Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Dalam Mimpi


__ADS_3

“Historia...Historia....” Suara itu terus mengeras tak jauh di


kuping Historia. Historia melihat bayangan putih tepat di depannya,


seketika tubuhnya kian membatu. Pria itu berwarna putih terang,


tetapi tak terlihat wajahnya sedikitpun. Seluruh tubuhnya rata,


berulang kali menyebut nama Historia, tapi Historia tepat di depan


lelaki itu persis.


“Siapa Kau?” suara Historia menggaung di depan lelaki itu.


“Sini nak!” suara itu seakan-akan menyuruh Historia untuk


mendekatinya. Historia melangkah dengan perlahan, keringatnya


mulai bercucuran sepanjang dahi hingga turun ke pipi.


Semakin mendekati pria itu, perasaan Historia semakin takut. Lelaki


itu adalah lelaki rata dari ujung kaki hingga ujung kepala berwarna


putih. Dan, Histirua berada dalam gemerlapnya malam bersama


dengan lelaki yang bersinar itu.


“Kamu sekarang semakin cantik.” Ungkap prria itu sambil


mengelus pipi Historia. Dan, anehnya perasaan Evan seperti tersedu


terharu. Suara itu adalah suara ayahnya tercinta yang sudah lama


meninggal. Akhirnya Historia tersadarkan diri dan menyadari kalau


pria itu Ayahnya. Karena rindu sekali, sudah lama tak bertemu


dengannya. Historia langsung memeluknya hingga tubuhnya terasa


panas sekali.


“Jaga Ibumu baik-baik.” Ungkap bayangan putih itu.


“Iya, Ayah. Maafkan Historia yang belum bisa membahagiakan


Ayah.” Ungkap Historia sambil menangis.


“Ayah yang seharusnya meminta maaf..karena Ayasedang


Sebuah benda berupa kaleng akhirnya terlempar mengenai


kepala belakang Historia. Historia merasakan ada dentuman kuat di


kepala belakang. Berseling tak lama muncul suara berteriak agak


kasar, “Historia...” dengan nada yang panjang. Historia langsung


terbangun. Mimpi itu kian putus, Historia kembali ke dalam dimensi


alam sadar lagi.


“Historia....” suara perempuan gempal meneriaki Historia.


Sambil mengunyah nasi bungkus, wanita yang akrab disapa Maya.


Adalah pentolan kuat yang sangat tidak suka Historia. Baginya


Historia ialah perempuan kecil, kurus, sok cantik dan pantas untuk


dibully.


“Kamu, itu molor terus ya?” Maya dengan gelagat emosi


menggertak Historia sekaligus mempermalukan di depan orang


banyak.


Historia hanya mendengar ucapan Maya saja, karena dia sendiri


sadar kalau Maya adalah orang nomor satu di Organisasi Jurnalis


yang tidak suka padanya, sebenarnya Historia sudah mengepulkan


banyak emosi pada Maya. Tapi, sayangnya Historia tak berani

__ADS_1


menggertakan langsung hanya karena sekutunya banyak.


Historia terbangun, rasanya malu juga tidur di Ruangan yang


penuh teman-teman di sepanjang hadapannya memandang


wajahnya. Historia baru sadar kalau ini sedang rapat, wajahnya


merona lagi. Historia kemudian kembali ke posisi duduk dengan


kedua kakinya menyila.


“Oke kita lanjut....” ujar Febri selaku ketua organisasi itu.


Pikirannya Historia kian menumpuk lagi, overthinking


membludak dalam pikirannya, ingin berbuat apakah dia sekonon seluruh mata malah asyik tertuju kearah Historia seakan-akan ingin


menerkam Historia.


Maya melemparkan sebuah kaleng lagi ke kepala Historia. Kali


ini, Historia bergelagat marah, ekspresinya sudah sangat tidak


bersahabat. Menatap bengis kearah Maya. Kali ini Maya tampak


takut, karena dia sendiri merasa bersalah, walaupun ada beberapa


sekutunya disana, ada Mosar, dan Rafika.


“Hehehhehe....Maafkan Aku.” Ucap Maya dengan gelagat


munafik.


Rambut Historia, berantakan kumal. Dia meraba rambutnya


yang panjang. Sepertinya, Historia harus izin ke Kamar mandi


sebentar.


“Febri, izin ke kamar mandi dulu ya!” tanpa basa basi, Historia


langsung berdiri tanpa persetujuan Febri yang hanya melihatnya.


