Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Jawaban


__ADS_3

Meira masih berdiri di depan kelas, ada Lulu disampingnya disaksikan beberapa siswa yang masih menunggu jawaban dari Meira, begitu juga dengan cowo itu, dia masih menunggu jawaban Meira. Meira tak bisa berlama-lama lagi, dirinya malu dan risih menjadi pusat perhatian. Akhirnya Meira mengambil keputusan mengikuti saran dari Lulu. Meira menolaknya.


"Maaf, gue ngga bisa jadi cewe lo", jawabnya tegas.


Beberapa orang bersorak huuuuu. Meira melihat wajah cowo itu memerah, mungkin karena dia marah dan kesal atau malu karena ditolak di depan umum, tapi cowo itu sendiri yang menginginkan jawabannya sekarang, Meira tidak bermaksud mempermalukannya tapi dia memaksa untuk mendapatkan jawabannya saat itu juga. Jadi apa boleh buat, begitu kata Meira dalam hati.


Jawaban dari Meira membuat cowo yang memiliki nama asli Aris anak kelas 2 IPS geram dan kesal, baru kali ini dia ditolak cewe, lebih tepatnya ditolak Meira, biasanya dia yang menolak cewe sesuka hati dia, berani-beraninya dia menolak gue, dalam hatinya, gigi-giginya saling beradu, kedua tangannya mengepal ingin marah serasa ingin meninju, namun ada banyak pasang mata yang menyaksikannya saat itu membuatnya menahan kepalannya.


"Apa kalian lihat-lihat, bubar bubar", teriak Aris yang saat ini sedang marah. Seketika semua orang bubar meninggalkan tempat mereka berdiri.


Meira menarik tangan Lulu menerobos Aris, Meira ngga peduli dengan apa yang akan dilakukan Aris yang penting bagi dirinya segera pergi dari hadapan Aris yang membuatnya semakin risih. Menurut Meira ini adalah keputusan terbaik.


"Arrgghh,,,sial", teriaknya lagi di luar kelas, suaranya terdengar hingga ke dalam kelas.


Terlihat melalui kaca kelas Aris pergi meninggalkan tempat itu dengan ekspresi yang masih marah.


Keynan yang tadinya berdiri menyaksikan kejadian itu kini sudah kembali duduk di tempatnya, dia sengaja tidak menghampiri Meira, khawatir kalau Meira akan malu jika dia menghampirinya sekarang, menurut Keynan nanti saja saat keadaannya membaik dia akan menghampirinya. Lebih baik saat ini Meira bersama teman-temannya. Saat ini merekalah yang dibutuhkan Meira.


Meira duduk di kursinya ditemani Lulu. Lulu melihat muka Meira sedikit malu, dia ingin menghiburnya.


"Ra, lo nggapapa?" Tanya Lulu yang sedikit khawatir.


"Nggapapa, santai aja, ngga usah khawatir", Meira ketawa lebar menatap wajah Lulu. Meskipun dalam hatinya bertanya-tanya mengapa dia dijadikan bahan taruhan. Perempun mana sih yang rela buat jadi bahan taruhan. Tapi dia hilangkan rasa penasaran itu karena hal itu akan membuatnya semakin stres.


Tak lama berselang datang Alya dan Sesil yang membuat kelas jadi semakin heboh. Mereka masuk kelas dengan hebohnya membuat anak-anak di kelas memperhatikannya. Tapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin tahu keadaan Meira sekarang.

__ADS_1


"Meira..!"teriak Sesil yang langsung menyerbunya dengan pelukan.


"Lo nggapapa?" tanya Alya menatap wajahnya.


"Ya nggapapalah, emang gue kenapa?" Meira balik nanya.


"Tadi kami dengar lo nolak si Aris, jadi Aris yang ngirim surat kaleng ke lo?" tanya Sesil sambil melepaskan pelukannya karena takut Meira sesak nafas. Sesil dan Alya sedikit kaget mendengar Aris yang mengirim surat kaleng.


Meira mengangguk tanpa ekspresi. Meira masih sedikit malu, pasti dia jadi bahan gosip anak-anak di sekolah. Tapi ya sudahlah, memang dia tidak menyukai Aris mau gimana lagi. Ini adalah keputusan yang tepat menurutnya. Meira berharap Aris tidak mengganggunya.


"Bagus deh Ra, lo ngga terima dia, dia kan anaknya agak bandel", kata Sesil sedikit lega karena Meira menolak cowo itu.


"Ssttt, hati-hati nanti orangnya denger kena hajar lo", kata Alya sambil mendekatkan jari tulunjuknya ke dekat mulut.


"Biarin, emang dia berani, nanti tinggal minta tolong ma cowo gue", jawab Sesil dengan PDnnya sambil mringis.


"Ngga sih", jawabnya sambil tersenyum tipis. Kemudian semua tertawa.


