Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Rumah Sakit


__ADS_3

“Apa maksud Pelaku ini? Sampai teganya merusaki fasilitas yang


seharus tak perlu dihancurkan?” pasti ada yang bergumam demikian


tapi entah siapa. Semua emosi tersulut, andai sosok pelaku itu


ketahuan mungkin nasibnya akan tamat di tangan warga sendiri, apa


jangan-jangan itu bom bunuh diri.


lima menit kemudian, beberapa pria dengan seragam polisi


lengkap datang dengan beberapa mobil dinasnya, dan sebuah


berkelap-kelip di kepalanya, tak berselang lama hanya butuh satu


menit truk merah mobil damkar datang dengan bawa satu ton


karbon, siap dilemparkan ke bara api yang menyala tepat di


depannya.


Semua masyarakat dalam keadaan panik, jalan mendadak


macet parah, beberapa mobil nekat menerobos kemacetan itu,


menghadirkan empat orang pemuda menggenakan seragam hitam,


bersama seorang wanita terlihat modis, ternyata mereka semua


bertujuan meliput situasi keadaan disana.


Masyarakat kampung belakang Gedung segera mengeluarkan


beberapa barang penting, dan melemparnya ke tengah jalan,


beberapa anak kecil menangis dipelukan ibunya, lebih dari ratusan


mata menyaksikan aksi heroik pemadam kebakaran mengambil satu


persatu korban.


Suka duka penarikan jenazah yang disambut tangisan oleh


setiap keluarga walau bukan bagian dari keluarganya, tapi Mereka


sangat akrab dengan warga sekitar. Ketampanan dan Kecantikan


pegawai sebagai karyawan kini pudar hancur terkena api ganas yang


membakar wajahnya. Semua mati mengenaskan seperti daging disimpan dalam mesin pemanggang, seluruh tubuhnya hitam tak


merupa.


“Kami sudah mengevakuasi 40 orang, Pak.” kata pimpinan


pemadam kebakaran kepada Kepala Polisi setempat.


“Terima kasih. Untuk selanjutkan, Kami akan melakukan


penyelidikan terhadap korban.” Sahut Pak perwira.


“Baik, kalau begitu saya izin pamit dulu.” ucap pimpinan


damkar sembari menyalimi Pak Perwira itu.


“Oke silahkan.”


Hanya butuh waktu 10 menit seluruh petugas damkar berhasil


menemukan 40 puluh korban, dimana masing-masing damkar


berjumlah 55 orang dikerahkan. Sedang pihak kepolisian membantu


damkar sekaligus mengintrogasi semua saksi mata terkait kasus ini.


“Ini masalah besar, pak.” Ujar Polisi muuda dihadapan perwira.


‘ “Betul sekali, ini sudah masalah serius. Tapi, sepertinya ini aksi


bunuh diri.”


“Lalu, bagaimana tindak selanjutnya untuk ini?” polisi muda


kembali bertanya.


“Kita lakukan penyeliidikan terlebih dahulu terhadap para


korban, untuk saat ini beberapa rekanmu sedang menanyakan warga


terkait pelaku.”


“Baik pak.”

__ADS_1


Proses evakuasi berjalan lancar, api cepat dipadamkan hanya


butuh waktu 2,5 jam, jumlah korban yang berhasil ditemukan pada


akhirnya mencapai 350 orang, mengingat banyaknya aktivitas masyarakat dalam gedung Bank itu, bukan hanya karyawan, petugas,


tamu, belum lagi nasabah yang bermasalah.


Jago merah pun tak terlihat lagi usai diguyur oleh masyarakat


dan para damkar, habis total tinggal puing-puing gedung yang kian


hitam merona tak terlihat cantik gedung itu tak seperti waktu


sebelumnya. Jalan pun kembali normal, meski masih sangat padat.


Beberapa petugas kepolisian terpaksa mengatur jalan yang


seharusnya tak perlu diatur di hari biasa.


Dua puluh armada ambulans dari gabungan beberapa Rumah


Sakit negeri dan swasta bersatu mengantarkan semua jenazah


menuju Rumah sakit untuk diautopsi sebelum dimakamkan. Dengan


cepat, seluruh jenazah diberangkatkan menuju Rumah Sakit.


Ada empat Rumah sakit dipakai menampung korban ledakkan,


salah satunya adalah Rumah Sakit daerah yang paling banyak


menampung korban. Ayah dan Ibu Jake pun dibawa kesana. Karena


Jenazah tak mungkin bisa hidup lagi, pihak Dokter hanya


menggeledah pakaian semua korban, mungkin masih ada ktp yang


utuh, untuk bisa diserahkan ke pihak kepolisian.


Waktu menunjukkan dini hari, pukul 1 malam. Suara telepon


berdering di Rumah Pak Kasim, selaku RT di Perumahan Jake tinggal.


