
Hari ini Keynan pulang bersama Meira, tanpa pikir panjang Keynan langsung menghampiri Meira di mejanya.
"Yuk", ajak Keynan.
"Gue ngga bawa helm", kata Meira menatap wajah Keynan.
"Tenang sekarang gue selalu bawa helm dua buat jaga-jaga", Keynan membanggakan dirinya karena sekarang lebih bisa mempersiapkan diri.
"Wuihh, mantap, yuk cus", kata Meira bersemangat.
"Al, Lu, Sil, gue duluan ya sama Keynan", Meira meninggalkan ketiga sahabatnya sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati Ra, nanti lo diturunin di terminal", ledek Sesil.
Meira hanya menoleh ke belakang menjulurkan lidahnya seperti mengejek, kemudian tertawa. Mereka sudah biasa melihat tingkah Meira yang seperti itu. Teman-temannya pun hanya tertawa sambil melambaikan tangan. Bella yang masih merapikan buku-bukunya menyaksikan keseruan Meira dengan teman-temannya.
Keynan dan Meira berjalan menuju parkiran, hiruk pikuk siswa-siswa yang lain terdengar ramai, iya wajar ini adalah jam pulang sekolah, sebagian dari mereka ada yang masih tetap di sekolah mengikuti kegiatan sekolah seperti eskul atau belajar bersama. Keynan berjalan bersama Meira menembus kerumunan anak-anak yang berjalan sepanjang lorong sekolah.
"Ra, lo beneran nggapapa digangguin Aris tadi?" tanya Keynan.
"Ko itu mulu pertanyaannya, ngga kreatif, nanya yang lain kek, udah nggapapa gue bilang gue nggapapa ya nggapapa", jawab Meira menepuk punggung Keynan.
"Ra, lo ga kepikiran buat cari pacar gitu, biar ada yang jagain lo, biar lo ngga digangguin si Aris", Keynan terus berjalan mengimbangi langkah Meira yang lebih pendek dari langkahnya.
__ADS_1
Sontak Meira kaget, seperti ada getaran lembut di dada Meira. Kalimat apa itu, Meira menerka nerka maksud dari kalimat Keynan. Kalimat itu tiba-tiba menjalar seperti akar-akar pohon namun sulit diartikan, apakah dia akan memperkuat pohon, atau menjalar semakin jauh.
"Maksud lo? gue harus pacaran gitu", Meira gantian bertanya maksud dari kalimat itu, sengaja Meira menggunakan pertanyaan yang singkat karena Meira sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ya, maksud gue, lo kan saat ini sendiri, mungkin kalau lo ada pacar, Aris ngga gangguin lo", Keynan mencoba menjelaskan.
"Ya ampun Key, masa gue cari pacar cuma buat ngga digangguin sama Aris, Aris mah gampang", Meira menggampangkan.
"Lo tahu kan Aris diluar punya genk motor, gue khawatir nanti dia bawa-bawa gengnya buat nyakitin elo Ra", Keynan kali ini berkata serius, Keynan memegang kedua pundak Meira ditatapnya wajah Meira untuk meyakinkan kalimatnya.
Setiap kali Keynan menatap Meira, selalu saja getar itu tiba, sorot matanya penuh kekhawatiran, dan pada waktu yang bersamaan Meira selalu menyembunyikan semua itu, agar Keynan tidak pernah tahu kalau Meira sedang menyimpan rasa.
"Gue...", Meira tersenyum kecil.
"Ra...", Keynan menguatkan cengkramannya dibahu Meira.
Meira tersenyum lagi, kali ini tersenyum seperti meledek,"Buat apa pacaran kalau hanya untuk menghindari Aris tapi tidak bahagia", Meira mengangkat kedua alisnya di depan Keynan.
Keynan hanya menggeleng pelan, ia hanya ingin Meira ada yang melindungi melebihi dari apa yang bisa ia lakukan untuk Meira, karena Keynan merasa tidak bisa selalu berada dekat dengannya. Namun, sepertinya Meira memang saat ini masih belum butuh untuk memiliki pacar.
Akhirnya mereka tidak memperdebatkan lagi masalah pacaran, Keynan membonceng Meira dengan sepeda motornya. Mereka kembali diam dalam perjalanan yang sebenarnya bisa dibilang cukup ramai, mulut mereka berdua tidak bersuara sedikitpun. Namun, suara hati tidak pernah berhenti berbicara, tidak pernah berhenti mengira-ngira. Kepala mereka dipenuhi pikiran masing-masing, Meira memikirkan perkataan Keynan. Keynan memikirkan Meira yang selalu menganggap dirinya sahabat.
Meira memang tidak pernah pacaran, karena dia tidak ingin menghianati perkataannya sendiri waktu itu, Meira pernah mengatakan pada Keynan kalau dia belum ingin pacaran sampai waktunya tiba. Berbeda dengan Meira, Keynan sudah sempat beberapa kali pacaran meskipun tidak ada yang bertahan lama, paling lama hanya 5 bulan. Keynan merasa setiap pacaran tidak bisa merasa nyaman dan sedekat seperti ketika dia sedang bersama Meira. Jadi, Keynan sering memutuskan pacarnya.
