
Kini Jake duduk sebagai kelas 1 Sekolah Dasar, aktivitas sehari-
hari ialah bangun pagi, makan disiapkan Nenek, dan berangkat
sendiri dengan mandiri. Hidup Jake hanya menjalani berdua bersama
Neneknya, sumber penghasilan Mereka hanya bergantung dari
pekerjaan freelance Nenek. Sebenarnya, Nenek sudah tak bekerja
sejak Ibu Jake menikah. Tapi, karena Ayah dan Ibu Jake sudah tidak
ada maka, mau tak mau menahan sakit Nenek harus bekerja demi
membiayai seorang anak sebatang kara itu.
Sejak dua tahun kepergian Ayah dan Ibu Jake. Jake menjadi
anak yang selalu mengurung diri, pesimis, ambisius, bahkan sering
terkena bullyan temanya. Meski masih kecil, tapi Jake sudah memiliki
sikap pendendam yang kuat.
Dalam hati Jake, “Aku tak akan pernah mau memaafkan siapa
yang telah membuat orangtua Aku begitu. Aku harus bisa
menemukannya, Dan jika ketahuan maka Aku akan membantainya
sampai ke akar-akar.” Pungkas Jake dalam hati.
Semua Jake lalui sendiri sebagai anak yang mandiri, walau
terkadang mudah baperan, tapi Jake akan terus menjadi anak yang
superior, Jake merasa dirinya mampu merawat dirinya sendiri. Jika
dibandingkan teman-temannya. Jake menjadi sombong, dan
terkadang dibalik ke sombongannya itu membuat dirinya sering
berseteru dengan teman-temannya sendiri.
Bahkan Jake kecil sendiri sering dilaporkan ke Guru Bimbingan
Konseling. Saat itu pula, Nenek harus izin dari kerjaannya demi
menghadapi Jake.
Terkadang Nenek sering merasa sedih sendiri, usianya yang
sudah rentan akan sakit, tubuhnya yang tak lagi perkasa, semakin dipusingkan dengan biaya makan, tagihan listrik, bahkan belum
hutang sana sini, ditambah lagi Jake kecil yang cenderung egois
tinggi. Terkadang Nenek lebih sering mengurung diri di Kamar
merasakan gemerlapnya hidup sebatang kara.
Jake tak pernah mendapat ranking, tapi dia selalu berada di
tengah peringkat. Secara akademis, Jake kecil memang berbakat
dalam ilmu matematika, tapi Jake lemah secara sikap yang
cenderung lebih sering murungkan diri. Nangis tanpa sebab. Jake
kecil merupakan murid kesayangan Ibu Nani selaku Guru kelas satu
SD. Sering sekali Jake kecil menerima uang jajan dari Bu Nani, tapi
bukan hanya Bu Nani. Seluruh guru kompak sering menyumbangkan
dana untuk Jake jajan.
“Jake, bercita-cita ingin jadi apa?” tanya Bu Jessi selaku wali
kelasnya kelas 3.
“Jake ingin menjadi Polisi, Bu.”
“Kenapa ingin menjadi polisi?” tanya Bu Jessi.
“Karena Kalau Jake menjadi Polisi, Jake bisa membunuh orang
yang membunuh orangtua Jake dulu.” sambung Jake dengan emosi.
Bu Jessi langsung memahami, kalau watak Jake akan menjadi
pendendam. Bu Jessi lebih memilih diam untuk masalah ini. Bu Jessi
paham semua sikap Jake sesungguhnya.
Dua tahun kemudian, Jake memasuki kelas 5 SD atau berusia 10
__ADS_1
tahun. Tubuh Jake mulai membesar, tapi sayang karena hidup penuh
pikiran. Jake terlihat kurus, berat badan tidak ideal membuat Jake
terlihat tak memiliki postur tubuh.
Sejak saat itu, Nenek sudah jarang mendapat panggilan kerjaan.
Sering duduk di Ruang Tamu berbaring lemah, wajah semakin keriput, usia pun juga sudah memasuki 70 tahun. Terkadang sering
melihat Jake yang mau berangkat Sekolah, dan pulang Sekolah.
Suatu kali di kala siang hari, langit memang tak panas seperti
biasa. Seluruh awan menutupi matahari jadi terkesan gelap walau
tak akan turun hujan. Nenek terus menatap wajah kearah cucu
semata wayangnya itu. Nenek terus memikirkan, jika mungkin
dirinya tak lagi di samping Jake, Nenek akan menitipkan Jake kepada
mas Wajar. Mas Wajar merupakan adik dari Ibu Jake, tapi dia tinggal
di ujung Kota, dan sering sekali bertikai dengan Nenek usai kepergian
Ibu Jake.
Nenek tak punya pilihan lagi selain menitipkan pada anaknya
yang jauh. Tanpa panjang lebar, Nenek langsung ceritakan semua
pada cucunya.
“Nak, jika Nenek sudah tak lagi bersamamu. Nenek mau kamu
tinggal sama kak Wajar ya.” Pesan Nenek.
Jake sambil mengunyah mie instan kuah, langsung berhenti
melahap.
“Nek, jangan bilang begitu. Hanya Neneklah, yang Jake bisa
percaya.” Keluh Jake.
