Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Jeritan


__ADS_3

anji Ayah-Ibu pada Jake sepertinya gagal dicapai, bahkan tak


akan pernah tercapai sampai kapanpun. Jake dan Nenek terus


berdoa supaya anak dan mantunya dalam keadaan baik-baik saja.


Walau tidak tahu kalau kedua orang tua Jake sudah...Yasallam.


Akhirnya Mereka tiba di Rumah Sakit, Pak Kasim sendiri tak


menyangka kenapa Rumah sakit bisa seramai ini, seluruh area parkir


padat, seorang pria dengan jaket kumal dan mata setengah lelap,


terus berdiri di depan Pak Kasim memberikan arahan dari sebuah


tangan untuk segera parkir.


Pria ini tampaknya lelah atau mungkin bukan ahli parkir. Pria ini


ternyata adalah seorang perawat yang ditugaskan sementara pihak


Rumah Sakitt untuk jadi tukang parkir, mengingat Parkir dalam


keadaan membludak malam itu. Nyaris, Pak Kasim kehilangan


tempat parki, karena saking penuhnya tempat itu.


“Up.” Teriak pria itu.


Pak Kasim, Nenek, dan Jake. Akhirnya turun dari mobil, berlari


menuju Ruang IGD, tukang parkir terus memandang Mereka, usai


wajah Pak Kasim terlihat tak bersahabat dengan Tukang parkir itu.


Bagaimana tidak kesal Pak Kasim, Tukang Parkir itu sendiri memberi


arahan ngawur semua.


Tanpa panjang lebar, segera berlari menuju Ruang IGD, Pak


Kasim berjalan duluan, Nenek dan Jake berjalan tepat di


belakangnya. Karena Nenek sudah cukup sepuh, dan cara


berjalannya pun sudah tertatih, sedang Jake terus memegang tangan


Nenek yang sudah tak bisa berjalan lagi seperti manusia muda


lainnya.


Suasana IGD itu tak seperti biasanya, tampak ramai bagai Pasar


Malam, seluruh penjuru dipenuhi kumpulan manuia mengisak


tangisan, Jake yang masih polos hanya menyadari kalau Rumah Sakit


itu ramai, walau sesungguhnya Nenek Jake sendiri sudah tak akan


beroptimis kalau anak dan mantunya masih ada.


“Dok, kenapa bisa begini dok?” teriak menangis seorang wanita


bersama suaminya usai berjalan dari sebuah lorong, semua mata


tertuju kearah teriakan wanita itu. Seluruh wajah wanita itu merah


merona, sedang paras lelaki bersamanya yang tak lain adalah


suaminya mungkin sudah merasa tegar akan kehilangannya.


Nenek terus melirik kanan kiri kearah keluarga pasien yang


memenuhi ruangan, seluruh mata Mereka memerah merona, tanda


tak kuasa melihat situasinya. Disitu, Nenek sudah tak yakin kalau


kedua orang tua Jake masih hidup.


Pak Kasim akhirnya berlari menemui dokter. Padahal Dokter


sedang dikerumuni banyak orang.


“Permisi, Permisi.” Ucap Pak Kasim menggeser badan keluarga


pasien, Mereka langsung geram.


“Pak, seluruh korban dimana ya pak?” tanya Pak Kasim.


“Kami sekarang sudah menaruh semua pasien di Ruang balai


jenazah.” Balas Pak Dokter.


Selama ini Pak Kasim hanya tahu Ruang Jenazah biasa, tak


mendengar istillah balai. Tapi ternyata setelah dipikir ulang, ada kata


balai sebagai bentuk tempat itu lebih padat dari biasa.


Dokter itu meninggalkan semua pasien yang meliputnya

__ADS_1


menuju Ruang Dokter, sambil mengebas rambutnya pertanda sangat


lelah dengan tugasnya yang pada akhirnya Pak Kasim kembali mencari keberadaan Nenek dan Jake yang berdiri di depan pintu masuk IGD, Pak Kasim segera berjalan kearah


Mereka berdua walau pandangannya sedikit tertutup oleh keramaian


keluarga pasien.


“Ayo ikut saya!” tiba-tiba Pak Kasim muncul di hadapan Jake


dan Nenek, segera mengambil tangan Jake dan membawa lari ke


dalam lorong jenazah.


Beberapa pria berpapasan dengan Pak Kasim menggunakan


celemek hijau, dan seluruh mulutnya di tutup oleh masker. Tak


segan-segan Pak Kasim langsung menghadapkan Mereka yang


tengah berjalan kembali menuju meja utama.


“Kak, mau tanya. Apa ada pasien yang masih hidup?” tanya Pak


Kasim.


“Tidak ada, semua sudah meninggal. Silahkan bapak lihat di


Kamar Jenazah, tapi dimohon untuk tidak berisik.” Ucap Pria itu


dengan gelagat ramah sambil menunjukkan tangan kanannya kearah


pintu ujung lorong yang berbatasan dengan Taman Rumah Sakit.


“Baik, Kak. Terima kasih.” Ujar Pak Kasim sudah sering


mengunjungi Rumah Sakit, jadi semua Ruangan mungkin Pak Kasim


pun tahu.


Pak Kasim kembali berlari sambil menarik tangan Jake yang


mungil, dan meninggalkan Nenek melangkah sendiri. Suasana Rumah


Sakit memang masih ramai walau waktu sudah masuk pukul jam 2


pagi. Semua manusia disitu seakan-akan memaksakan untuk terus


menyalakan bola matanya agar tak kantuk.


