
“Aku sebenarnya dari dulu suka bermain mobil remote, tapi
karena tak ada yang membelikkan. Jadinya, Aku tak pernah
tercapai.” Gumam Jake.
Historia merasakan sinyalir Jake akan menceritakan masa
lalunya lagi, daripada menjadi masalah. Jake ingin masalah ini segera
kelar secepatnya.
"sudah cukup. Nanti saja, Kita bisa ceritakan masalah ini
bersama.” Historia membantah ucapan Jake. Jangan sampai Jake
mengungkit-ungkit masa lalunya lagi.
Jake pun terdiam, Historia merasa lega. Jangan sampai Jake
mengungkit-ungkit masa lalunya! Sungguh menyedihkan, jika Jake
mengungkit masa lalunya, dan berdampak pada emosi yang meletup
lagi.
“Jake, kebiasaanmu memang konyol sekali. Kamu suka banget
main mobil remote.” Tak lama Historia, kian tertawa.
“Tak masalah, yang penting Aku tidak pernah merampok,
membegal, apalagi mengebom kan?” gumam Jake.
Historia langsung melototkan matanya.
“Ayo, kita ke Toko mainan sekarang!” Jake berdiri sambil
melempar bungkus styrofom itu ke pinggir rerumputan.
“Jake, Kamu jorok!”
“Aku malas cari tong sampah.” Ucap Jake sambil mengusap
mulutnya berjalan kearah motor dengan inisiatif, Historia langsung mengambil bungkus sampah
milik Jake. Mencari sebuah tempat sampah yang memang agak sulit,
tapi akhirnya dia menemukannya, tak terlalu jauh dari tempat
Mereka makan, hanya Jake saja yang malas mencari tong sampah.
Usai membuang sampah, Jake dan Historia segera menaiki
motor itu. Suasana hati, Historia merasa nyaman lagi ketika berada di
samping Jake. Tanpa disadari, Historia baru sadar kalau ia seharian
belum pulang ke Rumah. Astaga.
Siap-siap Historia ditampar Ibu ketika pulang nanti.
“Jake..” tiba-tiba Historia memanggil nama Jake dari
belakangnya.
“Ada apa?”
“Kalau Aku pulang nanti dimarahi Ibuku, bagaimana?” gumam
Historia sambil merengek.
“Tak masalah, yang penting. Kamu ceritakan saja semua ke
Ibumu!” balas Jake dengan santai.
Historia terdiam, Jake terus bersikeras melajukan motornya
sampai tiba di sebuah toko mainan pinggir jalan dekat dengan Kantor
Bea Cukai. Kepala Historia terkumpul berbagai macam kata-kata.
Rasanya ingin sekali menggeleng-geleng kepala.
Jake langsung turun dari motor, dan seegera menemui Kasir.
Entah apa yang Jake tanyakan, Historia hanya menanti di kursi motor
sambil sesekali menoleh kearah toko mainan, dan menyimpan
berbagai kata, kenapa Jake begitu suka dalam dunia mainan.
Kebetulan hari semakin siang, jalan kembali padat dengan
__ADS_1
aneka mobil. Sepertinya para pekerja kantor, mulai kembali ke
tempat Mereka bekerja lagi. Tak berselang 5 menit, Jake pun sudah kembali. Jake tak mau berlama-lama di toko mainan. Mungkin satu
sisi dia malu sudah beesar masih mampir ke Toko mainan, disisi lain
dia ingin Historia cepat pulang.
Dengan ekspresi senang, Jake membawa sebungkus berisi
kardus dan sebuah mobil remote di dalamnya.
“Ayo Kita pulang!” Jake dengan senyum-senyum di depan
Historia sambil menunggaki motornya.
Jake hanya terkesan diam saja, tanpa mendengar
memerhatikan apa yang Jake ucap. Historia hanya menganggap,
kenpa Jake yang sudah besar ini suka main mobil remote control.
Akhirnya Mereka pulang, kemarin Historia tak sempat pulang
ke Rumah. Ada perasaan cemas, dan takut di dasar hati dari Historia.
Historia sedikit tak bergumam, hanya saja dia menunjukkan gelagat
yang tak bersahabat. Tanpa disadari, Jake pun lihat apa yang Historia
rasakan dari balik kaca spion.
“Wajahmu kenapa begitu? Ada sesuatukah?” Jake sedikit keras.
“Ohh...enggak, enggak.” Historia memelankan suara.
“Bohong, sepertinya ada sesuatu?”
“Enggak kok, lanjut saja!” Historia membentak keras.
Jake akhirnya terdiam.
