
“Apa maksud Pelaku ini? Sampai teganya merusaki fasilitas yang
seharus tak perlu dihancurkan?” pasti ada yang bergumam demikian
tapi entah siapa. Semua emosi tersulut, andai sosok pelaku itu
ketahuan mungkin nasibnya akan tamat di tangan warga sendiri, apa
jangan-jangan itu bom bunuh diri.
lima menit kemudian, beberapa pria dengan seragam polisi
lengkap datang dengan beberapa mobil dinasnya, dan sebuah
berkelap-kelip di kepalanya, tak berselang lama hanya butuh satu
menit truk merah mobil damkar datang dengan bawa satu ton
karbon, siap dilemparkan ke bara api yang menyala tepat di
depannya.
Semua masyarakat dalam keadaan panik, jalan mendadak
macet parah, beberapa mobil nekat menerobos kemacetan itu,
menghadirkan empat orang pemuda menggenakan seragam hitam,
bersama seorang wanita terlihat modis, ternyata mereka semua
bertujuan meliput situasi keadaan disana.
Masyarakat kampung belakang Gedung segera mengeluarkan
beberapa barang penting, dan melemparnya ke tengah jalan,
beberapa anak kecil menangis dipelukan ibunya, lebih dari ratusan
mata menyaksikan aksi heroik pemadam kebakaran mengambil satu
persatu korban.
Suka duka penarikan jenazah yang disambut tangisan oleh
setiap keluarga walau bukan bagian dari keluarganya, tapi Mereka
sangat akrab dengan warga sekitar. Ketampanan dan Kecantikan
pegawai sebagai karyawan kini pudar hancur terkena api ganas yang
membakar wajahnya. Semua mati mengenaskan seperti daging disimpan dalam mesin pemanggang, seluruh tubuhnya hitam tak
merupa.
“Kami sudah mengevakuasi 40 orang, Pak.” kata pimpinan
pemadam kebakaran kepada Kepala Polisi setempat.
“Terima kasih. Untuk selanjutkan, Kami akan melakukan
penyelidikan terhadap korban.” Sahut Pak perwira.
“Baik, kalau begitu saya izin pamit dulu.” ucap pimpinan
damkar sembari menyalimi Pak Perwira itu.
“Oke silahkan.”
Hanya butuh waktu 10 menit seluruh petugas damkar berhasil
menemukan 40 puluh korban, dimana masing-masing damkar
berjumlah 55 orang dikerahkan. Sedang pihak kepolisian membantu
damkar sekaligus mengintrogasi semua saksi mata terkait kasus ini.
“Ini masalah besar, pak.” Ujar Polisi muuda dihadapan perwira.
‘ “Betul sekali, ini sudah masalah serius. Tapi, sepertinya ini aksi
bunuh diri.”
“Lalu, bagaimana tindak selanjutnya untuk ini?” polisi muda
kembali bertanya.
“Kita lakukan penyeliidikan terlebih dahulu terhadap para
korban, untuk saat ini beberapa rekanmu sedang menanyakan warga
terkait pelaku.”
“Baik pak.”
__ADS_1
Proses evakuasi berjalan lancar, api cepat dipadamkan hanya
butuh waktu 2,5 jam, jumlah korban yang berhasil ditemukan pada
akhirnya mencapai 350 orang, mengingat banyaknya aktivitas masyarakat dalam gedung Bank itu, bukan hanya karyawan, petugas,
tamu, belum lagi nasabah yang bermasalah.
Jago merah pun tak terlihat lagi usai diguyur oleh masyarakat
dan para damkar, habis total tinggal puing-puing gedung yang kian
hitam merona tak terlihat cantik gedung itu tak seperti waktu
sebelumnya. Jalan pun kembali normal, meski masih sangat padat.
Beberapa petugas kepolisian terpaksa mengatur jalan yang
seharusnya tak perlu diatur di hari biasa.
Dua puluh armada ambulans dari gabungan beberapa Rumah
Sakit negeri dan swasta bersatu mengantarkan semua jenazah
menuju Rumah sakit untuk diautopsi sebelum dimakamkan. Dengan
cepat, seluruh jenazah diberangkatkan menuju Rumah Sakit.
Ada empat Rumah sakit dipakai menampung korban ledakkan,
salah satunya adalah Rumah Sakit daerah yang paling banyak
menampung korban. Ayah dan Ibu Jake pun dibawa kesana. Karena
Jenazah tak mungkin bisa hidup lagi, pihak Dokter hanya
menggeledah pakaian semua korban, mungkin masih ada ktp yang
utuh, untuk bisa diserahkan ke pihak kepolisian.
Waktu menunjukkan dini hari, pukul 1 malam. Suara telepon
berdering di Rumah Pak Kasim, selaku RT di Perumahan Jake tinggal.
