Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
ini Ceritaku


__ADS_3

Jake menjalani hidup di balik suka dukanya panti asuhan selama 3 tahun. Pada puncaknyalah, Jake berada di kelas 9 SMP.


Saat itu Jake memang gelisah dengan situasi yang mulai berubah, perlahan-lahan sahabatnya selama di Panti Asuhan mulai keluar meninggalkan Panti asuhan. Dan diganti dengan anak-anak kecil yang


memang tak pantas untuk berteman dengan Jake.


Dalam satu kamar hanya terdapat Jake, Robbi, dan Sarip.


Mereka bertiga memang sudah betul-betul tak punya Ayah Ibu alias yatim piatu. Mereka semua tak tahu mau kemana Mereka akan tinggal setelah pergi dari panti asuhan. Walaupun Panti Asuhan


sudah memberikan fasilitas gratis, tapi bukan berarti Mereka harus


bergantung terus dengan panti asuhan.


“Robi, kira-kira habis ini mau cari kontrakan yuk!” ajakan Jake.


“Kamu asal bicara saja, memang kontrakan harganya murah?”


tanya balik Robi.


“Kontrakan itu mahal, satu tahun saja kata teman Aku bisa


sampai 25 juta lho!” tiba-tiba Sarip menyanggah.


“Memang Aku tahu mahal, tapi Apa Kita tak bisa


pertimbangkan cari Kontrakan yang lebih murahkah?” Jake kembali


bersikeras menatap kearah Sarip.


“Kalau mau cari yang murah, memang ada sih. Tapi masalahnya


Kita kan belum punya penghasilan, orang makan saja masih


bergantung dengan uang asrama kok.” Bantah Robi.


“Bagaimana kalau kita buka usaha?” terang Jake.


“Memang Kamu pikir usaha itu tak butuh modal. Semua modal,


Jake. Sedang Kita sendiri tak tahu mau minjam kemana?” Sarip


menyanggah lagi.


“Bagaimana ya?” Jake kehabisan kata dan akhirnya menuju


Ruang Tamu di lantai dasar. Kebetulan kamar Mereka berada di


lantai tiga.


Keesokan harinya, Jake seperti biasa pergi ke Sekolah naik


angkot. Hari ini Jake berangkat lebih pagi, soalnya banyak tugas


belum dia kerjakan, salah satunya IPA. Seperti biasa, Jake harus


berjalan satu kilometer untuk berdiri di depan Gang menunggu


kehadiran mikrolet di depan Rumahnya.


Tak lama mikrolet pun datang, tapi sayangnya Mikrolet itu


penuh sekali sehingga membuat Jake merasa sedikit kecewa. Lalu?


Untuk apa Mikrolet itu berhenti di depan Jake?


Seorang Nenek paruh baya menggenakan jarik turun dengan


membawa sekarung buah, entah apa namanya, tapi Jake mencium


baunya masih khas dengan bau buah yang baru saja matang. Nenek


itu sepertinya sangat kelelahan, beberapa penumpak hendak


menolong Nenek itu, hingga Nenek berhasil turun. Penumpang yang


baru saja berdiri, kini dapat duduk di dalam. Sedang, Jake harus


menanti kedatangan satu mikrolet lagi.


Usai Nenek itu membayar, Nenek itu sempat menyapa Jake.

__ADS_1


Dan, Jake pun balas menyapa dengan senyman ramah. Tapi, satu hal


yang mengganjal ialah Nenek itu membawa karung raksasa yang


begitu berat sekali, bagaimana bisa. Sedang Nenek itu sudah


Entah mengapa, Hati Jake akhirnya terbuka mengingat Nenek


itu mengingatkan pada Nenek Jake yang sudah meninggal beberapa


tahun lalu.


“Nek, boleh dibantu?” Ucap Jake sambil memegang buah.


Nenek itu seperti sangat kelelahan. Dan, terpaksa daripada


menggendong lagi. Akhirnya Nenek it6u dengan senang hati


menajwab “Boleh.”. Jake langsung mengangkat karung itu menuju


Gang seberang.


Jake merasa barang bawaan itu memang berat sekali,


bagaimana dengan Nenek yang dapat memikul barang itu dari Pasar.


“Nek, ini berat sekali. Memang Nenek bisa?” Jake meragukan


Nenek itu.


“Iya, Nak. Tapi mau bagaimana lagi.Ini sudah makanan sehari-


hari Nenek.” Tanggap Nenek itu sambil berjalan di belakang Jake.


“Memang cucu atau anak Nenek kemana, sedang Nenek


ditinggal sendirian begini?” tanya Jake masih penasaran.