Historia sebenarnya gadis yang banyak penasaran, apalagi jika
melihat sesuatu yang di matanya terkesan aneh. Apa perlu
ditanyakan saja, walau bingung. Akhirnya Historia mendekat kearah
bahu belakang Jake sebelah kanan.
saja, masih suka main mobil remote?” Historia bertanya dengan hati-
hati.
“Memang kenapa?” sahut Jake. Historia langsung kehabisan
Kata.
“Aku dari dulu ingin sekali bermain mobil remote. Tapi, tak ada
yang beli. Baru hari ini tercapai, prinsipku itu selama Aku belum
mampu mencapainya, maka Aku terus mencarinya. Begitu pun juga
pelaku Bom di Kantor Bank 15 tahun lalu. Walaupun sudah 15 tahun
berlalu, tapi kalau belum ketahuan. Maka Aku akan terus
mencarinya, kalau bisa sekalian ahli waris.” Sedikit ungkapan Jake
sambil mengemudi motornya.
Historia melototkan mata, kaget.
“Jake, seharusnya Kamu tak perlu dendam!” nasihat Historia.
Jake meminggirkan motornya lagi, dan berhenti di trotoar.
Tepat di bawah turunan yang menghadap langsung kearah
Pemandangan Villa. Kawasan itu agak sedikit sepi, bahkan cenderung
kosong melompong.
“Kenapa Kamu berhenti disini lagi?”
“Duduk dulu sebentar di bawah!” titah Jake.
Historia menyadarinya lagi, kalau Dia membiarkan Jake
bercerita tentang masa lalunya lagi, mungkin Jake akan teringat lagi
peristiwa yang menggenaskan itu. Jake masih dendam dengan
__ADS_1
sesuatu yang terjadi di masa itu. Historia berusaha mencari ide untuk
membohonginya.
“Jake, Kamu tahu ini sudah sore. Aku seharian belum bertemu
dengan Ibuku, Aku ingin pulang!” nada Historia sedikit marah. Marah
demi kebaikan.
Historia tak ingin Jake mengungkit-ungkit masa lalunya, lagi
yang membuat dirinya menjadi tambah dendam.
“Jadi Kamu mau pulang sekarang?” tanya Jake.
“Iyalah, Jake.”
“Baiklah, Aku antarkan.” Jake berjalan kembali ke Motornya.
Historia merasa lega, jangan sampai Jake menggumpalkan
kekesalannya lagi terkait yang pernah terjadi. Itu hanya merusak jiwa
raga dan pikiran Jake saja. Sambil duduk di motor Historia merasa
tenang.
Dan...
Akhirnya, sesampai di Rumah. Historia merasa lega, ketika Jake
tidak jadi melampiaskan kekesalannya lagi, tapi satu sisi pikiran terus
menghantui karena Historia sendiri belum sempat pulang ke Rumah
dari kemarin.
Motor itu berhenti di depan Rumah Historia.
“Jake, terima kasih banyak. Dari kemarin sudah
merepotkanmu.” Ucap Historia sambil turun dari motor.
“Ya, tidak apa-apa. Aku juga berterima kasih karena Kamu
sudah temani Aku ke Toko mainan.” Balas Jake dengan senang
sambil sesekali menoleh ke bungkus putih berisi kotak mainan mobil
remote itu.
Dengan senang, Historia menunjukkan jari jempolnya di depan
Jake. Sebagai bentuk rasa hormat yang besar, kepada kekasihnya
yang selama ini paham dengan dirinya.
“Ya sudah, kalau begitu. Aku masuk dulu, ya.” Gumam Historia.
“Baiklah, silahkan.”
Historia segera masuk, dan motor itu pun pergi.
Dari balik pintu, Bunda Evan bersiap menyambut putrinya
dengan sikap siap perang, seakan-akan ingin melemparkan semua
emosinya pada Historia.
“Hallo, Ibu.” Historia sendiri sudah tahu, kalau Bunda pasti akan
marah. Jika Historia menunjukkan perasaan yang tidak suka, mungkin
Ibu akan semakin marah.
“Apa bagus, main sepanjang hari tanpa pulang ke Rumah?”
Bunda Evan melipatkan kedua tangannya.
Historia terus mengulurkan tangan kanannya, seraya meminta
untuk menyalimi. Tapi, Bunda menolak. Bunda terus berparas kecut
seakan-akan marah besar.
Tangan kanan Bunda Evan langsung mendarat di pipi kanan
Historia, dengan kuat. Suara dentuman yang kuat hingga tetangga
pun mendengarnya, seperti suara pecut kuda yang ditepuk oleh
seorang kusir agar kuda itu berlari. Sontak Evan merasakan panasnya
__ADS_1
dan perih di area pipi kanan yang secara tak langsung membuat pipi
Historia memerah, dan tak kuasa menahan sakitnya.