“Jake, Nenek sudah tua. Nenek sudah tak lagi bisa
mengurusmu, kalau Kamu mau urus Nenek, mungkin bisa. Tapi,
Jake kembali melanjutkan makan mie itu. Jake sepertinya tak
pernah menghiraukan ucapan Nenek, mungkin bagi Jake Nenek
sudah tua, cara bicara pun sudah kembali seperti anak-anak.
Malam itu seperti biasa, Jake terkadang menghabiskan waktu di
Kamar membaca sebuah komik serial one piece, yang sering dia
pinjam dari teman dekatnya, Ageng.
Nenek tengah duduk sendiri di Kamarnya, suasana sepi. Hening
penuh kedamaian, namun tiba-tiba berselang waktu empat menit.
Nafas Nenek seketika tersendat, seperti kemasukan sesuatu. Nenek
langsung mual-mual, entah kenapa.
Batuk tak ada hentinya, Jake pun dari balik Kamar
mendengarnya langsung bergegas menuju kamar Nenek. Jake
merasa hari ini, Nenek tak seperti biasa. Hari ini Nenek lebih banyak
diam mengabaikan cucunya.
Dan....Terrnyata.
Hari ini Nenek aadalah hari terakhir Nenek bersama Jake.
Jake masih sangat kecil, minim pengetahuan. Mau tak mau Jake
harus melapor kembali Pak Kasim. Pak Kasim satu-satunya, orang
yang bisa Jake percaya dari dulu. Meski sudah tidak menjabat
meenjadi RT, tapi tanggung jawab Pak Kasim selaku mantan Ketua RT
tak boleh ditinggalkan.
Dengan nada panik, Jake memanggil Pak Kasim.
“Pak Kasim, Pak Kasim tolong pak!” teriak Jake dengan nada
__ADS_1
panik.
“Iya ada apa?” tanya Pak Kasim.
“Pak, Tolong! Nenek, Nenek....meninggal.” Jake kecil sempat
ketakutan.
“Ahh..masa?”
“Iya. Tolong Pak!”
Pak Kasim menuju Rumah Jake, melihat kondisi Nenek sudah
tak bernyawa. Berakhir sudah hidup masa pengasuhan Jake oleh
Neneknya. Kini Pak Kasim yang harus mengurus semuanya dimulai
pemandian sampai pemakaman Keesokan harinya Kak Wajar
dipanggil ke Rumah dalam rangka menguburkan jenazah ibunya.
Sejak saat itu, Jake akhirnya dibawa Kak Wajar walau dalam
keadaan berat hati, kedua belah pihak sebenarnya tak ingin tinggal
bersama. Apalagi, Nenek sempat berseteru dengan Kak Wajar, Kak
Wajar sendiri bingung dengan semua ini.
Kak Wajar sudah berkeluarga, memiliki 2 orang anak. Satu lelaki dan
satu perempuan. Kak Wajar bekerja sebagai wartawan di salah satu
stasiun berita. Sedang Istrinya adalah penjual Burger kebab, sama-
sama tak menyukai kehadiran Jake.
Jake yang pindah Sekolah, pindah Rumah. Tentu Jake sering
mendapat perlakuan buruk dai Kak Wajar. Sering dilempar pakaian,
dan terkadang Jake sering dberi makanan busuk oleh anak Kak
Wajar, sampai Jake sering difitnah sudah merusak pakaian Kak
Wajar.
Tak betah selama 4 bulan tinggal disana, Jake akhirnya
meminta Kak Wajar untuk membawanya ke Panti Asuhan. Namun,
Jake minta untuk tidak jauh dari Rumahnya, sebab Jake sekarang
sudah kelas enam SD, ditakutkan nanti dia harus menempuh Ujian
Nasional. Oke, akhirnya Kak Wajar menitipkan Jake ke salah satu
Rumah Panti Asuhan yang taat agama dan Ibadah.
Disaat itulah, Jake semakin menaruh kebencian pada siapapun
yang masih ada kaitan saudara, maupun keluarga dari pihak yang
sudah membunuh kedua orangtuanya. Karena ulah pelaku itu, membuat Jake harus kehilangan kasih sayang, hidup Jake merasa
terputus, hidup Jake merasa sia-sia.
Akhirnya, Jake dititipkan di Asrama Yatim piatu. Disana dia
mendapatkan makanan gratis dari para pendonor, dan jika kosong
pendonor. Maka Jake akan mendapat makanan dari Masjid tetangga.
Tapi tak pernah absen pendonor, Asrama itu selalu mendapatkan
bantuan pangan.
Disini, Jake punya banyak teman. Jake menjadi taat beragama,
tapi dia tak bisa melepaskan dendam kepada keluarga pelaku
peledakkan itu. Dia ingin sekali-kali melampiaskan emosinya kepada
keluarga pelaku sekeras apapun. Walaupun pengasuh sudah sering
menceramahi Jake agar Jake mau memaafkan, tapi ternyata sulit
bagi Jake untuk memaafkan.
Jake hanya punya keinginan bisa menemui keluarga pelaku
pembunuhan Ayah Ibunya, dan dia bisa menampar kuat keluarga itu
sampai menderita. Jika Jake sudah melihat keluarga pelaku sudah
__ADS_1
menderita, Jake merasa puas. Itu saja.