
Kabar mengenai Keynan dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan pertandingan menyebar di sekolah. Beberapa teman yang mengenalnya pergi menjenguk ke rumah sakit, beberapa guru juga turut menjenguk. Kabar itu pun sampai di telinga Aris.
Meskipun belajar mengajar ditiadakan selama seminggu karena pertandingan, siswa SMA Taruna Bangsa harus tetap datang ke sekolah untuk melakukan absensi.
Meira berangkat sekolah dengan malas, dia berjalan menuju ruang guru untuk menemui wali kelas. Setelah tanda tangan absen dengan wali kelas dia bergegas pergi mencari teman-temannya tapi tidak dapat ketemu denhan mereka satupun, mungkin mereka melihat pertandingan hari ini gumam Meira. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke perpustakan berharap bisa merasa tenang saat di perpustakaan.
Suasana perpustakaan yang tenang memang nyaman untuk belajar, ruangan penuh buku dan menyediakan banyak informasi yang kita butuhkan, pantas saja mereka betah belajar disini. Meira sudah sejak lama tidak mengunjungi perpustakaan. Meira meletakan tasnya di tempat penitipan kemudian berjalan diantara rak-rak buku mengambil sebuah novel berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi” yang baru terbit 3 tahun lalu Meira meletakannya di atas meja. Dia membaca-baca novel itu halaman per halaman.
“Bagus juga, suatu saat nanti pasti buku ini akan difilmkan”, batinnya.
Belum selesai Meira membaca novel tersebut, tiba-tiba saja dia ingin membaca buku yang lain. Meira bergegas bangkit dari duduknya mencari-cari buku yang dia inginkan.
Tangannya menyusuri buku-buku yang berada di rak seperti memiliki mata, jari jemarinya membaca judul perjudul dari setiap buku yang dilaluinya. Jarinya terhenti ketika Meira tidak menemukan buku yang diinginkan, kemudian matanya melihat-lihat ke bagian atas rak, dia melihat sebuah buku berjudul “Harry
Potter and the Sorcerer’s Stone”.
“Hmm, sepertinya menarik”, gumamnya.
Meira mendongak mencoba meraih buku itu, tapi tangannya tak sampai padahal dia sudah jinjit.
Dia mendengus, ”kenapa sih bukunya harus di atas sana, pasti ada yang sengaja sembunyiin”, Meira mulai sedikit kesal karena tak dapat menjangkau buku tersebut. Akhirnya Meira punya ide.
“Apa gue panjat aja ya rak ini”, dia tersenyum sendiri tidak percaya dirinya akan melakukan hal konyol seperti itu.
“Ahh, tidak tidak, tidak mungkin gue melakukan hal kaya gitu disini”, Meira kembali bergumam sendiri.
Lalu matanya melihat ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya. Tingkahnya seperti orang yang mau mencuri. Setelah dirasanya aman, dia mulai meletakan kaki kanannya pada pijakan rak paling dasar, dia bersiap-siap untuk meloncat mengambil buku tersebut.
Belum sempat buku tersebut diambil, kakinya terpeleset dan Meira hampir terjatuh tapi seseorang dengan sigap menangkapnya, laki-laki yang dari tadi duduk di bawah rak dekat tembok yang tidak terlihat oleh Meira. Laki-laki tersebut menangkap badan Meira yang hampir jatuh ke lantai.
Meira menutup matanya pasrah, dia mengira dirinya sudah berada di lantai, tapi badannya tidak terasa sakit, kemudian dia coba buka matanya pelan-pelan dan ternyata dia mendapati dirinya tidak terjatuh di lantai melainkan ada orang lain yang menopangnya, dia menjadi sangat malu ketika tahu bahwa seorang laki-lakilah
yang menangkap dirinya. Dan laki-laki itu adalah Rafa anak kelas 3 teman Dika pacarnya Sesil.
“Maaf, sekali lagi saya minta maaf”, Meira merasa bersalah karena merepotkan orang tersebut.
__ADS_1
Laki-laki tersebut hanya diam kemudian mengambil buku yang tadi akan diambil Meira. Badannya yang lumayan tinggi mudah saja mengambilnya tanpa harus loncat seperti Meira. Rafa menyodorkan buku tersebut kepada Meira. Meira mengambilnya.
“Makasih ya, sekali lagi maaf, gue ga sengaja”
“Lain kali kalau tidak nyampe panggil petugasnya aja buat ngambilin”
“iya maaf, gue bener-bener minta maaf”
Rafa seperti tidak menggubris permintaan maaf Meira. Dia meninggalkan Meira yang masih berdiri diantara rak buku. Rafa kembali duduk di lantai dekat tembok melanjutkan buku yang tadi sempat dibacanya.
