Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Enaknya Traktir


__ADS_3

Tiba juga di depan Gapura Rumah Jake, suasana sudah sepi gempita hanya ada lampu menjulang tinggi, menghiasi keheningan malam. Mereka berdua tiba di depan Rumah Silvia. Rumah Silvia tampak kosong, tapi Jake pun meneriaki nama Silvia hingga akhirnya seorang gadis menggenakan pakaian tidur berwarna putih, dengan wajah sedikit pucat. Sepertinya Silvia sedikit sakit.


“Silvia...” Historia turun dari motor langsung memeluk Silvia dengan bahagia.


Silvia tak bergumam sedikitpun, Silvia terkesan cuek mungkin karena lelah, tak tahu lagi. Historia tetap memeluk erat Silvia dengan bahagia.


“Silvia...Malam ini Aku titipkan Historia ke Kamu saja dulu ya!”


gumam Jake.


“Memang kenapa dengan Ibunda Historia?” tanya Silvia.


“Mohon maaf..ini sudah malam, Aku kemalaman berduaan bersamanya, Aku takut kalau Aku mengantarkannya akan


menimbulkan fitnah, maka dari itu Aku titipkan dia kepadamu saja, sanggup?” ungkap Jake.


Silvia sedikit bingung.


“baiklah.” Jawaban Silvia dengan sedikit terpaksa, mungkin Silvia sendiri merasa keberatan.


Jake pun tersenyum, kebetulan Rumah Jake tak jauh dari dia.


Hanya berbeda komplek saja.


Jake pun akhirnya pergi, dengan motor bebeknya. Historia masuk, Silvia memang sahabat dekat dengan Historia. Silvia satu satunya, orang yang mengerti nasib Historia. Silvia adalah sahabat yang rendah hati, tanpa memilih teman atau sahabat, bagi Silvia selama orang itu baik dia akan berteman dengannya.


“His...Kamu tidur di Kamar ibuku saja ya, di samping dapur!” pesan Historia.


“Oh, baiklah.”


“Iya.”


Mereka akhrinya berpisah, mungkin Historia kelelahan dan begitu juga dengan Silvia kelelahan, Mulut mereka sama-sama malas melontarkan kata apa-apa.


Mereka pun istirahat.


Keesokan harinya, seperti biasa. Ini adalah jadwal Historia pergi ke Kampus, Jake sudah stand by depan Rumah Silvia sedang Historia baru saja membuka matanya. Untung Bi Inah, yang tak lain adalah Nenek Silvia sudah memasakkan sayur sop buat Historia dan Silvia, Silvia tampak sudah rapih, bersih, bersiap-siap pergi ke Kampus. Satu fakultas, satu Kampus.


Dalam hati Historia, “tumben sekali, Silvia tak membangunkanku. Ada apa?”


Silvia berjalan melintasi Historia, “Maaf, Aku tidak membangunkanku, karena Kamu baru saja istirahat tadi malam.”


Historia tak perlu bernegatif thinking lagi, Silvia membawa sebaskom sayur sop itu.


“Historia...” tiba-tiba Silvia berteriak di meja makan.


“Iya.”


“Itu pacarmu memanggilmu.” Ucap Silvia bernada keras sambil merapikan piring.


“Oh ya.” Historia merasa tidak enak hati langsung berlari ke Teras Rumah.


Tampang Jake yang sudah elegan, menarik, unik, bersiap untuk


riding harus berbuat bagaimana?


“Jake, kenapa pagi sekali?” tanya Historia depan Jake.

__ADS_1


“Ini lihat!” Jake menunjukkan jam tangan di depan wajah


Historia, Sengaja ingin pamer jam tangan atau tidak itu hanya urusan pikiran Jake.


Kini, Historia terkecut malu, “Astaga, Aku lupa.”


“Oh ya, baik kalau begitu. Aku ganti baju dulu sekarang!”


Historia langsung lari masuk ke dalam minta izin ganti baju. Jake hanya duduk di motor saja tanpa sepatah kata. Tak perlu nakal masuk ke dalam Rumah Silvia. Jika tidak melihat Silvia.


Tak lama Historia keluar Ruangan semerbak bau parfum yang kuat tak seperti biasanya, membuat Jake merasa bingung ada apa dengan gadis ini. Dimulutnya terdapat sepotong roti, sehingga tak mampu berkata sepatah kata, langsung tergesa-gesa naik motor.


Walaupun Dosen tak begitu rajin di hari ini, tapi Historia tetap harus berangkat pagi.


Jake hanya terdiam, motor itu pun berjalan. Historia hanya mengunyah segumpal roti, padahal Silvia sendiri belum berangkat.


Tapi, tak lama Historia tersadar diri. Sepertinya, Jake terlalu kepagian. Apa mungkin Jake mengubah jam di tangannya menjadi lebih cepat. Cukup! Tak perlu merepotkan lagi.