__ADS_1
Setiap Keynan pacaran atau putus, Meira selalu jadi teman curhatnya, Meira selalu menjadi rumah pulang bagi Keynan. Meskipun mereka sudah begitu dekat, Keynan tidak menyadari bahwa Meira sebenarnya menyukainya. Keynan menganggap kebaikan Meira selama ini mungkin karena mereka adalah sahabat.
Meira menutup pagarnya rumahnya, dan Keynan membiarkan Meira masuk ke dalam rumah baru setelah itu dia juga pulang ke rumahnya.
Hujan tiba-tiba turun malam itu, rintiknya terdengar merdu seperti nyanyian di musim kemarau, sejuk membasahi atap-atap rumah. Meira menutup jendela kamar. Mendatangkan hawa dingin yang tiba-tiba menerpa rambutnya. Meira memejamkan matanya membiarkan angin malam berjalan menerobos ke dalam kamarnya. Ah, segarnya angin malam ini, Meira kemudian mengunci jendela rapat-rapat, ditutupnya korden jendela kamar.
Meira berbaring di kasurnya memikirkan perkataan Keynan saat pulang tadi. Apa maksud perkataan Keynan menyuruhnya mencari pacar, apa dia bermaksud ingin menjodohkannya dengan temannya, kenapa tidak dia sendiri yang menjadi pacarnya, bukankah dulu sewaktu kecil dia ingin mereka berpacaran, atau dia sekarang sudah ada wanita yang dicintainya lagi. Meira membuang jauh-jauh pikiran itu, dia tidak ingin merusak persahabatan mereka. Biarlah perasaan ini disimpannya sampai waktunya tiba. Meira tidak ingin merusak persahabatan mereka.
Malam semakin larut, gelap dan hujan pun mulai reda menyisakan rintik rintik kecil dan tetesan air di atas daun-daun. Udara malam yang dingin membawa Meira ke dalam mimipinya.
Sementara itu ditempat yang berbeda, Keynan memainkan gitarnya seperti mengiringi lantunan merdunya rintik hujan, pikirannya melayang memikirkan Meira, pikirannya bertanya-tanya apakah kebaikan Meira memang sebatas kebaikan karena persabahatan. Apakah dia tersinggung dengan perkataannya tadi siang. Ah, Meira kenapa kamu selalu teguh dengan pendirianmu. Lalu, bagaimana jika tadi Meira mengatakan iya, dia akan cari pacar, apakah Keynan siap akan kehilangan perhatian seorang sahabat seperti Meira, tapi dirinya merasa tidak bisa melindungi Meira saat dia membutuhkannya.
"Atau gue nyatakan lagi perasaan gue selama ini, ahh ga mungkin, Meira akan menganggapku main-main karena terlalu sering mengatakan itu", batinnya.
Petikan gitarnya semakin mendayu, seperti mengiringi puisi-puisi cinta yang sedang dibacakan oleh seorang pujangga.
Keynan melepaskan segala pikiran yang tidak seperti biasanya. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Ia berharap akan selalu dekat dengan Meira meskipun hanya sekedar sebagai sahabatnya.
Keynan masih memainkan gitarnya dengan nada-nada melodi, pandangannya menatap ke luar jendela yang masih menyisakan rintik-rintik hujan. Namun, dia segera tersadar dari lamunan panjangnya, Keynan segera menghentikan tarian jari-jarinya di atas senar gitar, dia letakan gitarnya dan mengambil buku tipis dan pensil. Dia ingin menulis lagu, lagu dengan lirik yang ia rasakan sekarang. Keynan mulai mencoba nada-nada yang cocok untuk lirik yang telah dibuatnya, sekali dia coba, tidak cocok, kedua kali dia coba tidak cocok, ketiga kali dia coba dicoret coretnya kertas itu karena masih tidak cocok. Dia sudah mencoba berkali kali tapi sepertinya belum ada yang sesuai dengan perasaannya. Keynan mulai frustasi, akhirnya dia letakan gitar dan pensilnya. Keynan berbaring di kasur mencoba memejamkan matanya yang mulai lelah.
Keynan pun terlelap di malam yang dingin sebelum dia menyelesaikan lagunya. Kamarnya berserakan beberapa kertas yang tadi dia lempar. Dia tak sempat merapikannya karena sudah terlelap dalam mimpinya.
Layaknya sahabat , susah senang kamu hanya ingin selalu bersamanya, kamu akan selalu ingin melakukan yang terbaik untuk sahabatmu. Terkadang kita sulit untuk mengungkapkan arti sahabat bagi diri kita. Tak jarang dari mereka sulit mendapatkan pengganti dari sahabat jika dia kehilangannya. Mereka yang memutuskan untuk tetap tinggal meski sudah tahu keburukan dan kebodohanmu itulah sahabat sejati. Lalu bagaimana dengan sahabat jadi cinta???
__ADS_1