Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Kejadian Berdarah


__ADS_3

Pertandingan basket segera dimulai, semua penonton bersorak-sorak mendukung timnya masing-masing, mereka menyanyikan yel-yel agar para pemain semakin bersemangat. Ada yang sambil berdiri sambil joget mengikuti alunan musik sederhana yang mereka bawa, ada yang hanya bertepuk tangan. Suara di lapangan semakin riuh ketika bola bakset dilempar ke atas oleh wasit tanda permainan dimulai.


Para pemain saling berebut bola, drible lalu masukan ke dalam ring, ketika bola masuk ke dalam ring basket para penonton bersorak lagi, ketika bola sedang didrible salah satu pemain, mereka bersorak menyebut nama pemain tersebut.


Di menit-menit awal pertandingan berlangsung semua berjalan normal dan lancar seperti pertandingan basket pada umumnya. Tim dari SMA Jaya Kusuma memimpin saat ini dengan skor 23 - 15. Melihat skor yang tertinggal jauh tim SMA Taruna Bangsa mengatur ulang strategi dengan harapan bisa mengejar ketertinggalan.


Tidak berselang lama setelah mereka mengatur ulang strategi, Tim SMA Taruna Bangsa memimpin skor diatas SMA Jaya Kusuma. Meira dan siswa-siswa lainnya yang saat itu sedang menonton semakin bersorak gembira memberikan semangat kepada pemain di lapangan.


"TA RU NA, Taruna Bangsa", teriakan dari para penonton.


Tak mau kalah dari tim lawan pun membalas yel-yel mereka.


"Jaya,,, jaya,,, jaya, Jaya Kusuma", teriak dari penonton lawan dengan memukulkan alat musik mereka.


Suasana di lapangan semakin ramai dan memanas. Waktu pertandingan tinggal beberap menit lagi, tim dari Taruna Bangsa masih memimpin skor pertandingan. Pemain dari tim Jaya Kusuma semakin rusuh melihat mereka ketinggalan skor, beberapa kali wasit meniup peluit peringatan untuk tim mereka.


Rio salah satu pemain dari SMA Jaya Kusuma terus memepet Keynan ketika mendrible bola. Rio berusaha merebut bola, Keynan melemparkannya pada Andi pemain dari Taruna Bangsa kemudian di lempar ke Very dan yes masuk ke ring.


Kini bola berada tim lawan, salah satu pemain Jaya Kusuma melempar bola kepada Rio, Keynan yang menyadari gerakan lawannya itu mulai menghadangnya. Rio menangkap bola mendrible, memutar drible, Keynan di belakang Rio berusaha merebut bola. Rio yang menyadari Keynan berada di belakang, tiba-tiba terlintas ide licik, Rio mendrible bolanya, ketika mau melempar bola sikutnya yang lancip sengaja dia hentakan keras-keras ke belakang sehingga mengenai muka Keynan lebih tepatnya mengenai hidung Keynan yang berada di belakangnya.


Keynan yang terkena serangan mendadak kaget langsung memegang hidungnya, mula-mula Keynan hanya merasa seperti kesemutan kemudian dia melihat tangannya penuh darah merah segar menetes ke lantai. Keynan langsung tergeletak pingsan tak sadarkan diri.


Wasit yang melihat kejadian itu langsung memanggil tim medis yang sudah siap siaga di pinggir lapangan. Wasit memberikan peringatan kepada tim Jaya Kusuma, dan mengeluarkan Rio dari lapangan, pertandingan dihentikan sementara. Keynan langsung diangkat menggunakan tandu dan dibawa ke pinggir lapangan untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit.


Meira dan teman-temannya histeris sekaligus shock melihat kejadian ini, mereka menjerit kaget, mereka ingin berteriak tapi suara tidak bisa keluar dari mulutnya. Meira, Lulu, Alya dan Sesil bangkit dari tempatnya dan berlari menuju Keynan yang sedang dibawa menggunakan tandu. Dilihatnya diantara tim medis, muka Keynan penuh dengan darah.

__ADS_1


Bella yang dari awal memperhatikan Keynan tidak bisa berkata apa-apa, tiba-tiba badannya seperti es, kaku tidak bisa bergerak, bahkan untuk bergerak berlari ingin menghampiri Keynan pun tak bisa. Dia masih belum percaya ini terjadi, dia berpikir tadi dia memberikan slayer keberuntungan untuk Keynan agar dia beruntung, tapi melihat kejadian ini dia merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Mobil ambulans sudah datang, Keynan langsung dimasukkan ke dalam ambulans untuk segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Kondisi Keynan masih belum sadarkan diri, di dalam mobil ambulans Keynan didampingi guru olahraga yang ditugaskan sebagai penanggungjawab terhadap tim basket.