Akhirnya Mereka tiba di Kampus. Suasana masih sepi belukar


tanpa sedikit pengendara melintasi area Kampus.


“tuh, kan. Aku sudah bilang bukannya ini masih pagi.” Gumam


Historia dari belakang Jake.


Jake hanya tertawa, “hehehehe...gak apa-apa, berangkat pagi juga bagus buat kesehatan.”


Motor Jake berhenti di pinggir lapangan samping Kantin, “Ya sudah, Kalau begitu. Aku masuk dulu ya!”


“Kamu mampir saja dulu di Perpustakaan, baca buku biar pintar.” Pesan Jake.


Jake pun tertawa. Akhirnya Mereka berdua berpencar, Jake berjalan ke utara arah tempat jurusan teknik. Sedang, Historia berjalan kearah selatan kearah Gedung ekonomi.


Benar, ternyata kelas memang masih kosong. Historia sengaja melapangkan pikiran, satu sisi mungkin Jake peduli terhadap


kedisiplinan Historia, di sisi lain Historia duduk termenung memikirkan tentang Jake.


Jake adalah lelaki yang baik, perhatian, penuh kasih sayang. Sekalipun untuk awal kali, dia terkesan dingin. Tapi setelah ini, Jake


semakin tampil penuh perhatian. Tapi, Jake bukan tipe lelaki pemilih.


Mungkin karena dirinya memandang Historia sebagai wanita yang


penuh tak terlalu genit. Tapi, Historia sedikit cerewet. Itulah alami.


Jake dan Historia berasal dari nasib yang sama. Historia anak yang ditinggal pergi bapaknya sejak umur 4 tahun, begitu pun juga dengan Jake yang ditinggal di umur yang sama. Semoga dengan latar belakang yang sama, Mereka berdua bisa memperbaiki masa lalu yang gelap itu menjadi sirna.


Siang itu....


Historia berjalan menuju parkiran tempat Jake parkir motor kala pagi itu. Perasaan Historia sedikit geram, karena Jake begitu meninggalkan Historia tanpa seizin dia. Historia sudah kelewat


amarah, tapi mau berbuat apalagi. Historia duduk di pinggir lapang


dikala siang yang panas


“Hai, sayang.” Muncul suara lelaki dari belakang Historia, spontan Historia langsung menolehkan bola matanya kearah belakang.

__ADS_1


Suara itu suara Jake, dengan paras senyum tanpa berdosa


menoleh kearah Historia. Historia termalu-malu memandang wajah


Jake yang ditutup oleh Helm.


“Apa Kamu tahu, Aku bawa apa?” Jake tersenyum senyum sendiri depan Historia.


“Apa?” Historia dengan santainya tak ingin menjawab.


“Jawab dulu pertanyaan!” Jake bersikeras.


“Apa?”


“Kamu tahu Aku bawakan ini.” Jake menunjukkan sebuah bungkus kresek berwarna hitam yang masih menjadi tanda tanya


bagi Historia, Historia tentu masih penasaran dengan apa yang


dibawa Jake.


“Memang itu apa?”


“Ayam geprek.” Jawab Jake.


“Ohhh...” Historia akhirnya tersenyum bahagia.


“Ohh...ohh...” Jake meniru ucapan Historia sambil turun dari motor.


“Perasaan Kamu kemarin janji akan memberikanku bakmi.”


Canda Historia sambil ketawa.


Jake langsung bingung, “hah? Memang pernah?”


Historia masih menahan tawa.


“Kapan Aku bilang begitu?’ Jake sepertinya mulai sedikit tawa Historia akhirnya pecah juga, Historia tertawa lebar


sambil berkata “Enggak kok, Enggak. Aku Cuma bercanda.”


Jake langsung sedikit tersinggung tapi tertawa lagi.


Tertawa dan tak sadar perut Historia sudah mulai bernyanyi, Historia segera membuka kresek hitam itu, dengan nasi dibungkus kotak styrofom, Historia menyantap bersama Jake sebuah ayam geprek di pinggir Lapangan.


Mereka diam tanpa sepatah kata, hanya mulut yang terus


menggoyang kesana kemari mengunyah renyahnya ayam geprek


dengan sambal yang khas berbauu semerbak tajam nan kuat.


Tiba-tiba lontaran mulut Jake mengeluarkan irama juga,


“Sayang, Kamu tahu enggak tempat jual mobil mainan?” sambil menoleh ke Historia di sampingnya.


“hah? Buat siapa?” Historia penasaran.


“Buat Akulah, memang buat siapa? Mobil remot?” tanya Jake lagi sambil mengaduk nasi.

__ADS_1


Historia terdiam sebentar sambil mengunyah nasi, “coba Kamu cari di Toko mainan dekat pusat Kota.” Gumam Historia.


__ADS_2