Antara Musuh Dan Jodoh

Antara Musuh Dan Jodoh
Sedikit Curiga


__ADS_3

“Aku sebenarnya dari dulu suka bermain mobil remote, tapi


karena tak ada yang membelikkan. Jadinya, Aku tak pernah


tercapai.” Gumam Jake.


Historia merasakan sinyalir Jake akan menceritakan masa


lalunya lagi, daripada menjadi masalah. Jake ingin masalah ini segera


kelar secepatnya.


"sudah cukup. Nanti saja, Kita bisa ceritakan masalah ini


bersama.” Historia membantah ucapan Jake. Jangan sampai Jake


mengungkit-ungkit masa lalunya lagi.


Jake pun terdiam, Historia merasa lega. Jangan sampai Jake


mengungkit-ungkit masa lalunya! Sungguh menyedihkan, jika Jake


mengungkit masa lalunya, dan berdampak pada emosi yang meletup


lagi.


“Jake, kebiasaanmu memang konyol sekali. Kamu suka banget


main mobil remote.” Tak lama Historia, kian tertawa.


“Tak masalah, yang penting Aku tidak pernah merampok,


membegal, apalagi mengebom kan?” gumam Jake.


Historia langsung melototkan matanya.


“Ayo, kita ke Toko mainan sekarang!” Jake berdiri sambil


melempar bungkus styrofom itu ke pinggir rerumputan.


“Jake, Kamu jorok!”


“Aku malas cari tong sampah.” Ucap Jake sambil mengusap


mulutnya berjalan kearah motor dengan inisiatif, Historia langsung mengambil bungkus sampah


milik Jake. Mencari sebuah tempat sampah yang memang agak sulit,


tapi akhirnya dia menemukannya, tak terlalu jauh dari tempat


Mereka makan, hanya Jake saja yang malas mencari tong sampah.


Usai membuang sampah, Jake dan Historia segera menaiki


motor itu. Suasana hati, Historia merasa nyaman lagi ketika berada di


samping Jake. Tanpa disadari, Historia baru sadar kalau ia seharian


belum pulang ke Rumah. Astaga.


Siap-siap Historia ditampar Ibu ketika pulang nanti.


“Jake..” tiba-tiba Historia memanggil nama Jake dari


belakangnya.


“Ada apa?”


“Kalau Aku pulang nanti dimarahi Ibuku, bagaimana?” gumam


Historia sambil merengek.


“Tak masalah, yang penting. Kamu ceritakan saja semua ke


Ibumu!” balas Jake dengan santai.


Historia terdiam, Jake terus bersikeras melajukan motornya


sampai tiba di sebuah toko mainan pinggir jalan dekat dengan Kantor


Bea Cukai. Kepala Historia terkumpul berbagai macam kata-kata.


Rasanya ingin sekali menggeleng-geleng kepala.


Jake langsung turun dari motor, dan seegera menemui Kasir.


Entah apa yang Jake tanyakan, Historia hanya menanti di kursi motor


sambil sesekali menoleh kearah toko mainan, dan menyimpan


berbagai kata, kenapa Jake begitu suka dalam dunia mainan.


Kebetulan hari semakin siang, jalan kembali padat dengan

__ADS_1


aneka mobil. Sepertinya para pekerja kantor, mulai kembali ke


tempat Mereka bekerja lagi. Tak berselang 5 menit, Jake pun sudah kembali. Jake tak mau berlama-lama di toko mainan. Mungkin satu


sisi dia malu sudah beesar masih mampir ke Toko mainan, disisi lain


dia ingin Historia cepat pulang.


Dengan ekspresi senang, Jake membawa sebungkus berisi


kardus dan sebuah mobil remote di dalamnya.


“Ayo Kita pulang!” Jake dengan senyum-senyum di depan


Historia sambil menunggaki motornya.


Jake hanya terkesan diam saja, tanpa mendengar


memerhatikan apa yang Jake ucap. Historia hanya menganggap,


kenpa Jake yang sudah besar ini suka main mobil remote control.


Akhirnya Mereka pulang, kemarin Historia tak sempat pulang


ke Rumah. Ada perasaan cemas, dan takut di dasar hati dari Historia.


Historia sedikit tak bergumam, hanya saja dia menunjukkan gelagat


yang tak bersahabat. Tanpa disadari, Jake pun lihat apa yang Historia


rasakan dari balik kaca spion.


“Wajahmu kenapa begitu? Ada sesuatukah?” Jake sedikit keras.


“Ohh...enggak, enggak.” Historia memelankan suara.


“Bohong, sepertinya ada sesuatu?”


“Enggak kok, lanjut saja!” Historia membentak keras.


Jake akhirnya terdiam.


