
...Selamat Membaca...
Historia terus mual-mual tak tertahankan dengan menutup
mulutnya dengan telapak tangan berulangkali. Jake pun akhirnya
merasa penasaran dengan Historia.
“Kamu kenapa kelihatan begitu? Sakit ya?” tanya Jake.
Sebenarnya, Historia itu mengidap penyakit Maag yang sudah
lebih dari 4 tahun, ini sebabnya dia selalu stres hingga mudah
terserang penyakit lambung itu. Historia sering mudah lapar, sakit
perut, mual, bahkan pusing.
“Ya sudah kalau mau Aku belikan di depan maukah?” tawar
Jake.
“Tidak, antarkan Aku pulang saja!” pungkasnya.
“Sudah makan dulu disini sebentar, Aku temani.” Tawar Jake.
Historia semakin perasaan, dengan keadaan berat pun daripada
sakit akhirnya Historia menerima tawaran itu. Jake langsung bergegas beranjak pergi dari situ untuk membeli mie di depan.
Historia duduk manis dengan mengangkat kedua kaki, menatap
kearah aliran sungai yang terus melaju, dan pantulan bulan di balik
air yang menyinari indahnya malam yang kemarau.
Hanya butuh 15 menit, karena antri akhirnya Jake datang
dengan sekantung kresek dengan ukuran besar, dan sebuah piring
plastik sekali pakai ialah, menghampiri Historia yang tengah duduk
menatapnya dari samping
“Ini makanmu.” Sambil menunjukkan kresek itu.
Jake membuka bungkusnya, menuangkan mie itu ke dalam
piring, Historia merasa berterima kasih walaupun kenyataannya
Historia sendiri merasa aneh dengan Jake yang seharusnya tak perlu
bungkus kresek. Jake memang terlihat orang yang terlalu rumit untuk
dinilai.
“Kenapa Kamu lihat Aku kayak begitu?” tanya Jake sambil
menatap wajah Historia.
“Enggak, Enggak apa-apa.” pungkasnya.
“Okelah kalau begitu.” Jake melanjutkan lagi menaruh sambal
tomat merah yang meragukan dengan warnanya.
“Ini, makanmu. Mau Aku suapkan?” Jake mengangkat piring itu
mengarahkan ke mulut Historia. Tapi, Historia sendiri merasa risih,
dan malu takut akan dilihat orang.
“Enggak, biar Aku yang makan sendiri.” Tolak Historia.
“Sudahlah, Ayo makan sini Aku suapkan.” Sendok itu mendarat
di mulut Historia dengan bantuan tangan Jake. Historia dengan
terpaksa pun mau membuka mulutnya perlahan.
Meski merasa nyaman disamping Jake, tapi pikiran Historia
terasa menggebu-gebu ingin segera pulang. Maklumlah sebagai anak
rumahan yang tak pernah mengenali indahnya dunia remaja,
Historia merasa berat apabila berlama-lama di tempat yang masih
__ADS_1
asing baginya.
Mulut Hisotira mengunyah, “Maaf, Jake. Bukannya Aku
menolak tawaranmu. Ini sepertinya sudah larut malam, apa perlu
Kita pulang saja.” Bantah Historia ketika suapan ke 13 itu
menghampiri mulut Historia.
Jake sepertinya mulai sadar waktu itu mulai larut malam,
wanita Rumahan seperti Historia memang harusnya pulang sebelum waktunya, dikhawatirkan itu akan menjadi problematikan bagi
mental Historia.
“Lalu, bagaimana dengan mie goreng ini yang belum habis?”
keluh Jake.
“Sudah kuhabiskan dulu, nanti baru Kita jalan!” balas Historia.
Jake kembali menyuapkan mie ke mulut Historia.
Usai makan dengan cepat, waktu sudah masuk pukul 10 malam.
Demi mencegah terjadinya pencurigaan dari orangtua, Historia
kembali bangkit dengan perut kenyang dan mata setengah kantuk,
kembali ke parkiran segera pulang. Jake melangkah lebih dulu
dibanding Historia yang kekenyangan meski rasa mual dan pusing
masih ada tapi sudah mulai berkurang.
Akhirnya, Mereka tiba di Motor milik Jake. Historia seakan lupa
dengan warna motor Jake, Historia salah menaiki motor hingga Jake
menegurnya untuk cepat menggunakan helm. Mulut Historia sambil
menahan malu tertawa pendek, walau tak ada orang di sekitar situ.
