
“Historia...Historia....” Suara itu terus mengeras tak jauh di
kuping Historia. Historia melihat bayangan putih tepat di depannya,
seketika tubuhnya kian membatu. Pria itu berwarna putih terang,
tetapi tak terlihat wajahnya sedikitpun. Seluruh tubuhnya rata,
berulang kali menyebut nama Historia, tapi Historia tepat di depan
lelaki itu persis.
“Siapa Kau?” suara Historia menggaung di depan lelaki itu.
“Sini nak!” suara itu seakan-akan menyuruh Historia untuk
mendekatinya. Historia melangkah dengan perlahan, keringatnya
mulai bercucuran sepanjang dahi hingga turun ke pipi.
Semakin mendekati pria itu, perasaan Historia semakin takut. Lelaki
itu adalah lelaki rata dari ujung kaki hingga ujung kepala berwarna
putih. Dan, Histirua berada dalam gemerlapnya malam bersama
dengan lelaki yang bersinar itu.
“Kamu sekarang semakin cantik.” Ungkap prria itu sambil
mengelus pipi Historia. Dan, anehnya perasaan Evan seperti tersedu
terharu. Suara itu adalah suara ayahnya tercinta yang sudah lama
meninggal. Akhirnya Historia tersadarkan diri dan menyadari kalau
pria itu Ayahnya. Karena rindu sekali, sudah lama tak bertemu
dengannya. Historia langsung memeluknya hingga tubuhnya terasa
panas sekali.
“Jaga Ibumu baik-baik.” Ungkap bayangan putih itu.
“Iya, Ayah. Maafkan Historia yang belum bisa membahagiakan
Ayah.” Ungkap Historia sambil menangis.
“Ayah yang seharusnya meminta maaf..karena Ayasedang
Sebuah benda berupa kaleng akhirnya terlempar mengenai
kepala belakang Historia. Historia merasakan ada dentuman kuat di
kepala belakang. Berseling tak lama muncul suara berteriak agak
kasar, “Historia...” dengan nada yang panjang. Historia langsung
terbangun. Mimpi itu kian putus, Historia kembali ke dalam dimensi
alam sadar lagi.
“Historia....” suara perempuan gempal meneriaki Historia.
Sambil mengunyah nasi bungkus, wanita yang akrab disapa Maya.
Adalah pentolan kuat yang sangat tidak suka Historia. Baginya
Historia ialah perempuan kecil, kurus, sok cantik dan pantas untuk
dibully.
“Kamu, itu molor terus ya?” Maya dengan gelagat emosi
menggertak Historia sekaligus mempermalukan di depan orang
banyak.
Historia hanya mendengar ucapan Maya saja, karena dia sendiri
sadar kalau Maya adalah orang nomor satu di Organisasi Jurnalis
yang tidak suka padanya, sebenarnya Historia sudah mengepulkan
banyak emosi pada Maya. Tapi, sayangnya Historia tak berani
__ADS_1
menggertakan langsung hanya karena sekutunya banyak.
Historia terbangun, rasanya malu juga tidur di Ruangan yang
penuh teman-teman di sepanjang hadapannya memandang
wajahnya. Historia baru sadar kalau ini sedang rapat, wajahnya
merona lagi. Historia kemudian kembali ke posisi duduk dengan
kedua kakinya menyila.
“Oke kita lanjut....” ujar Febri selaku ketua organisasi itu.
Pikirannya Historia kian menumpuk lagi, overthinking
membludak dalam pikirannya, ingin berbuat apakah dia sekonon seluruh mata malah asyik tertuju kearah Historia seakan-akan ingin
menerkam Historia.
Maya melemparkan sebuah kaleng lagi ke kepala Historia. Kali
ini, Historia bergelagat marah, ekspresinya sudah sangat tidak
bersahabat. Menatap bengis kearah Maya. Kali ini Maya tampak
takut, karena dia sendiri merasa bersalah, walaupun ada beberapa
sekutunya disana, ada Mosar, dan Rafika.
“Hehehhehe....Maafkan Aku.” Ucap Maya dengan gelagat
munafik.
Rambut Historia, berantakan kumal. Dia meraba rambutnya
yang panjang. Sepertinya, Historia harus izin ke Kamar mandi
sebentar.
“Febri, izin ke kamar mandi dulu ya!” tanpa basa basi, Historia
langsung berdiri tanpa persetujuan Febri yang hanya melihatnya.