Historia sebenarnya gadis yang banyak penasaran, apalagi jika


melihat sesuatu yang di matanya terkesan aneh. Apa perlu


ditanyakan saja, walau bingung. Akhirnya Historia mendekat kearah


bahu belakang Jake sebelah kanan.


saja, masih suka main mobil remote?” Historia bertanya dengan hati-


hati.


“Memang kenapa?” sahut Jake. Historia langsung kehabisan


Kata.


“Aku dari dulu ingin sekali bermain mobil remote. Tapi, tak ada


yang beli. Baru hari ini tercapai, prinsipku itu selama Aku belum


mampu mencapainya, maka Aku terus mencarinya. Begitu pun juga


pelaku Bom di Kantor Bank 15 tahun lalu. Walaupun sudah 15 tahun


berlalu, tapi kalau belum ketahuan. Maka Aku akan terus


mencarinya, kalau bisa sekalian ahli waris.” Sedikit ungkapan Jake


sambil mengemudi motornya.


Historia melototkan mata, kaget.


“Jake, seharusnya Kamu tak perlu dendam!” nasihat Historia.


Jake meminggirkan motornya lagi, dan berhenti di trotoar.


Tepat di bawah turunan yang menghadap langsung kearah


Pemandangan Villa. Kawasan itu agak sedikit sepi, bahkan cenderung


kosong melompong.


“Kenapa Kamu berhenti disini lagi?”


“Duduk dulu sebentar di bawah!” titah Jake.


Historia menyadarinya lagi, kalau Dia membiarkan Jake


bercerita tentang masa lalunya lagi, mungkin Jake akan teringat lagi


peristiwa yang menggenaskan itu. Jake masih dendam dengan

__ADS_1


sesuatu yang terjadi di masa itu. Historia berusaha mencari ide untuk


membohonginya.


“Jake, Kamu tahu ini sudah sore. Aku seharian belum bertemu


dengan Ibuku, Aku ingin pulang!” nada Historia sedikit marah. Marah


demi kebaikan.


Historia tak ingin Jake mengungkit-ungkit masa lalunya, lagi


yang membuat dirinya menjadi tambah dendam.


“Jadi Kamu mau pulang sekarang?” tanya Jake.


“Iyalah, Jake.”


“Baiklah, Aku antarkan.” Jake berjalan kembali ke Motornya.


Historia merasa lega, jangan sampai Jake menggumpalkan


kekesalannya lagi terkait yang pernah terjadi. Itu hanya merusak jiwa


raga dan pikiran Jake saja. Sambil duduk di motor Historia merasa


tenang.


Dan...


Akhirnya, sesampai di Rumah. Historia merasa lega, ketika Jake


tidak jadi melampiaskan kekesalannya lagi, tapi satu sisi pikiran terus


menghantui karena Historia sendiri belum sempat pulang ke Rumah


dari kemarin.


Motor itu berhenti di depan Rumah Historia.


“Jake, terima kasih banyak. Dari kemarin sudah


merepotkanmu.” Ucap Historia sambil turun dari motor.


“Ya, tidak apa-apa. Aku juga berterima kasih karena Kamu


sudah temani Aku ke Toko mainan.” Balas Jake dengan senang


sambil sesekali menoleh ke bungkus putih berisi kotak mainan mobil


remote itu.


Dengan senang, Historia menunjukkan jari jempolnya di depan


Jake. Sebagai bentuk rasa hormat yang besar, kepada kekasihnya


yang selama ini paham dengan dirinya.


“Ya sudah, kalau begitu. Aku masuk dulu, ya.” Gumam Historia.


“Baiklah, silahkan.”


Historia segera masuk, dan motor itu pun pergi.


Dari balik pintu, Bunda Evan bersiap menyambut putrinya


dengan sikap siap perang, seakan-akan ingin melemparkan semua


emosinya pada Historia.


“Hallo, Ibu.” Historia sendiri sudah tahu, kalau Bunda pasti akan


marah. Jika Historia menunjukkan perasaan yang tidak suka, mungkin


Ibu akan semakin marah.


“Apa bagus, main sepanjang hari tanpa pulang ke Rumah?”


Bunda Evan melipatkan kedua tangannya.


Historia terus mengulurkan tangan kanannya, seraya meminta


untuk menyalimi. Tapi, Bunda menolak. Bunda terus berparas kecut


seakan-akan marah besar.


Tangan kanan Bunda Evan langsung mendarat di pipi kanan


Historia, dengan kuat. Suara dentuman yang kuat hingga tetangga


pun mendengarnya, seperti suara pecut kuda yang ditepuk oleh


seorang kusir agar kuda itu berlari. Sontak Evan merasakan panasnya

__ADS_1


dan perih di area pipi kanan yang secara tak langsung membuat pipi


Historia memerah, dan tak kuasa menahan sakitnya.


__ADS_2