Hanya lampu jalan yang menjulang tinggi saja yang membuat
Historia merasa lega sedikit dengan penerangan tempat sekitar
“Kapan-kapan Ayo Kita buat cerita tentang pengalaman Kita di
Taman ini lagi ya!” seruan Jake.
“Boleh, mau Kapan?”
“Terserah.”
Historia sedikit gelitik, berasumsikan kalau Jake ini orangnya
cuek tapi enak diajak bercanda, dan sedikit konyol tanpa ketegasan sedikitpun. Lanjut, Historia langsung memakai helm itu, dan duduk di
belakang Jake tanppa perlu pegang memegang, Mereka bukan pacaran tapi lebih sekedar dari teman.
Historia lebih memilih membungkam mulut daripada harus
berbicara panjang lebar dengan sosok manusia introvert, Jake.
Dan
lebih nyaman bersandar di balik punggung Jake merasakan
lembutnya Jaket kulit yang berkain tipis, tetapi bau akan rokok.
Memang Jake suka merokok, kalau Historia jadian dengan Jake
mungkin, hidup Historia akan dipenuhi bau rokok terus, ujarnya
dalam hati.
Angin pun tak dihiraukan, kesegaran angin biarlah menabrak
tubuh Jake tanpa perlu diresapi. Historia takut masuk angin atau
muntah, soalnya dia baru saja menghabiskan satu bungkus Mie
goreng, maka dari itu dia Cuma butuh istirahat dari balik punggung.
“Kamu jangan tiduran begitu!” mendadak titah Jake muncul.
__ADS_1
Historia langsung melotot, dan melepaskan pelukannya.
“Nanti kalau terjadi sesuatu denganku, Aku gak tahu ya!” Jake
kembali mendingin, sepertinya Jake memiliki sikap bipolar, yang
mudah berubah tergantung keadaan.
Historia tak mau berdebat lagi, sudah lemah, letih, capek,
mengantuk, hanya perlu mengamini ucapan Jake saja. Kedua
tangannya menyentuh ke belakang besi, dan memegangnya dengan
kuat.
Jake kembali fokus mengendarai motor itu, Historia berusaha
untuk tidur ayam yang hanya butuh waktu beberapa menit saja.
Dengan bantuan dorongan Angin yang membuat Historia perlahan
memejamkan mata dan Jake lagi membangkitkan suasana, Jake berkata “besok
tunggu Aku di Perpustakaan ya!” ucapnya tanpa main-main.
Sudah dikatakan, Historia sedang malas untuk berdebat,
percuma memberikan seribu kata untuk Historia. Tapi selama Historia malas berdebat maka dirinya pula akan malas.
“Dimana?” tanya Historia.
“Di Perpustakaan Fakultas Hukum.”
“Baik.”
Suasana kembali hening tanpa ucapan sedikitpun, hingga
akhirnya tiba di Rumah Historia. Semua lampu sudah dimatikan, tak terdengar lagi suara Ruben si anak kecil itu, artinya Bunda Evan
dengan Ruben sudah tidur.
“Jake, Makasih banyak ya sudah merepotkanmu beberapa
waktu ini! Tapi, Aku janji akan membantumu sewaktu-waktu. Sekali
lagi maaf ya!” ucap Historia.
“Iya tak masalah.”
“Oke kalau begitu, Aku pamit dulu ya!”
“Hati-hati.”
Jake memundurkan motornya dan memutar balik. Suara motor
Jake memang dibilang berisik. Bunda Evan langsung terbangun lagi,
berkat suara motor itu, Bunda Evan akhirnya membukakan pintu
Rumah, andai saja Bunda Evan membiarkan mungkin proses akan lama. Tapi sayang, Bunda Evan langsung menyambutnya dengan
amarah.
Historia menyadarinya semua perbuatannya memang sudah
membuat Bunda Evan cemas, tanpa basa-basi. Evan langsung berlutut di Kaki Ibunda tercintanya, meminta maaf sambil menangis
sedikit akan nasibnya,
Bunda Evan menarik nafas dalam-dalam. Dan mengelus rambut
puterinya,
“Kamu, Saya maafkan. Lain kali apabila ingin keluar wajib
beritahu Ibumu dulu ya!” ucap Bunda dengan nada lembut.
“Baik bu.” Historia sambil berlutut di kaki Ibunya.
“Ya sudah sekarang, Kamu cuci muka habis itu tidur.”
Historia menarik nafas dalam-dalam, berjalan menuju Kamar
mandi.
Melwankan rasa takutnya yang selama ini tak berani pergi ke
__ADS_1
Kamar mandi sendirian, kini harus lebih berani.
Yuk tunggu Next Chapternya