"Eh, tapi ada temannya dia yang jago bela diri", kata Sesil yang masih melanjutkan topik pembicaraa tadi.


"Jadi lo, mau melibatkan semua orang ke dalam masalah gue", kata Meira.


"Hehehe, gue kan cuma mau bantuin lo, siapa tahu lo kewalahan", jawab Sesil sambil mengernyitkan dahinya.


"Udah nggapapa gue bisa hadapi ini, tenang aja, nanti kalau ada apa-apa gue minta tolong Pak Gilman aja", kata Meira sambil becanda.

__ADS_1


"Pak Gilman penjaga sekolah kita, jangan Ra, kasian udah tua, Pak Momon aja lebih macho", kata Lulu. Dan mereka berempat tertawa semua.


Meira bahagia teman-temannya selalu ada untuk menghiburnya. Ketika teman-temannya masih tertawa, Meira menatap ke belakang ke arah Keynan yang dari tadi masih memperhatikannya.


Bel tanda masuk berbunyi, semua siswa di kelas Meira mengeluarkan buku mereka untuk siap siap memulai pelajaran. Meira berharap semua orang melupakan kejadian tadi.


Pak Gilman adalah penjaga sekolah yang usianya sudah cukup tua, Pak Gilman sudah menjaga sekolah selama puluhan tahun, badannya kecil wajahnya sudah mulai kriput tapi Pak Gilman sangat ramah dengan siswa-siswa di sekolah. Sedangkan Pak Momon adalah bagian keamanan sekolah, kumisnya yang tebal kadang membuatnya terlihat sangar tapi terkadang jika sudah becanda Pak Momon jadi seperti Pak Raden di acara si Unyil, ketawanya nular dan lucu.


Jadi sedikit tentang Aris, Aris sebenarnya memiliki tampang yang keren dan gaul tapi tidak dengan kelakuannya, mungkin karena dia kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya ditambah lagi mungkin pergaulannya yang salah, selain berteman dengan teman sekolahnya dia juga berteman dengan orang yang lebih tua darinya yang bisa dibilang orang luar sekolah. Ayahnya seorang produser film, ibunya seorang model, jadi kedua orang tuanya jarang di rumah hingga membuat Aris kurang perhatian. Banyak juga cewe-cewe yang ingin jadi gebetannya meskipun hanya ingin dikenalkan dengan orang tuanya berharap bisa diajak main film.


Tapi Aris hanya suka main-main dengan mereka, jika dia bosan dia ganti dengan cewe lain suka-suka dia. Dia sendiri tidak begitu dekat dengan ayahnya, karena ayahnya hanya memikirkan kerja kerja dan kerja. Ayahnya sangat keras terhadapnya.


***


Aris pergi meninggalkan tempat kejadian tadi dengan geram dan kesal, hal ini membuatnya semakin arogan, siapapun yang berjalan menghalanginya disingkirkannya. Dia berjalan menuju ke kumpulan teman-temannya. Mulutnya terus mengumpat sial sial sial. Mukanya yang semakin merah belum bisa diredamnya.


"Bro, kenapa muka lo, ko jutek gitu?" tanya Bowo, salah satu temannya yang saat ini sedang duduk dengan teman satu genk mereka.


"Lo ditolak ya sama Meira?" timpal Dodi sambil tertawa terbahak bahak diikuti juga teman lainnya, dia juga salah satu temannya. Sepertinya kabar ditolaknya Aris menyebar dengan cepat ke telinga mereka padahal kejadian baru beberapa saat lalu.


"Ahhh sudahlah, sialan si Meira, berani-beraninya dia nolak gue", umpat Aris dengan nada kesal.


"Sudah gue bilang bro, dia itu susah ditaklukan kaya macan, makanya gue tantang elo", Bowo mengompor-ngompori si Aris yang masih marah.


"Gue ngga akan tinggal diam, lihat aja nanti", kata Aris wajahnya memandang jauh ke depan seperti ada dendam di raut mukanya.

__ADS_1


"Tenang aja bro, ada kita-kita yang bakal bantuin lo", kata Bowo lagi.


Bowo menepuk punggung Aris menenangkan keadaannya yang saat ini masih kacau karena penolakan dari Meira, baru kali ini dia ditolak cewe. Dodi mengajaknya membolos kelas siapa tahu dengan membolos Aris tidak marah lagi tapi ditolak oleh Aris. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kelas. Sebandel-bandelnya Aris saat ini, Aris juga tidak ingin dikeluarkan dari sekolah hanya karena sering membolos. Aris sudah beberapa kali membolos sampai akhirnya kedua orang tuanya dipanggil ke sekolah dan Ayahnya marah besar saat itu akhirnya Aris harus menandatangani surat perjanjian dengan ayahnya, jika dia membolos lagi fasilitas yang dia nikmati saat ini akan dicabutnya.


__ADS_2