“Ihh,,,nyebelin banget sih, kan tadi gue dah minta maaf, dah bilang makasih jawab kek”, Meira komat kamit sendiri karena merasa dicuekin laki-laki tersebut.
Karena penasaran dia mencari dimana laki-laki tersebut duduk, Meira mengikuti arah laki-laki tadi berjalan. Meira berjalan melihat ke kanan dan ke kiri kemudian dia melihat laki-laki tersebut duduk di lantai bersandar di tembok. Meira mengintip dari sudut rak, memandangi laki-laki tersebut yang sedang asik dengan dunianya sendiri. Meira berjalan pelan-pelan dan mengampirinya.
Rafa yang menyadari ada seseorang mendekatinya hanya melirik sekilas kemudian kembali membaca bukunya. Meira semakin dekat dan dia akhirnya berdiri tepan disamping Rafa. Rafa menengok ke atas menatap Meira. Meira hanya tersenyum menampakan giginya yang putih. Tapi Rafa seperti tidak peduli dengan senyuman itu kemudian dia lanjut membaca bukunya.
“Eeeemm,,, Rafa ya?” basa-basi dari Meira yang pura-pura kenal karena tahu nama itu dari Sesil.
“Makasih ya, tadi dah bantuin gue”, Meira mengulurkan tangannya berusaha ramah meskipun dia sebenarnya kesal karena baru saja dicuekin.
“Makasih udah bantuin gue tadi”
“Ya udah, udah kan?”
“Jadi lo ngga mau terima ucapan terima kasih gue nih?”
“Kan udah, ya udah”
Meira mengibaskan tangannya yang dari tadi diulurkan kepada Rafa. Kemudian dia membiarkan Rafa sendiri di dalam dunianya. Rafa hanya memandangi Meira dari belakang meninggalkan tempat dimana dia sedang duduk.
Meira keluar perpustakaan dengan muka kesal dan ngomel-ngomel sendiri. Dia ngga menyangka Rafa begitu dingin dengan orang lain atau hanya dingin pada dirinya.
Meira menuju ke kelasnya siapa tahu disana ada teman-temannya, dan benar mereka sudah ada disana. Meira masuk ke dalam masih dalam keadaan kesal.
“Muka lo kenapa Ra, ko ditekuk gitu”, kata Lulu.
__ADS_1
“Sebel banget tau ngga”
“Kenapa, kenapa, cerita dong?” tanya Sesil.
“Sil, ko cowo lo betah sih berteman sama Rafa yang nyebelin abis kaya gitu”
“Lo aja kali Ra yang belum kenal sama Rafa makanya kesannya nyebelin”, jawab Sesil.
“Emang lo kenapa Ra?” tanya Alya yang duduk disampingnya.
“Tadi gue lagi di perpus terus kan gue ambil buku ngga nyampe trus dia bantuin gue, gue udah makasih tapi di malah cuek gitu, sebel ngga sih”
“Ciee...Meira”, teman-temannya malah meledek.
“Ihhh, kalian dari tadi dimana sih, gue nyariin tau”
“Kita tadi di kantin bentar”, jawab Lulu.
“Al, nanti temenin gue jenguk Keynan yuk!”
“Sorry Ra, gue ngga bisa, gua udah janji ma nyokap mau nganterin ke arisan”, jawab Alya
“Lo, Sil?”
“Gue udah janjian ma Dika mau nonton mumpung bisa pulang cepet”, jawab Sesil yang memang sudah janjian akan ngedate dengan pacarnya.
Meira menatap Lulu.
“Sorry Ra, gue juga ngga bisa”
“Hmm,,,ya udah deh nanti gue kesana sendiri”
“Kalau ngga nanti gue batalin deh janjian sama Dika buat temenin lo ke rumah sakit”, kata Sesil.
“Jangan, jangan, ini kan kesempatan lo buat bisa jalan sama Dika”
__ADS_1
Karena temennya memang kebetulan tidak ada yang bisa menemani Meira ke rumah sakit akhirnya dia memutuskan untuk menjenguk Keynan sendiri kali ini. Sebenarnya Meira bisa datang sendiri kesana, tapi semenjak waktu itu bahas masalah pacar dengan Keynan, dia jadi merasa canggung jika hanya berdua dengannya. Tapi Meira bertekad untuk tetap baik-baik dengan Keynan.