
Meira sedang duduk di kursi panjang pinggir lapangan memperhatikan Keynan yang sedang latihan basket bersama teman-temannya yang lain. Meira bersorak memberi semangat ketika Keynan memasukan bola ke dalam ring basket. Kemudian tiba-tiba Bella datang dan duduk sampingnya, Meira meliriknya heran namun dia tidak bisa menunjukan ekspresi keherannya, hatinya bertanya-tanya sedang apa dia disini, apakah Bella menyukai basket seperti dirinya atau dia menyukai salah satu dari mereka yang sedang berlatih, tidak biasanya dia datang melihat orang sedang latihan. Semua pikiran itu ditepisnya. Meira berpura-pura tidak melihatnya, Meira langsung mengalihkan pandangannya kembali ke lapangan.
“Hai”, Bella menyapa Meira yang sedang bersorak memberi semangat.
Dengan muka tersenyum Meira membalas sapaan Bella,”Hai, Bell”. Mereka duduk bersama memperhatikan gerak lincah Keynan di lapangan.
“Meira, sendirian aja, mana teman-temannya yang lain?” Bella mencoba membuka pembicaraan.
“Ohh, mereka lagi ada urusan masing-masing”, jawabnya.
Tiba-tiba Meira bersorak seperti sedang tidak ingin diganggu oleh Bella.
“Key, semangat Key”. Keynan yang ada di tengah lapangan menolehkan wajahnya melambai pada Meira.
“Ra... Apa Meira mempunyai perasaan khusus sama Keynan?” Bella sengaja memberikan pertanyaan ini karena Bella ingin dekat dengan Keynan tanpa merusak hubungan orang lain. Sudah sejak lama Bella ingin menanyakan ini kepada Meira tapi Bella menunggu waktu yang tepat.
“Perasaan khusus seperti apa maksudnya?” Meira yang tadi bersorak menghentikan tindakannya itu. Raut wajah yang sebelumnya penuh semangat berubah menjadi wajah bingung, iya bingung karena tidak mengerti maksud pertanyaan dari Bella.
“Perasaan suka misalnya”
Meira menatap wajah Bella yang ada disampingnya.
“Bell, gue itu kenal Keynan dari kecil tentu saja gue suka sama dia”
“Maksud Bella perasaan suka dan cinta bukan sebagai teman atau sahabat”, Bella mencoba memperjelas maksud dari pertanyaannya tadi.
Bella menantikan jawaban dari Meira. Meira masih menatapnya ingin memberikan jawaban tiba-tiba bola
basket menggelinding dari lapangan mengenai kaki Meira. Meira langsung mengambilnya dan mengabaikan pertanyaan Bella tadi. Keynan yang di lapangan langsung memanggil Meira.
“Ra, lempar bolanya Ra”, kata Keynan.
Meira yang sedang memegang bola basket melemparkannya ke tengah lapangan dengan sekuat tenaga dan
ditangkap oleh Keynan.
Lima belas menit berlalu mereka menyelesaikan latihan hari ini, Keynan mendatangi Meira yang sedang
duduk dengan Bella.
__ADS_1
“Nih”, Meira menyodorkan minuman kepada Keynan. Tanpa basa basi Keynan langsung mengambilnya dan
meminumnya hampir setengah botol.
“Makasih ya”
Keynan menatap Bella yang sedari tadi ada disamping Meira memperhatikan dirinya.
“Hai Bell”, kata Keynan
“Hai”, balas Bella dengan senyum manisnya. Mungkin Bella sedang mencoba mencuri perhatian Keynan.
“Tumben lo disini Bell, lo suka basket juga?” Bella yang tidak biasanya ada dilapangan membuat Keynan
penasaran.
“Tadi kebetulan Bella jalan lewat dekat lapangan, terus lihat Meira duduk sendiri jadi Bella samperin,
ternyata sedang lihat Keynan main basket”, jawab Bella, meskipun bukan itu alasannya sebenarnya.
“Ohh gitu” Keynan hanya mengangguk mendengar jawaban Bella.
Meira mengangguk. Keynan berlari meninggalkan Meira dan Bella karena jam istirahat sudah habis.
“Balik kelas yuk”, Meira mengajak Bella kembali ke kelas.
Di perjalanan di kelas tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua, mereka masing-masing diam, mungkin Bella merasa tidak enak dengan pertanyaannya tadi di lapangan, mungkin juga karena Meira tidak ingin membahas masalah tadi di lapangan. Mereka berpisah di kelas duduk di kursi masing- masing. Bella menatap Meira yang sudah bergabung dengan teman-temannya.
Jam pelajaran akan di mulai, Meira mengambil buku yang ada di lacinya, tiba-tiba ada supucuk surat jatuh
dari lacinya, surat dengan amplop berwarna pink ada sedikit gambar bunga dan kupu-kupu. Meira mengambilnya dari lantai, membolak-balikannya siapa tahu ada tulisan siapa pengirimnya tapi nihil tidak ada apa pun tulisan di amplopnya.
Meira menyolek Alya dan berbisik bertanya dari siapa surat itu, tapi Alya menggeleng tidak tahu mengenai surat itu. Alya mengatakan tadi dia di perpustakaan jadi tidak tahu siapa yang meletakan surat itu di lacinya.
“Buka aja”, kata Alya.
“Nanti aja deh pulang sekolah”
Bu Sri yang sedang menulis di papan tulis, menoleh ke belakang karena mendengar bisik-bisik. Sontak Meira
__ADS_1
langsung menyimpan surat tadi di dalam bukunya.
“Fokus ke depannya ya”, kata Bu Sri.
Keynan yang duduk di pojokan dari tadi memperhatikan tingkah Meira dan Alya yang sedikit mencurigakan
menurutnya.
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa bergegas untuk segera pulang. Keynan yang tadi selama jam pelajaran penasaran dengan Meira langsung menghampirinya.
“Ra, pulang ma gue ya”, ajaknya sebagai alasan dia agar dia bisa bertanya tentang rasa penasarannya,
namun kemudian dia melenyapkan rasa penasarannya tadi.
“Gue mau balek ma temen-temen, ada urusan dikit”, sebenarnya Meira hanya ingin membuka surat tadi
bersama teman-temannya.
“Ya udah gue duluan ya”
“Ati-ati ya pulangnya”, kata Meira.
Belum lama Keynan meninggalkan Meira, bahkan belum dia melewati pintu kelas tiba-tiba da yang memanggilnya dari belakang.
“Key”, Bella memanggil Keynan.
Keynan langsung menoleh ke belakang begitu juga Meira dan teman-temannya langsung menoleh memperhatikan
Bella.
“Key, anterin Bella pulang ya! Hari ini Bella tidak dijemput”, kata Bella.
Meira dan teman-temannya yang memperhatikan Bella, serentak mengernyitkan dahi mereka. Mereka berempat saling menatap karena heran.
“Heh, sudahlah yuk”, kata Meira mencoba menetralkan suasana, meskipun sebenarnya dia juga merasa heran melihat Bella seperti sedang mencari perhatian Keynan.
“Yuk, penasaran nih, surat dari siapa”, kata Sesil yang baru saja tahu dari Alya kalau Meira dapat surat kaleng.
Mereka berempat menuju ke parkiran mobil tempat dimana mobil Alya di parkir.
__ADS_1