
anji Ayah-Ibu pada Jake sepertinya gagal dicapai, bahkan tak
akan pernah tercapai sampai kapanpun. Jake dan Nenek terus
berdoa supaya anak dan mantunya dalam keadaan baik-baik saja.
Walau tidak tahu kalau kedua orang tua Jake sudah...Yasallam.
Akhirnya Mereka tiba di Rumah Sakit, Pak Kasim sendiri tak
menyangka kenapa Rumah sakit bisa seramai ini, seluruh area parkir
padat, seorang pria dengan jaket kumal dan mata setengah lelap,
terus berdiri di depan Pak Kasim memberikan arahan dari sebuah
tangan untuk segera parkir.
Pria ini tampaknya lelah atau mungkin bukan ahli parkir. Pria ini
ternyata adalah seorang perawat yang ditugaskan sementara pihak
Rumah Sakitt untuk jadi tukang parkir, mengingat Parkir dalam
keadaan membludak malam itu. Nyaris, Pak Kasim kehilangan
tempat parki, karena saking penuhnya tempat itu.
“Up.” Teriak pria itu.
Pak Kasim, Nenek, dan Jake. Akhirnya turun dari mobil, berlari
menuju Ruang IGD, tukang parkir terus memandang Mereka, usai
wajah Pak Kasim terlihat tak bersahabat dengan Tukang parkir itu.
Bagaimana tidak kesal Pak Kasim, Tukang Parkir itu sendiri memberi
arahan ngawur semua.
Tanpa panjang lebar, segera berlari menuju Ruang IGD, Pak
Kasim berjalan duluan, Nenek dan Jake berjalan tepat di
belakangnya. Karena Nenek sudah cukup sepuh, dan cara
berjalannya pun sudah tertatih, sedang Jake terus memegang tangan
Nenek yang sudah tak bisa berjalan lagi seperti manusia muda
lainnya.
Suasana IGD itu tak seperti biasanya, tampak ramai bagai Pasar
Malam, seluruh penjuru dipenuhi kumpulan manuia mengisak
tangisan, Jake yang masih polos hanya menyadari kalau Rumah Sakit
itu ramai, walau sesungguhnya Nenek Jake sendiri sudah tak akan
beroptimis kalau anak dan mantunya masih ada.
“Dok, kenapa bisa begini dok?” teriak menangis seorang wanita
bersama suaminya usai berjalan dari sebuah lorong, semua mata
tertuju kearah teriakan wanita itu. Seluruh wajah wanita itu merah
merona, sedang paras lelaki bersamanya yang tak lain adalah
suaminya mungkin sudah merasa tegar akan kehilangannya.
Nenek terus melirik kanan kiri kearah keluarga pasien yang
memenuhi ruangan, seluruh mata Mereka memerah merona, tanda
tak kuasa melihat situasinya. Disitu, Nenek sudah tak yakin kalau
kedua orang tua Jake masih hidup.
Pak Kasim akhirnya berlari menemui dokter. Padahal Dokter
sedang dikerumuni banyak orang.
“Permisi, Permisi.” Ucap Pak Kasim menggeser badan keluarga
pasien, Mereka langsung geram.
“Pak, seluruh korban dimana ya pak?” tanya Pak Kasim.
“Kami sekarang sudah menaruh semua pasien di Ruang balai
jenazah.” Balas Pak Dokter.
Selama ini Pak Kasim hanya tahu Ruang Jenazah biasa, tak
mendengar istillah balai. Tapi ternyata setelah dipikir ulang, ada kata
balai sebagai bentuk tempat itu lebih padat dari biasa.
Dokter itu meninggalkan semua pasien yang meliputnya
__ADS_1
menuju Ruang Dokter, sambil mengebas rambutnya pertanda sangat
lelah dengan tugasnya yang pada akhirnya Pak Kasim kembali mencari keberadaan Nenek dan Jake yang berdiri di depan pintu masuk IGD, Pak Kasim segera berjalan kearah
Mereka berdua walau pandangannya sedikit tertutup oleh keramaian
keluarga pasien.
“Ayo ikut saya!” tiba-tiba Pak Kasim muncul di hadapan Jake
dan Nenek, segera mengambil tangan Jake dan membawa lari ke
dalam lorong jenazah.
Beberapa pria berpapasan dengan Pak Kasim menggunakan
celemek hijau, dan seluruh mulutnya di tutup oleh masker. Tak
segan-segan Pak Kasim langsung menghadapkan Mereka yang
tengah berjalan kembali menuju meja utama.
“Kak, mau tanya. Apa ada pasien yang masih hidup?” tanya Pak
Kasim.
“Tidak ada, semua sudah meninggal. Silahkan bapak lihat di
Kamar Jenazah, tapi dimohon untuk tidak berisik.” Ucap Pria itu
dengan gelagat ramah sambil menunjukkan tangan kanannya kearah
pintu ujung lorong yang berbatasan dengan Taman Rumah Sakit.
“Baik, Kak. Terima kasih.” Ujar Pak Kasim sudah sering
mengunjungi Rumah Sakit, jadi semua Ruangan mungkin Pak Kasim
pun tahu.
Pak Kasim kembali berlari sambil menarik tangan Jake yang
mungil, dan meninggalkan Nenek melangkah sendiri. Suasana Rumah
Sakit memang masih ramai walau waktu sudah masuk pukul jam 2
pagi. Semua manusia disitu seakan-akan memaksakan untuk terus
menyalakan bola matanya agar tak kantuk.