Pak Kasim satu-satunya, orang yang memiliki pesawat telepon di


kampung itu, maka diutus oleh rakyatnya sendiri untuk menjabat


sebagai ketua RT.


seorang suster.


“Betul, ini dengan siapa dimana?” Pak Kasim dengan paras


mengantuk. Istri Pak Kasim mengintip dari balik pintu, merasa aneh


baru-baru ini ada panggilan misterius.


“Kami dari pihak Rumah Sakit, hanya ingin memberitahukan


bahwa ayah dan Ibu Jake telah meninggal dunia akibat ledakkan.


“Hah?memang ada apa?” Pak Kasim kaget.


Pak Kasim langsung kaget, suara telepon yang cukup keras


mampu merambah sampai ke telinga istri Pak Kasim yang turut kaget


dengan ucapan itu. Tak menyangka akan terjadi peristiwa seperti itu.


“Sekarang, Kami minta Bapak atau pihak keluarga korban untuk


menjenguk korban sekarang juga, untuk meminta keterangan lebih


lanjut lagi dari korban!”


“Baik, dok...Eh, salah. Sus. Kami akan segera kesana.” Ucap Pak


Kasim.


“Baik, pak. Terima kasih. Kami tunggu!”


“Siap sama-sama.”


Mendengar itu, Pak Kasim merasa kaget. Mengingat Rumah Pak


Kasim sendiri tak ada TV, ketinggalan informasi, mau tak mau Pak


Kasim harus mencari tahu kasus semua yang sudah terjadi. Walau


Pak Kasim baru saja terlentang di atas kasur bersama istri kurang dari


2 jam, kini sudah harus berjalan cepat menuju Rumah Sakit.

__ADS_1


TV tak punya, tapi mobil punya. Pak Kasim punya satu mobil


Jimmy yang biasa dia gunakan untuk pergi kerja sebagai pegawai


negeri. Sebelum pergi, Pak Kasim mengetuk pintu ke Rumah Jake


bersama Neneknya, kebetulan sudah dini hari, udara sejuk dingin,


damai, tapi hati Pak Kasim merasa cemas.


“Permisi, Bu.” Teriak Pak Kasim dari depan pintu, Rumah Jake


tak berpagar.


Hingga lima kali dipanggil barulah, Nenek Jake keluar.


Kebetulan Nenek Jake sudah tua, sering merasa kesulitan tidur.


“Ada apa?”


“Pak RT?” lanjutnya.


“Ibu, bisa ke ikut ke Rumah Sakit sekarang enggak?”


“Memang kenapa?”


“Anak Ibu masuk Rumah Sakit.” Ucap Pak Kasim agak takut,


takut Nenek pingsan.


“Hah? Bagaimana bisa?”


“Barusan, Aku dapat berita kalau anak ibu masuk Rumah Sakit.”


Nenek dengan panik langsung berjalan sekuat-kuatnya menuju


kamar membangunkan cucunya, Jake. Pak RT terus mengontrol, Jake


jangan sampai nenek pingsan mendengar berita ini. Hati Pak RT


merasa sedikit tergoyah ketika berbicara dengan Nenek.


“Jake, Jake. Bangun nak!” Nenek mengusap kuat-kuat ke dada


Jake.


Jake langsung menyeretkan alis mata ke bawah, tanda marah.


“Gak mau, Nek.” Jake tahu itu suara neneknya walau bola


matanya tertutup.


Nenek tak bisa membohongi keadaan, dengan ucapan jujur


nada kepanikan, langsung bilang “Ayah-Ibumu di Rumah Sakit.”


Jake terbangun kaget, kedua bola matanya melotot lurus. Jake


langsung duduk sambil menahan nangis.


“Apa benar Nek?” tanya Jake.


“Iya, Nenek gak bohong.”


“Ayo sekarang mandi, ganti baju, Kita Ke Rumah Sakit bersama


Pak RT.”


Jake langsung turun ikut anjuran Nenek, sedang Pak RT duduk


santai memikirkan apa reaksi Jake jika tahu kedua orangtuanya


sudah mati.


Tak butuh waktu lama, hanya memakan dua belas menit,


akhirnya Jake dan Neneknya berdiri di depan pintu Ruang tamu. Pak


Kasim selaku Pak RT merasa berat hati mengucap, walau nantinya dia


tahu kalau Jake akan menangis hebat disana.


Pak Kasim telah membayangkan ibarat seekor sapi yang


tersedih menanti penyembelihannya di hadapan Jake. Tapi, terus


terang Pak Kasim ingin tahu bagaimana ini semua bisa terjadi?


“Sudah siap?” Pak RT berdiri menatap lesu dihadapan Nenek


dan Jake.


“Sudah, Pak. Ayo jalan!”

__ADS_1


Mereka bertiga ke Rumah Pak Kasim dulu untuk mengambil


mobil.


__ADS_2