
Jake menjalani hidup di balik suka dukanya panti asuhan selama 3 tahun. Pada puncaknyalah, Jake berada di kelas 9 SMP.
Saat itu Jake memang gelisah dengan situasi yang mulai berubah, perlahan-lahan sahabatnya selama di Panti Asuhan mulai keluar meninggalkan Panti asuhan. Dan diganti dengan anak-anak kecil yang
memang tak pantas untuk berteman dengan Jake.
Dalam satu kamar hanya terdapat Jake, Robbi, dan Sarip.
Mereka bertiga memang sudah betul-betul tak punya Ayah Ibu alias yatim piatu. Mereka semua tak tahu mau kemana Mereka akan tinggal setelah pergi dari panti asuhan. Walaupun Panti Asuhan
sudah memberikan fasilitas gratis, tapi bukan berarti Mereka harus
bergantung terus dengan panti asuhan.
“Robi, kira-kira habis ini mau cari kontrakan yuk!” ajakan Jake.
“Kamu asal bicara saja, memang kontrakan harganya murah?”
tanya balik Robi.
“Kontrakan itu mahal, satu tahun saja kata teman Aku bisa
sampai 25 juta lho!” tiba-tiba Sarip menyanggah.
“Memang Aku tahu mahal, tapi Apa Kita tak bisa
pertimbangkan cari Kontrakan yang lebih murahkah?” Jake kembali
bersikeras menatap kearah Sarip.
“Kalau mau cari yang murah, memang ada sih. Tapi masalahnya
Kita kan belum punya penghasilan, orang makan saja masih
bergantung dengan uang asrama kok.” Bantah Robi.
“Bagaimana kalau kita buka usaha?” terang Jake.
“Memang Kamu pikir usaha itu tak butuh modal. Semua modal,
Jake. Sedang Kita sendiri tak tahu mau minjam kemana?” Sarip
menyanggah lagi.
“Bagaimana ya?” Jake kehabisan kata dan akhirnya menuju
Ruang Tamu di lantai dasar. Kebetulan kamar Mereka berada di
lantai tiga.
Keesokan harinya, Jake seperti biasa pergi ke Sekolah naik
angkot. Hari ini Jake berangkat lebih pagi, soalnya banyak tugas
belum dia kerjakan, salah satunya IPA. Seperti biasa, Jake harus
berjalan satu kilometer untuk berdiri di depan Gang menunggu
kehadiran mikrolet di depan Rumahnya.
Tak lama mikrolet pun datang, tapi sayangnya Mikrolet itu
penuh sekali sehingga membuat Jake merasa sedikit kecewa. Lalu?
Untuk apa Mikrolet itu berhenti di depan Jake?
Seorang Nenek paruh baya menggenakan jarik turun dengan
membawa sekarung buah, entah apa namanya, tapi Jake mencium
baunya masih khas dengan bau buah yang baru saja matang. Nenek
itu sepertinya sangat kelelahan, beberapa penumpak hendak
menolong Nenek itu, hingga Nenek berhasil turun. Penumpang yang
baru saja berdiri, kini dapat duduk di dalam. Sedang, Jake harus
menanti kedatangan satu mikrolet lagi.
Usai Nenek itu membayar, Nenek itu sempat menyapa Jake.
__ADS_1
Dan, Jake pun balas menyapa dengan senyman ramah. Tapi, satu hal
yang mengganjal ialah Nenek itu membawa karung raksasa yang
begitu berat sekali, bagaimana bisa. Sedang Nenek itu sudah
Entah mengapa, Hati Jake akhirnya terbuka mengingat Nenek
itu mengingatkan pada Nenek Jake yang sudah meninggal beberapa
tahun lalu.
“Nek, boleh dibantu?” Ucap Jake sambil memegang buah.
Nenek itu seperti sangat kelelahan. Dan, terpaksa daripada
menggendong lagi. Akhirnya Nenek it6u dengan senang hati
menajwab “Boleh.”. Jake langsung mengangkat karung itu menuju
Gang seberang.
Jake merasa barang bawaan itu memang berat sekali,
bagaimana dengan Nenek yang dapat memikul barang itu dari Pasar.
“Nek, ini berat sekali. Memang Nenek bisa?” Jake meragukan
Nenek itu.
“Iya, Nak. Tapi mau bagaimana lagi.Ini sudah makanan sehari-
hari Nenek.” Tanggap Nenek itu sambil berjalan di belakang Jake.
“Memang cucu atau anak Nenek kemana, sedang Nenek
ditinggal sendirian begini?” tanya Jake masih penasaran.
