membisikkan tepat di kuping Historia, “Aku antarkan Kamu sampai depan gang saja!” ucap Jake serius.
“Memang...” Historia membantah.
“Aku takut kalau ini menimbulkan fitnah.” Balas Jake.
“Kalau Kamu antarkan sampai ke Rumah, pasti tetangga lihat
dan nanti tak akan lepas dari fitnah, begitu pun juga seandainya
kamu menaruhku di depan Gang, dan Aku berjalan sendiri tetap Aku
pasti akan terkena fitnah.” Sahut Historia.
“Bagaimana ya?” Jake bingung.
Jake sendiri merasa menyesal telah mengajak Historia bermain
bersama hingga larut waktu malam. Ingin ditaruh dimanakah
Historia?
“Ohh..Aku ada ide.” Jake mendapatkan sebuah ide.
“Apa?”
“Aku taruh Kamu di temanmu saja, teman dekatmu. Silvia.”
Saran Jake.
Silvia sendiri adalah teman sekaligus tetangga Jake yang
memang baik hati, kedua orangtua Silvia jarang pulang karena kerja
di luar negeri, hanya ada Neneknya saja Rumah. Sikap Neneknya
yang penuh empati, membuat Silvia menjadi gadis yang baik.
Ditambah lagi Silvia begitu paham dengan karakter Historia. Tak
heran, kalau Silvia adalah satu-satunya gadis yang mengerti karakter Historia. Kebetulan, Historia juga satu fakultas dengan Historia, di
__ADS_1
ekonomi.