Perasaan Pak Kasim tiba-tiba tersendat, merasa ada keberatan


menuju kamar jenazah.


“Mohon bersabar, saudara-saudara. Saat ini Kami masih


mengindentifikasi satu persatu jenazahnya, berhubung ini banyak


sekali, kami mohon untuk tidiak memenuhi area Ruangan. Mungkin


sebagian berada di Lantai atas, silahkan saudara-saudara cek disana.”


Ungkap petugas yang berusaha menghalau semua keluarga pasien.


Dengan berisiknya, keluarga pasien sendiri merasa keberatan


ucap mendengar keluhan Petugas. Banyak keluarga nekat masuk,


dan akhirnya menjadi pintu terbuka bagi Pak Kasim, Jake, dan Nenek


untuk mencari Ayah Ibu Jake.


Kamar Jenazah itu memang luas, dan panjang. Sengaja


anggaran dikeluarkan oleh pemerintah untuk membuat Ruangan


Jenazah yang lebar guna mencegah kekurangan apabila terjadi


ledakkan pasien. Satu-satunya Rumah Sakit yang memiliki Kamar


Jenazah sebesar Ruangan Aula hanyalah Rumah Sakit daerah yang


dikelola Pemerintah itu sendiri.


Semua pasien terisak menangis meneteskan puluhan air mata,


mengalir di seluruh kain yang menuutupi tubuh pasien. Tak


menyangka, perpisahan itu adalah perpisahan terakhir. Yang


pastinya, Mereka adalah keluarga karyawan ataupun nasabah yang


berada di Bank itu.


Ada jenazah yang kepalanya terpisah dari badannya, ada


jenazah yang hilang kaki dan tangannya, ada pula jenazah yang


mukanya gosong tak terlihat lagi, suasana isak tangis langsung


meramaikan Ruang Jenazah. Seluruh jenazah 50 persen sudah

__ADS_1


dikenali lewat identitas yang tersimpan dipakaiannya, beruntungnya


Ayah dan Ibu Jake berhasil ditemukan usai Pak Kasim membuka satu persatu kain itu melihat sepasang kekasih suami istri yang wajahnya


sudah gosong tak terbentuk lagi, ketampanan Ayah telah hilang, dan


Kecantikan Ibu pun sudah tak terbayang. Melihat itu Pak Kasim


langsung tak berdaya turun melemah, Nenek dan Jake melihat Pak


Kasim sudah tak mampu kuasa melihatnya, segera Nenek dan Jake


mendekati Pak Kasim tepat duduk di tengah-tengah Keranda Ayah


dan Ibu Jake.


“Pak Kasim, bagaimana Pak?” tanya Nenek.


Pak Kasim menjerit tangis tanpa menjawab apa kata Nenek,


Nenek pun akhirnya menoleh kearah ke kanan dan ke kiri. Tubuh


Nenek Jake langsung membeku seketika, semua terasa seperti


terkena peluru yang tembus ke tubuh, tak berdaya lagi, darah pun


juga tak kuasa mengalir lagi ke seluruh tubuh, kondisi tubuh Nenek


yang sudah lemah dibuat tambah lemah lagi.


Melihat Anak dan Mantunya, dalam keadaan muka yang hancur


parah, dengan bentuk tengkorak terlihat keluar pada wajah Ayah,


sedang Ibu tak terlihat lagi wujudnya. Seluruh tubuhnya telah gosong


baik Ayah dan Ibu langsung membuat Nenek harus menutup mata


Jake yang polos.


Tapi Jake tidak bodoh, Jake melihat itu langsung hingga


membuat menjerit lebih kuat dari keluarga Pasien yang lain. Semua


keluarga pasien, berhenti terisak hanya menatap wajah Jake yangg


menangis kuat.


“Hahhhhhhhh.....” Jake meneriak sangat kencang hingga tepat


di Ruang lobby pun terdengar kuat teriakan Jake.


“Ayyaahhhh.....Ibu......” teriak Jake.


Pak Kasim yang sebenarnya sedang menangis pun harus


bangkit membawa Jake keluar Ruangan secepat tenaga, sedang kupingnya harus menerima teriakan kuat dari Jake yang tak ada


habisnya, seakan-akan Jake mematahkan pita suara dalam


ternggorakannya sendiri, karena melihat tubuh orangtuanya yang


sudah tak ada bentuk lagi.


Pak Kasim membawa Jake keluar Ruangan, seluruh mata


keluarga Pasien tertuju kearah Jake yang digendong Pak Kasim.


Sedang di Ruang Jenazah hanya tinggal, Nenek seorang diri yang


mengawasi hari terakhir bersama Anak dan mantunya sebelum


berpisah selamanya.


Dan......


Seluruh mayat yang sudah dipertemukan dengan keluarga


langsung dikubur pagi itu juga. Kuburan sudah difasilitasi langsung


oleh pemerintah, dengan memanfaatkan lahan kosong yang tak


punya tuan, akhirnya semua dimakamkan. Peristiwa itu menjadi


peristiwa terbesar sekaligus pukulan bagi banyak orang.


Hanya Nenek yang menghadiri proses pemakaman menantu


dan anaknya, membiarkan Jake sendirian di Rumah bersama Pak


Kasim. Jake pun harus banyak istirahat selama itu.


SATU TAHUN BERLALU.....


Jake menjadi anak yatim piatu, yang tinggal bersama Neneknya


yang sudah semakin tua. Walau usia masih belum enam tahun, tapi


Jake sudah tahu kalau kedua orangtuanya tak akan pernah pulang


lagi.

__ADS_1


__ADS_2