Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Akhir dari sebuah Cinta


__ADS_3

Banyak sekali agenda di Kantor Ayah dan Ibu Jake, sebagKantor pusat tentu menumpuk sekali tugas Mereka sekalipun


hanya sebatas Tukang bersih Ruangan sekaligus seorang dapur.


Apalagi kalau ada rapat besar, mungkin akan menelan waktu lama di Kantor bahkan terkadang harus terpaksa lembur hanya karena membersihkan 6 lantai Gedung itu.


Bangunan itu sangat luas, dan tak mungkin Sang Ayah membersihkan semua. Terkadang Ayah harus menguasai beberapa


daerah yang bisa dikuasai untuk mengerjakan tugasnya. Namun,


kejanggalan yang aneh terjadi satu malam itu.


Ayah menghampiri Ibu di Kantin.


“Bu, sudah selesaikan mencucinya?” tanya Ayah.


“Belum. Memang Kenapa Ayah?”


“Ayo pulang.”


Suasana kantor masih ramai, dipenuhi setiap pegawai dan


belum lagi tamu yang datang di setiap hadirin itu.


“Ibu, hari ini cucian piring banyak sekali, ya Bu.” Keluh Ayah.


“Iya, yah. Tapi bentar lagi Kita pulang kok.”


Ayah kembali ke Ruangan Cleaning service itu. Kebetulan masih


ramai dengan beberapa rekannya. Ayah dengan diam-diam


memasukkan beberapa lembar uang berwarna merah ke dalam tas


saku.


Tak lama seorang pria berdasi dengan berkemeja rapih datang


menghampiri seluruh petugas kebersihan. Orang itu bertubuh gempal, berkacamata, dialah sosok Naimul selaku pembina petugas kebersihan.


“Semua malam ini bisa pulang!” ucap Pak Naimul dari depan Pintu.


Sontak seluruh petugas kebersihan tersenang luar biasa, usai beberapa hari lembur di Kantor, kini bisa pulang dengan mata


terbinar-binar.


Ayah Jake pun yang tak piket di Ruangan ikut bangga malam ini bisa pulang.

__ADS_1


“Dan, saudara-saudara datang lagi ke Kantor dua hari lagi ya!”


tanggap Pak Naimul. Pak Naimul tersenyum, dan akhirnya pergi meninggalkan para petugas.


Dengan bangga akhirnya Ayah Jake akhirnya keluar Ruangan perasaan senang hati ingin segera menemui istri tercintanya, agar segera bisa pulang bersama-sama, membawa tas ransel berisi beberapa lembar uang berwarna merah bersiap-siap ingin mampir ke


Toko mainan membelikan putranya mainan domino yang dinanti-nanti.


Perjalanan antara Ruangan Cleaning servis dengan Kantin memang terbilang agak jauh, harus lewat lorong panjang yang notabenenya sering sepi. Kebetulan lorong itu akan tembusn pintu parkiran motor yang lebih dikenal parkir tamu. Kawasan itu sangat sepi. Memang kalau menurut Ayah Jake tempat itu sedikit keramat, satu sisi hanya orang tertentu yang suka lewat situ, disisi lain konon


menurut penuturan pegawai disitu, tempat itu cukup angker.


Tapi, keanehan malam ini terjadi. Seseorang dengan Jaket hitam berjalan memasuki Area perkantoran. Sedikit aneh sekali, sejak lima belas tahun, tempat itu tak pernah dilalui orang asing, sekalipun dekat tempat parkir. Pria itu terus menatap wajah Ayah Jake yang tengah berjalan menuju Kantin. Dengan tatapan yang


sedikit mengerikan, tiba-tiba perasaan Ayah Jake merasa tak nyaman


sedikitpun dengan raut wajah pria itu seakan dipenuhi aura negatif.


Tak perlu dipusingkan, Ayah Jake akhrinya tiba di Kantin dengan mengalihkan pikiran langsung bertemu dengan Istrinya di dapur Kantin.


“Ibu.” Ayah Jake menyapa dengan senyum.


“Oh ya, Ayah.” Membalikkan badan.


“Ini” Ayah menunjukkan dompetnya, “Ayah sudah bawa uang banyak buat belikan Jake Domino.”


“Oh, coba Kita lihat sepanjang Kota, mungkin ada.”


