
Jake mulai geram.
“Kamu ini bagaimana sih?” bentaknya.
“Maaf...Maaf...Aku sendiri sebenarnya lupa!” Jake menarik nafas dalam-dalam, sabar.
“Coba putar balik lagi!” saran Historia.
“Sekarang saya tanya, Rumahmu dimana?” Jake sadar kalau dirinya belum tanya keberadaan Rumah Historia.
“Rumah Aku di Perumahan Mliwis Putih.” Jawab Historia.
“ohh..kalau daerah itu Saya tahu.” Jake mulai membaik.
“Berarti arahnya bukan disini. Kita harus putar balik!” tambah Jake.
“Oke sudah, Ayo putar balik!” Historia merasa lega.
Motor itu berputar balik lagi, dengan melaju kencang kearah Perumahan Mliwis Putih.
Sebenarnya, Historia bukan warga asli penduduk perumahan itu. Historia sudah beberapa kali pindah Rumah yang membuatnya tak betah dimanapun berada. Lima menit melaju, akhirnya tiba di Rumah Historia. Suasana perumahan memanglah sepi, dengan lingkungan yang introvert tak seperti Rumah Kampung yang gila gosip tetangga.
Terdengar dari jauh, teriakan suara Ruben yang menyebut Ibu Evan agar mengurungkan niatnya.
“Ruben!!” ucap Historia dari motor.
“Ini Rumahku, Jak!” Motor itu mendadak berhenti.
Jake langsung mengeremkan motornya tepat di pagar tinggi
Rumah Historia. Suara tangisan Ruben terus terdengar dari lantai
atas Rumah. Historia segera lari masuk ke dalam Rumah, secepat
mungkin usai menaruh helm. Tanpa mengucapkan terima kasih,
akhirnya Jake pun ikut masuk.
“Ibu..Ibu jangan begitu Ibu!” teriak Ruben.
Historia melangkah cepat menjajakan kaki di setiap anak tangga,
hingga akhirnya tiba di Lantai atas bergegas menuju kamar pribadi
Ibu Evan. Pintu pun dikunci.
“Ruben, Ruben buka pintu!” teriak Historia dari balik pintu.
“Sebentar, kak!” Ruben tak bisa berpindah posisi, karena kedua
tangan Ruben sudah menghalangi tangan Bu Evan yang memegang
pisau yang siap ia tusuk ke dalam dadanya.
“Kak, tabrak saja!!” teriak Ruben.
Historia tak punya tenaga untuk mendorongnya. Beruntung
Jake sudah naik ke lantai atas.
“Jake, bukakan pintu ini!”
Tanpa ucapan sedikitpun, Jake langsung mendorongnya sekuat
tenaga walau belum makan siang. Dan, pintu triplek itu akhirnya
jebol.
Mereka berdua akhirnya masuk. Melihat kondisi mengenaskan
dari Ibu Evan, dan Ruben. Sekucur air mata telah mengalir deras di
pipi Ibu Evan dan juga Ruben. Wajah Ibu yang berlegak pasrah,
sedang Ruben penuh ketakutan, sedang jendela kamar terbuka. Jika
pisau dilepas dengan kuat maka tangan ibu akan lecet,dan Ibu akan
melompat ke Jendela. Jake berinisiatif langsung menaiki kasur dan menutup jendela.
Sedang, Historia berusaha menenangkan Ibu Evan. Historia berusaha
tenang agar situasi semakin kondisif. Jake langsung membacakan
matra ajaib yang kemudian membuat Ibu Evan tertidur seketika.
Saat tertidur itulah, Mereka merasa tenang.
Ruben, Historia, dan Jake dapat bernafas lega. Historia
menatap kosong kepada Jake seakan-akan berterima kasih besar atas
bantuannya yang sudah sangat merepotkan. Alam bawah sadar
__ADS_1
sudah berhasil mengalahkan pikiran Bu Evan, apapun bentuk
permasalahan sudah tak dapat membendungi kekuatan mental Bu
Evan.
Historia melembut bertanya pada Ruben.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu?” sambil menggenggam
tangan Ruben.
“Ibu sangat depresi! Kemarin adalah peringatan 10 tahun Ayah.
Dan, Ibu mengingat kembali masa lalu, sebagai seorang Janda yang
suka difitnah, direndahkan, dicaci, dan semua itu sudah mengumpul
dalam pikiran Ibu. Hingga akhirnya Ibu butuh pelampiasan yang
cukup, inilah bentuk pelampiasannya.” Cerita Ruben.
Historia dan Jake menganggukan kepala, sambil menatap wajah
Ibu Evan yang tertidur. Historia juga memikirkan bagaimana bisa Jake
bisa sakti dengan kemampuan mantra menghipnotis Ibu Evan agar
tertidur, tapi Historia enggan menanyakan. Mungkin perlu di waktu
senggang.