Nenek dari belakang menjawab “sejak rebutan harta, semua
anak Nenek gak ada yang mau ngakuin Nenek.” Ucap Nenek sambil
“Lho? Lalu kalau terjadi sesuatu pada Nenek, siapa yang urus
Nenek?” Jake membalikkan wajahnya kearah Nenek.
“Tidak tahu.” Pungkas Nenek itu.
Akhirnya Mereka tiba di Rumah Nenek. Bagi Jake ya sudahlah,
tak perlu memasalahkan terlambat yang penting sduah berbaik hati
untuk Nenek. Paling tidak setiap hari Jake harus belajar berbuat baik
di tengah sikapnya yang pendendam.
Rumah Nenek itu terkesan kecil tapi bersih Ada dua kamar tidur
kosong. Nenek itu seperti rajin sekali, walau tubuhnya sudah
bungkuk. Jake memandang kearah dinding langit Rumah Nenek itu.
“Ya sudah Nek, kalau begitu. Saya pergi dulu ya!” pinta Jake.
“Oh, ya makasih banyak ya, Cucu.” Nenek itu sangat amat
senang. Dan Jake pun keluar Rumah
“Eh Nak.” Tiba-tiba Nenek muncul di belakang Jake sambil
memegang tangan Jake.
“Iya, Nek.” Ucap Jake.
“Mau enggak Kamu tidur disini saja. Mulai sekarang, Nenek
tidak punya teman selama ini.” Keluh Nenek itu.
“Ehhmmm...bolehlah.” tanggap Jake.
Sejak hari itulah, Jake tinggal di Rumah Nenek dengan senang
__ADS_1
hati Jake kini tidak tinggal lagi di Panti Asuhan, nasibnya kini berubah
menjadi cerah usai menjadi cucu dari Nenek itu, menemani Nenek
itu sehari-hari. Jake akhirnya mengurus berkas keluar Panti Asuhan.
Dan, tinggal di tempat yang berjarak satu kilometer dari Panti
Asuhannya.
Walaupun sudah keluar, terkadang Jake juga sering menjenguk
dua temannya yang masih tinggal disitu. Ada Sarip dan Robi, sebagai
bentuk kesetiaan kawannya, Jake terkadang peduli sama teman-
temannya. Hanya saja bedanya, jika hidup di Asrama. Jake akan
terikat banyak peraturan, dimulai malam harus sudah stand by di
Asrama. Tapi, jika ditinggal di Nenek itu Jake bisa kesana kemari,
bahkan beberapa bulan setelah tinggal disitu, Jake bisa bekerja
sebagai penjaga Toko shift malam. Walau penghasilan pas-pasan tapi
bisa mengurangi beban Nenek yang sudah tak berpenghasilan.
Keseharian Nenek memang sama seperti mendiang Nenek Jake,
sering bekerja sebagai asisten Rumah tangga panggilan, dia akan
bekerja mengantarkan anak sekolah, menemani bayi, sampai
membersihkan Rumah.
“Nak, jika Nenek meninggal. Rumah ini buat Kamu saja ya!”
ucap Nenek pada Jake.
“Oh jangan, Nek. Takutnya nanti ada fitnah dari tetangga.”
Bantah Jake.
“Sudah kok, tetangga sudah tahu Kamu baik. Kamu pantas
untuk mewarisi Rumah ini.” Ucap Nenek.
Jake pun senang.
Perlahan-lahan Jake mulai hidup bahagia, memiliki penghasilan
sendiri, sudah memiliki Rumah masa depan, jadi tak perlu luntang-
lantung mencari Rumah kesana-kemari karena Nenek sudah
mewarisi Jake Rumah sendiri. Mungkin Jake bisa mengajak Robi, dan
Sarip untuk tinggal di Rumah Jake beberapa waktu.
Jake mulai menjalani perubahan hidup dalam dirinya, Jake
sudah tak perlu lagi menderita karena nasibnya. Jake sudah memiliki
pekerjaan sejak SMA, bahkan di saat SMA, Jake berhasil beli motor
secara kas berkat kerjanya walaupun butuh waktu lama.
Dan.....
Akhirnya Jake bisa juga menancapkan kaki untuk kuliah di
perguruan tinggi favorite dengan predikat yang bagus, walau hari
demi hari dia jalani dengan lurus-lurus hingga membuahkan pikiran
yang tenang. Jake pun tak mengingatkan keluarganya lagi, walau
setiap hari libur dia menjenguk ke makam kedua orangtuanya.
Jake pun kuliah, Nenek pun masih dalam keadaan sehat. Jake merasa bersyukur masih ada yang mau menemaninya hingga Jake kuliah.
__ADS_1