“Baiklah, sebentar ya! Cucian piring masih banyak.” Gumam Ibu sambil menaruh piring.


“Oke, Aku tunggu di depan.”


“Baiklah. Ayah, mau pesan minum apa?”


“Ehh..buatkan Kopi satu saja.” Ayah sambil menggerakan kepala menoleh kearah dalam.


Ayah Jake langsung menuju tempat duduk, dan Ibu membuatkan Kopi untuk Mereka berdua, sedikit kencan sebelum pulang ke Rumah menemui Putranya.


Tak butuh waktu lama, Ibu datang membawakan dua cangkir gelas keaarah Teras Kantin.


Semua terasa seperti duduk santai, di Rumah menikmati suasana pagi hari yang indah. Tapi bedanya ini malam hari, bukan pagi hari.


“Kita ingin membahagiakan Anak Kita.” Ucap Ayah dengan nada lembut.


Ibu tersenyum sepi, suasana Kantin mengingat cinta Mereka pada hari pertama, suasana kian hening, syahdu, beberapa pegawai pun juga kerap berkencan dengan kekasihnya, entah itu kekasihnya atau selingkuhannya. Suasana Kantor malam itu sangat indah sekali


dan begitu romantis untuk selamanya.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba, listrik tiba-tiba mati, suasana Kantor kian gelap gulita, sontak seluruh karyawan panik seketika. Semua Ruangan mati, kebetulan di Kantin ada Pak Munawar seorang Karyawan yang


berpangkat sudah tinggi, langsung bergerak menuju keluar Kantin, segera mencari petugas Listrik,


“Semua harap tenang!” ujar dari luar


Kantin.


Situasi tak tertanding, Ayah ingat ada sebuah buku catatan belanjaannya di dalam tas yang dia simpan di dalam Ruangan Kebersihan. Dengan panik menuju Ruangan Cleaning Servis Ibu pun juga ikut karena tak tega meninggalkan Suaminya sendiri. Seluruh Ruangan memang ggelap, apalagi ditambah saat itu belum ada ponsel dan sumber penerangan masih berasal dari lilin dan senter.


“Ayah, tunggu!” ujar Ibu dari belakang, mendadak perasaan Ibu menjadi hampa, dilanda ketakutan luar biasa.


Akhirnya.....


Dalam hitungan detik......


Tiga, Dua, Satu......


Suara keras yang mengagetkan lebih keras dari tabrakan mobil, diikuti percikan api yang ganas menjulur kencang seperti bola api, menabrak tubuh seluruh pegawai tanpa satu pun yang terselamatkan. Bola api itu berasal dari Jantung Gedung itu yang berada di Lantai 3, tepat dari samping kamar mandi. Walaupun


berasal dari lantai 3, tapi percikan api menyala hingga ke bawah, batu bata yang kokoh dilapisi oleh gumpalan semen pun turut hancur lebur, menindihkan seluruh manusia yang berada di lantai dasar.


Seluruh Gedung langsung dipenuhi si jago merah tinggi melebihi tiang bendera terus bergoyang di tengah kesibukan Kota pada malam hari menjelang akhir pekan.


Ada tangan terpisah dari tubuhnya, kepala terpisah dari badannya, lumuran darah melapisi


warna puing-puing bangunan yang pecah, bara api terus bergoyang kesana kemari, suasana sekitar jalan mawar menjadi terang.


Warga sekitar langsung segera membuat tiga divisi, divisi satu melapor polisi ramai-ramai, divisi kedua beramai-ramai


menghubungi pihak Rumah Sakit, dan divisi ketiga bergerak menuju kantor pemadam kebakaran.


Semua panik, situasi yang kala sedang


sibuk kini dibuat semakin sibuk lagi. Emosi warga sekitar kian membludak, segera mengambil puluhan ember berisi air untuk memadam kantor itu.


Walau Mereka percaya, air itu tak dapat


memadamkan besarnya si jago merah tapi apa salahnya Mereka lakukan selama belum ada aparat yang datang.


“Jangan banyak cingcong, Ayo guyur air terus!” perintah Pak Novan selaku kepala lurah di daerah itu.


Masalahnya Gedung Bank itu berada tepat di depan pemukiman warga yang padat, jelas hal ini membuat warga semakin panik dikhawatirkan api terus menjalar ke


Pemukiman warga.


Pak Novan meneteskan air mata deras melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2