Pak Kasim satu-satunya, orang yang memiliki pesawat telepon di
kampung itu, maka diutus oleh rakyatnya sendiri untuk menjabat
sebagai ketua RT.
seorang suster.
“Betul, ini dengan siapa dimana?” Pak Kasim dengan paras
mengantuk. Istri Pak Kasim mengintip dari balik pintu, merasa aneh
baru-baru ini ada panggilan misterius.
“Kami dari pihak Rumah Sakit, hanya ingin memberitahukan
bahwa ayah dan Ibu Jake telah meninggal dunia akibat ledakkan.
“Hah?memang ada apa?” Pak Kasim kaget.
Pak Kasim langsung kaget, suara telepon yang cukup keras
mampu merambah sampai ke telinga istri Pak Kasim yang turut kaget
dengan ucapan itu. Tak menyangka akan terjadi peristiwa seperti itu.
“Sekarang, Kami minta Bapak atau pihak keluarga korban untuk
menjenguk korban sekarang juga, untuk meminta keterangan lebih
lanjut lagi dari korban!”
“Baik, dok...Eh, salah. Sus. Kami akan segera kesana.” Ucap Pak
Kasim.
“Baik, pak. Terima kasih. Kami tunggu!”
“Siap sama-sama.”
Mendengar itu, Pak Kasim merasa kaget. Mengingat Rumah Pak
Kasim sendiri tak ada TV, ketinggalan informasi, mau tak mau Pak
Kasim harus mencari tahu kasus semua yang sudah terjadi. Walau
Pak Kasim baru saja terlentang di atas kasur bersama istri kurang dari
2 jam, kini sudah harus berjalan cepat menuju Rumah Sakit.
__ADS_1
TV tak punya, tapi mobil punya. Pak Kasim punya satu mobil
Jimmy yang biasa dia gunakan untuk pergi kerja sebagai pegawai
negeri. Sebelum pergi, Pak Kasim mengetuk pintu ke Rumah Jake
bersama Neneknya, kebetulan sudah dini hari, udara sejuk dingin,
damai, tapi hati Pak Kasim merasa cemas.
“Permisi, Bu.” Teriak Pak Kasim dari depan pintu, Rumah Jake
tak berpagar.
Hingga lima kali dipanggil barulah, Nenek Jake keluar.
Kebetulan Nenek Jake sudah tua, sering merasa kesulitan tidur.
“Ada apa?”
“Pak RT?” lanjutnya.
“Ibu, bisa ke ikut ke Rumah Sakit sekarang enggak?”
“Memang kenapa?”
“Anak Ibu masuk Rumah Sakit.” Ucap Pak Kasim agak takut,
takut Nenek pingsan.
“Hah? Bagaimana bisa?”
“Barusan, Aku dapat berita kalau anak ibu masuk Rumah Sakit.”
Nenek dengan panik langsung berjalan sekuat-kuatnya menuju
kamar membangunkan cucunya, Jake. Pak RT terus mengontrol, Jake
jangan sampai nenek pingsan mendengar berita ini. Hati Pak RT
merasa sedikit tergoyah ketika berbicara dengan Nenek.
“Jake, Jake. Bangun nak!” Nenek mengusap kuat-kuat ke dada
Jake.
Jake langsung menyeretkan alis mata ke bawah, tanda marah.
“Gak mau, Nek.” Jake tahu itu suara neneknya walau bola
matanya tertutup.
Nenek tak bisa membohongi keadaan, dengan ucapan jujur
nada kepanikan, langsung bilang “Ayah-Ibumu di Rumah Sakit.”
Jake terbangun kaget, kedua bola matanya melotot lurus. Jake
langsung duduk sambil menahan nangis.
“Apa benar Nek?” tanya Jake.
“Iya, Nenek gak bohong.”
“Ayo sekarang mandi, ganti baju, Kita Ke Rumah Sakit bersama
Pak RT.”
Jake langsung turun ikut anjuran Nenek, sedang Pak RT duduk
santai memikirkan apa reaksi Jake jika tahu kedua orangtuanya
sudah mati.
Tak butuh waktu lama, hanya memakan dua belas menit,
akhirnya Jake dan Neneknya berdiri di depan pintu Ruang tamu. Pak
Kasim selaku Pak RT merasa berat hati mengucap, walau nantinya dia
tahu kalau Jake akan menangis hebat disana.
Pak Kasim telah membayangkan ibarat seekor sapi yang
tersedih menanti penyembelihannya di hadapan Jake. Tapi, terus
terang Pak Kasim ingin tahu bagaimana ini semua bisa terjadi?
“Sudah siap?” Pak RT berdiri menatap lesu dihadapan Nenek
dan Jake.
“Sudah, Pak. Ayo jalan!”
__ADS_1
Mereka bertiga ke Rumah Pak Kasim dulu untuk mengambil
mobil.