“begitu ya!” tanggap Historia.
“Jake, terima kasih banyak ya untuk hari ini! Kamu sudah
menolongku di Kamar mandi, mungkin itu firasat akan terjadi seperti
ini. Dan, Aku berterima kasih lagi ketika Kamu sudah mengantarkanku pulang kemari sekaligus menolong Ibuku,
Kebetulan Kamu juga punya ilmu hipnotis, kalau enggak apa
jadinya?” gumam Historia sambil tertawa.
“Baik, sama-sama.”
“By the way, kalau Aku minta nomormu boleh tidak. Takutnya
labil?” jelas Historia.
“Oh Maaf, Aku bukan tukang Hipnotis tapi kalau kamu butuh
bantuan apapun bisa bilang kepada saja.” Balas Jake
“Ini nomor teleponku.” Jake menunjukkan nomor teleponnya di
HP.
Historia mencatat nomor itu.
“Terima kasih ya!”
“Iya sama-sama.” Jake kemudian berdiri.
“Oh ya, mau makan dulukah?” tawaran Historia sebagai balas
budi.
“Oh terima kasih. Aku mau pulang dulu!”
“Oke kalau begitu. Kamu dari Fakultas Hukum ya?” tanya
Historia.
“Bukan, Aku dari jurusan Teknik.” Jawab Jake.
Historia menyipitkan matanya pertanda bingung.
“Iya, kenapa bingung? Aku memang dari jurusan teknik kok.”
Jake bersikeras.
“Lalu, Kamu di fakultas hukum itu ngapain? “Memang Aku juga kerja disitu, di bagian staff IT dan Pengurus
Perpustakaan Fakultas. Teman Aku banyak dari Hukum.” Pungkas
Jake.
“Ohh begitu..”
“Ya sudah Aku pulang dulu!”
Historia mengantarkan Jake menuju parkiran, Historai merasa
__ADS_1
banyak berterima kasih, andai tak ada Jake mungkin nasib ibunya
akan habis di tangannya sendiri, Historia merasa bersyukur besar
atas itu.
“Kalau ada sesuatu kasih tahu saja!” amanat Jake.
“Pastilah.” Historia sambil tersenyum.
Jake akhirnya pergi.
Historia kembali masuk ke dalam Rumahnya dan menutup
pintu. Ruben tiba-tiba muncul dari balik badan Historia.
“Ruben? Kenapa?”
Ruben sambil tersenyum sok imut, bersiul.
“Ehmm..Ehmm....”
“Ada apa, Ruben?” pungkas Historia.
“Siapa lelaki itu?”
Historia langsung menarik nafas dalam-dalam, “Kakak, baru
mengenalnya hari ini.
Kakak tak tahu siapa lelaki itu?”
“Halah...berbohong saja!” bantah Ruben.
“Kamu dibilang masih tak percaya, ya?” Historia langsung
mendekati Ruben dan menarik kuping Ruben kuat-kuat, Ruben langsung menjerit-jerit. Tapi, Ruben tak terpancing emosi, dia
menyadari perbuatannya adalah ulahnya sendiri. Ketika tangan
Historia kembali turun, Ruben langsung tertawa lagi sambil berlari.
“Ahhh...Pembohong, kakak sudah punya cowok sekarang!”
teriak Ruben. Historia dengan geram langsung mengejar Ruben
hingga Ruben tersandung tangga. Historia menggeliat tertawa, dan menepuk secara perlahan ke kepala Ruben dengan bercanda.
“Shuuttt...” Ruben menyiulkan bibirnya.
Historia bingung, “Ada apa?”
“Ibu lagi tidur!”
Historia langsung terdiam.
“by the way, Kamu taruh Ibu dimana?” tanya Historia.
“Ibu masih terbaring di kamar, tapi Pisau itu sudah Aku
amankan.”
“Baguslah, untuk sementara waktu jauhkan Ibu dari benda
tajam!” titah Historia.
“Baik, kak.”
Historia kemudian memeluk Ruben di dada. Air matanya
mengalir lagi, “Ruben, Ayo Kita jaga Ibu ya!” tangis Historia.
“Iya, kak. Aku juga takut kalau Ibu kenapa-kenapa.” Keluh
Ruben menangis di dada Historia.
“Bagaimana ya, caranya?”
“Apa perlu Kita bawa Ibu ke Psikolog saja!”
“Belakangan ini, sekitar dua tahun sebelumnya. Ibu sudah
sering depresi. Kita harus menjaga agar Ibu baik-baik saja!” keluh
Historia.
“Ini sudah yang keempat kalinya kak, percobaan bunuh diri dari
Ibu!” balas Ruben.
Historia menarik nafas dalam, sambil membuang semua rasa sakitnya. “Ayo Kita jaga Ibu bersama-sama!”
“Oke siap Kak. Aku akan membantu Kakak.”
__ADS_1