“Gak boleh....”


kecut. Seakan-akan tak suka dengan sikap Historia. Historia bersikap


apatis dengan keramaian itu, seakan-akan ingin berlama-lama di luar


hingga meet up selesai, akhirnya Historia keluar gedung Organisasi


berjalan menuju sepinya lingkungan kampus.


Kebetulan jarak Gedung Organisasi Jurnalis dengan kamar


mandi agak sedikit jauh. Satu-satu jalannya ialah melewati luasnya


pekarangan kampus sampai ke Toilet. Suasana memang sudah sepi,


padahal masih siang hari, dan cuaca pun juga tidak terlalu panas,


bahkan cenderung mendung di siang hari.


Historia adalah mahasiswi fakultas ekonomi tapi justru tidak


suka masuk ke gedung fakultas hukum di sebelahnya. Yang konon katanya kalau kamar mandi Gedung Ekonomi baik lantai atas


maupun bawah sama saja dipenuhi keangkeran. Sekalipun untuk


fakultas hukum juga angker, tapi tidak seangker punya gedung


ekonomi. Dan secara posisi pun, kamar mandi hukum lebih kearah


Taman terbuka, jika dibandingkan kamar mandi Ekonomi yang


cenderung masuk lorong yang gelap.


Suasana sudah sangat sepi tanpa ada seorang mahasiswa pun


di dalam, tapi hati Historia tidak ada perasaan sedikitpun, usai baru


saja bermimpi bertemu dengan ayahnya. Historia sengaja


memperlambat langkahnya walaupun sebenarnya juga malas,

__ADS_1


tubuhnya terasa dingin, ternyata dirinya ingat kalau dia belum


makan sejak pagi. Oke, lupakan saja dulu.


Historia memegang perutnya yang terus berbunyi sambil


mendengus di kamar mandi. Salah satu hal yang dia jengkelkan ialah,


setiap kamar mandi tidak diberikan tulisan khusus gender. Historia


sedikit geram disana. Semoga tidak ada lelaki yang datang ke kamar


mandi. Sengaja, Historia mengunci pintu dari dalam walaupun ada


perasaan was-was sedikit dalam hati terkunci.


Usai 1 menit di kamar mandi, Historia membuka pintul. Dan,


sedikit rasa cemas akhirnya membukit, kalau pintu kamar mandi


terkunci. Tangan Historia sengaja dia tarik kuat-kuatnya ternyata


terkunci. Historia sudah cemas, beruntung dia bawa handphone. Tapi


setelah dia pikir hal itu juga percuma, kesannya banyak juga orang


yang tidak simpatik dengan dia.


Ya sudah, Historia terus berusaha mendorong pintu sekuat


tenaga walaupun kenyataannya Historia tidak pernah berurusan


dengan ssuatu yang membutuhkan beban. Sambil berulangkali


menepuk pintu dengan suara mulut berteriak minta tolong. Tak


peduli ada yang dengar atau tidak.


Historia berusaha bersikap tenang, walau dalam hati sanubari


terdapat rasa takut juga. Pikiran negatif kian menggebu di dalam


kepala, bahkan pasrah akan kematian pun juga tak peduli. Meski


berulang kali menepuk pintu agar seseorang mau membukanya.


Historia langsung kaget, ketika seorang lelaki mendorong


pintunya hingga nyaris terjatuh mengenai penyangga WC. Pria itu


dengan sontak langsung meraih tangan kiri Historia, dan spontan


langsung meraih punggung Historia agar tak tersentuh penyangga


kloset.


Historia merasa ada yang berat dalam dirinya, wajah pria itu


tepat di depan muka Historia, bingung ingin berkata. Jantungnya


berdetak kencang, kedua bola matanya melototkan tajam kearah


pria itu, begitu juga dengan lelaki itu yang melebarkan mata pada


Historia.


Tak ingin berlama dengan larutnya refleks. Historia langsung


mengangkat badannya berdiri di depan pria itu. Sungguh, Historia


menyadari kedatangan malaikat berwujud manusia, yang datang di


kala susahnya hidup. Historia berterima kasih besar pada lelaki itu


walaupun pada kenyataannya Historia ingin bersikap apatis pada


lelaki itu.


Tangan kanan siap mengalimi Historia,


“Mari berkenalan.” Ucap lelaki itu.


Rasanya sedikit angkuh tetapi sesungguhnya lelaki itu penuh


perhatian, sifatnya yang susah dideteksi ketika berparas dingin tapi

__ADS_1


bicara familiar, apa jangan-jangan anak kuper.


__ADS_2