"Al, ambil mobil lo cepet, kita ikuti ambulans itu ke rumah sakit", kata Meira dengan nada panik.


Kakinya gemetaran, tangannya tidak bisa diam. Meira berjalan mondar mandir khawatir terjadi apa-apa pada Keynan.


"Ra, sabar Ra, Keynan pasti baik-baik saja ko", Lulu yang melihat Meira panik berusaha menghiburnya.


"Iya Ra, sabar ya, banyak berdoa aja semoga Keynan baik-baik saja", kata Sesil.


Meira yang memang sangat panik dan khawatir tidak menggubris kata-kata temannya, saat ini dia hanya ingin melihat keadaan Keynan.


Mobil Alya datang, mereka langsung menyerbu mobil Alya untuk mengikuti ambulans ke rumah sakit. Mobil mereka melaju kencang membelah jalanan. Beberapa pasang mata melihat mobil itu yang melaju meninggalkan lokasi pertandingan.


Dipencet-pencetnya tombol di ponsel Alya untuk menghubungi keluarga Keynan. Meira menghubungi nomer papanya yang ia catat dibuku saku kecil, tidak diangkat mungkin sedang rapat pikirnya. Kemudian diancoba hubungi nomer bundanya Keynan tidak diangkat juga. Tingkah Meira seperti orang stress, kemana semua orang ini, batinnya. Akhirnya dia telpon mamanya untuk datang ke rumah Keynan dengan tujuan memberitahukan kejadian Keynan pada orang tuanya. Mamanya mengiyakan dan langsung menuju rumah Keynan. Lalu Meira mengembalikan ponselnya pada Alya.


Mobil ambulannya tidak terlihat lagi di depan mereka mungkin sudah sampai duluan, karena mobil ambulan pasti didahulukan. Alya masih terus fokus menyetir, mereka menuju rumah sakit terdekat, karena mereka yakin pasti Keynan dibawa kesana.


Mereka sudah sampai tujuan, Alya langsung parkir mobil yang tidak jauh dari lobi rumah sakit. Mereka berlari kedalam rumah sakit mencari tahu Keynan, kemudian dilihatnya Pak Rudi guru olahraga mereka sedang berjalan dengan salah satu dokter.


"Pak, Pak Rudi", Meira berlari menuju Pak Rudi yang masih berdiri.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya Pak", kata dokter yang sedang bersama Pak Rudi.

__ADS_1


"Meira", kata Pak Rudi yang hafal dengannya.


"Keynan gimana keadaannya Pak?" Meira yang masih panik langsung mencari informasi tentang Keynan.


"Keynan mengalami patah tulang hidung, dia harus menjalani operasi setelah keadaannya cukup baik"


"Hah, patah hidung!" kata Meira semakin shock.


"Iya, dia mengalami patah tulang hidung, karena benturan yang sangat keras"


"Ya ampun Keynan", Meira lemas, ingin menangis tapi dia tahan dia tidak ingin terlihat lemah.


Lulu langsung merangkul Meira menenangkannya. Sesil memeluk Alya yang kaget juga mendengar kabar itu.


"Kamu bisa bantu menghubungi orang tua Keynan? Keynan harus mendapatkan persetujuan wali jika akan dilakukan operasi", kata Pak Rudi menjelaskan pada Meira.


"Saya sudah menghubungi orangtuanya Pak, tapi tidak ada yang mengangkat telpon, tapi saya sudah meminta ibu saya untuk datang ke rumahnya", jawab Meira.


"Baiklah kalau begitu, saya mengurus ke bagian administrasi dulu ya, kalian tunggu saja di depan ruangan itu, Keynan baru saja dipindahkan ke ruangan itu oleh perawat", kata Pak Rudi sambil menunjuk ruangan tempat Keynan akan dirawat.


Pak Rudi pergi meninggalkan mereka untuk mengurus administrasi. Meira duduk di depan ruangan yang tadi Pak Rudi tunjuk, Lulu masih merangkulnya menenangkan Meira. Sesil mengintip dari kaca pintu Keynan masih belum sadar, tangannya dipasang infus, dan hidungnya dibungkus perban. Suster masih melakuman perawatn pada Keynan di dalam ruangan itu. Setelah selesai suster keluar.


"Sus, apa kami boleh masuk?", tanya Sesil yang dari tadi mengintip ruangan itu.


"Silahkan, tapi kalian tidak boleh berisik karena pasien sedang istirahat"

__ADS_1


Meira dan Lulu bangkit dari kursi tunggu tempat mereka duduk mengikuti Sesil masuk ke dalam begitu juga dengan Alya mengikuti mereka di belakang.


__ADS_2