“Gak boleh....”
kecut. Seakan-akan tak suka dengan sikap Historia. Historia bersikap
apatis dengan keramaian itu, seakan-akan ingin berlama-lama di luar
hingga meet up selesai, akhirnya Historia keluar gedung Organisasi
berjalan menuju sepinya lingkungan kampus.
Kebetulan jarak Gedung Organisasi Jurnalis dengan kamar
mandi agak sedikit jauh. Satu-satu jalannya ialah melewati luasnya
pekarangan kampus sampai ke Toilet. Suasana memang sudah sepi,
padahal masih siang hari, dan cuaca pun juga tidak terlalu panas,
bahkan cenderung mendung di siang hari.
Historia adalah mahasiswi fakultas ekonomi tapi justru tidak
suka masuk ke gedung fakultas hukum di sebelahnya. Yang konon katanya kalau kamar mandi Gedung Ekonomi baik lantai atas
maupun bawah sama saja dipenuhi keangkeran. Sekalipun untuk
fakultas hukum juga angker, tapi tidak seangker punya gedung
ekonomi. Dan secara posisi pun, kamar mandi hukum lebih kearah
Taman terbuka, jika dibandingkan kamar mandi Ekonomi yang
cenderung masuk lorong yang gelap.
Suasana sudah sangat sepi tanpa ada seorang mahasiswa pun
di dalam, tapi hati Historia tidak ada perasaan sedikitpun, usai baru
saja bermimpi bertemu dengan ayahnya. Historia sengaja
memperlambat langkahnya walaupun sebenarnya juga malas,
__ADS_1
tubuhnya terasa dingin, ternyata dirinya ingat kalau dia belum
makan sejak pagi. Oke, lupakan saja dulu.
Historia memegang perutnya yang terus berbunyi sambil
mendengus di kamar mandi. Salah satu hal yang dia jengkelkan ialah,
setiap kamar mandi tidak diberikan tulisan khusus gender. Historia
sedikit geram disana. Semoga tidak ada lelaki yang datang ke kamar
mandi. Sengaja, Historia mengunci pintu dari dalam walaupun ada
perasaan was-was sedikit dalam hati terkunci.
Usai 1 menit di kamar mandi, Historia membuka pintul. Dan,
sedikit rasa cemas akhirnya membukit, kalau pintu kamar mandi
terkunci. Tangan Historia sengaja dia tarik kuat-kuatnya ternyata
terkunci. Historia sudah cemas, beruntung dia bawa handphone. Tapi
setelah dia pikir hal itu juga percuma, kesannya banyak juga orang
yang tidak simpatik dengan dia.
Ya sudah, Historia terus berusaha mendorong pintu sekuat
tenaga walaupun kenyataannya Historia tidak pernah berurusan
dengan ssuatu yang membutuhkan beban. Sambil berulangkali
menepuk pintu dengan suara mulut berteriak minta tolong. Tak
peduli ada yang dengar atau tidak.
Historia berusaha bersikap tenang, walau dalam hati sanubari
terdapat rasa takut juga. Pikiran negatif kian menggebu di dalam
kepala, bahkan pasrah akan kematian pun juga tak peduli. Meski
berulang kali menepuk pintu agar seseorang mau membukanya.
Historia langsung kaget, ketika seorang lelaki mendorong
pintunya hingga nyaris terjatuh mengenai penyangga WC. Pria itu
dengan sontak langsung meraih tangan kiri Historia, dan spontan
langsung meraih punggung Historia agar tak tersentuh penyangga
kloset.
Historia merasa ada yang berat dalam dirinya, wajah pria itu
tepat di depan muka Historia, bingung ingin berkata. Jantungnya
berdetak kencang, kedua bola matanya melototkan tajam kearah
pria itu, begitu juga dengan lelaki itu yang melebarkan mata pada
Historia.
Tak ingin berlama dengan larutnya refleks. Historia langsung
mengangkat badannya berdiri di depan pria itu. Sungguh, Historia
menyadari kedatangan malaikat berwujud manusia, yang datang di
kala susahnya hidup. Historia berterima kasih besar pada lelaki itu
walaupun pada kenyataannya Historia ingin bersikap apatis pada
lelaki itu.
Tangan kanan siap mengalimi Historia,
“Mari berkenalan.” Ucap lelaki itu.
Rasanya sedikit angkuh tetapi sesungguhnya lelaki itu penuh
perhatian, sifatnya yang susah dideteksi ketika berparas dingin tapi
__ADS_1
bicara familiar, apa jangan-jangan anak kuper.