Perasaan Pak Kasim tiba-tiba tersendat, merasa ada keberatan
menuju kamar jenazah.
“Mohon bersabar, saudara-saudara. Saat ini Kami masih
mengindentifikasi satu persatu jenazahnya, berhubung ini banyak
sekali, kami mohon untuk tidiak memenuhi area Ruangan. Mungkin
sebagian berada di Lantai atas, silahkan saudara-saudara cek disana.”
Ungkap petugas yang berusaha menghalau semua keluarga pasien.
Dengan berisiknya, keluarga pasien sendiri merasa keberatan
ucap mendengar keluhan Petugas. Banyak keluarga nekat masuk,
dan akhirnya menjadi pintu terbuka bagi Pak Kasim, Jake, dan Nenek
untuk mencari Ayah Ibu Jake.
Kamar Jenazah itu memang luas, dan panjang. Sengaja
anggaran dikeluarkan oleh pemerintah untuk membuat Ruangan
Jenazah yang lebar guna mencegah kekurangan apabila terjadi
ledakkan pasien. Satu-satunya Rumah Sakit yang memiliki Kamar
Jenazah sebesar Ruangan Aula hanyalah Rumah Sakit daerah yang
dikelola Pemerintah itu sendiri.
Semua pasien terisak menangis meneteskan puluhan air mata,
mengalir di seluruh kain yang menuutupi tubuh pasien. Tak
menyangka, perpisahan itu adalah perpisahan terakhir. Yang
pastinya, Mereka adalah keluarga karyawan ataupun nasabah yang
berada di Bank itu.
Ada jenazah yang kepalanya terpisah dari badannya, ada
jenazah yang hilang kaki dan tangannya, ada pula jenazah yang
mukanya gosong tak terlihat lagi, suasana isak tangis langsung
meramaikan Ruang Jenazah. Seluruh jenazah 50 persen sudah
__ADS_1
dikenali lewat identitas yang tersimpan dipakaiannya, beruntungnya
Ayah dan Ibu Jake berhasil ditemukan usai Pak Kasim membuka satu persatu kain itu melihat sepasang kekasih suami istri yang wajahnya
sudah gosong tak terbentuk lagi, ketampanan Ayah telah hilang, dan
Kecantikan Ibu pun sudah tak terbayang. Melihat itu Pak Kasim
langsung tak berdaya turun melemah, Nenek dan Jake melihat Pak
Kasim sudah tak mampu kuasa melihatnya, segera Nenek dan Jake
mendekati Pak Kasim tepat duduk di tengah-tengah Keranda Ayah
dan Ibu Jake.
“Pak Kasim, bagaimana Pak?” tanya Nenek.
Pak Kasim menjerit tangis tanpa menjawab apa kata Nenek,
Nenek pun akhirnya menoleh kearah ke kanan dan ke kiri. Tubuh
Nenek Jake langsung membeku seketika, semua terasa seperti
terkena peluru yang tembus ke tubuh, tak berdaya lagi, darah pun
juga tak kuasa mengalir lagi ke seluruh tubuh, kondisi tubuh Nenek
yang sudah lemah dibuat tambah lemah lagi.
Melihat Anak dan Mantunya, dalam keadaan muka yang hancur
parah, dengan bentuk tengkorak terlihat keluar pada wajah Ayah,
sedang Ibu tak terlihat lagi wujudnya. Seluruh tubuhnya telah gosong
baik Ayah dan Ibu langsung membuat Nenek harus menutup mata
Jake yang polos.
Tapi Jake tidak bodoh, Jake melihat itu langsung hingga
membuat menjerit lebih kuat dari keluarga Pasien yang lain. Semua
keluarga pasien, berhenti terisak hanya menatap wajah Jake yangg
menangis kuat.
“Hahhhhhhhh.....” Jake meneriak sangat kencang hingga tepat
di Ruang lobby pun terdengar kuat teriakan Jake.
“Ayyaahhhh.....Ibu......” teriak Jake.
Pak Kasim yang sebenarnya sedang menangis pun harus
bangkit membawa Jake keluar Ruangan secepat tenaga, sedang kupingnya harus menerima teriakan kuat dari Jake yang tak ada
habisnya, seakan-akan Jake mematahkan pita suara dalam
ternggorakannya sendiri, karena melihat tubuh orangtuanya yang
sudah tak ada bentuk lagi.
Pak Kasim membawa Jake keluar Ruangan, seluruh mata
keluarga Pasien tertuju kearah Jake yang digendong Pak Kasim.
Sedang di Ruang Jenazah hanya tinggal, Nenek seorang diri yang
mengawasi hari terakhir bersama Anak dan mantunya sebelum
berpisah selamanya.
Dan......
Seluruh mayat yang sudah dipertemukan dengan keluarga
langsung dikubur pagi itu juga. Kuburan sudah difasilitasi langsung
oleh pemerintah, dengan memanfaatkan lahan kosong yang tak
punya tuan, akhirnya semua dimakamkan. Peristiwa itu menjadi
peristiwa terbesar sekaligus pukulan bagi banyak orang.
Hanya Nenek yang menghadiri proses pemakaman menantu
dan anaknya, membiarkan Jake sendirian di Rumah bersama Pak
Kasim. Jake pun harus banyak istirahat selama itu.
SATU TAHUN BERLALU.....
Jake menjadi anak yatim piatu, yang tinggal bersama Neneknya
yang sudah semakin tua. Walau usia masih belum enam tahun, tapi
Jake sudah tahu kalau kedua orangtuanya tak akan pernah pulang
lagi.
__ADS_1