Nenek dari belakang menjawab “sejak rebutan harta, semua


anak Nenek gak ada yang mau ngakuin Nenek.” Ucap Nenek sambil


“Lho? Lalu kalau terjadi sesuatu pada Nenek, siapa yang urus


Nenek?” Jake membalikkan wajahnya kearah Nenek.


“Tidak tahu.” Pungkas Nenek itu.


Akhirnya Mereka tiba di Rumah Nenek. Bagi Jake ya sudahlah,


tak perlu memasalahkan terlambat yang penting sduah berbaik hati


untuk Nenek. Paling tidak setiap hari Jake harus belajar berbuat baik


di tengah sikapnya yang pendendam.


Rumah Nenek itu terkesan kecil tapi bersih Ada dua kamar tidur


kosong. Nenek itu seperti rajin sekali, walau tubuhnya sudah


bungkuk. Jake memandang kearah dinding langit Rumah Nenek itu.


“Ya sudah Nek, kalau begitu. Saya pergi dulu ya!” pinta Jake.


“Oh, ya makasih banyak ya, Cucu.” Nenek itu sangat amat


senang. Dan Jake pun keluar Rumah


“Eh Nak.” Tiba-tiba Nenek muncul di belakang Jake sambil


memegang tangan Jake.


“Iya, Nek.” Ucap Jake.


“Mau enggak Kamu tidur disini saja. Mulai sekarang, Nenek


tidak punya teman selama ini.” Keluh Nenek itu.


“Ehhmmm...bolehlah.” tanggap Jake.


Sejak hari itulah, Jake tinggal di Rumah Nenek dengan senang

__ADS_1


hati Jake kini tidak tinggal lagi di Panti Asuhan, nasibnya kini berubah


menjadi cerah usai menjadi cucu dari Nenek itu, menemani Nenek


itu sehari-hari. Jake akhirnya mengurus berkas keluar Panti Asuhan.


Dan, tinggal di tempat yang berjarak satu kilometer dari Panti


Asuhannya.


Walaupun sudah keluar, terkadang Jake juga sering menjenguk


dua temannya yang masih tinggal disitu. Ada Sarip dan Robi, sebagai


bentuk kesetiaan kawannya, Jake terkadang peduli sama teman-


temannya. Hanya saja bedanya, jika hidup di Asrama. Jake akan


terikat banyak peraturan, dimulai malam harus sudah stand by di


Asrama. Tapi, jika ditinggal di Nenek itu Jake bisa kesana kemari,


bahkan beberapa bulan setelah tinggal disitu, Jake bisa bekerja


sebagai penjaga Toko shift malam. Walau penghasilan pas-pasan tapi


bisa mengurangi beban Nenek yang sudah tak berpenghasilan.


Keseharian Nenek memang sama seperti mendiang Nenek Jake,


sering bekerja sebagai asisten Rumah tangga panggilan, dia akan


bekerja mengantarkan anak sekolah, menemani bayi, sampai


membersihkan Rumah.


“Nak, jika Nenek meninggal. Rumah ini buat Kamu saja ya!”


ucap Nenek pada Jake.


“Oh jangan, Nek. Takutnya nanti ada fitnah dari tetangga.”


Bantah Jake.


“Sudah kok, tetangga sudah tahu Kamu baik. Kamu pantas


untuk mewarisi Rumah ini.” Ucap Nenek.


Jake pun senang.


Perlahan-lahan Jake mulai hidup bahagia, memiliki penghasilan


sendiri, sudah memiliki Rumah masa depan, jadi tak perlu luntang-


lantung mencari Rumah kesana-kemari karena Nenek sudah


mewarisi Jake Rumah sendiri. Mungkin Jake bisa mengajak Robi, dan


Sarip untuk tinggal di Rumah Jake beberapa waktu.


Jake mulai menjalani perubahan hidup dalam dirinya, Jake


sudah tak perlu lagi menderita karena nasibnya. Jake sudah memiliki


pekerjaan sejak SMA, bahkan di saat SMA, Jake berhasil beli motor


secara kas berkat kerjanya walaupun butuh waktu lama.


Dan.....


Akhirnya Jake bisa juga menancapkan kaki untuk kuliah di


perguruan tinggi favorite dengan predikat yang bagus, walau hari


demi hari dia jalani dengan lurus-lurus hingga membuahkan pikiran


yang tenang. Jake pun tak mengingatkan keluarganya lagi, walau


setiap hari libur dia menjenguk ke makam kedua orangtuanya.


Jake pun kuliah, Nenek pun masih dalam keadaan sehat. Jake merasa bersyukur masih ada yang mau menemaninya hingga Jake kuliah.

__ADS_1


__ADS_2